
Pagi sama seperti pagi-pagi yang lalu. Jam 3 dini hari setelah siap shalat tahajud, Alcenna sedang sibuk membuat adonan kue, tanpa setahu Robby dan Eddyson. Alcenna sibuk membuat kue-kue basah. Alcenna mengantarkan ke warung-warung didekat sekitaran kompleknya saja.
Walau hasilnya jauh dari uang belanja yang diberi Eddyson untuk kebutuhan sebulannya. Alcenna menikmati kegiatannya. Robby pun sering memberikan Alcenna uang jajan.
Alcenna memang bukan wanita yang suka berfoya-foya. Walau kini hidupnya sudah termasuk senang dia lebih suka menyisihkan dan menabung uangnya. Alcenna justru bisa memberi pada ibunya dan Azarine. Ini kali pertama Alcenna mengirimkan uang pada Azarine. Bulan ini bulan kedua hidupnya di biayai Eddyson cs.
Alcenna tak butuh waktu lama untuk mencari kebahagiaannya. Ucapan Robby dan Putri yang hampir tiap hari mensuportnya, hanya dalam sebulan lebih Alcenna sudah mulai kembali bersemangat.
Siang ini Alceena berbaring indah. "Lagi apa Dek?" Alcenna menelfon Azarine setelah selesai mengantar pesanan kuenya.
"Biasa Kak, gak beranjak dari urusan anak-anak sekolah."
"Ohhh ...."
"Kakak sehat?"
"Sehat Dek, ini baru siap antar kue. Kebetulan ada yang pesan lebih."
"Masih jualan juga Kakak, gak capek? Yang di kasih mas-kan cukup?"
"Lebih malah, kamu mau Kakak kirim? Ada yang kamu inginkan gak Dek?" Alcenna selalu begitu pada Azarine.
"Hmmm gak usahlah Kak, gak ada yang di butuhkan. Simpan untuk besok pas liburan anak sekolah saja. Kami mau ke sana sama ibu."
"Iya sinilah Dek, kakak rindu padamu dan ibu."
"Tapi mintakan tiket sama mas ya?" canda Azarine.
"Sssttt gak boleh gitu, meras namanya. Untuk tiket ada kok Kakak. Ini saja hampir gak terpakai yang dikasihnya Dek."
"Kok bisa? Gak pakai makan Kakak?"
"Enak saja kalau ngomong, pakailah Dek."
"Cuma mau makan apa lagi Dek, kadang kak Putri yang traktir, kalau gak kak Robby dan belum abangmu lagi, ada saja yang dibelikannya kakak jajan. Gak ada lagi Dek yang mau kakak gunakan."
"Alhamdulillah kalau gitu Kak, itu buah kesabaran Kakak selama ini. Sekarang kakak nikmati saja. Arin sama ibu gak kekurangan kok Kak."
"Alhamdulillah Dek."
"Kak, boleh gak Arin tanya sesuatu? " ucap Azarine ragu-ragu.
"Soal apa Dek?"
"Janji ya gak sedih, nanti bang Sammy tahu marah loh sama Arin."
"Insya Allah, tidak lagi Dek. Ada apa?"
"Ini ibu yang pesan sebenarnya. Kalau Kakak sudah mau diajak ngobrol. Kata ibu apa gak sebaiknya Kakak ngurus surat cerai. Kata ibu, kakak masih muda, akan ada cinta yang lain. Kata ibu juga, Kakak juga bukan pisah mati dan tidak juga punya anak. Menurut ibu tidak ada alasan untuk Kakak tidak menikah jika ada yang mau," ucap Azarine hati-hati.
"Iya Dek, kakak sudah terpikir ke sana. Sejak bang Sammy tinggal sama kakak kembali, dia selalu saja penuh nasehat macam bapak-bapak Dek, padahal dia saja entah kapan terpikir mau nikah."
"Syukurlah kalau Kakak berpikir begitu."
__ADS_1
"Ada rencana dalam Waktu dekat ini Kak?"
"Nantilah Dek, Kakak tanya dulu bagaimana prosedurnya, setahu Kakak bisa di sini saja asal ada surat domisili. Nantilah kakak minta tolong kak Robby.
"Ok, semangat ya Kak, hidup itu indah."
"Gayamu Dek, mu juga Dek, nikahlah lagi. Nanti Kakak sudah dua kali kamupun satu kali belum Dek," canda Alcenna. Azarine terkekeh.
***
Lama Alcenna termenung, namun ini sudah hampir sembilan bulan dia berpisah. Tak ada sedikitpun kabar dari Arzon untuknya bahkan pada ibunya. Selain terakhir ibu menelfonnya dulu.
