Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Tak Disangka.


__ADS_3

Dua hari setelah bos Alcenna menyatakan perasaannya dengan serius. Alcenna tetap tidak menganggap serius dan berangkat ke bandara untuk mengikuti pelatihan. Alcenna tidak memberitahu Arzon perihal keberangkatannya.


Dalam hatinya, "Teruslah diam, dengan begini aku menganggap hubungan kita selesai. Walau hatiku menangis darah. Pantang bagiku untuk mengemis cinta siapapun termasuk cintamu."


Saat berangkat Alcenna mengusahakan suasana hatinya senang-senang saja, apalagi terselip pesan dari bosnya, jangan main-main, fokus pada pelatihan dan serap ilmunya baik-baik. Jika Alcenna gagal, bosnya tidak segan-segan meminta biaya ganti dua kali lipat. Alcenna jelas tidak mau itu terjadi.


Alcenna sedang berada di ruang check in, dia sedang menunggu antrian pemeriksaan tiketnya. Masuk pesan singkat dari bosnya. "Hati-hati, kabari saya jika sudah sampai di Jakarta."


"Jangan memberi perhatian lebih deh Pak, takutnya saya benaran jatuh cinta dan membuat hidup saya tambah rancu." Balas Alcenna sengit.


Bosnya hanya membalas. "Hahaahaa ...."


Alcenna sudah melakukan boarding pass dan bahkan sedang duduk manis di kursi pesawatnya, sesuai nomor tiket menjelang pesawat akan terbang landas beberapa menit lagi.


Alcenna juga sudah mematikan ponsel, sebelum para pramugari memberikan peringatan. Bagi Alcenna peraturan tetaplah peraturan yang harus ditaati. Alcenna sangat tidak senang mendengar orang mengatakan kalimat 'peraturan dibuat untuk dilanggar'. Untuk apa menunggu jika memang sudah harus menonaktifkan ponsel ketika pesawat akan mengudara.


"Tiba-tiba udara seakan menipis dan berkurang di dalam pesawat, membuat bibir Alcenna terasa kering dan tenggorokannya tercekat. Dengan santai sosok yang sudah lama tidak dia lihat mendekat ke arah kursinya.


"Ya Allah, apalagi ini. Banyak sekali godaan hati ini ketika aku sedang bermasalah denganmu bang Arzon," batin Alcenna. Alcenna menundukkan kepala seolah tak melihat. Padahal, bagaimanapun andai dia yang duduk di samping kursi Alcenna, Alcenna takkan bisa menghindari pertemuan ini.


"Permisi ... saya mau duduk di sebelah nona, bisakah nona berdiri memberi saya ruang untuk masuk?" Suara yang setahun belakangan ini tidak pernah Alcenna dengar mulai tertangkap memenuhi gendang telinganya.


Tanpa menoleh ke arahnya, Alcenna berdiri memberi ruang dan kembali duduk setelah dia duduk di kursinya.


"Apa kabar? Sebegitu tidak ingin kamu melihatku?" katanya berbisik dan mengejutkan.


Alcenna menolehkan kepala ke samping dan melihatnya. Tergambar jelas kerinduan di matanya. Dia menatap dengan dalam seakan ingin menyelami hati Alcenna. Manalah dapat, seperti kata pepatah dalam samudera bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.


Hanya helaan nafas yang Alcenna lakukan. Apa yang harus dia jawab di tengah rentetan peristiwa yang terjadi belakangan ini. Hidupnya sudah seperti dalam drama.


Tak kunjung mendapat jawaban dia kembali menyapa gadis itu, "Apa kabar Cen ... apa sebegitu tak inginnya kamu menjawab, walau sekadar sapaan Cen?"


"Kabarku baik seperti yang kamu lihat," kata Alcenna pelan. "Hanya hatiku yang lagi tidak baik." Alcenna melanjutkan dalam hati.


"Hmm ...." Hanya kata itu yang terdengar dari bibir lelaki yang pernah singgah di hatinya.


"Dari kapan kamu sudah menyadari kehadiranku?" Alcenna bertanya padanya.


"Sejak kamu menjejakkan kaki ke ruang check-in," katanya.


Pesawat hendak lepas landas dan Alcenna kembali diam. Dia seperti kehilangan kata-kata. Lama mereka saling berdiam diri. Alcenna menenangkan hati untuk biasa saja, bukan untuk berdamai dengan masa lalu, tapi lebih tepatnya jangan sampai tergoda bagian masa lalu ketika lagi ada masalah. Ahh mantan dapat menjadi iblis yang nyata.


"Ngapain ke Jakarta Cen?" Dia tak bisa diam dan ingin mencari tahu.

__ADS_1


"Ikut pelatihan." Singkat dan padat Alcenna menjawab.


"Pelatihan tentang meningkatkan Kinerja?"


Alcenna merasa seperti takdir yang ikut andil dalam pertemuan kembali dengannya. Sungguh tak disangka akan berada di pesawat yang sama, di kegiatan yang sama bahkan bisa saja di hotel yang sama.


Alcenna penasaran dan iseng bertanya. "Sudah tak melaut lagi?" Alcenna lihat dia menggeleng.


"Jadi apa kegiatan sekarang? Sampai bisa ikut pelatihan ini?" Rasa penasaran Alcenna semakin tinggi dan lupa kalau harusnya mengabaikan dia lebih.


