Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Nasehat Ayah.


__ADS_3

Pagi hari Alcenna sudah mulai bersiap pulang, tinggal menunggu dokter datang dan mengizinkan pulang. Arzon sudah pamit pulang. Alcenna masih bersikap dingin padanya. Alcenna niat akan menunggu tiga bulan. Jika tidak dia akan menyelesaikan saja pada berlarut dalam ketidakpastian.


Ayah dan ibunya sudah datang sebelum Arzon pulang. Entah apa yang ayah Alcenna dan Arzon bicarakan sebelum pulang. Alcenna sudah tak mau terlalu ambil pusing.


Mereka pulang naik taksi. Bosnya sudah melunasi semua biaya rumah sakit. Hari ini dia tidak bisa menjemput Alcenna pulang dari rumah sakit, karena pagi ini dia harus berangkat ke Jakarta.


Dokter telah menyarankan untuk beristirahat dua hari lagi dan banyak mengkonsumsi air putih untuk membersihkan sisa-sisa serpihan halus batu ginjal.


***


"Alcen ... ibumu sudah libur dua hari, kamu sudah baik-baik saja jika kami tinggal pulang. Ayah ingin di sini menemanimu, tapi ibumu sendiri di sana," ujar ayahnya.


"Tidak apa Yah, ada Sammy dan Azarine."


"Kamu bertengkar dengan Arzon, Nak?" tanya ayahnya.


"Dia cerita pada Ayah?"


"Dia tidak cerita apa-apa pada ayah. Ayah hanya menyimpulkan karena kamu cuma menyebut nama adik-adikmu. Biasanya kamu juga sering menyebut namanya."


"Jadi apa yang ayah bicarakan di rumah sakit kemarin?" tanya Alcenna ingin tahu.


"Ayah bertanya, apa dia sudah mengurus surat cerainya secara hukum. Ayah tidak mau kalian lama-lama tanpa ikatan. Pertemuan kalian terlalu intens, ayah takut hal buruk terjadi. Jika berdua-dua tetap setan yang ke tiga," ujar ayahnya lembut.


"Apa katanya tadi Yah?"


"Dia akan berusaha mengurus dalam tiga bulan ini sudah siap. Katanya surat nikahnya tidak ketemu, tapi dia akan berusaha secepatnya menyelesaikannya."


"Semoga Ayah. Alcen juga sudah capek kerja di luar, ingin jadi ibu rumah tangga biasa saja tidak berkarier seperti ibu. Bolehkan Ayah?" tanyanya.


"Sebenarnya wanita itu memang lebih baik banyak berdiam di rumah. Ayah setuju karena di perusahaan akan terlalu lama berinteraksi sama lelaki bukan mahram. Namun semua tergantung keadaan. Jika kamu harus terpaksa membantu suami kelak, tidak ada salahnya asal norma dan etika kamu dijaga."


"Lalu ibu, apa ayah tidak senang ibu menjadi wanita karier?" Alcenna ingin tahu apa pandangan ayah terhadap ibunya.


"Ibumu sudah jadi guru sebelum menikah dengan ayah. Cita-cita ibumu memang itu sejak gadis. Jadi guru, ibumu hanya punya jam kerja dari jam tujuh pagi sampai jam satu siang. Namun, ya itu tadi, kembali pada individu masing-masing. Kamu paham?"


"Paham Yah."


"Pekerjaan ibumu dan kamu juga berbeda tujuan. Kalau di perusahaan, kamu hanya bertanggung jawab dengan hidupmu dan kelangsungan perusahaan itu sendiri, contoh kasus dengan bosmu sekarang," kata ayah tanpa menghakimi anaknya sedikitpun.


Seakan ayah ingin memberi pengertian pada anak gadisnya. Ayah melanjutkan ucapannya, "Ayah minta kamu tidak merusak rumah tangga bosmu. Kamu mengetahui dari awal bosmu sudah beristri."


"Iya Yah."


"Sama Arzon saja, ayah sebenarnya kurang setuju. Walau bukan kamu secara langsung yang jadi penyebab retaknya rumah tangga dia, tapi sedikit banyak kamu sudah ikut andil. Tapi untuk kasus dia, ayah tidak menyalahkan kamu Nak. Mereka harusnya tidak melibatkan kamu dalam keretakan rumah tangganya," ucap ayahnya menasehati panjang lebar.

__ADS_1


"Ayah sudah ikhlas jika Alcen dengannya?"


"Awalnya ayah memang tidak ikhlas. Namun ayah berpikir, jika jodohmu memang bersamanya, ayah tidak bisa menolak ketentuan Nya. Kamu sudah cerita kamu sempat memutuskannya, namun akhirnya kembali karena ada pemicu. Mungkin itu sudah jalanmu Nak."


"Ayah bahagia?"


