Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Seperti Air Mengalir.


__ADS_3

Tak lama, makhluk yang ditunggu Alcenna datang dengan senyum manisnya. Senyum yang dulu selalu dia rindukan, senyum yang membuat hati Alcenna akhirnya terluka. Namun kini tidak lagi.


Alcenna melambaikan tangan. "Sudah makan?" sapa Ardhan ramah.


"Nunggu kamu," kata Alcenna sok manja. Kapan lagi dia bisa menikmati bermanja padanya. Dulu, waktu statusnya ada jalinan asmara, sangat jarang ada waktu bersama. Senyum simpul hadir di bibir Ardhan melihat gaya sok manja Alcenna.


"Nanti siap pelatihan, temani membeli android ya?" kata Alcenna tersenyum senang. Ardhan berdehem.


"Kenapa?" kata Alcenna, memberikan lirikan maut.


"Senang sekali tampaknya," kata Ardhan tak bisa menahan perasaan lain melihat cara Alcenna melirik dan bertanya. Ardhan semakin melihat perubahan sikap Alcenna.


"Senang donk ...." Alcenna menyahut tanpa beban.


***


Selesai pelatihan ....


"Uff lelahnya ...." kata Alcenna sambil meregangkan kedua tangan ke atas.


"Tak jadi beli android?" tanya Ardhan.


"Jadi donk," Alcenna menjawab dengan semangat.


"Tapi lelah ...." kata Ardhan.


"Siapa bilang? Lelah dan beli juga berbeda arti," ucap Alcenna mengelak dan beralasan. Alcenna sebenarnya memang merasa lelah, tetapi keinginannya kini lebih mendominasi.


Ardhan hanya menggeleng melihat kelakuan Alcenna. Mereka langsung pergi ke mall tanpa pakai mandi. "Asam-asam sedikit tak apalah," batin Alcenna.


Alcenna akhirnya membeli handphone yang harga 3 jutaan. "Lumayan sisa 2 juta buat simpan," batinnya senang.


Orang yang pertama minta nomor WhatsApp Alcenna, sudah pasti si mantan terpahitnya. "Mantap, bisa video call," kata Ardhan ikutan senang.


"Iya donk."


"Nanti kita bisalah vc-an," katanya lagi dengan suara begitu semangat.


"Ngapain juga ... bosan ahhh ...." kata Alcenna mematahkan rasa senangnya.


"Loh kok bosan ....?" Ardhan mengernyitkan dahinya.


"Seminggu ini saja bertemu kamu terus, masa sampai hotel mau vc-an pula." Alcenna pura-pura protes mencari alasan. Dia tidak berniat untuk benar-benar mendekatkan diri lagi.


"Aduuuh Alcennaaa ... besok-besok ketika kita tak berdekatan lagi," katanya kesal.


"Ihhh malaaaas juga kali." Alcenna tetap membantah.


"Kenapa?" kerutan dahinya terlihat semakin jelas menandakan keheranannya.


"Nanti pacarku marah," kata Alcenna asal saja niatnya. Namun telak membuat Ardhan terdiam.


Alcenna menjadi salah tingkah juga setelah itu. Sejauh ini, setelah dia menanyakan sudah punya pacar dan Alcenna menjawab dengan ambigu. Sejak itu tak pernah mengungkit soal pribadi lagi.


Semua berjalan seperti air mengalir. Tapi kini Alcenna mulai bosan ... bosan dengan kenaifan pola pikirnya.

__ADS_1


Dia mulai enjoy saja menjalani, jika dipikir sebagian orang, andai mereka melihat sepintas Alcenna begini, maka gadis itu terkesan play girl, tapi itukan menurut orang dari satu sudut pandang saja. Dia tidak menduakan cinta siapapun. Justru jalan cintanya tidak pernah mulus.


"Apa mesti harus dipertahankan jika seseorang itu tidak mau dipertahankan. Apalagi hanya status pacar. Lain kalau suami yang sudah terikat dengan ijab dan kabul. Banyak hal yang mesti ditimbang, tidak bisa seenaknya. Tidak suka lalu pisah. Tidak cocok lalu ganti." Inilah jalan pikiran Alcenna saat ini.


Seminggu di Jakarta dia sungguh tak terlalu terbebani memikirkan hubungannya dengan Arzon yang seolah kandas juga. Dia jalani dengan apa ada saja. Bahkan dengan mantannya. Jika ada yang bilang mantan jangan didekati, Alcenna mempunyai pandangan sendiri. Alcenna justru berteman kini dengan mantan.


