Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Menantu Idaman


__ADS_3

Siang Alcenna boleh pulang dan Eddyson menelfon mamanya agar bisa menjemput bersama pak Hasim. Eddyson tidak bisa mengganggu Robby maupun Putri. Putri juga ikut andil dalam mengurus. Eddyson ingin Putri lebih bertanggung jawab seperti yang diminta ayahnya pada Eddyson.


Banyak hikmah dan cerita baru setelah mereka pulang dari honeymoon. Papinya baru tahu kalau putrinya begitu dekat istri Eddyson. Bahkan dari gadis dulu. Papinya hanya tahu nama Alcenna waktu Putri pamit main ke Jakarta bersama, tanpa mau tahu yang mana Alcenna.


Papinya tidak pernah tahu kalau Alcenna dan Putri ke Jakarta karena undangan Eddyson. Putri tetap merahasiakan masa lalu Alcenna. Bagi Putri biarlah menjadi kenangan indah dia dan beberapa orang saja.


Alcenna sudah berbaring cantik dikamar, akhirnya itulah yang banyak dilakukannya pada tri semester pertama ini. Eddyson mau tidak mau mencari seorang paruh baya untuk menjaga Alcenna. Eddyson dan Alcenna tidak mau mamanya justru jatuh sakit karena kelelahan bolak balik.


Alcenna mengalami morning Sickness yang parah. Alcenna lebih mudah lelah dua kali lipat dari biasanya. Walau bergantian mengunjungi Alcenna dan memberi semangat.


Abang dan kakak ipar Eddyson, mengunjunginya dan mengucapkan selamat pada Eddyson dan Alcenna. Mereka sangat bersyukur Eddyson kembali mendapat calon keturunan dan pewaris masa depannya.


Mereka saling membahu menolong Eddyson ketika papa bercerita keadaan adik bungsu mereka. Kini dalam waktu singkat perusahaan Eddyson mulai normal. Eddyson hanya berpikir ini cobaan saat dia akan menerima hadiah Allah lebih besar. Alcenna seakan sudah tak bisa meluahkan rasa bahagianya. Semua menumpahkan dan melimpahi dia kasih sayang.


Ibu dan Azarine juga sudah tahu, namun mereka belum bisa datang. Ibu dan Azarine sangat bahagia. Sammy juga sudah tahu. Cuti ini Sammy berencana pulang ke Jakarta dan terus kekampungnya. Sammy ingin Ziarah kubur ayahnya dan menemui ibunya.


"Maaas," teriaknya kala sore ketika abang ipar dan istrinya sudah pada pulang.


Eddyson menyusul kedepan. Dia kira ada apa. namun yang dia jumpai Alcenna yang seperti anak kecil. Bergembira seakan dapat hadiah. Alcenna menghambur kepelukan suaminya.


"Mas lagi buati anak kita susu, ada apa?" tanyanya dengan Alcenna yang masih memeluk erat dirinya.


"Alcenn senang sekali Mas, semuanya pada sayang pada kami." Wajahnya begitu sumringah. Perutnya sudah mulai kelihatan menonjol. Sedikit lebih besar dari usia kandungannya. Padahal dinding perut Alcenna tidak termasuk tebal.


"Iya sayang, mereka juga pada ingin punya anak kecil itu sebenarnya, tapi istrinya pada menolak alasan anak-anaknya sudah besar-besar. Mereka tak ingin repot dan sang anak pada bilang tidak mau jaga adiknya." Eddyson tersenyum penuh kemenangan.


Alcenna memang masih diruang tamu, dia baru mengantarkan ke pintu depan. Eddyson sedang membuatkan Alcenna susu di sore hari. Bukan karena dia mau bermanja dan menyusahkan suaminya. Bayinya betul yang tidak mau minum susu selain papanya yang membuat.

__ADS_1


Jika Alcenna yang membuat atau bibi yang membantunya Alcenna akan memuntahkannya. Seakan sang jabang bayi menolak. Padahal ini sudah masuk bulan ke empat. Jabang bayinya hanya mau papa Eddyson-nya dan mama Ningrum alias neneknya yang membuatkan susunya.


Alcenna sudah tidak bisa mengajak jabang bayinya berbicara, agar mau minum jika dirinya yang membuat. Eddyson menemui pengalaman baru. Dulu bersama Shinta dia tidak pernah direpoti soal kehamilan selain membawanya cek up setiap bulannya. Shinta begitu mandiri di mata Eddyson. Tanpa Shinta dan Eddyson sadari itu memberi jarak di antara mereka.


Kini Eddyson lebih banyak menyerahkan tanggung jawab perusahaan ke Robby dan papanya. Eddyson lebih banyak meluangkan waktunya untuk calon anak dan ibunya. Eddyson lebih menganggap keluarga kecilnya yang lebih berharga dari pada asetnya yang milliard-an. Dia sempat merasa kosong ketika kehilangan buah hatinya. Ditambah dia sempat shock mendengar Alcenna meminta berpisah karena kesibukannya mengurus harta bendanya.


