Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Positif Thinking


__ADS_3

"Ehh berantakan lagi jadinya rambutku." Lagi-lagi gadis itu ngedumel tanpa alasan tepat. Kening yang disentil malah rambut dikatakan berantakan.


"Tak apalah, asal jangan hatimu yang berantakan." Arzon membalas Alcenna.


Lalu ada saja yang dia ganggu. Tak terasa Alcenna sudah sampai di halaman rumah adiknya Arzon.


"Ayo masuk," ajak adiknya. Setelah mereka mengucapkan salam.


"Kenalkan ini adik abang, Melfa namanya." Dia memperkenalkan seorang wanita yang terlihat cantik walau lebih tua dari Alcenna.


"Melfa."


"Alcenna."


"Sebentar ya, aku buat minum." Melfa pamit pada mereka berdua.


"Gimana sayang? Masih ragu."


"Sedikit," kata Alcenna jujur yang mendapat helaan nafas pasrah dari Arzon.


Melfa kembali membawa dua cangkir teh hangat dan beberapa potong roti yang sempat dibeli sebagai buah tangan bertamu.


"Minum tehnya Bang ... Alcenn ...."


"Makasih kak." Alcenna memutuskan memanggil dengan embel-embel calon adik iparnya dengan sebutan kakak walau bisa jadi nanti Alcenna yang akan dipanggil kakak.


Usia Alcenna dan dia juga terpaut jauh karena dia hanya dua tahun lebih muda dari abangnya. Alcenna mengetahuinya karena sempat bertanya sebelum berangkat.


"Bang ... ada Wita datang dari kalimantan." Dia menyapa abangnya dan memberi tahu kedatangan seseorang yang Alcenna belum tahu siapanya.


"Kapan dia datang?"


"Kemarin Bang."


"Tu mana dia? Biar abang kenalkan sekalian sama calon istri abang."


"Lagi bawa anak-anak keluar, sebentar lagi juga pasti pulang," jawab adiknya yang dibalas oleh abangnya dengan ber-ohhh ria saja.


Lain dengan Alcenna yang hanya diam dan memperhatikan adik Arzon, begitu dia mengatakan Alcenna calon istrinya. Dia ingin memastikan sesuatu dari raut wajah sang adik kekasihnya.


Sejauh yang gadis itu perhatikan, tak dia temui raut terkejut dari wajah adiknya. Entah Arzon telah mengkonfirmasikan duluan kedatangan mereka atau emang itu kenyataannya, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

__ADS_1


Otak Alcenna terasa buntu, tidak bisa berpikir terlalu jauh. Rasanya tak ada bakat jadi detektif dalam jiwanya. Akhirnya gadis muda itu memutuskan positif thinking saja dengan apa yang ada di depan matanya.


Sambil meminum teh yang disuguhkan padanya, secara samar Alcenna memperhatikan apa yang bisa dia perhatikan, walau lagi-lagi tak mendapat apa pun. Selain foto keluarga Melfa bersama suami dan dua orang anaknya. Itu pun cuma satu pigura saja yang terpajang.


Tak banyak bicara karena dia juga bukan tipe orang yang cepat akrab dalam lingkungan baru. Dia lebih memilih jadi pendengar setia saja apa yang mereka obrolkan sampai suatu suara datang dari luar, "Assalamu'alaikum Maaa ...." dua suara bocah laki-laki kecil masuk ke gendang telinga Alcenna secara serentak mengucapkan salam.


"Sini Nak, kenalan sama tante Alcen." Sang ibu bocah mengajak anak-anaknya berkenalan dengan gadis tersebut.


Bocah yang diperkirakan berusia 5 tahunan dan 7 tahunan itu datang menyalami dan mencium tangan Alcenna.


"Namanya siapa?" Alcenna bertanya dengan lembut pada mereka.


"Reandra ... Nte ...." ucap bocah terkecil.


"Rayhan ... Tante ...." ucap abangnya Reandra menyalami.


Kemudian setelah menyalami, Rean kembali duduk di samping ibunya, sedangkan Rayhan masuk ke dalam ruang keluarga. Rean tak lepas memandang wajah Alcenna. Alcenna pura-pura tak memperhatikan saja tingkahnya. Beda dengan Arzon.


"Rean kenapa lihat tante Alcen terus? Tantenya cantik ya??" Arzon seperti sengaja menggoda keponakannya dan sekaligus diri Alcenna.


