Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Mengenalkan pada Orang tua.


__ADS_3

Akhirnya Alcenna memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Arzon. Kurang lebih sudah setahun kedekatan mereka.Selama itu hari demi hari hampir tak pernah absen kehadirannya, entah itu datang atau sekedar lewat telepon.


Hingga suatu hari, "Bang ... jika kamu serius denganku, aku ingin mengenalkan Abang pada kedua orang tuaku." Alcenna merasa tak ingin berlama-lama. Waktu ketemu mereka terlalu intens, tidak seperti saat Alcenna bersama Ardhan. Dia takut khilaf. Alcenna juga tidak ingin membuang masa dan mengulang kisah masa lalu.


"Oke, kita yang ke tempat orang tua Alcen atau mereka yang ke sini?" terdengar persetujuannya. Membuat Alcenna bahagia dengan keseriusannya selama ini.


"Kita saja Bang. kasihan ibuku jika hanya sehari di kota. Beliau akan lelah di perjalanan saja. Ibuku belum libur semester jadi hanya di sabtu sore beliau akan bisa berangkat dan minggu sore sudah harus pulang."


"Baiklah, kita cari waktu untuk bisa minta izin dari kantor masing-masing."


"Sip," jawab Alcenna dengan sumringah.


Mendengar dia setuju membuat hati gadis itu sangat senang. Dia semakin yakin laki-laki itu lebih serius.


***


tuuuut ... tuuuut ... Alcenna melakukan menghubungi ibunya. Mengabarkan bahwa dia ingin menjumpai ibu dan ayah.


" Wa'alaikumussalam Ayah." Dia menjawab salam ketika terdengar suara ayah mengucapkan salam.


"Ada apa Nak? anak-anak ayah baik-baik saja?" terdengar pertanyaan beruntun dari ayahnya.


"Alhamdulillah kami bertiga baik-baik Yah, ibu mana Yah?"


"Ibumu sedang shalat isya, kamu sudah shalat Nak?" tanya ayahnya.


"Sudah Yah, Alcen bicarakan ke Ayah saja ya. Nanti Ayah saja yang bilang ke ibu. Lagian ntar kalau cerita ke ibu juga suruh bilang ke Ayah," kata Alcenna.


"Ya sudah ... ada apa?" suara ayahnya terdengar lembut namun sangat berwibawa.


"Hmmmm begini Yah, Alcen ingin mengenalkan calon suami Alcen pada Ayah.Itupun jika Ayah menyetujuinya," kata gadis itu dengan mantap.


"Ohhh sudah ada calon menantu untuk ayah?" Ayah memang kerap bertanya kepada anak gadisnya, mana calon menantu ayah. Nah sekarang Alcenna membawakan betul calon menantu beliau.


"Insya Allah Yah ..."


"Kapan rencana ke sini?" Ayah meminta kepastian.

__ADS_1


"Hari sabtu Yah, jadi bisa minta izin setengah hari sama orang kantor."


"Baiklah, nanti ayah kasih tahu ibumu. Adik-adikmu ngapain Nak? Sudah pada makan anak Ayah?" Lagi-lagi ayah mengasih pertanyaan beruntun.


"Adik-adik di kamarnya masing-masing Yah dan sudah pada makan kami Yah, tadi kami beli sate saja."


"Ya sudah istirahatlah atau Alcen mau ngomong lagi sama ibu?"


"Tak payah Yah, Ayah saja yang bilang ke ibu. Ya sudah Yah ... assalamu'alaikum." Alcenna mematikan sambungan telepon ketika ayah sudah menjawab salamnya.


***


Hari sabtu mereka berangkat ke kampung halaman Alcenna. Setelah empat jam perjalanan, mereka sampai di rumah ibu.


"Assalamu'alaikum Bu," Alcenna mengucapkan salam ketika melihat ibu sedang menyirami tanamannya. Ibu gadis itu, tidak begitu hobi berbunga tapi beliau lebih suka menanam cabe, tomat dan daun bawang di pot.


"Wa'alaikumussalam, mari masuk Nak." Ibu langsung menghentikan aktivitasnya dan membawa mereka masuk.


Ibu mempersilahkan Arzon duduk di sofa usang milik mereka dan meminta izin sebentar ke kamar memanggil ayah.


"Sebentar ibu beri tahu ayah, jika kalian berdua sudah datang," pamit ibunya.


"Bang ... duduk sebentar ya, Alcen buatkan teh hangat."


"Jangan lama-lama ya, abang takut dengan ayahmu." Dia berujar dengan gaya ketakutan akan bertemu calon mertua.


Sambil mencibir, "Kalau takut, tak usah ambil anak gadis orang," kata Alcenna setengah bercanda.


Sebelum Alcenna menuju dapur, Alcenna melihat Arzon memandang dengan dalam sambil mengusap dagunya. Mungkin ucapan gadis itu, walau dengan nada bergurau terdengar pedas. Tapi itulah Arzon entah kapan bisa melihat dia marah. Setahun lebih Alcenna mengenalnya, belum pernah dia meninggikan intonasi suaranya.


