
Arzon masih hanyut dengan bayangan masa lalunya. Sedikit pun dia belum bisa memejamkan matanya.
"Aku besok pagi pergi luar kota beberapa hari, tolong siapi pakaianku," ucap Arzon suatu malam.
"Punya tangan punya kakikan? Ambil di lemari, sudah aku gosokan. Aku bukan pembantumu."
"Yang bilang pembantuku siapa?" Arzon tak ingin memperpanjang masalah dan menyiapkan sendiri pakaiannya ke dalam tas. Dia sudah terbiasa melakukannya.
"Berapa hari ?" tanya istrinya.
"Tiga hari."
"Ohhh."
"Kenapa? Keberatan?"
"Tidak, biasa juga pernah pergi lama. Bahkan setahun kau gak pulang, lupa?" sinisnya mengingatkan.
Arzon diam saja, waktu itu pernah sekali terlintas berniat bercerai dengan istrinya. Tapi ibunya selalu menyuruh dia kembali. Setelah kembalipun rumah tangganya tak pernah damai.
***
Paginya ....
"Aku pergi," Tanpa salam tanpa kemesraan, Arzon melangkah pergi. Dia pergi ke kantor seperti biasa.
Tengah malam Arzon pulang, "Mana mama kalian?" tanyanya pada Allya yang membukakan pintu dengan mata setengah mengantuk.
"Mama pergi kerja Pa, pagi nanti pulangnya. Kadang mama gak pulang Pa, lembur kata mama," ucap Allya polos.
"Pagi jam berapa biasa mama pulang?"
"Jam 8 Pa," jawab Allya.
"Ohh tidurlah Allya lagi."
"Iya Pa."
Hari ini Arzon sengaja datang telat ke kantor dan pulang jam makan siang.
"Sudah makan anak Papa?" tanya Arzon pada Allya.
"Belum Pa, mama belum pulang."
__ADS_1
"Biasa mama pulang jam segini?"
"Biasa pagi Pa, tapi kadang juga siang. Ada gak pulang sampai dua hari."
"Jadi kalau papa luar kota mama sering gak pulang?" Allya mengangguk.
"Kamu dan adik-adik makan apa?"
"Ibu samping yang sering ngasih," perkataan Allya membuat Arzon naik darah.
"Beli nasi di gang depan saja siang ini, Allya bisa ke sanakan? "ucap Arzon sambil mengeluarkan uang lima puluh ribuan.
"Bisa Pa," ucapnya sambil mengambil uang yang diberi papanya.
"Sambalnya terserah kamu sama adik saja, papa gak makan, masih kenyang," ucap Arzon.
Lalu pada siang harinya ....
"Kalian main dulu tempat ibu depan ya, papa ada perlu sama mama. Allya jaga adik sebentar ya," ucap Arzon.
"Jadi ini kerjamu kalau aku tinggal!" bentak Arzon saat siang hari istrinya baru pulang. Setelah dua hari ditunggu.
"Kapan pulang?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Jadi sudah kau rencanakan?" tanyanya tanpa takut. Dia juga mulai bosan dengan rumah tangganya.
"Jadi benar kamu selingkuh?" Arzon menahan emosinya.
"Kalau iya kenapa! Bukankah kau juga selingkuh, bahkan ada perempuan yang datang ke rumah ini mencari kau! Entah sudah berapa banyak yang kau selingkuhi di luar sana."
"Kau pikir aku sama seperti dirimu ha, berhari tidak pulang pergi dengan lelaki lain."
"Aku kerja," belanya.
"Di mana kamu kerja, rumah makan? Kamu bilang aku bodoh, bilang lembur pada anak-anakmu."
"Aku sudah muak melihat kau, kau selalu egois. Kau yang tidak peduli sama istri dan anakmu, salah jika aku mencari orang yang mau mengerti aku."
"Jelas kau salah, teramat salah. Kau bilang aku tidak peduli dengan kalian, lalu untuk apa aku kerja banting tulang. Semua hasil gaji aku beri padamu, namun kau mengeluh kurang. Lalu dari mana lagi bisa aku dapatkan duit lebih ha, tidak mungkin aku mencurangi perusahaan. Aku tidak mau ambil resiko dipenjara jika ketahuan. Satu-satunya jalan ya aku melobi siapa saja wanita yang mau denganku. Aku memperdaya mereka hanya untuk uang mereka, demi memuaskan hawa nafsumu. Lalu ini balasan kau terhadapku. Jadi di mana letak salah aku ha? Dan asal kau tahu, aku tidak pernah membawa wanita mana saja tidur denganku. Lalu kau apa?"
"Kau juga jangan asal menuduh aku. Aku juga tidak pernah tidur dengan pria itu, aku hanya menemani dia nyanyi dan minum. Tak lebih."
"Kau pikir aku bodoh jika sampai kau tidak pulang dua hari," ucap Arzon.
__ADS_1
"Kalau itu yang kau bahas. Lalu kau sendiri, ke mana kau tidur sering tak pulang!"
"Tak usah aku yang kau tanya, kau tanya sana sama adikku, kemana aku tidur selama ini, jika tidak pulang," jawab Arzon.
