Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Dipermalukan.


__ADS_3

Alcenna sudah dijemput Putri dan sedang diajak mencari sarapan oleh sahabat terbaiknya di muka bumi.


"Jadi benarkan yang aku lihat dan sampaikan padamu dulu?" Putri sedikit emosi setelah mendengar cerita Alcenna tempo hari.


Anehnya kenapa gadis itu tidak sedikit pun emosi setelah apa yang terjadi dan dilalui. Ada terbersit di hatinya apa dia tidak mencintai sepenuh hati? Apa justru terlalu mencintainya? Sehingga begitu tersakiti dan merasa kebas dengan rasa sakit itu, atau dia hanya merasa sebuah kenyamanan saja.


"Sudahlah Put ... anggap saja mimpi buruk," kata gadis itu acuh.


"Mimpi buruk dari mana? Dari hantu apa jin?" kata Putri asal.


"Dari jin ... mana ada hantu di dunia ini. Hantu itu hanya ada dalam gambaran kita karena dari kecil kita di sodori film-film khayalan. Sehingga otak kita menggambarkan hantu seperti khayalan film itu ...." Putri hanya tersenyum mendengar penjelasan sahabatnya.


"Jadi benar gak patah hati niii??? Seperti kisahmu dengan si babang laut itu ...." Dia mencemooh sahabatnya.


"Gak ah Put ... mungkin aku sudah tambah dewasa sehingga bisa berpikir jernih tidak semua yang kita rencana dan inginkan harus kita dapat," kata Alcenna sok bijak.


"Cieehh ... yang tambah dewasa, tapi yakin tuh gak melow?" dia masih tak percaya pada sahabatnya, tepatnya pada hati gadis itu.


"Yakin donk, akukan cuma mau curhat aja tadi. Gak mood pun karena aku lagi PMS saja."


"Syukur deh kalau gitu."


"Okey ... tutup pembahasan tentang dia dan sekali lagi kamu gak perlu risau kalau aku patah hati seperti dulu."


"Oke aku percaya kok, aku tahu siapamu kalau sedih pastimu katakan sedih begitu sebaliknya. " Alcenna memang terbuka apa adanya, hanya pada Putri.


Mereka keluar dari tempat sarapan. Melanjutkan aktivitas. Alcenna dan Putri menjalani aktivitas bersama walau dengan produk dan program kerja yang berbeda.


***


Tiga hari berlalu tanpa sengaja Alcenna melihat sosok istri Arzon keluar dari warung depan rumahnya. Dia yang sedang diantar Putri pakai mobil, memberi tahu agar jangan berhenti dulu di depan rumah, tetapi meminta dia jalan terus.


"Jangan berhenti dulu Put, lanjut ... lanjut," pintanya pada Putri dengan cepat.


"Ada apa?" tanya Putri heran dan terus melajukan mobil.


"Itu lihat, wanita yang baru keluar dari warung depan rumahku, dia istri si Arzon!"


"Istrinya?" Putri bertanya.


"Iya."


"Ngapain dia sampai situ?"


"Ihhh mana aku tahu, emang aku ada ilmu batin." Alcenna mendapatkan jambakan dari Putri.

__ADS_1


"Sakiit ihh!" Alcenna meringis.


"Rasain ... suka kali ngasal kalau ditanya." Putri benaran sewot. Paling juga sewot karena kepo dan rasa penasarannya.


"Habis kamu lucu ... sudah jelas kita sama-sama di dalam mobil ini, tanya pula ke aku. Yaaa ... aku rasa paling mau mempermalukan aku saja kalau mau dipikir negatifnya. Mau pikir positif pun gak ketemu alasannya," kata Alcenna pada Putri.


"Kalau iya dia mempermalukan? Gimana?" Putri bertanya sambil memutar stir mobilnya kembali ke jalan besar keluar dari daerah perumahan.


"Kalau itu terjadi dia akan menyesal seumur hidupnya!"


"Mau ngapain lo?" Tiba-tiba Putri memakai bahasa gaul anak Jakarta. Putri memang aslinya dari sana. Ayahnya di pindah tugaskan di kota Alcenna tinggal.


"Aku pastikan aku akan benar merebut lelakinya!!" kata Alcenna pasti.


"Jangan gilaa lo Cenn ... lo kira nikah buat main-main! Sengsara lo nanti."


"Biarinlah sengsara, pusing ahh."


"Ceeeenn ... aku serius nih tanya, kalau iya kamu mau ngapain?" Dia kembali meminta penjelasan.


"Aku ambil!" Tiba-tiba Putri merasa suara Alcenna berubah menjadi dingin, sedingin hati yang meredam emosi. "Jika benar dia mempermalukan aku yang sudah meminta maaf, bahkan bukan kesalahan aku."


Niat yang tadinya hanya bercanda menjadi hilang karena ego gadis itu tak menerima permintaan maafnya yang diabaikan.


Putri diam saja dan membelokan kembali kemudi mobilnya ke arah jalan rumah Alcenna. Dia tahu tak guna berdebat dengan sahabatnya jika suara sahabatnya terdengar dingin. Tanda dia sudah bulat dengan keputusannya. Putri hapal, keras kepala dan keras hati sahabatnya.


"Cen ... tadi istri pacarmu datang lagi," kata Daniel si pemilik warung harian depan rumah.


"Ohhh ya Bang, aku melihat dia keluar dari warung Abang. Maka sengaja aku memutar dulu sama kawanku. Aku mau tau apa yang dia katakan Bang."