"Ayah mau kamu bahagia, jika kamu bahagia ayah akan merasa bahagia. Kamu harus tahu Nak, setelah menikah kamu menyempurnakan separuh agamamu. Jadilah istri yang baik. Ketika kamu menikah nanti jalan ke surgamu melalui suamimu. Jika suamimu ridho maka Allah akan ridho padamu. Karena kamu anak perempuan kami, begitu akad dan ijab kamu tanggung jawab suamimu, bukan ayah lagi," kata ayah.


"Iya paham yah."


"Satu lagi ayah pesan. Rasanya ayah sudah pernah katakan, jika suatu saat suami kamu selingkuh, jangan kamu balas dengan perselingkuhan. Biarlah itu menjadi dosanya bukan dosamu."


"Iya Yah, Alcenna masih sangat mengingatnya."


Ayah mengusap lembut rambut anak gadisnya. Membuat gadis itu menjadi begitu tenang. "Ayah sangat sayang padamu, kamu cahaya mata ayah. Kamu harus kuat, kokoh dan tegar. Kamu ibarat pohon beringin yang rindang, kamu tempat berteduh banyak orang nantinya. Terutama adik-adikmu."


"Iya Yah." Alcenna ingin menitikkan air mata mendengar ucapan ayahnya.


"Namun cobalah buka mata hatimu Nak, akankah kamu yakin tidak merasa bersalah setelah menikah? Jika bisa cobalah berpikir sekali lagi dan dengan hati dingin." Alcenna hanya diam.


"Ya sudah kamu istirahat dulu. Ayah mau pesan mobil untuk sore nanti. Benarkan anak sayang ayah tak apa ayah tinggalkan?" kata-kata ayah dan sikap ayah yang memanjakan dirinya, mampu menenangkan hati yang gelisah.


"Tak apa Yah, Alhamdulillah tak ada yang sakit Yah, kecuali di sini," kata Alcenna sambil menunjuk dadanya.


Ayah tergelak melihat kelakuan anak gadis sulungnya, lalu kata ayahnya, "Itu karena kamu pemarah," ayah langsung ngacir dari kamar anaknya.


***


Ayah dan ibu sudah berangkat tadi sore. Malam ini adik-adik Alcenna sedang sibuk di kamar mereka. Sementara Alcenna masih perang dingin pada Arzon. Putri tidak mengangkat di telepon. Alcenna tiba-tiba merasa bosan.


Sempat terlintas dibenaknya akan menelepon Ardhan. Namun dia kembali berpikir merasa tidak perlu terlalu dekat karena lebih baik berteman saja. Dia tak ingin jatuh ke lubang yang sama lagi, menerimanya lalu ditolak kembali. Dia tetap ada mengabari Alcenna, Alcenna anggap sapaan ringan saja.


Iseng, akhirnya dia malah kirim chat via WhatsApp sama bosnya. "Apa kabar Pak."


Alcenna merasa sayang jika handphone mahalnya jarang digunakan. Nomor kontaknya terbatas, jika kebanyakan orang bilang banyak teman banyak untungnya, bagi dia banyak teman akan banyak masalah saja. Terkadang aneh cara pikir gadis itu.


Tak kunjung ada balasan, akhirnya Alcenna memutuskan main game saja. Tiga puluh menitan dia game. Ponselnya berdering.


"Halo Pak."


"Halo kesayangan, lagi apa?" ucapnya kemudian.


"Lagi bosan Pak ... bete berat."


"Jadi karena ini baru bisa menghubungi saya duluan?"

__ADS_1


"Iya," jawab gadis itu dengan polos.


"Kamu ini, kejujuranmu selalu menyakitkan hati saya."


"Hahaha ... maaf Bos tersayang."


"Ada apa?"


"Pak ...." Alcenna hanya memanggil lalu terdiam.


"Kenapa?"


"Bapak sibuk sekarang?"


"Tidak."


"Alcen ingin curhat sama Bapak, boleh?"


"Asal gak soal kekasihmu yang melarat itu. Masih kesal saya."


"Ya sudah, tak jadi kalau gitu," putus Alcenna akhirnya.


"Hahahah ... saya bergurau saja, kamu mau cerita apa?"


"Ya, Bapak jangan doakan dia terus gitulah. Bisa-bisa Alcen yang susah juga nanti kalau jadi hidup dengannya," kata Alcenna protes.


"Iya ... iya ... saya gak bilang lagi. Ada apa?"


"Kita nikah yuk Pak."


"Hahaha ... kamu pikir saya percaya sama kamu gadis bau kencur." Dia pula yang mengejek Alcenna jadinya.


"Alcen serius Pak."


"Sudahlah Alcenna sayang ... kamu mau cerita apa?"


Alcenna tak berhasil mengerjainya. "Bapak apa begitu mengenal Alcen?"


"Saya berteman dengan hatimu bukan hanya dengan bayanganmu. Kenapa?"


"Iya, Bapak tak bisa saya kerjain."


"Saya tahu banyak tentang kamu, apalagi kamu bilang bosan tadi. Mana saya percaya padamu."


"Pak, Alcen ingin menikah ...."

__ADS_1


**//**


__ADS_2