Di Jakarta, silih berganti bos dan Ardhan memberikan perhatian, tetapi justru Arzon yang semacam hilang ditelan bumi. Hati siapa yang tak kecewa, jika ingin dikatakan, Alcenna juga merasa kecewa.


Ke mana sosok yang dulu selalu bisa membuat Alcenna nyaman, membuat tersenyum. Tempat dia bisa bermanja. Alcenna rindu semuanya. Tetapi gadis itu memilih mengabaikan perasaannya. Rasa itu dia kesampingkan.


Dia hanya fokus dengan pelatihan, seperti yang diinginkan bosnya. Alcenna takut jika bosnya serius meminta dia mengganti biaya pelatihan dua kali lipat, jika dia ditanya dan tidak memahami apa-apa isi dari pelatihan tersebut.


Di luar pelatihan, dia mengisi waktu berdua dengan sang mantan. Alcenna menikmati waktu bersamanya tanpa mengusik masa lalu. Alcenna tidak menggubris berapa kali omelan bos yang memantau dia pergi jalan bersama mantan.


"Aku tidak macam-macam Pak. Walau satu hotel kami tidak pernah sekalipun satu kamar." Itu alasannya ketika ditanya bosnya. Apalagi Alcenna merasa bos tak mempunyai hak mengatur atas dirinya di luar konteks pekerjaan. Alcenna tak minta perhatiannya. Itu hanya perasaan sepihak bosnya. Bukan urusannya.


Alcenna mengisi waktu dengan makan, nonton dan jalan-jalan di luar jam pelatihan. Hingga tak terasa hari terakhir pelatihan akan selesai sore ini.


Alcenna dan Ardhan memutuskan tidak pulang dulu besok paginya. Kebetulan bertepatan dengan hari Minggu. Mereka masih ingin bermain sehari lagi di ibu kota ini. Itupun Ardhan yang menawarkan.


Namun karena hari senin Alcenna sudah harus masuk kerja, mau tidak mau dia harus minta izin kepada bosnya. Alcenna tidak ingin bosnya murka lalu tiba-tiba memecat sepihak karena sikap semau dirinya.


Alcenna cukup pikir panjang dan cukup tahu diri juga. Tak ingin di atas angin walau dimanja oleh bosnya akhir-akhir ini. Hubungan kerja tetap punya prosedur tersendiri. Alcenna memutuskan memberi tahu dan meminta izin terlebih dahulu.


"Hallooo ... Pak." Alcenna memutuskan menghubungi di jam istirahat kantor.


"Ada apa Cen?" terdengar nada sangat berwibawa.


Alcenna sempat meneguk ludah. Dia sedikit takut mendengar respon bosnya. "em ... Pak ... begini ... boleh Alcen minta izin pulang di hari Senin?" tanyanya sedikit ragu-ragu.


"Alcen ingin jalan-jalan besok pagi Pak? Boleh Pak?" tanyanya masih was-was takut tak diberi izin.


"Mau jalan ke mana?" nadanya terdengar seakan tak peduli.


"Tempat wisata Pak."


"Sama dia?" tanya bosnya dengan nada datar.


"Iya Pak, lagian cuma teman saja sekarang Pak." Alcenna seakan menerangkan kepada kekasihnya saja. Jauh di seberang telepon, bosnya tersenyum simpul mendengar penjelasan Alcenna.


"Benar hanya sebagai teman perasaanmu padanya?" tanya bosnya mempermainkan Alcenna.


"Uhh, banyak sekali tanyanya. Rasa aku diintrogasi di kantor polisi saja," batin Alcenna menggerutu.


Namun dia tetap menjawab manis demi mendapatkan izin. "Iya Pak, sekali ini saja. Entah kapan bisa ke sini lagi Pak." Akhirnya Alcenna mengeluarkan jurus memelas.


"Ok, tetapi kamu siap saya potong gaji sehari?" Bosnya masih mempermainkan perasaan Alcenna.


"Iya Pak, tidak apa." Alcenna tidak merasa keberatan. Asal dia tetap mendapatkan izin.


"Okelah, saya izinkan," kata bosnya setelah dia sempat diam dalam hitungan detik.


"Terima kasih ya Pak." Terdengar sambungan diputus tanpa menjawab ucapan terima kasih dari Alcenna.


Dan bertepatan dengan seseorang yang menepuk lembut bahu Alcenna. "Bagaimana Cen? Dapat izin?"

__ADS_1


"Dapat ...." katanya dengan gembira.


