
Tak lama lagi tahun ajaran baru akan tiba, itu berarti Rhania harus masuk TK, Alcenna berencana akan memasukan Rhania TK tak jauh dari komplek perumahan.
"Hallo Nak, Rhania jadikan sekolah tahun ini?" tanya ibu Alcenna.
"Jadi Bu, kenapa Bu?"
"Boleh tidak ya sama Nak Arzon, kalau Rhania tinggal sama ibu," ucap ibu Alcenna meminta Rhania untuk tinggal dan sekolah di sana.
"Apa nanti Ibu tidak kesulitan mengurus Rhania?"
"Tidak, ibu merasa sepi sendirian Nak. Kadang malam ibu tidak bisa tidur." Alcenna tahu ibunya tidak bisa tidur. Sering Alcenna mencoba menelfon ibu di jam 11 atau 12 malam, baru satu kali dering, ibunya sudah meangkat telfon.
"Coba nanti pas Abang pulang, Alcenn bahas ya Bu dan Alcenn tanya Rhania dulu ya Bu."
"Rhania mana?"
"Ada ni dekat Alcenn, Ibu mau ngomong?"
"Iya, mana, kasih ponselnya sama Rhania."
"Ni sayang, nenek mau ngomong sama Rhania."
Alcenna meloudspeker sebelum memberikan pada Rhania. "Hallo sayang apa kabar?"
"Baik Nek."
"Rhania kata bunda mau masuk TK ya Nak?"
"Iya Nek."
"Duhh nadanya senang sekali," ucap ibu Alcenna.
"Iya Nek, senang," jawabnya dengan senyum-senyum pada bundanya.
"Rhania mau kalau sekolahnya di sini sama nenek, nenek sendirian merasa sepi. Di sini sekolahnya dekat dengan rumah. Nanti pulang sekolah bisa langsung ke sekolah nenek, bisa sering jajan di sini, di sekolah nenek banyak kantin buat jajan," Ibu Alcenna melancarkan rayuannya.
Rhania memang mudah disogok, maklumlah gadis kecil yang masih polos. Dia melihat aku dan berkata, "Boleh Bun?"
"Bunda boleh saja, tapi nanti kita tanya papa dulu ya," putus bundanya.
"Nanti Rhania bilang papa dulu Nek, boleh tuh sama papa," katanya lugas.
"Pinjam bunda bentar ya Nak," ucap Alcenna meminta hp pada Rhania.
"Bu, Rhania-kan setuju, nantilah Alcenn bahas sama abang ya."
"Iya ibu tunggu. Ibu matikan telfonnya ya, Assalaamu'alaikum."
"Oke Bu, Wa'alaikumussalam."
***
"Jadi gitu kata ibu Bang, boleh?"
__ADS_1
"Ya gak apa, kalau Rhanianya mau. Penting dia sekolah."
"Makasi ya Bang."
"Iya sayang."
"Makan kita yuk sayang, abang lapar nih."
"Ayuklah. Alcenn panggikan Rhania sama Azarine."
Tok ... tok ... tok ....
"Dek makan yuk, Rhania makan kita dulu ya, nanti sambung belajarnya sama ibu." Rhania lagi belajar iqro.
Di meja makan, "Paa, Rhania diajak nenek sekolah tempat nenek, boleh Pa?" celotehnya saat bundanya masih mengambilkan nasi ke piringnya.
"Sudah makan dulu Nak, nanti siap makan kita cerita di ruang depan," kata bundanya sambil menunjuk ruang keluarga.
"Uhhh Bunda," protesnya.
Alcenna bisikan di telinga gadis kecil itu, "Nanti kalau bahasnya di sini tak diizinkan Papa loh, Papa dia lapar, dia mau makan dulu."
"Iya deh Bun, mau lauk itu Bun," tunjuknya pada ayam goreng.
"Baca doa, sudah hapalkan doa makan yang diajar ibu?" Alcenna meminta Azarine lebih banyak mengajarkan Rhania apapun.
"Sudah Bun." Diapun membaca dengan kuat dan cepat. Mereka bertiga tinggal menjawab, "Aamiin."
***
"Bun, sudah siap makannya."
"Ok. Cuci tangan pakai sabun di westafel ya, supaya tak bau ayam tangannya."
"Ya Bun."
Dengan termegol-megol badan mungil namun montok seukuran usianya, dia melangkah ke belakang.
"Lucu ya Kak," ucap Azarine masih dengan senyuman ketika melihat lenggak-lenggoknya.
"Iya," sahut Alcenna.
"Kok bisa ya Kak, mamanya gak mau ngurus."
"Biar sajalah Dek, berarti Allah kasih kita kepercayaan lebih. Anak titipan Allah. Bukan hak kita sebenarnya tapi hak Allah."
"Papa mana Bun," tanyanya memutuskan pembicaraan bundanya.