"Dia bilang ... Bang kenal Alcenn-kan? Tahu gak Bang kalau dia jalan sama suami orang?"


"Apa abang jawab?"


"Abang jawab, "Masa iya? Alcen yang di depan warung saya ini? Setahu saya Alcen yang saya kenal, cowoknya tidak di sini."


Dada Alcenna mulai panas dan darah terasa naik ke ubun-ubun. "Terus apa jawabnya Bang?" Terasa berat Alcenna mengeluarkan suara menahan sakit hati dipermalukan dengan sengaja setelah datang meminta maaf yang harusnya tidak perlu dia lakukan.


"Dia jawab Mungkin iya dia punya pacar tapi dia masih mau jalan dengan suami orang. Dengan suamiku."


Kini serasa ada meriam diledakkan di dekat telinga gadis itu, mendengar kata Daniel. Mukanya sudah merah padam, dia merasa panas seperti terbakar tanda tak bisa menahan rasa marah.


"Sudah sabar Cen ... abang tau kok kamu pasti gak tahu. Kami juga tahu bagaimana kamu sehari-hari. Perilakumu tak pernah mencerminkan gadis nakal bahkan kamu terkenal santun." Daniel berusaha meredakan amarah gadis tersebut. .


Tapi Alcenna justru semakin terpancing amarah mendengar kata kami dari mulut Daniel.

__ADS_1


"Kami kata Abang? Berarti ada siapa lagi selain Abang ketika dia berbicara tadi?"


"Ada dua orang ibu yang di belakang rumah Alcen dan ibu yang tinggal di pojok gang sana." Alcenna tak lagi memperdulikan ibu yang di pojok mana dimaksud bang Daniel.


"Ohhh ya Bang, dia bukan lagi pacarku, saat aku sudah dapat bukti siapa dia, aku telah memutuskannya."


"Ohhh ya? Baguslah, abang tahu sifatmu kok."


"Iya Bang, dia memang bukan pacarku lagi, tetapi besok akan aku buat dia jadi suamiku!!" Suara Alcenna terdengar sangat tidak bersahabat.


"Jangan perturutkan jiwa mudamu Cen, nanti kamu menyesal."


"Tak apa Bang, setidaknya perempuan itu merasa menyesal lebih dahulu telah membuat aku begini. Aku sudah minta maaf padanya, padahal aku tidak tahu apa-apa Bang," suara Alcenna bergetar. Ingin dia menangis menahan rasa sakit hati diperlakukan begitu.


"Seharusnya kamu tidak perlu meminta maaf, suaminya yang harus minta maaf padanya dan padamu."


"Tetapi itulah yang aku lakukan Bang. Aku yang meminta maaf."


"Pikirkan lagi jika hanya dendam Cen, hasilnya pasti tidak baik ke depannya untuk hidupmu."


"Iya Bang, tetapi aku tidak bisa menerima ini Bang. Akan aku jalani apapun hasil akhirnya nanti. Terima kasih ya Bang. Abang sudah baik padaku."


Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar mie instan Alcenna pamit pada Daniel.


Alcenna masuk ke dalam rumah tanpa menjawab sapaan Azarine. Dia langsung menuju kamar masih dengan amarah. Darah mudanya benar-benar ditantang. Gadis itu gelap mata dan lupa nasehat ayahnya, bahwa keras hati hanya akan menghancurkan diri sendiri.


Alcenna tak perduli kalau akan hancur, yang dia tahu dia akan menghancurkan kesombongan istri Arzon atas permintaan maaf tempo hari. Harga dirinya tidak bisa menerima. Dia sudah salah menduga dengan sifat lembut dan sabar istri Arzon tempo hari.


Alcenna mengambil handphone di tas dan membanting tasnya dengan kasar ke kasur.


Dengan darah yang masih mendidih, gadis muda itu menekan nomor Arzon. "Halo Bang ... lagi sibuk??" suaranya terdengar datar saja. Walau dadanya terasa bergemuruh menahan sakit hati.


"Gak Cen ada apa?" tanya pria itu masih dengan nada seperti dulu. Nada yang lembut.


"Aku mau tanya, apa Abang serius denganku? dan mau menikah denganku?" tanya Alcenna tanpa ada pembukaan dan penjelasan.


"Abang serius mau menikah denganmu." Suaranya terdengar mantap di telinga Alcenna.


"Kalau Abang serius, jangan omong saja! Mari malam ini juga kita ke kampung ibu Abang dan menjumpai ibu Abang. Jika ibu Abang restu kita maju dan jadi menikah, tetapi jika tidak, aku masih bersedia mundur!! Karena aku juga tak sudi menikah tanpa restu orang tua!" ucap Alcenna dengan nada tegas-tegas.


Sekuat apapun Alcenna mendendam namun pikiran warasnya masih ada tersisa. Dia tak ingin menikah tanpa restu.


"Baik ... siap-siaplah. Sebentar lagi abang akan langsung ke rumah Alcen."


"Tidak perlu, kita langsung bertemu di terminal bus saja. Istrimu telah mempermalukan aku di sini! Dan aku tak ingin kamu kehilangan muka di sini!" Nada bicara Alcenna masih terdengar berapi-api dan banyak memakai katamu kepada Arzon. Alcenna tak peduli lagi dengan perbedaan usia yang belasan tahun.

__ADS_1


**//**


__ADS_2