
Akhirnya Alcenna rawat inap, ditemani oleh belahan hati. Setidaknya itulah yang hatinya rasakan pada lelaki itu. Kini bagi Alcenna dialah belahan hatinya. Alcenna baru merasakan mempunyai seseorang kekasih yang ada untuknya saat dia membutuhkan.
Saat Azarine dan Sammy sudah pulang. "Makasih ya Bang," katanya dengan suara yang pelan karena masih menahan sedikit rasa nyeri.
"Makasih untuk apa?" Dia duduk di samping ranjang tempat Alcenna dirawat dan meletakan telapak tangannya di dekat ubun-ubunnya. Alcenna merasa tenang.
"Semuanya," katanya singkat.
"Sudah, jangan banyak pikir dan istirahatlah." Suaranya memang lembut namun nadanya tak bisa dibantah. Akhirnya dia memejamkan mata.
Arzon memperhatikan wajah gadis itu, dia merasa sedikit berdosa pada gadis itu. Dia mengusap pelan wajahnya dan menarik napas pelan lalu membuang perlahan. Arzon menarik selimut rumah sakit itu dan menyelimuti gadis tersebut.
***
Siang hari setelah melakukan cek labor, Alcenna dinyatakan positif terkena batu ginjal. Bersyukur tidak harus menjalani operasi karena dokter mengatakan batunya sudah hancur. Makanya semalam dia mengalami sakit yang kuat.
Alcenna tak tahu pasti apa penyebab batu ginjal tersebut bisa hancur dengan sendirinya. Dokter juga bertanya padanya, apa yang biasa dia lakukan sehingga bisa hancur dengan sendirinya.
Alcenna hanya melakukan meminum air 1.5 liter setiap bangun pagi. Itu pun baru dia lakukan sebulanan terakhir karena sering merasa sakit saat hendak buang air kecil. Walau awalnya gadis itu serasa hendak memuntahkan kembali air putih itu. Mungkin itu yang menjadi obatnya.
"Jadi dia sudah bisa pulang Dok?" Arzon menanyakan perihal kepulangan ketika dokter datang membacakan hasil labornya.
"Bisa Pak."
"Nona Alcen harus banyak mengkonsumsi air putih ya, terutama di pagi hari seperti yang Nona sering lakukan. Juga hilangkan kebiasaan Nona yang suka menahan buang air kecil." Sang dokter memperingatkan dengan serius.
"Baik Dok." Alcenna hanya nyengir karena malu sama Arzon. Lalu dokter pun meminta izin meninggalkan ruang rawat inap.
"Hmm jadi itu salah satu kebiasaan jelekmu ya?" Mulailah kumat hendak menjahili. Alcenna sudah pasang wajah cemberut saja kontan membuat Arzon tersenyum jahil.
Arzon mengantarkan Alcenna dan dia langsung pamit, "Abang pulang dulu ya Cen ... abang meminjam mobil teman semalam."
"Iya Bang, makasih," katanya sambil menyalami tangan Arzon.
"Tak apakan sendiri sementara menunggu Azarine dan Sammy pulang?" Begitu perhatian rasanya dia pada Alcenna. Membuat hari-hari gadis itu selalu berwarna.
"Tak apa Bang, justru berdua yang jadi apa-apa." Alcenna kini yang menggodanya.
"Mau jadi apa-apa ini ceritanya?" Dia memancing ikut menggoda.
"Gak ahhh," jawaban yang tiba-tiba jutek membuat dia terbahak. Niat hati Alcenna mau mengusili, yang ada dia yang usil. Sebelum berlanjut harus dengan mengeluarkan jurus pamungkas jutek untuk menghentikannya.
Jika Alcenna sudah jutek dia pasti akan tertawa. Sungguh manusia yang aneh rasanya. Namun gadis itu sangat mencintai manusia aneh ini sekarang.
"Ya sudah abang pulang ya." Alcenna balas dengan anggukan kepala.
Alcenna berbaring di kamar dan menghubungi Putri. "Halo Put ... nelpon ya tadi?" Alcenna melihat ada panggilan darinya.
"Gak tadi aku sms saja." Terdengar suaranya yang kesal. Wajarlah dia kesal di ponsel Alcenna tertera 5 panggilan tak terjawab dan satu sms bertanya lagi di mana.
__ADS_1
"Janganlah kesal hati gitu say, aku ini baru pulang piknik dari rumah sakit loh. Dari tadi malam aku ke sana, ponselku tertinggal di kamar. Ponsel tak terbawa ketika aku dilarikan ke rumah sakit."
"Piknik-piknik ... sakit apamu say?" tanya Putri serius.
"Batu ginjal kata dokternya, tapi jangan khawatir batunya sudah hancur ketika aku dibawa ke rumah sakit. Sama seperti hancurnya hatiku saat aku ditolak halus oleh si dia." Alcenna langsung menjelaskan supaya Putri tak risau. Alcenna juga bercanda.
"Masih juga ingat si dia itu?"
"Masih sekali-sekali."
"Ya sudah lupakan saja, nanti sore aku ke rumah ya, nanggung nih sedikit lagi kerjaan selesai."
"Yaa ... bawain kue yaa, lapar," kataku dengan santai.
"Aman Putri Tidur."
Tak lama Azarine pulang, Alcenna membukakan pintu. "Apa kata dokter Kak?" Azarine langsung bertanya tak sabar.
"Tak apa-apa, salah makan saja." Alcenna enggan memberitahu adiknya, karena dia tak ingin ayah ibunya tahu.
"Ohhh ... benar Kakak tak apa?" Adiknya memastikan sekali lagi.
