
Alcenna tak lantas berbaring, dia memang belum menunaikan shalat isya. Dia mengambil air wudhu, lalu menunaikan shalat isya.
Dia panjatkan doa. "Ya Allah ya Rabb ... jika ini yang terbaik bagi hamba Mu ... kuatkan hati ini. Jangan sampai cintaku pada hamba Mu membuat Engkau cemburu. Berilah aku yang terbaik menurut Mu, bukan terbaik menurutku ... Aamiin.
Alcenna melipat mukena dan sajadah, lalu naik ke tempat tidur. Sambil memeluk bantal guling, Ingatannya kembali ke masa lalu. Saat itu dia masih memakai seragam putih abu-abu.
***
Hari ini hari Ardhan mengambil ijazahnya. Dia mengajak Alcenna bertemu dan dia mengajak bertemu di rumah kakak angkat Alcenna.
"Ada apa?" tanya gadis belia itu saat telah bertemu.
"Ada yang mau aku bicarakan sama Alcen, jangan salah paham. Ada hal yang tidak bisa aku ceritakan saat ini dan aku ingin sendiri!" kata Ardhan tegas.
"Maksudnya?" tanya Alcenna bingung. Bagaimana gadis itu mau salah paham sementara tak paham apa yang terjadi dan pria itu inginkan.
"Aku ingin kita putus untuk saat ini," jawabnya tanpa rasa salah. Tanpa ada beban. Tanpa memikirkan hati Alcenna.
"Ada perempuan lain?" tanya Alcenna juga tak ada beban. Hanya saja, kalimat itu yang terlintas.
Alcenna bertanya hanya karena bingung. Selama dua tahun, tak ada satu hal pun yang membuat mereka berselisih paham. Walau cinta mereka cuma cinta monyet.
"Kalau itu tak usah ragu, tak ada perempuan lain untuk saat ini entah kalau nanti! Aku sudah lulus, aku ingin kembali ke kotaku." Usia mereka terpaut beda satu tahun.
Karena Alcenna hanya diam dia melanjutkan ucapannya, "Nanti kalau kita berjodoh kita pasti ketemu lagi." Dia berkata sambil memandang lurus ke depan. Alcenna tak tahu apa yang dia pikirkan.
Seperti Ardhan yang memutuskan tanpa beban, Alcenna pun menerima begitu saja keputusannya. Tanpa menangis-nangis seperti sinetron anak-anak ABG alay. Lalu merekapun sepakat berpisah di hari kelulusan Ardhan.
Setelah tahun ajaran baru Alcenna melanjutkan sekolah. Dia tak pernah mendengar kabar apapun dari Ardhan. Alcenna sibuk menjalani studi dengan status menjomblo. Ada yang datang tapi dia tak memberikan harapan apapun.
Alcenna hanya ingin fokus dengan sekolah, tak ingin mengecewakan orang tuanya, jika sampai tak lulus.
Setahun berlalu tanpa banyak hambatan bagi gadis ceria itu. Ketika di hari kelulusannya tiba, saat beranjak hendak pulang dengan seorang teman baiknya, Marya namanya. Alcenna melihat sosok yang setahun ini hampir dia lupakan. Bersandar di samping sebuah mobil di pelataran parkir sekolahnya.
"Bukannya itu mantanmu?" bisik Marya.
"Ehemm ...." Alcenna hanya membalas dengan berdehem.
"Ada apa dia tiba-tiba muncul, mau mengajak nikah muda dirimu kali kawan? Itu tuh ... secara maharnya sebuah mobil." Marya menggoda sahabat karibnya.
"Berisik ahhh," jawab Alcenna pura-pura sewot. Dia tahu Marya memang juga suka usil.
Jarak dua sahabat itu semakin dekat menuju ke tempat Ardhan berdiri. Tiba-tiba Marya nyeletuk setelah mereka sampai di dekatnya. "Mau jemput pengantin ya?" katanya mengusili Ardhan. Alcenna melihat Ardhan mengangguk santai.
"Kan ... apa kataku, kamu mau jadi pengantin sebentar lagi," ujar Marya dengan mengedipkan mata pada Alcenna. Dasar Marya selalu saja usil dan blak-blakan. Tapi Alcenna bersyukur bisa mencairkan suasana.
__ADS_1
Dia mengulurkan tangan lebih dahulu kepada Marya. "Apa kabar?" tanyanya.
"Kabarku baik, kabar di sampingku sepertinya yang kurang baik," celetuknya sambil menjabat tangan Ardhan.
"Dasar biang rusuh," kata Alcenna sambil menarik rambut sahabatnya sedikit keras. Marya pun terpekik seolah-olah kesakitan sekali. Sambil mengedipkan matanya kembali. Senyum manis timbul di bibir Marya.
"Apa kabar Alcen?" ucapnya pada Alcenna dengan dalam.
"Baik ...." jawab Alcenna biasa saja.
Merasa pada akhirnya akan menjadi obat nyamuk, Marya pamit, "Aku duluan yaa ... aku yakin banyak yang mau dibahas sama sayangmu itu. Satu pesanku, jangan lupa undang aku makan di acara pernikahan kalian!" Lalu dia melarikan diri dengan cepat tanpa menunggu salah satu dari mereka bersuara.
"Dasar ...." Alcenna membatin.
"Lama tak jumpa, tak ada yang marah kalau aku menjemput?" Alcenna melihat Ardhan tersenyum percaya diri.
"Tidak." Aku Alcenna terus terang.
Dalam hati Alcenna membatin, "Apakah dia telah mencari info atau memang begitu percaya diri. Sehingga yakin aku masih sendiri."
