
Resepsi sudah selesai. Ratu dan Raja sehari tentulah dapat kompensasi untuk duduk manis di mana mereka inginkan. Mereka berdua kompak mengurung diri dikamar. Mereka ingin mandi. Alcenna memang sudah gerah memakai gaunnya.
Walau gaunnya sempat dibuka pasang saat shalat Zuhur dan Ashar. Alcenna tidak mau menunda akhiratnya hanya karena dunianya. Walau penata riasnya mengatakan tanggung saat di jam Ashar. Alcenna sempat meradang. Dia sudah berniat akan merias dirinya sendiri dan memasang jilbabnya seperti biasa saja dan menempelkan ala kadar saja.
Alcenna tidak lagi gadis muda yang hanya sibuk dengan dunianya dulu. Tak ada kekesalan sang penata rias saat dia harus merias ulang walau hanya sekedar memperbaiki sedikit dan memasang jilbab dan riasan kepalanya. Penata riasnya justru salut melihat pengantin mau buka pasang gaunnya.
Eddyson mulai menyadari banyak hal yang dia belum tahu soal Alcenna. Dia tak menyangka Alcenna semakin memikirkan kehidupan akhiratnya. Gadisnya dulu walau dia tahu tetap shalat tapi suka menunda waktunya. Eddyson tadi begitu merasa sejuk memandang muka istrinya yang sedang membuka gaunnya berulang kali. Eddyson selalu menemaninya.
Kini bukannya sejuk hati Eddyson melihat gadisnya melepaskan gaun. Eddyson merasa hawa panas menyelimuti dirinya. Apalagi ketika Alcenna meminta bantu membukakan resleting gaunnya. "Mas tolongi donk, susah," katanya sambil mengarahkan punggungnya kehadapan Eddyson.
Pikiran Eddyson yang tidak menghayalkan jauh gadisnya kini sudah bercabang entah kemana-mana.
Eddyson baru mau menyentuh, Alcenna sudah kembali mengeluarkan ucapan, "Jangan macam-macam kalau mau yang satu macam itu nanti malam. Sekarang Alcenn mau mandi ... geraaaah ...."
Eddyson sudah tidak bisa membantah, dia tahu gadisnya sudah gerah dan ingin menyegarkan diri. Dia hanya punya ide, "Mas bantu ya keramasi rambutnya?" ucapnya jelas salah kaprah.
"Akukan pakai jilbab Mas sayang, jadi gak pakai hairspray, jadi tak usah cari alasan kalau mau selamat jatah malam!" tegas Alcenna. Dia langsung ngacir ke kamar mandi. Meninggalkan Eddyson yang gemas alang-kepalang. Namun Eddyson sudah termakan ucapannya sendiri.Dia tak akan membuat Alcenna tertekan atau merasa tak nyaman, apapun keadaannya.
Baginya kini, gadis muda nan manja itu sudah sah menjadi miliknya. Apalagi yang tidak dia syukuri. Sekian tahun dia memendam cintanya, bahkan dia sudah sempat mengabaikan cintanya, kini semua jadi nyata di depannya.
Alcenna keluar dengan wangi yang mengganggu sistem sarafnya, namun semua jadi normal ketika pandangan tajam Alcenna dan penekanan katanya berucap, "Mandi sayang, aku tak suka pria tak wangi," mesra namun membuat tidak berdaya Eddyson menjadi-jadi. Eddyson pergi menuju ke kamar mandi dengan mendapat senyum mautnya Alcenna.
"Hmmm ternyata kamu lebih kejam dari dulu sayang," ucapnya penuh gurauan. Alcenna tertawa. Dia ingat betapa dia dikatakan kejam tidak memikirkan perasaan Eddyson saat masih menjadi bosnya. Kini sudah jadi suamipun kata itu tak hilang.
Alcenna sudah berpakaian rapi, dia menelfon Putri. Putri memang pamit pulang diantar sama Robby, saat Alcenna ke kamar shalat ashar tadi.
"Hallo pengantin baru, ada apa?" sapa Putri ceria.
"Hallo temanku sayang, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Sebelum aku kelupaan karena asyik dalam dekapan mantan bosku hahahaaha," ucap Alcenna tertawa ngakak, ingat masa mudanya bersama Putri.
Ketawa bahagia Alcenna merambat ke Putri dan Robby yang sudah ketularan gaya bosnya. Meminta Putri meloudspekerkan ketika Putri di apartemen Robby.
"Apa yang ingin kau bilang Nyonya?" olok Putri. Alcenna tak menggubris. Dia tahu Putri hanya menggodanya memanggil nyonya.
"Jangan pernah berubah denganku, aku sudah katakan sama Mas, tidak bisa disuruh memilih antara kau dan dirinya. Kau pahamkan itu apa artinya Put?" ucap Alcenna serius.
"Aku paham."
"Kau yakin paham? Coba jelaskan," pinta Alcenna meragukan pemahaman Putri.
"Artinya, aku tetap seperti biasa, jika aku begitu kesepian aku boleh ajak kau kapanpun, benar?" tanya Putri.