"Benarlah Dek. Oh ya Dek, ibu gak ada Adek telepon?"
"Tak Kak, karena Azarine tahu kakak pasti tak ingin membuat ibu risau." Alcenna balas dengan mengangguk dan tersenyum.
"Kakak ke kamar lagi ya, kakak mau tidur sebentar. Nanti sore dengar-dengar kalau kak Putri manggil ya Dek."
Sore hari Putri datang dan langsung ke kamarku. "Ehh Putri Tiduuur ... bangun, ni apel merah kesukaanmu." Dia menyindir mengatakan apel padahal yang dia bawa adalah kue pukis dan kue putu.
"Makasih ya say, bentar aku cuci muka." Alcenna bangkit dan pergi mencuci muka. Tak selang beberapa menit Alcenna kembali ke kamar. Dia melihat Putri sedang duduk di tepi ranjang sambil mengayun pelan kakinya yang terjuntai.
Melihat Alcenna kembali, dia mengangkat kepalanya yang sempat dia tundukan sambil tetap mengayun kakinya yang terjuntai. Alcenna melihat seperti ada yang ingin dia katakan tapi raut keraguan jelas terpatri di wajahnya.
"Mu benar sudah sehat ni Cen?" Dia menarik sahabatnya duduk di samping dia.
"Sepertinya sudah," kata Alcenna dengan ambigu.
"Jangan sepertinya Cen ... pasti-pastilah!" Dia terdengar kesal.
"Ada apa?" Bukannya menjawab Alcenna malah bertanya balik.
Keraguan tercetak jelas di wajahnya. "Aku rasa gak tepat mau bilang sekarang, karena kau baru siap sakit, tapi aku seperti makan buah simalakama kalau gak bilang." Dia berkata dengan berputar-putar.
"Ada apa sih, bilang sajalah. Aku bukan sakit parah atau sakit jantung!" Nada Alcenna menjadi tidak sabaran. "Soal apa sih?" Alcenna kembali bersuara dan bertanya.
"Benar gak apa?"
"Iya, mau aku marah dulu baru bilang?" ancam Alcenna serius.
__ADS_1
"Hmm soal belahan hatimu?" katanya dengan nada yang berubah menjadi sedikit malas-malasan.
"Ada apa dengan bang Arzon?" Alcenna mulai was-was dengan apa yang akan disampaikan Putri.
"Kamu sudah sejauh mana mengenalnya?" Bukannya menjawab Putri malah bertanya balik.
"Sejauh apa?? Aku gak paham juga mau jawab kalau kamu tanya sejauh apa Put." Alcenna kebingungan dengan maksud sahabat karibnya.
"Maksud aku, kamu sudah kenal keluarganya?"
"Belum sih, baru dia saja yang kenal keluargaku. Ada apa sih Put?"
"Kamu jangan pakai emosi dulu ya, kamu janji dulu!" Dia membuat huruf V dengan dua jarinya.
"Iyaa ...."
"Kamu yakin Cen ... dia belum menikah?"
Degh ... sekilas jantung Alcenna terasa berdenyut nyeri. Pertanyaan ini masih bertengger di kepalanya, walau dia sudah menunjukkan KTP-nya.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu? Apa ada sesuatu yang kamu lihat atau kamu ketahui?" Alcenna memberanikan diri bertanya pada Putri.
"Aku melihat dia tadi bersama seorang wanita dan dua anak kecil di parkiran mall xx," ucapan Putri membuat Alcenna terkejut, namun Alcenna berusaha bersikap tenang.
"Tadi kapan?" Alcenna ingin memastikan karena Arzon semalaman bahkan sampai siang bersamanya.
"Tadi waktu aku selesai kerja dan mau ke rumahmu ini. Kebetulan aku berkunjung ke mall xx." Putri berkata dengan yakin tanpa ada keraguan. "Tapi selidiki baik-baik dulu, jangan pakai emosi," lanjutnya.
"Hmm iya, tetapi dia tidak melihatmu?"
"Gak, kebetulan tadi aku sudah di dalam mobil. Dia parkir tepat di depanku dan keluar dari mobil dengan wanita dan anak-anak."
"Hemm, nantilah aku pastikan, makasih ya. Ini jauh lebih baik dari pada berlarut-larut," kata Alcenna tenang.
"Iya, aku rasa mengkhianati kamu jika diam," kata Putri kemudian.
"Iya pasti aku merasa begitu. Bagiku lebih baik jujur saja walau menyakitkan. Dari pada manis rupanya di dalam berulat," katanya sambil senyum. Jauh di dalam hati ada rasa nyeri andai kata Putri benar.
"Kau bilang aku jambu air Cen?" kata Putri cemberut.
"Jambu kelutuk!" kata Alcenna tertawa menutupi perasaannya.
"Ya sudah jangan terlalu dipikir, makan kue yang aku bawa. Aku pulanglah dulu ya, hari sudah mau senja." Putri pun pamit pulang.
**//**
bayang-bayangi saja ya lebih kurang seperti ini yang dilihat si Putri ... anggap juga anak satunya di bangku samping ibunya 😁😂
__ADS_1
*Satu pintaku sebagai penulis, jangan cepat memberi bintang satu sebelum menyelesaikan membaca cerita ini, karena kedepannya memang cerita ini agak semakin sensitif untuk yang membenci PELAKOR.
Intinya kita jangan cepat menghujat seseorang, karena apa yang kita lihat belum tentu benar begitu adanya. Lagian cerita begini banyak terjadi di kehidupan nyata, ekstrim atau tidak terkadang di modifikasi dalam suatu cerita.