Ardhan menarik tangan Alcenna dan membukakan pintu mobil bagian depan, lalu mendorong lembut tubuh Alcenna dan memberi kode untuk masuk. Alcenna pun menurut saja.
Setelah dia melajukan mobilnya. "Mau makan apa?" tanyanya pada Alcenna yang hanya diam saja. Alcenna kehabisan kata untuk memulai percakapan.
"Terserah," jawab Alcenna sambil tetap menolehkan wajah pada Ardhan.
"Iya."
"Ya sudah kalau begitu. Omongannya jangan ngirit begitulah," katanya setengah protes.
"Lagi sariawan," jawab Alcenna.
Alcenna masih tak percaya, seperti mimpi di siang bolong. Baru kemarin rasanya dia disuruh melupakan, tetapi tadi dia berdiri dengan gagahnya dan sekarang duduk di samping Alcenna.
Dia membelokan mobilnya dan memarkirkan di salah satu kafe di kota Alcenna tinggal.
Di dalam kafe dia memesankan beef steak serta milkshake spesial coklat dan dia memesan 2 porsi. Alcenna tak banyak pilih-pilih makanan apalagi makanan yang termasuk kategori mahal. Mereka menunggu pesanan datang sambil mengobrol.
"Sekarang kamu makin cantik saja." Dia membuka obrolan dengan memuji Alcenna.
"Iya donk, patah hati tidak boleh membuat kita larut lalu menjadi seperti zombie!" kata Alcenna dengan pedas.
"Bibir seksimu masih sama pedasnya seperti dulu ya?" katanya sambil mengacak poni Alcenna. Kebiasaan lamanya yang tidak hilang ternyata.
"Perasaan dulu bibirku manis kok, kalau pedas pasti sudah minum air putih kamu saat memutuskan aku waktu itu." Alcenna ingat, rasanya tak ada banyak protes saat itu.
__ADS_1
"Iya, sedikit heran aku waktu itu, kenapa waktu itu kamu tidak banyak membantah dan seperti menerima begitu saja. Kenapa tidak banyak protes hmmm??" Dia memencet hidung Alcenna yang kecil dan sedikit mancung.
"Malas ribut. Lagian orang juga sudah tidak mau lagi kenapa juga mesti mempertahankannya," kata Alcenna masih dengan santai.
"Kamu mau tidak, kalau kita mulai hubungan ini dari awal lagi, dengan lebih serius?" Sikapnya tetap tanpa banyak rayuan.
Alcenna melihat ke dalam bola mata Ardhan. Alcenna menyadari masih menyukainya sama seperti dulu ... sama seperti saat dia meninggalkan dirinya setahun lalu. Tak ada yang berubah.
Alcenna tak ingin menjaga image bahwa dia ingin jual mahal, dengan pura-pura menolaknya. Tak ingin menghukumnya. Nyatanya setahun ini tak ada yang bisa menggantikan dia di hati Alcenna.
Alcenna tersentak ketika sebuah tangan yang menarik poninya. Ahhh ternyata dia melamun, mana yang lebih memalukan dia melamun dengan terang-terangan menatap kearah Ardhan.
"Mau?" ulang Ardhan.
"Kamu yakin pada hatimu?" tanya Alcenna ingin memastikan lebih.
"Sekarang kita sudah tamat dan aku sudah mulai bekerja di sebuah kapal barang. Sebagai ABK sih, aku sebagai oiler."
"Oiler?" tanya Alcenna tak paham.
"Oiler itu juru minyak, jadi tugasku mencatat pemasukan dan pengeluaran bahan bakar dan minyak pelumas atau melaporkan jika ada kelainan pada kapal. Sekarang kita jangan bahas kapalnya, kita bahas hubungan kita ini."
"Mar___" ucapan tergantung karena pesanan datang dan pelayan meminta izin meletakan hidangan.
"Permisi ya Kak ... Bang," ujar pramusaji itu sambil meletakan pesanan.
"Iya, terima kasih ya," ucap Alcenna. Pramusaji mengangguk dan meninggalkan mereka.
Lalu setelah itu Alcenna melanjutkan, "Mari kita coba, jika hati di sana yakin tidak menemukan yang lain." Alcenna menanggapi biasa saja.
Ardhan hanya tersenyum, mungkin dia paham Alcenna masih kesal. Bagaimana Alcenna tidak kesal, tiba-tiba memutuskan lalu tiba-tiba mau menyambung kembali untaian kasih yang terputus, dan bodohnya Alcenna masih menyukainya dan menerimanya. Ya nama juga rasa, siapa yang bisa menolak.
"Janganlah acuh gitu, mari kita makan dulu. Semoga setelah kenyang hilang kesalnya." Alcenna dan Ardhan mulai menyantap hidangan yang ada. Alcenna makan sambil sesekali melirik dia. "Hmmm ternyata makin dewasa dia makin gagah," batin Alcenna
Lalu semuanya berjalan seperti air mengalir.
***
Kini, air mata gadis itu mengalir. Sambil masih dengan erat, Alcenna memeluk guling bahkan lebih erat, karena dia membenamkan wajah dibalik bantal guling. Walau dia sudah berusaha menerimanya, kecewa itu tetap ada.
"Kenapa seperti ini jadinya, dua kali aku menerimanya dua kali aku ditolaknya. Apa arti dari semua ini. Ya Tuhan ... hatiku benar-benar sakit. Aku seperti gadis bodoh rasanya," dia bergumam dalam tangisnya.
**//**
Selamat tinggal cinta pertamaku ... keduaku ... semoga bisa jadi cinta ke tigaku ... ngarap auto ngakak sambil nangis juga.
__ADS_1