"Depan, panggil saja, ajak masuk."
***
Waktu terus berlalu, kini Rhania dan Allya telah bersama ibu Alcenna. Sedangkan Ayu tidak jadi menamatkan pesantrennya, di tengah jalan dia minta pulang dan kembali pada mamanya. Alasannya dia malu tidak pernah dijenguk. Selain itu nilainya juga tidak terlalu baik. Banyak angka merah menghias rapornya. Alif pun tetap masih bersama mamanya.
__ADS_1
Lalu pada suatu hari masuk notifikasi pesan, "Aku minta bantu biaya untuk sekolah Alif masuk sekolah!"
Alcenna membalas, "Anakkan sama kamu Kak, jadi sekolahkan saja sendiri, jika tidak sanggup sini biar aku yang sekolahkan!"
"Tak perlu, aku cuma ngetes kalian saja! Kalian peduli pada anak apa tidak. karena inikan anak diaa, ulat dia!" balasnya dengan kata-kata yang menjijikkan.
"Aku tak perlu kalian tes, kalau gak sanggup kalian bisa kasih Alif ke aku. Aku takkan pernah mengirimkan biaya ke kalian sepeser pun!" kata Alcenna mulai kasar dan pakai kata 'kalian'.
Besok hari waktu suaminya di rumah ....
"Ada sms dari mamanya anak-anak," ucap Alcenna waktu sudah santai dan berada di kamar.
"Apa katanya?" Alcenna menceritakan.
"Lalu apa jawab Alcenn?"
"Aku bukan niat memburuk mantan istri Abang ya, tapi dari keluarga Abang yang aku dengar- dengar, tak ada cerita yang baik dari dia, mulai dia ngacuhkan ibu mertuanya sampai dia mata duitan. Jadi aku tak akan mengirim sepeser pun padanya. Abang boleh liat, tak lama lagi Alif akan diserahkan ke kita."
"Ya mana baik menurut Alcenn saja, abang serahkan soal anak-anak padamu. Abang tak punya banyak waktu, untukmu saja sudah sudah jauh banyak berkurang. Jadi abang fokus cari uang, Alcenn yang fokus sama anak," tanpa kompromi dia membagi tugas. Alcenna memahami.
"Tidur lagi ya, besok abang mau ngorder barang dulu, nanti hari minggu abang bawa Alcenn jalan. Alcenn mau kemana hmm?"
"Mau ke mall, mau beli perlengkapan dapur, mandi dan isi kulkas dengan buah sama frozen food aja," katanya manja. Alcenna memang manja kalau iblisnya lagi tidur.
"Oke, sekarang kita tidur ya," katanya sambil menarik istrinya ke dalam pelukan hangatnya."
"Jangan marah-marah terus, nanti jelek dan cepat tua," bisiknya.
"Biarin, Abang menyebalkan!"
"Tapi Alcenna selalu kangenkan?"
"Iya, tapi Abang tak ada kangen-kangennya kan?"
"Jangan mancing ribut ya," katanya sambil mengigit telinga istrinya.
"Ayo tidur," ucapnya dengan suara yang mulai melemah. Otaknya mulai memerintahnya untuk tidur.
"iya," jawab Alcenna sambil memejamkan mata. Namun dia tidak lantas tidur. Pikirannya mengembara sejenak.
Alcenna sudah jarang ribut sejak protes, suaminya menjawab, "Coba Alcenn pikir, di mana abang gak perhatian sama Alcenn. Kalau gak ada waktu abang akui. Abang kerja cari uang, uangnya buat siapa, buat Alcenn dan kita semua jugakan. Uang itulah saat ini yang bisa abang kasih dalam bentuk perhatian sama Alceen. Kalau abang di rumah saja, perhatian penuh tapi gak ada uang apa Alcenn bisa bertahan hidup sama Abang? Apa kita bisa hidup tenang, apa kita bisa pergi berobat kandungan, Alcenn coba pikir lagi, " dia diam mencerna ucapannya.
"*Abang sering matikan ponsel."
"Abang capek ribut di telfon*."
"Itu karena Alcenn cemburu."
"Alcenn bukan cemburu kalau menurut abang, tapi curiga, tak pernah percaya pada abang. Abang sadar, berbohong cara mendapatkanmu. Tapi berilah abang kepercayaan. Tidak mungkin abang menghianatimu setelah sekian banyak yang kamu lakukan pada abang."
**//**
***Jika kita ingin tahu sayangnya kita pada suami, maka lihatlah saat dia tertidur. Semua kesal hati kita akan hilang, melihat wajah lelahnya saat tidur. 😇😇
__ADS_1
Jika ingin tahu lelahnya Aku menulis, lihatlah dia bergadang demi memuaskan pembacanya, apakah pembacanya tega, tidak meninggalkan LiVoRa, Like Vote Rate plus komen 😀😘😍***