"Ayo Mas. Kita buat susu buat anak manja Mas yang pintar soleh solehah ini." Alcenna mengelus perutnya, memberi doa.


Mereka ke dapur dan Alcenna duduk di samping meja kecil melihat suaminya mengaduk susu. Siapa yang sangka jika dia seorang bos besar. Melihat dia mengaduk susu untuk buah hatinya.


"Makasih Mas. Ayo Nak bilang makasih sama papa ... makasi Pa," Alcenna sudah mengajarkan anaknya sejak dia tahu dia hamil. Dia sudah mulai mendidik anaknya dari dalam kandungan. Dia ingin anaknya tahu dalam beretika ditengah perubahan zaman yang begitu besar. Dimana sekarang medsos merajalela. Didikan tidak hanya dari orang tua dan guru saja seperti zaman Alcenna kecil.


Eddyson pun menjawab, "Iya sayang. Jadi anak baik dan tidak membantah pada mamamu ya." Eddyson mengusap perut istrinya. Seakan anak-anak tahu dia merasa sangat senang. Mereka jadi lebih betenang.


"Mas, kamu capek tidak malam ini?" kata Alcenna yang telah selesai meneguk susu hangatnya. Eddyson menarik kursi dan duduk di depan istrinya. Meja kecil sudah tersingkir dari pandangan Alcenna, Eddyson telah melipat dan menyandarkan dengan rapi di balik rak piring.


"Alcenn ingin di temani mengansur cari perlengkapan bayi, boleh?"


"Boleh sayang, apa yang tidak buat kamu sayang," ucapnya memanjai istrinya.


"Makasih Mas. Mama juga sudah ngajak kemarin tapi banyak mama yang mendominasi pilihan Mas, Alcenn juga ada yang ingin yang Mas pilihkan dan Alcenn yang pilih."


"Kenapa tidak bilang saja terus terang pada mama?"


"Mas kalau liat betapa semangatnya mama belanjai untuk calon cucunya, tak akan sanggup mematahkan hatinya," ucap Alcenna serius.


"Ohh ya? tak salah kamu menantu idamannya," Eddyson memuji istrinya.

__ADS_1


"Kalau masalah ini gak bisa bantah Mas, kecuali masalah gaun pengantin. Soalnya itu mubazir mahal-mahal. Dipakai sekali juga, mau pakai dua kali bisa dikarungi Alcenna sama Mas... hahahha...." Alcenna tertawa melihat muka Edysson yang mengkal hanya karena bilang begitu.


"Intinya kamu gak tersiksa kan sama mama?" tanya Eddyson ingin tahu.


"Mana mungkin Mas, apalagi mama yang bayari semuanya, hahahaha." Alcenna akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.


"Dasaaar kamu... gak ilang juga sifat licikmu dari dulu ya sayang. Jadi utuh masih duit yang mas kasih untuk beli baju anak kemarin?" kata Eddyson sambil mengacak gemas rambut Alcenna.


"Masih, tapi gak bisa di tarik lagi. Kata mama dia yang bayari semuanya Alcenn ajak mama setor tunai langsung," ucap Alcenna dengan senyum culasnya.


Eddyson tak tahan melihat tipu muslihat istrinya. Dia memerangkap istrinya yang sedang tersenyum penuh arti padanya. "Hebat kamu ya sayang, kamu ajak mas supaya mas yang bayari?"


"Iya, itu papa paham Nak sama keinginan kita. Papa pria yang pengertiankan sayang? Kalau kamu laki-laki contoh papa ya sayang. Papamu lelaki sejati yang sedikit dijumpai diluar sana," Alcenna mengajarkan anaknya sambil memuji suaminya.


"Tutup telinga ya Nak, papa mau bahas masalah orang dewasa bersama mamamu," ucap Eddyson mengelus perut istrinya.


"Mau apa kamu Mas?" kata Alcenna dengan genitnya.


"Mas mau ngajak kamu mandi dan bersiap untuk pergi nanti malam," ucap Eddyson Eddyson dengan sensualnya. Alcenna paham apa maksud suaminya.


"Janji ya pergi malam, gak ada alasan penat!" ancam Alcenn terang-terangan.


"Iya sayang, masa penat kalau lahir batin mas senang," masih dengan nada sensualnya Eddyson merayu Alcenna. Jika dulu Alcenna bersemu merah kini juga masih seperti itu, Alcenna malah lebih bersikap manja. Malu tapi mau judulnya.


"Ayo sayang, kita kekamar," Eddyson menarik lembut tangan istrinya. Dia merangkul istrinya. Menyelesaikan misinya yang agak terhambat saat tri semester pertama kehamilan Alcenna. Dia memenuhi janjinya lebih mendahulukan kepentingan dan kesehatan calon anak dan istrinya. Dokter mengatakan kandungan Alcenna agak rentan karena Alcenna punya riwayat kesehatan di masa dulunya. Alcenna juga bukan tipe yang termasuk berfisik kuat. Semangat juangnya saja yang kuat.


**//**

__ADS_1


__ADS_2