Walau Rean terlihat tersipu malu tapi tak urung bocah polos itu menjawab. "Iya ante Alcen cantik, Rean suka lihatnya." Begitu polos ucapannya meluncur dari bibir mungilnya yang kontan membuat mereka tertawa, Alcenna hanya tersenyum kecil.


"Ada apa ini seru sekali tertawanya." Terdengar satu suara wanita yang baru masuk ke dalam rumah.


"Maaf bang ... Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumussalam ...." Arzon dan Melfa serentak menjawab salam, sementara Alcenna hanya menjawab dalam hati.


"Saingan baru apa sih Bang?" Dia tetap penasaran perihal tertawa saat baru masuk tadi.


"Itu ... si Rean bilang Kak Alcen cantik dan gak mau melepaskan pandangan matanya. Ohhh ya Wita kenalkan dulu calon kakak iparmu." Sekali lagi dengan santai dia mengenalkan Alcenna pada wanita yang bernama Wita.


Alcenna dan Wita berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


"Wita ini adik sepupu kami." Arzon menjelaskan hubungan kekeluargaan mereka.


"Dia baru datang dari Kalimantan. Ibunya adik kandung ibu abang. Mereka tinggal di sana," kembali Arzon meneruskan penjelasannya.


"Aku permisi ke kamar dulu Bang ... Kak ... Kak Alcen. Ngomong-ngomong kak Alcen memang cantik Bang, bahkan sangat imut. Harus protektif dikit besok tuh, supaya gak di lirik saingan mulu," kata Wita sambil ngeloyor pergi dari ruang tamu, sukses membuat Alcenna malu.


Jika Alcenna malu dengan kata-katanya, Arzon dan Melfa hanya tersenyum simpul melihat kelakuan adik sepupu mereka yang belakangan Alcenna tahu memang sikapnya sedikit acuh dan blak-blakan. Alcenna tak melihat sikap tak suka mereka pada dirinya. Dia merasa diterima oleh keluarga Arzon.

__ADS_1


Jam menunjukan pukul 17.30 wib. "Bang pulang yuk sudah mau maghrib ... Kak Melfa aku pamit pulang ya," ujar Alcenna sambil berdiri.


"Ayolah," jawab Arzon.


"Rean ante pulang ya sayang," Tak lupa Alcenna pamit pada si kecil yang masih duduk manis di samping ibunya dan masih asyik memandangi Alcenna. Alcenna mengusap pelan pipi si bocah, yang dibalas dengan senyuman manis si bocah.


"Mel abang pamit ya, salam sama suamimu ...."


"Ya Bang."


"Rean ... om pulang dulu ya sayang," katanya sambil mengacak rambut Rean.


"Iya Om ... besok kalau ke sini bawa ante Alcen lagi ya om." Si bocah pakai request segala. Sukses lagi membuat mereka tertawa. Tapi kali ini Alcenna tidak merespon apapun, dia yakin sudah pasti akan digoda lagi oleh Arzon.


"Iya besok om bawa ante cantik kesayangan Rean ini ...." Sambil melirik Alcenna.


Di mobil Arzon berkata, "Hmm sama anak kecil saja abang harus saingan, apalagi sesama pria dewasa ya sayang ... bisa cepat tua abang tiap hari memikirkan kamu setiap keluar rumah."


"Banyak cerita. Abang sudah tua pun tanpa memikirkan aku." Alcenna mematahkan gombalannya. Dia hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang mungkin memang gatal.


"Mau pulang apa mau makan sesuatu dulu?" Tawaran manis dari Arzon mana mungkin ditolak.


"Makan sesuatu dulu boleh juga."


"Jangan bilang Alcen mau makan abang dulu?"


"Usah mancing-mancing yaaa." Alcenna pasang wajah jutek.


"Gak apalah sayang mancing calon istri," katanya masih saja mengganggu.


"Cepatlah hidupkan mobil tu lagi, malulah dilihat kak Melfa belum juga beranjak,"ujar Alcenna merenggut.


Dia pun menjalankan mobilnya dan Alcenna melambaikan tangan pada Rean dan mamanya yang masih setia berdiri di halaman rumahnya.


"Mau makan apa ni?" tanyanya di jalan.


"Langsung pulang sajalah Bang, mau maghrib," kata Alcenna membatalkan.



Sampai di rumah gadis itu mandi, lalu berbaring menunggu azan maghrib.

__ADS_1


Adik kandung sudah, bahkan adik sepupu pun sudah. Namun serasa masih ada yang mengganjal di hatinya. Apalagi yang harus dia curigai. Ahhh entahlah .... (Penulis juga mulai geram melihat sikap Alcenna.) 🤣


**//**


__ADS_2