Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Saya Mohon Doa Restu


__ADS_3

Alcenna sudah siuman, dan sudah pindah ke kamarnya dan Putri. Kini bahkan sudah tidur. Walau hari baru jam 10 malam.


Putri belum bisa tidur. Dia memandangi wajah pucat dan lelah Alcenna. Sungguh Putri merasa iba melihatnya. Putri belum mengetahui apa yang terjadi.


Di kamar Robby ....


"Hallo Rob, bagaimana?"


"Alhamdulillah berjalan lancar Pak, hanya ada sedikit hambatan pada awalnya."


"Ada apa? Cerita sekarang saja. Saya tidak bisa tahan sampai besok pagi." Eddyson mendesak Robby.


Robby menceritakan tanpa ada yang ditutupi.


"Jadi sekarang Alcenna sudah tidur? Apa dia baik-baik saja Rob?"


"Saya sudah minta Putri memperhatikannya Pak, sekarang dia sudah tidur. Saya akan mengabari Bapak apapun keadaannya."


"Harus Rob!"


***


Tengah malam ... drttt ... drrrrtt ...


"Hallo Kak," nada Putri terdengar panik.


"Ada apa Put?" Robby langsung sadar dan mata mengantuknya langsung menguap hilang.


"Kak ke kamarku Kak, Alcenna demam tinggi. Dia mengigau Kak." Putri langsung menutup telfonnya.


Robby langsung menyambar baju kaosnya dan mengenakannya. Dia langsung ke kamar Putri. Pengacara yang bernama Aldrian juga sudah tersentak bangun ketika Robby setengah berteriak menjawab telfon Putri.


Robby masuk, dia memegang kening Alcenna. Terasa sangat panas. Robby langsung meminta pihak hotel mencarikan taksi. Robby sangat takut jika terjadi apa-apa, bosnya tidak akan bisa terima. Dia lebih baik melarikan Alcenna ke rumah sakit terdekat. Tak jauh dari hotel SB ada sebuah rumah sakit besar.


Robby membopong Alcenna yang tak bisa membuka matanya. Walau dia setengah sadar. Terbukti dia mengerang. Hawa panas dari tubuh Alcenna terasa di tubuh Robby.


Putri mengikuti Robby. Aldrian diminta tinggal oleh Robby. Robby minta Aldrian terbang besok pagi-pagi sekali ke Jakarta dan mengurus perkara perceraian Alcenna secepatnya. Robby merasa begitu kasihan melihat kisah cinta Alcenna yang begitu penuh luka.


Alcenna dilarikan ke UGD, mereka menunggu. Perawat datang pada Robby dan Putri, mengatakan bahwa Alcenna harus rawat inap. Robby menandatangani berkas-berkas untuk prosedur rawat inap.


Kini setelah selesai dan Alcenna sudah di ruang rawat inap. Robby mengambil ruangan vip. Hari sudah menunjukan jam 2 malam. Robby terpaksa menunggu jam 5 pagi untuk mengabarkan keadaan Alcenna pada bosnya. Robby yakin jika sekarang bosnya tidak akan tidur dan itu bisa mengurangi energi. Putri sudah tertidur meringkuk di sofa bed yang berwarna abu-abu tua.


Dilihatnya wajah Alcenna yang sudah lebih tenang. Suhu tubuhnya mulai dingin, entah itu pengaruh Parasetamol cair yang disuntikkan ke selang botol infusnya.


Robby akhirnya berbaring di atas kepala Putri. Dia tidur bersandarkan kepala sofa. Jam 5 pagi dia tersentak, tepat ketika petugas cleaning service membersihkan lantai ruangan dan kamar mandi.


"Kak," panggil Alcenna lemah.

__ADS_1


"Iya Cenn."


"Putri masih tidur Kak?"


"Iya, ada apa?"


"Alcenn mau shalat subuh Kak."


"Tayamum saja ya."


"Iya Kak, tapi tolong pinjamkan mukenanya Kak."


"Ada ni, disediakan pihak rumah sakit."


"Robby keluar, dan minta salah satu petugas CS membantu Alcenna.


Di luar ruangan, Robby menelfon bosnya ....


"Apa sesuatu terjadi pada Alcenna," ucap Eddyson tepat.


"Iya Pak, Alcenna tadi malam demam tinggi dan saya larikan kerumah sakit."


"Oke, saya mandi dan akan menelfon Adam untuk mengurus tiket. Saya akan menyusul kalian pagi ini."


***


Eddyson telah di jalan menuju bandara. Dia menelfon ibu Alcenna. Apa salahnya sekalian bertemu di kota P, pikirnya.