"Aku tak peduli, aku tak mau tahu. Jika kau ceraikan aku, jangan harap aku kasih jumpa dengan anak-anak," ancam istrinya. Dan itu selalu ampuh meredam keputusan Arzon untuk menceraikannya.
"Terserah kau, jangan kau pikir aku lelaki yang tak punya harga diri. Jangan kau pikir juga anak kau bisa jadi ancaman bagiku. Selama ini aku mengalah supaya kau berubah dan demi anak-anak. Tapi semakin hari kau semakin menjadi-jadi. Apa kau sudah koreksi diri, apa saja yang kau lakukan untuk menyenangkan hatiku?" Arzon pergi meninggalkan rumah.
"Jika kau pergi, anak-anak kau akan aku bawa pergi jauh!" ancamnya lagi. Arzon berhenti lalu membalikkan badan dan senyum timbul dari bibir istrinya. Dia berhasil lagi membatalkan rencana suaminya.
"Lakukan jika itu maumu, aku tak peduli lagi. Asal kau tahu aku sudah menemukan wanita yang bisa mencintaiku tanpa memandang aku berada atau tidak. Dan aku sedang memperjuangkan dia untuk aku miliki. Lakukan apa yang kau mau dan urus anak-anak kau. Aku tidak ada masalah," ucap Arzon meninggalkan rumah dan tanpa pamit pada anak-anaknya, tanpa sehelai pun membawa baju.
"Berhenti aku bilang, kau boleh pergi tapi jangan lupa kau biayai anak-anak! Mereka darah daging kau, tanggung jawab kau." ucap istrinya yang masih terdengar jelas di telinga Arzon.
Arzon melangkah tanpa ragu. Jauh di dalam hatinya dia akan memperjuangkan gadis yang dia temukan di mobil travel. Gadis yang berparas cantik dan jauh lebih muda darinya. Gadis yang awalnya hanya untuk pengisi hari- harinya. Hari yang menjenuhkan dia jalani.
Lalu siapa sangka pertemuan kedua terjadi begitu saja dan cepat sekali, seperti sudah di atur untuknya. Dia pun tidak menyangka, niat main-mainnya malah menjadi serius dan mendapatkan gadis tersebut, dalam hidupnya.
Kegagalan rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk. Malah seperti suatu alasan untuk dia bisa mendapatkan gadis tersebut.
Lalu saat dia sudah memutuskan akan memperjuangkan gadis tersebut, "Aku tak bisa Bang sore ini, kekasihku datang," ucap Alcenna.
Siapa sangka ucapan lugas Alcenna, mampu mematahkan hatinya yang sedang terguncang. Di tengah kekosongan hatinya banyak hal yang terjadi. Dia mencoba berdamai dengan hatinya kembali ke keluarganya.
Namun tak ada perubahan dalam rumah tangganya. Dia kembali jarang pulang dan mengabaikan anak-anaknya. Dia terkesan mencari kebahagiaan sendiri. Lupa pada statusnya yang seorang ayah.
Ibarat siput yang mati dan hanya menyisakan cangkang kosongnya. Begitulah hati seorang Arzon Himawan. Kembali pertemuan tak terduganya dengan si gadis di suatu hari, memutar balikkan kembali kisahnya. Dia ingin kembali mendapatkan Alcenna, ketika mengetahui Alcenaa sudah tidak bersama kekasihnya.
Semua bayangan masa lalu tiba-tiba berkelabat silih berganti dibenaknya, lalu Arzon kembali teringat suatu hal tentang Alcenna, "Siapa anda? Apa maksud ucapan anda?" tanya Arzon saat Alcenna di rumah sakit ditunggui lelaki dewasa yang tampan. Ternyata dia orang yang mencintai Alcenna.
"Uhhh .... keluh Arzon sambil mengusap mukanya yang tiba-tiba teringat perjalanan hidupnya beberapa tahun lalu.
"Semoga kamu bukan wanita yang sama, wanita yang pernah begituku cinta namun tidak pernah mau mengerti aku," Gumam Arzon belum juga bisa memejamkan matanya.
"Tak mungkin dia akan menghianatiku, setelah apa yang dia lalui dan lakukan selama ini," batin Arzon. Ternyata jauh di dalam hatinya dia tidak bisa mempercayai Alcenna sepenuhnya. Jika saja Alcenaa tahu. Dia pasti akan bersedih.
"Tapi Alcenna sekarang tidak seperti dulu, dia hanya fokus pada rumah tangganya dan pada kuliahnya. Tidak mungkin dia masih mengingat bos yang mencintainya. Jika dibandingkan denganku, aku memang tidak ada apa-apanya," batin Arzon semakin jauh.
"Sebenarnya aku begitu penasaran dan ingin bertanya, apa masih ada mereka kontak di belakangku. Walau aku tahu pasti akulah yang pertama untuknya," tersirat rasa penasaran di hati Arzon. Walau dia tahu dialah yang pertama.
Sikap Arzon yang tak pernah berterus-terang inilah yang menjadi penyebab hatinya terombang-ambing dan hanya memberi separuh hatinya pada Alcenna. Membuat dia tidak peka, jika Alcenna selalu merasa tersiksa batin.
**//**
__ADS_1