Alcenna kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat, untuk ayah dan Arzon. Ibunya hanya minum teh di pagi hari sebelum berangkat mengajar. Jika hari libur beliau hampir tak pernah minum air gula. Alasan beliau sudah banyak makan nasi jadi sudah cukup zat gula diambil dari nasinya.


Alcenna melihat ibu dan ayah sudah duduk di ruang tamu. Dia salut melihat Arzon, dia duduk dengan tenang tanpa ada aura gugup di wajahnya. "Besar juga nyalinya," Alcenna membatin.


Alcenna menghidangkan teh ke ayah dan dia, sambil mempersilahkan, "Minum Yah ... Bang." Lalu dia memilih duduk di samping ibunya.


"Jadi ini calon menantu yang mau dikenalkan?" ucap ayah membuka percakapan ketika Alcenna telah bergabung.

__ADS_1


"Iya Yah," singkat saja dia menjawab pertanyaan ayah.


"Alcen sudah banyak bercerita soal Nak Arzon, jadi bapak tidak banyak bertanya padamu. Bapak hanya ingin melihat langsung dirimu. Bersyukur Alcen menelepon dia ingin mengenalkan pada kami jadi kami tidak perlu mendesak dirinya." Ayah Alcenna tak menunda lebih lama tujuannya.


Setelah berbincang tentang keluarga dan sedikit tentang diri Arzon sendiri, ayah Alcenna kembali bertanya, "Hanya saja ada hal lain yang bapak ingin tanyakan padamu ...." ayah sang gadis memberi jedah.


"Apa itu Pak?" terdengar suaranya yang membuat buyar pikiran Alcenna. Dia ingin tahu apa yang ingin ditanyakan ayahnya.


"Apakah kamu bisa mengaji dan bertanggung jawab pada anak bapak?" Suara ayah yang bertanya sudah menjawab rasa penasaran gadis itu.


"Bisa Pak, Insya Allah saya juga bisa bertanggung jawab pada putri bapak setelah menikah dengannya," ucapnya meyakini ayah Alcenna.


"Bicara soal menikah, kapan kalian akan menikah?" Ayahnya tanpa basa basi mengajukan pertanyaan itu pada Arzon.


Mendengar pertanyaan ayah soal menikah, terlihat Arzon menoleh memandang Alcenna. Mereka berdua hanya bertukar pandang. Mereka bingung harus menjawab apa karena belum ada pembahasan ke sana.


Melihat mereka hanya bertukar pandang, terdengar ucapan ayah yang membuat mereka menjadi lebih tenang.


"Ayah akan tunggu kalian datang memberi tahu kembali, tapi jika boleh ayah meminta jangan terlalu lama. Sebenarnya ayah kurang setuju soal pacaran. Jadi usahakan cepat dan jangan berlama-lama berduaan, sebab yang ketiga sudah pasti setan bersama kalian!" kata ayahnya dengan lembut namun penuh peringatan. Mereka berdua hanya bisa mengangguk secara bersamaan.


Setelah selesai berbicara dengan ayah dan ibu, Alcenna mengantarkan Arzon istirahat ke kamar tamu.


"Mandilah dulu Bang, aku mau membantu ibu menyiapkan untuk makan malam." Dibalasnya dengan mengacak kecil poni Alcenna. Kebiasaannya yang membuat hati gadis itu berbunga-bunga.


Entah kenapa Alcenna paling suka diperlakukan seperti itu. Rasanya seperti anak kecil bisa bermanja. Mungkin dengan Arzon aku emang seperti anak kecil. Usia mereka terpaut 10 tahun. Perbedaan usia yang jauh membuat dia merasa nyaman.


"Ayahmu lembut tetapi mengerikan," ujar Arzon pelan.


"Kenapa?" tanya Alcenna berkerut heran.


"Di sidang dahulu baru diberikan istirahat," gurau Arzon kembali. Alcenna hanya tertawa lalu meninggalkan dia di kamar tamu dan menuju dapur.


Di dapur ..."Di mana kamu mengenal makhluk tampan itu Nak?" Kini ibunya mulai mengintrogasi.


"Awal Alcen pulang saat ibu dan ayah mau berpisah itu," katanya sambil nyengir.


Karena dia masih teringat bagaimana jutek sikapnya pada Arzon.

__ADS_1


Alcenna menceritakan semua pada ibunya. Dia juga menceritakan pada ibu soal telah putus sama Ardhan. Namun tetap menyembunyikan fakta yang sebenarnya pada ibunya. Alcenna hanya mengatakan dia selalu jauh dan tidak ada kepastian. Dia butuh yang pasti apalagi usianya semakin tidak muda. Ibunya paham dan juga setuju jika Alcenna akan menikah secepatnya.


**//**


__ADS_2