Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Mengikuti Naluri


__ADS_3

Setelah membawa Alif berobat, mereka langsung menuju rumah mamanya Allya. Alcenna menggendong Alif yang tertidur diperjalanan. Mereka hanya menggunakan sepeda motor.


Alcenna mengendong Alif dengan menyandarkan kepalanya di bahu wanita muda itu. Alcenna memeluk balita kecil itu. Ada perasaan yang sulit dia jabarkan ketika memeluk si kecil.


Alcenna sengaja tidak ikut ke rumah mama Allya. Alcenna tidak ingin berurusan lagi dengannya. Biarlah anak-anak saja yang jadi urusannya. Alcenna menantikan Allya dan suaminya di depan gang jalan ke rumah mama Allya yang tidak terlalu jauh. Di sana terdapat kios minyak yang tutup dan ada bangku yang bisa dia dudukan sambil menggendong si kecil.


Namun belum lama berselang, terdengar suara Allya, "Bundaa ....." Terlihat Allya jalan mendekati Alcenna.


"Ada apa Allya?" jawabnya.


"Kata papa ikut saja ke rumah Bun, mama tak ada di rumah," ucap gadis kecil yang kini berstatus anaknya.


"Tak usahlah sayang, bunda di sini saja ya. Nanti kalau ke sana, bunda tak enak dengan tetanggamu sayang," tolak Alcenna halus.


"Tapi papa suruh jemput Bunda, papa lagi kemaskan baju kami Bun," katanya lagi.


"Okelah, ayuk," Alcenna memutuskan menyusul karena suaminya memintanya.


Ketika Alcenna akan sampai, dia belum melihat suaminya yang masih mengemas baju anak-anak yang akan dibawa. Dia terus berjalan dengan perlahan sambil masih memangku si kecil yang tertidur di posisi seperti tadi. Alcenna melihat warga sedikit ramai di sana, maklumlah lingkungan mak-mak rempong yang solid.


Hanya tinggal beberapa langkah mendekati suaminya, tiba-tiba mantan istrinya muncul di depan Alcenna dan langsung mengambil paksa Alif yang berada dalam gendongannya. Alcenna yang terkejut masih sempat memegang kedua kaki Alif.


Mamanya terus memaksa mengambil Alif. Alcenna yang belum sepenuhnya sadar hanya mengikuti nalurinya, mempertahankan Alif dan masih menahan kakinya. Alhasil Alif menangis sejadi-jadinya, karena tarikan mamanya, sementara Alcenna masih terdiam sambil menahan kaki Alif. Alcenna masih dalam mode 'blank'.


Bagaimana tidak Alif menangis, pinggang hingga kepalanya berada di tangan Ibu kandungnya, sementara Alcenna masih menahan kaki sang anak. Ibunya terus menarik sambil berteriak, "*K*embalikan anakku, ini anakku. Kembalikan anakku, ini anakku." Hanya itu yang dilontarkannya membuat Alcenna terbengong.


Tiba-tiba terdengar satu suara bapak-bapak berujar, "Jika kalian tidak ada yang mau mengalah! Maka anak itu bisa mati kalian tarik terus!"


Alcenna tersadar dan spontan melepaskan kaki Alif. Mamanya langsung mengambil Alif dan duduk disalah satu teras warga. Memeluk anak dipangkuannya sambil berkata, "*I*ni anakku, sayang mama Nak." Kalimat itu terus di ucapnya berulang kali sudah seperti orang gila bagi Alcenna melihatnya.


Alcenna datang mendekatinya, belum sempat Alcenna berkata sesuatu, dia menyadari kedatangan wanita muda itu dan dengan tatapan nyalang dia berkata, "Ini anakku, ambillah sama kau yang besar-besar!"


Alcenna langsung menyadari apa maksud mantan istri suaminya mengantar dan meninggalkan anak-anak di depan kantor suaminya hanya berbekal dua lembar baju masing-masing anak.

__ADS_1


Dia berniat hanya menghancurkan rumah tangga Alcenna melalui anak-anaknya. Dia berharap Alcenna tidak tahan dan meminta cerai pada suaminya. Namun ternyata dia salah menduga, Alcenna merengkuh anak-anaknya dan tidak mengembalikan anak-anaknya. Itu yang membuat dia stres dan seperti orang gila ketika memeluk anaknya.


Alcenna yang pada dasarnya bukan manusia sabaran dan justru penaik darah, lantas berucap, "Makanya, pikir panjang kalau mau menggunakan anak-anak kau untuk menyerangku! Anak-anak kau tidak bersalah dan tidak akan pernah bisa jadi alat untuk perceraianku!"


Dia tidak menjawab, yang diucapkannya masih sama, "*I*ni anakku, sayang mama Nak." Hanya itu yang diucapkannya. Alcenna akan jadi ikutan stres jika berbicara dengannya.


Alcenna memilih mundur dan Allya juga ikut mundur yang dari tadi di samping ibu tirinya. Alcenna memeluk pundak Allya, dia iba melihat Allya sedikitpun tidak dipandang. Mamanya hanya sibuk memeluk Alif.