"Ohhh ini nomormu Nak. Apa kabar?" ucap Ibu Alcenna. Ibunya sudah tahu banyak cerita mereka dari Azarine. Hanya belum ada kesempatan untuk bertemu. Rencana liburan semester ini mereka akan bertemu. Karena Azarine sudah berjanji akan ke Jakarta.


"Kabar saya baik Ibu, Ibu sudah di sekolahan?"


"Iya, tapi ibu gak sibuk. Jam pertama ini ibu kosong," jelas ibunya Alcenna.


"Ibu sudah tahu kalau Alcenna kembali ke kota P kemarin, karena urusan perceraiannya?"


"Sudah Nak, dia nelfon. satu-dua hari dia akan ke rumah ibu. Setelah urusanya selesai."


"Ohhh ... urusannya alhamdulillah sudah selesai Bu ...."


"Alhamdulillah."


"Sebenarnya saya ingin berbicara nanti ketika Ibu sudah di Jakarta. Namun kebetulan pagi ini saya ke kota Alcenna, Ibu."


"Ohhh, bagaimana kalau Nak Eddyson ikut Alcenna ke desanya," tawar ibu Alcenna tanpa tahu apa yang terjadi.


"Rencana saya tidak ada untuk menyusul Alcenna ke kotanya Bu, tapi ada sesuatu hal. Apa ibu tidak bisa libur dan kita ketemu di kotanya Bu?" jawab Eddyson masih mencari momen yang tepat memberikan kabar soal Alcenna.

__ADS_1


"Ohhh, bagaimana ya...." ibu Alcenna terlihat ragu. Eddyson sudah tahu banyak soal ibu gadisnya. Beliau tidak suka libur tanpa ada alasan yang jelas.


"Ibu jangan terkejut ya Alcenna tidak apa-apa. Bagaimana kalau Ibu dan Azarine izin, katakan Alcenna lagi dirawat di rumah sakit. Itu yang terjadi, semalam Alcenna demam panas Bu."


"Ohhhh," ucap ibunya terkejut.


"Jangan resah Bu, saya ingin membawa Alcenna pulang ke Jakarta setelah dia bisa keluar. Lebih baik dia membatalkan agenda mainnya di kota. Saya mohon Ibu tidak keberatan. Karena dia juga harus mempersiapkan sidangnya. Saya akan menanti Ibu liburan ke sana."


"Ohhh gitu, iya ibu izin dulu ya dengan kepala sekolah sekalian ibu izinkan Azarine juga."


"Oke, terima kasih ya Bu atas pengertiannya. Saya mohon doa restu, semoga semua berjalan lancar dan kami bisa hidup bersama. Saya tetap mencintai anak Ibu. Nanti kita lanjut cerita sampai di dekat Alcenna ya Bu. Saya mau cek-in. Doakan saya selamat sampai tujuan Bu."


"Iya Nak, ibu doakan. Kita ketemu di kota P."


***


Sore hari ibu dan Azarine sampai. Mereka saling memeluk Alcenna.


"Apa kabar Bu? Lama sudah kita tidak saling jumpa ya Bu," sapa Eddyson.


"Iya, tapi kamu tetap awet muda ya," ucap ibunya Alcenna.


"Ibu bisa saja."


"Azarine masih ingat maskan?" ucap Eddyson langsung menyematkan gelar panggilannya.


"Masih Mas, gimana bisa lupa sama orang sebaik dan seganteng Mas." Eddyson tertawa.


"Kak Putri, lama tak jumpa ya, apa itu suami Kakak?" ucap Azarine menunjuk Robby. Putri terbatuk kecil begitu juga Robby. Azarine tidak tahu kalau Putri belum menikah. Kakaknya tak ada cerita soal Putri.


"Calonnya Rin," kata Eddyson. Putri dan Robby sama melotot ke bosnya.


"Lihatkan Rin, mereka pasangan kompak," kata Eddyson menjadi-jadi. Azarine hanya tersenyum menyangka benar begitu.


"Ibu mari duduk sini, ada yang ingin saya sampaikan pada Ibu," ajak Eddyson. Ibu masih berdiri di dekat Alcenna.


Setelah mereka duduk di sofa bed, "Ibu sudah tahu cerita seluruhnyakan?"


"Sudah Nak, Sammy sudah cerita."


"Saya serius sama Alcenna Bu, jika sudah siap semuanya saya mohon doa restu ibu untuk menikah dan membangun hidup baru."


"Iya, ibu restui. Siapkanlah semua urusan administrasi kalian."


"Saya sudah Bu. Alcenna yang lagi diurus."


"Alhamdulillah. Ibu hanya ingin yang terbaik bagi dia."

__ADS_1


"Iya Bu, makasih banyak ya Bu. Atas restu Ibu."


**//**


__ADS_2