
Sejak Arzon memilih Alcenna, mereka semakin lengket macam dinding dan wallpaper. Tak ada hari-hari mereka lalui tanpa perjumpaan. Perhatian Arzon semakin kuat, Seolah dia sadar hati gadis itu menjadi hambar.
Namun Arzon tidak pernah lelah untuk mengembalikan perasaan gadis itu. Usahanya tidak sia-sia. Alcenna yang semula dingin dan hambar menjalani hubungan dengannya mulai kembali seperti awal berjumpa dan dekat. Namun tanpa Arzon sadari, Alcenna tidak sepenuhnya lagi melabuhkan hati. Alcenna masih menyimpan dendam pribadi.
Siang Arzon selalu meluangkan waktunya untuk Alcenna bahkan malam pun seperti itu. Alcenna yang awalnya tidak pernah keluar malam sering keluar malam dengan Arzon sekedar makan di luar.
Adiknya tidak banyak protes dan bersyukur adik Alcenna bisa mengerti dan Azarine tetap tidak suka berkumpul dengan temannya di malam hari. Sekali-kali Alcenna dan Arzon tetap mengajak Azarine keluar untuk sekedar makan atau jalan-jalan dan kadang mengajaknya menonton.
Tanpa terasa 4 bulan sejak kejadian itu dan Alcenna masih merahasiakan keadaan sebenarnya pada kedua orang tuanya. Alcenna masih menunggu suatu hal, untuk berterus-terang.
Lalu suatu malam Arzon mengabari Alcenna. "Sayang malam ini abang tidak bisa ke rumah ya, dia akan melahirkan dan tidak ada yang menunggu anak-anak di rumah."
"Ohhh okelah, jadi siapa yang menunggu?"
"Anak-anak berdua menunggu, makanya abang menjaga yang kecil-kecil ini."
"Yakin?" Alcenna hanya berniat mengusili saja. Dia tidak pula mempermasalahkannya. Tak merasa punya hak apapun.
"Kalau sayang tak percaya lihat saja ke rumah atau lihat dia melahirkan di bidan dekat rumah sini, sayang boleh ke sini memastikan." Dia meyakinkan. Jauh di seberang, Alcenna hanya meringis kecil mendengar nada serius Arzon.
"Ohhh ok, gak apa-apa, lanjut saja dulu. Selesaikan tanggung jawab abang sebagai ayah dan sebagai suami, sebelum panggilan suami berubah jadi mantan. Ingat kata abang begitu anak tu lahir talak satu jatuh."
"Iya abang ingat."
Alcenna masih ingat kata-katanya pada malam berjumpa bersama-sama. "Lahir anak kau, jatuh talak satu."
"Tetapi kalau mau rujuk masih bisa kok, suruh dia minta maaf padaku. Maka aku kembalikan Abang padanya!" Alcenna serius.
"Jangan mengada-ngada, siapa juga mau kembali. Kamu pikir abang barang, pakai dikembalikan segala."
"Iya, barang seken dan aku bodoh sebenarnya mau menerima barang seken!" Alcenna masih serius.
"Kejam sekali mulutmu Cen." Tak ada nada marah.
__ADS_1
"Supaya Abang tahu, aku bukan perempuan manis dan bisa bersikap lembut seperti istri Abang itu tetapi suka mempermalukan orang."
"Sudahlah, jangan mengajak ribut. Sebentar lagi juga jadi mantan."
"Kita lihat saja, apa benar akan begitu." Alcenna masih memanaskan suasana.
"Ngajak ribut ceritanya?" kata Arzon masih santai. Arzon tak kunjung tersulut emosi seperti harapan Alcenna.
"Ya sudahlah, bye." Alcenna mematikan sepihak. Dia senang membayangkan wajah kesal Arzon.
***
Sebulan setelah itu, saat paginya Alcenna berangkat kerja dan siang bertemu sekalian mengajak makan siang. Tiba-tiba pesan masuk di ponsel Alcenna, dia melihat tertera dari Sammy. "Kak, tadi ibu nelepon. Kakak dan Abang diminta pulang sore ini juga."
Alcenna langsung menelfon Sammy, "Halo Dek ... ini kakak lagi sama abang, biar kakak bahas sama abang. Entah bisa abang izin kantor besok pagi."
"Iya kak, sepertinya ayah dan ibu sudah dapat kabar soal abang. Biasanya ibu menelepon kakak langsung kalau ada apa-apa. Ni tadi Sammy bilang langsung telpon kakak, kata ibu, "kamu saja yang sampaikan nak, suruh kakakmu pulang bersama calonnya itu."
"Iya Dek, tenang saja, lambat laun ibu pasti akan tahu jadi kami sudah siap menghadapinya Dek."