Seorang ibu datang menghampiri Alcenna. Dia berkata, "Kami warga sini minta maaf padamu, kemaren-kemaren kami menyalakan suamimu dan dirimu. Sekarang kami jadi lebih paham. Jaga Allya dan Rhania baik-baik ya, Rhania pernah hampir makan nasi basi karena dia teledor sebagai ibu!" ucap ibu tersebut tiba-tiba menjadi sinis memandang mama Allya.


"Tak apa Bu, biasa itu kalau kita mendengar cerita satu pihak. Ohh ya Bu, saya titip obat Alif ya Bu. Telinganya bermasalah dari awal dia datang, ini obat lanjutannya. Mau saya kasih ke mamanya sepertinya tidak memungkinkan, besok sudah tenang tolong ibu kasihkan ya."


Suami Alcenna pamit dengan para warga yang bagaimana pun pernah menjadi tetangganya. Alcenna juga bersalaman dengan beberapa warga yang menyalaminya, walau tidak saling kenal, setidaknya mereka kenal sekarang Alcenna sebagai istri Arzon dan ibu baru bagi Allya.


Alcenna merangkul Allya yang kelihatan sedih hanya memandang mamanya tanpa mamanya pedulikan, "Ayo Allya kita pulang dan jangan sedih sayang ada bunda bersamamu yang akan selalu sayang padamu," ucapku dengan tulus dan sedih melihat Allya tidak diperdulikan sedikit pun oleh mamanya yang mungkin lagi setengah depresi karena niat salahnya memberikan hak asuh anaknya.


Mereka langsung pulang ke rumah, hari telah beranjak semakin malam. Rhania ketika Arzon telfon adiiknya, ternyata masih tidur. Suami Alcenna memutuskan untuk menjemput besok pagi saja.


"Allya, kenalkan ini adik bunda panggil ibu," ucap Alcenna mengenalkan Allya.


"Allya Bu," ucapnya santun sambil mencium tangan Azarine.


"Ini oom, adik bunda dan sebagai abang oleh ibu."


"Allya om," dia juga mencium tangan Sammy.


Alcenna merasa beruntung adik-adiknya juga bisa menerima dengan ikhlas.


"Allya tidur sama ibu ya," ajak Azarine.


"Iya Bu."


***

__ADS_1


Paginya Alcenna dan suaminya menjemput Rhania di tempat Melfa. Kebetulan ini hari minggu. Mereka tidak lama di sana, siap menjemput Rhania, langsung ke pasar.


Mereka masak bersama, dan suaminya membantu memanggangkan ikan. Menu hari ini ikan bakar, sambal terasi dan sayur rebusan saja.


Ketika makan bersama, Alcenna melihat Allya agak canggung, Alcenna berkata, "Allya makannya jangan malu-malu ya, ini sekarang rumah Allya juga, ya kan Bu?" ucap Alcenna meminta bantuan Azarine.


Alcenna sengaja melemparkan kepada adiknya, karena Adiknya lebih memahami anak-anak. Alcenna juga ingin Allya dan adiknya lebih dekat.


"Iya sayang, makan yang banyak. Allya masih harus banyak gizi dan energi untuk sekolah."


"Tapi Allya tidak sekolah lagi sudah setahun ini," ucapnya polos.


Alcenna dan Azarine saling pandang dan mereka berdua memandang Arzon, meminta penjelasan.


"Makan dulu, nanti abang cerita," ucapnya.


***


"Malamnya Alcenna bertanya pada suaminya, "Apa cerita anak sampai gak sekolah Bang? Apa gak ada dikasih biaya selama ini?," tanya Alcenna dengan hati-hati.


"Abang kasih kok, tapi abang juga gak tahu apa masalahnya. Allya sekolahnya dengan kakak mamanya di desa."


"Lalu Ayu dulu sekolahnya bagaimana?"


"Ayu dari kecil sudah sering sama neneknya. Ibu abang. Waktu SD dia sering pindah-pindah antara mamanya dan neneknya.


Kini Ayu tinggal di tempat kakak Arzon. Dia di masukan pesantren oleh kakak Arzon yang di panggil dengan 'ibu'.


Alcenna diam, sungguh tidak menyangka begitu rumit perjalanan hidup mereka. Alcenna yang awalnya mengira karena kehadirannya hidup mereka berantakan ternyata bukan itu penyebabnya. Orang tua anak-anak tirinya seperti kurang bertanggung jawab. Bapak bak kata bapaknya, mamak bak kata mamaknya. Jadi anak yang kocar-kacir.


Alcenna yang masih minim ilmu tentang anak, hanya mengikuti nalurinya dan berniat akan menyekolahkan mereka baik-baik sekuat dan sebisa yang dia mampu. Karena tak ada yang lebih baik di tinggalkan pada anak selain ilmu yang bermanfaat.


**//**

__ADS_1


__ADS_2