"Coba bisnis kecil-kecilan."


"Ohhhh ...."


"Masih di perusahaan lama?" Nadanya semakin ringan saat bertanya pada Alcenna. Mungkin karena sikap Alcenna tidak sekaku tadi. Ahh mantan bukan hantu yang harus ditakuti.


"Masih."


Dia seperti mengerti Alcenna akan semakin santai jika dia tidak membahas hubungan masa lalu. Dia bertanya seputar yang biasa-biasa saja dan tidak terlalu bersifat pribadi.


"Nginap di mana rencana? Hotel dekat area pelatihan ya?" tanya Ardhan.


"Ya, sudah dicarikan orang kantor." Alcenna tak sepenuhnya berbohong, padahal yang mencarikan adalah bos yang ternyata mempunyai perasaan lain padanya.


"Sama." Dia tersenyum manis. Senyum yang sudah Alcenna lupakan setahun lebih ini. Alcenna sih senang hati saja. Dia menganggap punya teman di sana dan di hotel. "Mana tahu bisa CLBK ." Batinnya sempat-sempat mencelos.


Tak terasa, pesawat akan mulai mendarat, terdengar kopilot dan pramugari mulai memberikan instruksi.


Setelah turun dari pesawat, Alcenna mengaktifkan handphone dan satu pesan hadir di sana. "Sudah sampai kamu Alcenna?"


"Isss ... jangan berlebihan deh Pak bos." Alcenna membalas dengan berani. Terpenting Alcenna masih ada rasa sopan dan etika ketika membalasnya.


Alcenna tak ingin menjadi mahkluk yang besar kepala karena sudah dicintai seseorang, walau cintanya tidak salah, tetapi waktu kehadirannya tetap salah. Cinta hadir tidak pada tempatnya.


"Sama-sama kita Cen?" Suaranya terdengar ragu-ragu.


"Hmm boleh," kata Alcenna santai.


"Dari pada nganggur mending ngawur saja Alcen." Sisi iblis mulai beraksi kembali.


Karena ada teman, Alcenna memilih naik bus Damri. Baru setelah akan menuju ke hotel mereka memesan taksi.


Sampai di hotel yang dituju, mereka berpisah ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Di kamar hotel, Alcenna menelepon ibu dan adiknya. "Bu ... Alcen sudah sampai Jakarta ya dan sudah selamat sampai di kamar hotel."


"Alhamdulillah Nak, jaga diri baik-baik ya, shalat jangan tinggalkan." Hanya itu perkataan Alcenna dengan ibunya.


"Dek ... kakak sudah sampai yaa dan sudah di kamar hotel. Kabari bang Sammy ya." Alcenna hampir mengucapkan kalimat yang sama ketika mengabari ibunya tadi.


"Ohhh oke Kak, nanti kalau dia sudah di rumah."


"Kamu lagi apa Dek? Sudah makan?"


"Gak ada Kak, lagi baring-baring saja. Sudah makan tadi kak."


"Kamu tahu tak Dek, kakak tadi jumpa siapa?"


"Jumpa siapa Kak? Jumpa si pelaut ya?" katanya tepat sasaran. Entah dia asal atau sudah bisa menebak.


"Isss tahu sajalah kamu Dek."


"Tu tandanya sehati kak ... tapi gak lupakan kalau kakak sudah milik bang Arzon." Dia selalu membela Arzon.


"Siapa bilang kakak miliknya. Menikah juga belum. Selagi janur kuning belum melengkung, kakak hanya milik ayah dan ibu juga kalian adik-adik kakak." Alcenna membantah Azarine soal status milik siapanya.


"Kenapa? Masih marah karena didiamkan bang Arzon?? Kakak sih, punya mulut kelewat tajam, kalah pula tajam silet." Dia sewot sendiri melihat kakaknya. Alcenna tidak cerita banyak pada Azarine tentang saat itu. Dia hanya mengatakan lagi diaman saja.


"Siapa yang marah juga, cuma biarin saja dia diam. Kumbang tidak seekor!" Alcenna membuat Azarine tambah sewot.


"Bunga juga tak setangkai ... lagian kumbang satu itu saja yang menyengat!" Dia benaran sewot.


"Omong punya omong, kumbang mana maksudmu yang menyengat Dek?" Alcenna paham siapa yang dia maksud. Sebab dari awal Azarine kurang respon jika soal Ardhan.


"Siapa lagi kalau bukan pelaut kakak yang pernah karam itu! Jangan-jangan itu hantunya."


"Ngasal kamu ya Dek ...."


"Siapa tahukan, coba sambil menungging melihat dia, mana tahu kakinya gak jejak bumi. Masa dunia seluas ini bisa jumpa di sana, atau jangan-jangan dia emang memantau kakak? Apa jangan-jangan dia sudah tak bernyawa dan itu roh gentayangan?" katanya berapi-api.


"Udah ahh Dek kamu menakuti kakak saja, mending kakak mandi."


"Ya deh ... hati-hati ya Kak." Dia kembali menjadi adik yang baik.


Alcenna memutuskan berbaring sejenak bukannya mandi. Dia hanya beralasan sama Azarine biar tidak terus-terusan meradang.


**//**

__ADS_1



__ADS_2