Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Cinta Rumit.


__ADS_3

"Di mana? Balik donk sini. Bos kakak mau kakak suruh pulang. Kakak sendiri." Alcenna menelepon adiknya.


"Ohh, oke Kak, mau roti coklat kesukaan Kakak?" Tawar adik laki-lakinya.


"Kakak tak mau Dek, tak sel___" Ponsel langsung direbut.


"Belikan saja Sam ... nanti paksa kakakmu isi perutnya. Juga beli saja apa yang mau kalian makan nanti malam, bisa saja kalian lapar." Titahnya.


"Makan ... atau mau dimakan?? katanya bercanda. Alcenna balas dengan memejamkan mata.


Sapuan lembut mendarat dipuncak kepala Alcenna." Makan ya sayang, biar cepat sembuh," ucapnya kemudian.


"Sudah berani Bapak?"


"Kamu sekarang milik saya." Semakin posesif saja nada bosnya.


"Terserah Bapak."


"Makan nanti rotinya." Bukan nada permintaan tapi nada perintah.


"Lupa ya, kalau harus puasa untuk tes labor besok," sanggah Alcenna.


"Minimal 8 jam," katanya berkeras. Makan saja sedikit nanti roti yang di beli Sammy." Bosnya masih tetap berkeras.


"Iyaaaa ...." Jawab Alcenna. Dia lelah di cereweti melulu.


"Saya pulang dulu," pamit bosnya.


"Ya pulanglah lagi saya tu," jawab Alcenna.


"Kamu mau manggil saya dengan mas?" goda bosnya dengan lucu.


"Ihhh siapa yang mengharap tu?" balas Alcenna.


"Tu seperti gak rela dengar panggilan 'saya' ke diri saya sendiri." Bosnya masih mengusili Alcenna.


"Berisik ahh Pak ... pulang sana!" usir Alcenna terang-terangan.


"Ya sudah mas pulang ya sayang." Dia masih menggoda Alcenna.


"Uheeek ...." Alcenna tiba-tiba ingin muntah. Pandangannya menggelap. Dia sudah tidak tahu apa yang terjadi. Alcenna pingsan sekali lagi.


***


Saat terbangun, dia melihat adiknya tertidur di sofa yang sudah dikembangkan jadi sebuah tempat untuk tidur. Pria itu memang memberikan kamar VIP untuk Alcenna.


Melihat Alcenna menggeliat, pria itu menghampiri dengan perlahan. "Sudah bangun?" katanya sambil mengusap lembut kepala Alcenna.

__ADS_1


"Bapak kenapa gak pulang?"


"Gula darahmu rendah. Mualmu mungkin karena magh atau ginjalmu, belum bisa dipastikan. Makanya makan yang banyak. Walau tidak selera paksakan." Tak ada nada kesal di dalamnya.


"Iya besok, malam ini harus puasa kata perawatnya tadi, untuk tes radiologi besok. Bapak pulang sana." Alcenna tak enak hati dan kembali mengusirnya.


"Sebentar lagi saya pulang. Saya tak ingin kamu bersedih karena ditinggal begitu saja. Jangan pikirkan soal saya. Saya punya alasan sendiri untuk pulang atau tidak kepada istri saya. Saya hanya ingin kamu cepat sembuh dan kembali jadi Alcenna yang saya lihat selalu ceria," ucapnya.


Begitu tersentuh hati Alcenna melihat perhatiannya. Namun dia sadar, tak boleh terlalu terlena karena akan menjadi cinta yang rumit.


"Saya pulang dulu. Mau saya bangunkan Sammy?"


"Tidak Pak, saya mau tidur saja," katanya beralasan.


"Kalau begitu, saya tinggal pulang, besok kita periksa semuanya."


"Iya."


Dia mulai melangkah meninggalkan ruang rawat inap. Alcenna menikmati punggung kokohnya yang mulai menjauhi, lalu menghilang dibalik pintu.


Alcenna melirik adik-adiknya sepintas, lalu dia pandang langit-langit kamar ruang rawatnya. "Kenapa cintaku rumit Tuhan. Aku tak mungkin bahagia di atas penderitaan istri orang. Namun aku hanya insan yang lemah. Aku akan luluh dengan semua perhatiannya yang tulus. Aku harus bagaimana ya Allah. Jauhkanlah mereka dari sisiku. Agar aku tidak merusak kebahagiaan hati seorang wanita lain." Alcenna bergumam dalam hati dan memanjatkan doa.


Air matanya jatuh berlinang di kedua pipi putihnya. Bagaimanapun diai sedih dengan semua ini. Kebahagiaan ini seakan menjadi sebuah bumerang pada akhirnya. Alcenna justru takut dengan dirinya sendiri.


Dia takut dengan ketamakan hati yang lemah. Alcenna harus meminta Arzon menikahinya secepatnya. Agar tak melukai wanita lain yang adalah istri bosnya. Alcenna berniat membahas dengan Arzon secepatnya.


***


Pria yang tak lain bos Alcenna, sudah standby di rumah sakit dan kini berada di kamar rawatnya. Adik- adiknya pamit pulang setelah diminta bos untuk istirahat di rumah. Mereka diminta sore untuk kembali.


"Bapak tak kerja?" Alcenna bertanya.