"Ayuk kita masuk dulu, sesi terakhir pelatihan akan dimulai," ajak Ardhan tak kalah bersemangat.


Merekapun masuk dan menyelesaikannya. Lalu pulang ke hotel dan langsung menuju kamar masing-masing, setelah berjanji akan keluar setelah maghrib.


Alcenna hendak menuju kamar mandi ketika ponselnya berdering. Dia melihat nama Arzon tertera. Dia sempat bimbang, akankah mengangkat atau mengabaikan saja. Alcenna masih menimang-nimang ponsel di tangannya.


Tapi tak akan ada penyelesaian jika menghindar. "Halo ...." Alcenna santai saja menjawab.


"Di mana?" tanyanya singkat. Sedikit tertangkap nada marah di suaranya. Alcenna menjadi ikut marah.


"Maunya di mana?" kata Alcenna dengan nada menantang. Sikap ini yang kadang Alcenna sesali. Dia selalu tidak bisa bicara baik-baik, jika hatinya sedang kesal.


"Ada apa sebenarnya, sehingga nada bicaramu selalu tidak bisa baik?" katanya menyentil, masih dengan menahan kesal.


"Pikir saja sendiri, kalau mau mengajak ribut mending tak usah telfon." Alcenna memutuskan sepihak. Dia sudah memutuskan untuk menikmati liburan esok pagi dengan bahagia


Dia berencana mandi dan menyegarkan diri di dalam bathub . Dia tuang sabun yang sudah disediakan pihak hotel, sehingga menghasilkan busa yang banyak. Menikmati apa yang tidak pernah dia rasa sebelumnya. Alcenna sengaja memakai air dingin, masuk dan berendam melepaskan kepenatan sehari ini.


Alcenna malas berkubang dalam sakit hati. Tak ada untung bagi badan dan pikirannya. Jika dia ingin berhenti sampai di sini, Alcenna mencoba ikhlas.


Sudah hampir dua minggu juga Alcenna mengira hubungan ini selesai. Dia lelah dengan ketidakpastian. Lelah menunggu penyelesaian seperti janji Arzon. Sekali lagi Alcenna merasa hubungannya dengan Arzon akan kandas.


Namun pengalaman, sudah mengajarkan bagaimana rasa sakit ketika semua berakhir. Alcenna sudah tahu itu. Dia yakin sekali ini dia juga akan sanggup melewati.


Setelah merasa cukup berendam, dia membilas tubuhnya. Masih dengan berbalut handuk putih dari hotel. Dia berbaring hanya dengan handuk tersebut. Dia melihat ada panggilan dari Arzon dan bosnya. Dia tak pedulikan keduanya, hanya akan menambah pusing kepala dan membuat gundah hati. Dia ingin happy saja sama mantan rasa teman.


"Mumpung aku masih muda," batinnya senewen.


Dia bersiap dan tak lama pintu kamarnya diketuk. "Sudah siap?" katanya saat pintu kamar telah dibuka.


"Sudah ... ayo ...." Alcenna menarik gagang pintu dan kamar terkunci otomatis. mereka berjalan di lorong hotel menuju lobi.


"Ke mana kita?" tanya Ardhan.


"Biasaaa ... mall." Alcenna suka berjalan-jalan di mall. Tak perlu uang banyak karena dia bukanlah tipe cewek yang rambang mata dalam belanja. Dia membiasakan diri membeli sesuai dengan kebutuhan bukan kemauan belaka. Baginya, mall bisa membuat mata segar dan pikiran tenang tanpa harus menguras kantong.


Sesampai di mall ....


"Mau cari apa?" tanya Ardhan


"Mau cari baju kerja satu pasang saja," jawab Alcenna.


"Azarine sama Sammy tak dibelikan?"


"Tak perlulah, lagian tak ada budget untuk itu dulu. Biasa saat lebaran saja aku belikan atau ketika dia membutuhkan pakaian tertentu." Alcenna menjelaskan. Dia memang tidak suka berfoya-foya , selain tidak punya keuangan yang lebih, dia memang lebih suka berhemat.


"Biar aku belikan," kata Ardhan menawarkan diri.


"Tak usahlah." Alcenna menolaknya.


"Tak apalah, selama ini kamu selalu menolak jika aku ingin memberi. Sekarang kita teman biasa, apa kamu juga menolak pemberian dari teman?"


"Ya terserahlah." Alcenna ikuti saja katanya dan lagi pasti Sammy dan Azarine senang dapat hadiah tak terduga.

__ADS_1


**//**


__ADS_2