
"Cenn ... bangun," kata Eddyson. Roda yang telah berputar dijalan antara Bekasi dan Jakarta telah mengistirahatkan badan dan pikiran Alcenna sejenak.
Alcenna membuka mata, terlihat rumah minimalis. Robby sudah lebih dulu turun dan menjemput kunci yang dititipi oleh yang punya rumah ke tetangga sebelah.
Robby membukakan pintu dan kembali ke mobil. Mengambil kopor Alcenna. Di ruang tamu terdapat sofa yang simpel berbentuk leter L di sudut ruang tamu.
Alcenn duduk dan menunggu Robby membawakan kopor. "Makasih ya Kak," ucap Alcenna mulai lebih ramah. Hanya nada letih masih terselip.
"Kamu istirahat dulu ya. Robby telah berhenti membeli ayam geprek dan minuman mineral. Besok Robby akan temani kamu, pergilah isi kulkas dan belanja bahan masak. Ok. Saya tidak mau kamu bersedih. Kamu harus bangkit. Saya akan bantu tanpa pamrih apapun. Paham?"
"Iya Pak, makasih."
"Putri sekarang di Jakarta Pak, bolehkah saya pergi bersama Putri juga?" Alcenna menunduk, ada rasa was-was dan tidak percaya diri seperti dulu.
Eddyson hanya bisa menghela napas. Butuh usaha yang keras untuk menyembuhkan luka hati Alcenna dan mengembalikan ke sifatnya dulu.
"Boleh, Saya akan tetap minta Robby temani kalian." Eddyson tidak mau untuk sementara ini membahas Putri dengan Alcenna.
"Iya, makasi banyak Pak," ucap Alcenna memandang Eddyson.
"Kamu mudah memanggil Robby dari 'mas' jadi 'kakak'. Kenapa dengan saya sulit!" Eddyson masih protes.
"Makanya Bapak jadi orang juga jangan kaku! Jangan bersaya-saya. Coba mulai dari diri sendiri. Aku juga jadi ikutan kaku dan kesulitan," Alcenna protes panjang-pendek.
Robby tergelak, dan tetap tertawa walau bosnya memandang dengan jutek. "Puas kamu Rob?"
"Maaf Pak," ucapnya dengan senyum ditahan.
"Ya sudah, makan terus istirahat. Telfonlah Putri siap makan. Mas pulang," kata Eddyson tanpa kesulitan dan tanpa kekakuan yang dilontarkan Alcenna.
"Hemhem," Alcenna hanya mendehem. Masih berat lidahnya untuk memanggil mantan bosnya dengan sebutan 'mas'. Namun dia akan berusaha.
"Kenapa, mas sudah tidak kaku. Kamu cuma jawab hemhem," goda Eddyson.
"Pulang sana!" usir Alcenna mengalihkan kekakuannya.
"Ayo Rob," ajak bosnya tak punya niat lebih mengganggu Alcenna.
Di mobil ... "Hallo mas Robby, ada apa malam-malam nelfon?" Putri heran. Tidak biasanya Robby menelfonnya. Eddyson meminta Robby yang menelfon Putri.
"Kamu sama siapa Put?" selidik Robby.
"Sendiri."
"Di mana?" tanya Robby lagi.
"Ada apa sich Mas?"
"Jawab aja apa susahnya," Robby jadi sewot.
"Di kamar, puas!"
Robby memberikan ponselnya pada bosnya. "Hallo Put, ini saya."
"Ehh Bapak, ada apa?"
"Kamu juga lebih kurang dari Alcenna, jangan teriak-teriak dan buat keluargamu mendengar teriakan konyolmu, paham!" Bosnya membatasi terlebih dahulu.
"Ya Pak, paham."
__ADS_1
"Alcenna sudah berhasil saya bawa ke Jakarta ___"
"Serius Pak!" Nada kegirangan Putri terdengar.
"Suaramu! Serius, nunggu kamu cari info, saya yang keburu sakit jiwa." Sempat-sempatnya Putri kena sindir.