Alcenna melihat dia menatap dengan tenang. "Ayah dan ibumu sudah tahu?" Suaranya pun tenang.
"Iya Bang, kita diminta pulang sore ini juga. Tapi apa Abang bisa libur mendadak?"
"Bisa, biar nanti siap makan siang ini abang langsung balik ke kantor dan minta izin. Hanya saja abang mau tahu, bagaimana kalau ayah dan ibu mu tidak setuju?" katanya.
"Kita kawin lari saja." Entah apa isi kepala gadis ini. Semua masalah seperti menjadi kecil baginya.
"Alcen yakin?" Kini pria itu pula yang meminta kepastian dari Alcenna. Dia melihat Alcenna seakan main-main.
"Aku yakin Bang. Asal jangan sia-siakan aku selagi menjadi istri yang baik bagimu." Entah itu sebuah keseriusan atau pemanis jalan mencapai tujuannya.
***
__ADS_1
Lelaki tersebut mendapat izin dari kantornya, entah apa alasan yang diberi kepada orang kantornya, sedangkan Alcenna merayu bosnya setengah mati untuk bisa memberikan izin mendadak. Itupun baru berhasil setelah mau tidak mau Alcenna menunjukkan sms dari adiknya. Itupun Alcenna mendapatkan peringatan keras dari bosnya.
"Cukup sekali ini kamu mencampurkan urusan pekerjaan dengan pribadi, sekali lagi kamu bisa memberikan surat pengunduran diri."
"Iya Pak, aman, janji." Alcenna berkata tanpa memikirkan ke depan. Baginya cukup mendapat izin untuk saat ini.
Mereka berangkat sore hari sekitar jam 4 sore dan diperkirakan akan sampai di kampung Alcenna sekitar jam 9 malam.
"Cen ... apa Alcen yakin jika ayah dan ibumu tidak merestui, kita akan tetap melanjutkan pernikahan ini?" Tanya Arzon dengan keraguannya yang nyata.
"Yakin Bang." Tanpa beban Alcenna menjawab. "Atau Abang menyerah sekarang? Jika iya, kita tak perlu pulang. Alcen akan katakan kita telah selesai." Ringannya bibir berkata.
"Bukan begitu, tetapi kenapa ketika orang tua abang jika tidak menyetujui, Alcen akan mundur sementara ketika orang tua alcen tidak menyetujui masih berani tetap maju." Tanyanya kembali.
"Itulah bedanya Bang, Alcen tahu dan mengenal siapa orang tua Alcen, sementara Alcen tidak mengenal siapa orang tua Abang. Alcen yakin suatu saat orang tua Alcen walaupun sekarang tidak setuju akan menyetujui pada akhirnya. Sementara Alcen tidak bisa menjamin jika orang tua Abang tidak setuju, apakah suatu saat orang tua Abang akan tetap menyetujuinya atau tidak akan menganggap Alcen menantu selamanya. Lebih dramatis, tidak menganggap Abang anaknya. Abang juga yang kesusahan bukan?"
"Hmmm." Arzon terkadang tidak mengerti cara berpikir gadis itu.
"Alcen tidak ingin mengambil apapun resiko itu Bang, makanya Alcen tetap harus mendapat restu dari orang tua Abang. Abang tenang saja walaupun nanti orang tua Alcen tidak setuju tapi suatu saat mereka akan menganggap Abang sebagai menantunya, sebab Alcen paham betul siapa orang tua Alcen." Panjang lebar dia menjelaskan alasannya dan Arzon paham.
"Baiklah, kalau itu alasanmu, abang ikuti dan percaya padamu."
Itulah yang Alcenna suka salah satu dari Arzon, Alcenna selalu merasa nyaman. Serasa beban apapun jadi ringan didekatnya.
"Tidurlah sejenak, abang tahu kamu lelah," katanya memerintah dengan lembut.
"Ya aku lelah ... bukan saja fisikku yang lelah tapi hati dan pikiranku sebenarnya lelah bang. Hanya saja aku juga begitu egois. Aku akan jalani apa yang sudah menjadi pilihanku," kata hati Alcenna begitu yakin sehingga tanpa dia sadari sudah terlelap di bahu Arzon dan melupakan sejenak perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku.
"Alcen ... bangun ... ayo kita makan dulu." Dia membangunkan ketika mobil travel yang tumpangi berhenti di restoran tepat pertemuan kedua kali mereka.
Alcenna tersenyum mengingat peristiwa memalukan akibat melamun di restoran ini. "Kenapa senyum- senyum? Ingat jumpa kita yang kedua kali??" Ternyata dia juga masih mengingatnya.
Alcenna menyikut tulang rusuknya. Bagaimana pun dia masih teringat betapa malunya dia ketika itu.
__ADS_1
**//**