"Nanti sore saja ke kantor sebentar," katanya.


Alcenna tak perlu bertanya jika urusan kantor, jika dia tak bisa meninggalkan kantor maka tak akan dilakukannya.


"Permisi Pak, kita bawa ibu ke ruangan labor untuk cek." Dua perawat hendak membantu Alcenna bangun untuk mendudukkan di kursi roda.


Namun gerakan perawat terhalang karena interupsi pria itu. "Biar saya yang mengendong kesayangan saya ini," katanya tanpa tahu malu.


"Ahhh Pak, kenapa anda semakin menjadi seperti ABG dimabuk cinta," keluh batin Alcenna.


Dia menggendong dan mendudukkan Alcenna di kursi roda. Sekali lagi hati Alcenna berdebar ketika berada dalam pelukan pria itu. Alcenna merasa seperti gadis yang haus kasih sayang.


Perawat membawa ke ruang labor. Pria itu mengikuti. Dia menunggu di depan ruang labor. Alcenna menjalankan tes radiologi.


"Ada puasa?" tanya dokter ahli radiologi, ramah.

__ADS_1


"Ada Dok."


"Dari jam berapa?"


"Sekitar jam 9 malam Dok." Itu terakhir sebelum pingsan.


Dokter melakukan MRI. Pemeriksaan ini menggunakan teknologi medan magnetik dan gelombang radio. Sehingga hasil yang didapat lebih detail dan gambar yang dihasilkan lebih jelas. Pemeriksaan ini aman dari radiasi. Ini mungkin yang jadi alasan bagi bosnya memilih tes ini ketimbang memakai foto rontgen seperti dulu waktu Alcenna juga dirawat inap.


Setelah 30 menitan Alcenna diantar suster ke luar dan dengan cepat bosnya mengambil alih mendorong kursi roda dan menuju ke kamar.


"Kapan hasilnya akan keluar Sus?" tanya bosnya pada perawat yang mengiringi.


"Nanti dokter akan membacakannya Pak, biasa hasilnya paling cepat keluar seminggu, tapi pada kasus tertentu dokter akan mengevaluasi lebih cepat. Bapak tunggu di kamar saja ya, paling lambat siang sudah dibaca hasilnya." Suster menjelaskan.


Setelah kembali ke tempat tidur, suster pamit dan meninggalkan mereka berdua. "Pak ... apa tak bisa minta pulang saja setelah dibacakan hasilnya," tanyanya khawatir.


"Liat nanti saja. Kalau kamu sudah boleh pulang, kita pulang." Nadanya sudah tidak bisa dibantah.


"Jika belum boleh pulang juga, saya ingin ada ibu di sini Pak." Alcenna akhirnya menginginkan kehadiran ibunya.


"Oke kita hubungi saja ibumu pulang gak pulangnya kamu sore ini. Mungkin kamu akan lebih aman dan tenang."


"Biar saya yang bicara Pak," pinta Alcenna.


Bosnya dengan tanpa beban mengambilkan ponsel Alcenna dan memberikannya. "Telfonlah, hati-hati mengabari beliau."


Setelah ibunya mengangkat telepon, "Halo Bu, Ibu sama ayah bisa ke sini?" kata Alcenna langsung.


"Kenapa Nak? Ada masalah?" kata ibunya panik.


"Ibu jangan terkejut ya, Alcen tidak apa-apa, hanya ingin didekat ayah dan Ibu. Alcen dirawat tadi malam Bu," kata Alcenna dengan perlahan. Tiba-tiba dia ingin menangis.


"Kamu sakit apa Nak?" Nada ibunya semakin panik.


"Bu ... nanti saja ceritanya, Ibu bisa berangkat sore ini? Sepertinya Alcen belum boleh pulang, bukan sama perawat saja tapi bos Alcen yang pemaksa ini."


"Maksudnya Nak?"


"Ke sini dulu ya Bu, nanti Alcen cerita. Alcen capek ngomongnya sekarang, atau Ibu ngomong sama wali Alcen saja?" Alcenna mengatakan dia walinya.


"Mana bos atau wali yang kamu bilang, ibu bisa mati penasaran kalau menunggu sampai ke sana." Ibu sangat paham kalau Alcenna sakit paling enggan untuk banyak bicara di ponsel.


Alcenna menyodorkan ponselnya pada si bos. Alcenna yakin dia tak akan menolak. Seperti perkiraan Alcenna, bosnya mengambil lalu berbicara, "Halo Bu ... saya Edysson, saya bos Alcen. Kemarin waktu kami kunjungan kerja, Alcen tiba-tiba pingsan dan saya larikan ke rumah sakit Bu ...." Lalu pria itu bercerita sedikit tentang pemeriksaan tadi.


Setelah menutup telpyon dari ibu Alcenna, "Amankah," katanya tersenyum.


"Aman dari mana Pak ... banyaklah tanya ibu nanti." Alcenna akan ceritakan semua pada ibunya.

__ADS_1


Dia juga akan membahas soal Arzon sekalian. Masalah ini, bagi Alcenna tidak bisa dianggap ringan sekarang. Alcenna tak ingin terombangambing diantara cinta para pria ini. Alcenna juga tidak bisa menghindar dengan mengundurkan diri. Alcenna masih memerlukan pekerjaannya.


**//**


__ADS_2