"Saya singkat saja dulu, kamu pasti di telfon Alcenna sebentar lagi. Intinya kamu diam saja, ikut saja alur dari Alcenna, oke. Kamu pahamkan?"
"Paham Pak."
"Oke besok kita cari waktu yang tepat cerita ke dia. Saya tutup telfon!"
***
"Hallo Put, dari tadi aku telfon sibuk."
"Maaf sayang, ada apa? Mau vc?" tawar Putri.
"Taklah nelfon gini saja. Kamu tak sibuk dan belum mau tidurkan?"
"Belum." Dalam hati Putri, "Bagaimana aku mau tidur, jika jiwaku penasaran. "
"Aku sudah di Jakarta loh," nada Alcenna terdengar lebih ringan. Seakan beban hatinya jauh berkurang.
"Maksudmu?" Putri memainkan babak sandiwaranya.
"Besoklah ceritanya, besok bisa kawani aku belanja bahan masakkan. Aku malas pergi berdua saja sama Kak Robby."
"Kakak??" tanya Putri heran.
"Panjang ceritanya, besoklah. Sekarang aku mau makan."
"Sama tukang paksa!" gerutu Alcenna. "Ya aku vc!"
Alcenna pun cerita yang terjadi, Putri juga berlagak tidak tahu apa-apa seperti yang dilakukan bosnya dan dipesankan bosnya. Bagi Putri tujuannya sama dengan bosnya. Putri ingin menyembuhkan luka hati Alcenna dan Alcenna bisa kembali semangat menata hidupnya.
Putri tahu banyak soal Alcenna. Alcenna hanya keluarga kecil. Bukan berarti dia tidak mempunyai keluarga besar seperti kebanyakan orang, namun keluarganya yang lain kaya-kaya tidak seperti ibunya. Mereka tidak ada peduli. Putri juga tahu selalu harus Alcenna yang mengunjunginya. Alcenna sangat kesepian sejak ayahnya tiada. Kini suaminya tega berbuat begitu dengan Alcenna. Namun Alcenna tetap bersyukur masih ada orang-orang yang memikirkan kebahagiaannya.
"Oke sayang, besok kita shoping yaaa," kata Putri penuh semangat.
"Bukan shopiiing tuan Putri, belanja bahan masak. Gimana mau shoping gaji aku saja masih tertinggal di pabrik. Main paksa aja si manusia satu tu," Alcenna bersungut-sungut ingat gaji setengah bulannya.
"Sudaaah laa sayang, lebih dari setengah bulan itu dikasih Mas barumu itu, hahaha," Putri tertawa mengolok Alcenna. Rasanya Putri ingin saat itu juga ke rumah Alcenna.
"Itu duit keringat aku loh, lebih nikmat rasanya."
"Sudahlah nikmati sajalah duit masmu, tohkan dia sekarang katamu mau anggap adek. Kata papiku, mantan bosmu itu tidak punya adik perempuan. Adik-beradiknya 4 cap terong semua hahahhaa, dan sukses-sukses juga."
"Iya."
"Biasa itu adek makan duit masnya. Tak perlu berpikir terlalu jauh. Anak istrinya gak akan kekurangan kok. Kerjanya saja jalan-jalan terus sama kawan sosialitanya. Makanya pakai Medsos!"
"Malas, kalau pakai medsos sudah segudang fans aku," kata Alcenna lucu tanpa ada nada mau menyombongkan diri.
"Sombong ... sombong .... "
"Ya tidak fans laa, tapi pengikut setanku."
"Kok pengikut setan?"
__ADS_1
"Ya di tengah prahara kemaren pastilah sudah jadi ratu setan aku. Pasti aku ladeni semua orang iseng itu untuk mengusir sepiku," muka sedih Alcenna terlihat sepi oleh Putri.
"Eitttss ratu setan tidak boleh sedih. Mana ada cerita itu. Besok kita pergi ya."
"Kamu bisa, bukannya kamu kerja?" tanya Alcenna.