Alcenna memang sudah memutuskan untuk mengurus surat cerainya. Namun waktu dan ketidak-mengertian masih menggayuti keraguannyan. Namun kegigihan Sammy meyakini dia hampir seminggu ini, membuat dia yakin. Kini ibunya juga mengatakan hal yang sama.
Alcenna memutuskan menelfon Robby setelah mempertimbangkan lebih. "Kak, lagi sibuk?"
"Gak, ada apa Cenn?"
"Kakak apa sih kerjanya, asal ditanya selalu tak sibuk jawabannya," ujar Alcenna keki sendiri.
"Kamu lucu Cenn, senang harusnya kalau kakak banyak waktu. Ada apa?" desak Robby.
"Kak, ada yang mau Alcenn runding sama Kakak."
"Apa tuh?"
"Awalnya pingin bilang sama mas, tapi dia bilang beberapa bulan ke depan tak bisa ketemu juga."
"Iya, tunggu saja. Bilang kakak saja."
"Pasti Kakak bilang," yakin Robby.
"Alcenn mau tanya, bagaimana prosedur perceraian, Alcenn mau ngurus surat cerai."
Ucapan Alcenn membuat Robby dan Eddyson ternganga tidak percaya. Robby terdiam.
"Kaaak, dengar tidak?"
"Ya, Kakak dengar. Coba kakak cerita dulu sama mas kamu ya, tunggu kakak kontak lagi nanti."
"Ya Kak, nanti saja. Tidak juga hari ini Alcenn ajukan," ucapnya menggoda Robby.
***
"Mimpi apa anak itu Rob? Tiba-tiba mau ngurus surat cerainya. Apa memang ada yang lain dia Rob? Jangan-jangan ada yang terlewat sama kamu Rob!" tegas bosnya.
"Saya yakin gak Pak. Coba saya telfon Putri ya Pak, sudah seminggu ini saya gak ada jumpai Alcenna. Dia bilang gak ada merasa jenuh dan capek mau tidur."
"Telfon saja. Saya gak ingin melibatkan dia sampai urusan sidang saya selesai."
"Put, kamu coba keluar dulu ke mana gitu yang tidak ramai orang, kakak mau ngomong soal Alcenna."
"Oke Kak, bentar ...."
__ADS_1
"Sudah Kak ada apa?"
"Kamu seminggu ini ada jumpa Alcenn?"
"Ada Kak, tiap sore aku nongkrong makan kue buatannya." Robby tak menggubris soal kue.
"Ada dia bilang mau ngurus surat cerainya?"
"Ada Kak, tapi dia masih mikir. Prosedurnya gimana. Putri bilang telfon Kakak saja. Sudah nelfon dia Kak?"
"Sudah, dia mantap mau ngurus."
"Baguslah Kak, mudahan bisa berjodoh sama si bos," ucap Putri nyeplos.
"Sstttt kamu masih di kantor, hati-hati, dinding bisa punya telinga."
"Aku di luar kantor Kak, aku diparkiran luar kantor."
"Pantas kakak tunggu lama tadi. Ya sudah nanti kita sambung."
"Tunggu Kak, ada yang mau aku bilang sama Kakak, soal istri bos."
Robby dan Eddyson kembali berpandangan. Tapi Kakak jangan bilang bos ya dapat cerita dari aku. Bisa-bisa dipecat aku Kak."
"Ada apa?"
"Dua minggu yang lalu kami sama Alcenna melihat istri bos mesra dengan lelaki lain Kak, sepertinya istri bos selingkuh Kak."
"Ohhh ... tapi beliau gak lihat kaliankan? terutama Alcenna?"
"Gak Kak."
Robby mendapatkan bisikan gaib di telinganya, "Put, bisa tidak bawa Alcenna ke apartemen kakak malam ini?"
"Bisa, ngapain emangnya."
"Nanti kamu tahu juga, usah ceriwis ah!"
"Isss ... iyalah, bye." Putri langsung memutuskan.
"Lihatkan Pak, kelakuannya kadang bikin mengkal hati," sungut Robby.
"Apa bedanya dua sekawan itu, maka akur. Satu perangai mereka."
"Ngapa Bapak ajak jumpa di apartemen saya, gak jadi tunggu sidang Bapak selesai?"
"Kamu tahukan pria tua itu masih saja mata-matai saya. Kita tinggal mobil kita di kantor, kita minta taksi jemput ke basement. Biar dia belumut nunggu. Saya rasa bagus kita buka semua ke Alcenna. Biar clear. Jadi dia pun gak larut dalam penasaran kenapa saya menghindarinya. Saya takut dia salah paham kalau terlalu lama. Sidang bisa saja berjalan lama Rob."
"Ohhh ya bagus juga Pak."
"Oke, lanjutlah dulu."
"Ok Pak, saya permisi ya."
__ADS_1
**//**