"Aku masuk dulu bentar pagi, nanti aku minta jemput mas Robby. Aku ntar cari alasan mau lihat pemasaran apa gitu hehee," Putri tertawa segudang alasan bisa di buat bosnya untuk kesayangannya itu.
"Kamu punya nomor kak Robby? Kok bisa? Hari terakhir kita pulang kalian tukaran nomor ya? Hayoo ada apa?" begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan Alcenna.
Putri sadar dia keceplosan. Untungnya mereka pernah saling bertemu. Alcenna jadi salah paham saja. Putri meluruskan saja dulu pemikiran salah paham Alcenna. "Ada udang di dalam keresek hahaha."
"Sudah jangan introgasi aku dulu, aku belum siap hahaha. Tidur indah dan mimpi indah dulu sayangku." Putri langsung memutuskan sambungan selulernya.
"Dasar," rutuk Alcenna. Namun senyum muncul di bibirnya. Senyum yang ingin dilihat oleh orang-orang yang menyayanginya tanpa pamrih.
***
Pagi hari ketika sang surya mulai merangkak naik ....
Alcenna sudah bersiap ketika Putri mengatakan sudah otw.
"Haii sayang, ayo masuk," Putri dengan mimik menggoda Alcenna, membukakan pintu mobil. Putri sengaja membukakan pintu depan.
Alcenna langsung membuka pintu belakang dan masuk. Membuat Robby tergelak melihat kelakuan dua sahabat yang mulai disukai Robby. Awal kenal Robby kesal lihat mereka berdua. Seperti kata pujangga, tak kenal maka tak sayang. Kini Robby menyayangi mereka berdua seperti adik sendiri. Putri pun kembali masuk dan duduk di samping Robby.
"Ke mana kita Cenn?" tanya Robby lembut. Membuat Putri mendelik ke arah Robby. Robby bukannya tidak tahu. Dia mengabaikannya.
"Terserah Kakak sama Putri saja, Alcenn lagi malas mikir Kak. Kepala Alcenn agak pusing," keluhnya pada Robby.
"Sudah minum obat?"
"Sudah Kak," ucapnya.
"Tunggu-tunggu ...." sela Putri. "Kenapa jadi panggil Kakak." Pertanyaan yang sama seperti tadi malam ditanyakan lagi oleh Putri.
"Kamu juga boleh panggil mas dengan sebutan kakak, kalian sudah seperti adik sendiri," kata Robby. Putri merespon cuma mengangkat alis dan memajukan bibirnya.
"Alcenn, ada kebutuhan apa selain belanja bahan masak?" tanya Robby.
"Shopiiing...." Putri yang menjawab.
"Bos kakak, sudah yakin jika teman Alcenn akan jawab begini. Dia sudah berpesan apa yang Alcenn butuhkan kakak harus penuhi," ucap Robby.
"Alcenn saja Mas?"
"Kamu juga boleh kalau mau manggil kakak, pusing satu mas satu kakak, kalian sama menyebalkan berdua." Membuat Putri dan Alcenna tertawa. Robby senang. Dia masih ingat tatapan dingin Alcenna di video yang di dapatnya. Dia sungguh prihatin saat itu.
"Iya deh aku manggil kakak saja, biar adil," ucap Putri, Robby kembali tersenyum.
"Kak dulu seingat Alcenn kakak lebih kurang kaku dari mas Eddyson," kata Alcenna memakai mas membuat reaksi berbeda. Putri ternganga sementara Robby tersenyum.
"Kamu dan Putri dulu menyebalkan di mata kakak, apalagi kerja kakak jadi nambah karena kalian," kenang Robby.
"Alcenna ya Kak, bukan aku. Akukan ikutan saja," Putri protes tidak terima.
"Sama saja. Bantah lagi gak kakak penuhi mau kamu."
"Hahahaha ... rasain. Belum tahu kamu Put, orang Bos Eddyson itu," ucap Alcenna sampai terpingkal-pingkal. Robby dan Putri menikmati tawa Alcenna.
__ADS_1
**//**