__ADS_1
"Benar, karena aku hanya punya kau sebagai teman dan kau hanya punya aku!"
"Tapi kau masih punya Marya," kata Putri.
"Kau lihat sendirilah kesibukan dia mengurus anak gadisnya dan masalah kerjanya, tidak bisa sempat datang ke sini. Bahkan kita berdua sudah tawarkan tiket pulang-pergi plus hotel dan makan. Apalagi coba?" tanya Alcenna. Terselip nada sedih dalam hatinya dia tidak bisa membagi kebahagiaan bersama temannya.
"Jangan sedih dia berjanjikan kapan dia cuti dia akan ke sini," hibur Putri.
"Kakak juga jangan dilupakan ya Cenn, kakak benar sayang kamu sebagai adik perempuan kakak," suara Robby terdengar.
"Kau masih bersama kak Robby?? Hayoooo ada apaaa kalian berdua??"
"Jangan suuzon ya adik cantik, kakak nemani adik kakak yang satu ni kare___" katanya terpotong karena teriakan Putri.
"Diaaam gak Kak!!"
Eddyson sudah duduk di samping Alcenna dan minta di loudspeker ketika dengar nama Robby disebut saat dia keluar dari kamar mandi. Dia cukup tenang saat dengar suara Putri yang teriak. Berarti mereka bersama.
"Adaa apa! Aku merajuk kalau kau main rahasia! Boleh coba!" desis Alcenna tak kalah sangarnya.
Putri tidak berdaya, dia tahu jika sudah gitu nada Alcenna bisa sebulan didiamkannya. Putri pernah dapat cerita dari Marya, dia pernah merajuk sama Marya dan mendiamkan Marya selama seminggu. Memang cuma seminggu, tapi yang buat stres dia tetap di dekat Marya, tetap pergi dan pulang bersama, makan ke kantin sama. Hanya saja dengan diam membisu sehingga tak ada yang tahu dia merajuk. Siapa yang nyaman dibuat begitu.
"Kakak lah yang katakan," putus Putri meminta Robby yang mendapat senyum manis terbit di bibir Alcenna dan Eddyson.
"Jadi kamu takut aku direbut bosmu ini?" kata Alcenn sambil mencubit pinggang suaminya dengan kuat. Memancing suaminya bersuara dan itu berhasil.
"Lanjutlah dulu pengantin baru, nanti aku di SP sibos," olok Putri ditujukan pada bosnya yang kini suami temannya. Hidup memang tiada yang bisa menerka.
"Iyalah, tapi yang tadi sudah aku katakan sama Mas aku, kalau gak percaya tanya sama orangnya langsung," ujar Alcenna.
"Aku percaya samamu Cenn, makasih yaaa," ucapnya senang.
"Sekarang kamu sama kak Robby saja dulu ya. Aku mau manjai pangeran kesayangan aku ini," ucap Alcenna manja. Eddyson geregetan sendiri lihat sikap gadisnya. Putri mengeluarkannya nada seperti orang muntah. Alcenna tertawa dan langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Manjai Mas bagaimana gadis kencur?" katanya melancarkan jurusnya.
"Manjai Mas dengan cara ayo kita keluar nemui semuanya. Malu tahu jam segini sudah berkurung." Tanpa kompromi Alcenna sudah berdiri dan menarik Eddyson. Namun kekuatan yang berbeda membuat Alcenna malah tertarik balik ke Eddyson. Eddyson tidak melepaskan.
"Mau sekarang juga nagih haknya?" ucap Alcenna lembut dan penuh senyum maut. Eddyson menjawab ragu-ragu karena senyum maut biasanya berakhir tidak seperti ekspetasinya.
"Boleh, tapi sekarang tak ada olahraga tambahan. Malam ada olahraga tambahan, pilih mana sayaaang??" ucap Alcenna yang terdengar puas menyiksa Eddyson.
__ADS_1
Eddyson harus mengalah. Selain gadisnya benar dia juga tidak mau bernasib apes nanti malam. Mereka pun turun dengan sukacita. Eddyson tidak ada sedikitpun kesal pada Alcenna. Itu membuat Alcenna jauh merasa bahagia.
"Pengantin baru kenapa keluar? Tak ada misi?" goda mama Ningrum.
"Alcenna ingin meminta doa supaya misi berhasil," ucap Eddyson.
"Alcenna apa kamu Son?" ujar papa Hans.
"Kami berdua Pa," elak Eddyson. Mereka tertawa.
"Ibu sama Azarine istirahat ya Ma?"
"Iya."
"Kalau gitu kita istirahat juga ya," pancing Eddyson yang mendapat senyum jengah Alcenna.
"Pergilah, istirahat. Mama mau buah hati darimu sayang," ucap ringan mamanya.
Alcenna lebih baik jujur dari pada tersiksa batin lagi. Dia duduk disamping mamanya.
"Ma, lebih baik Alcenn jujur sekarang sama mama dari pada nanti mama berharap dan kecewa.
"Soal apa sayang?"
"Anak."
"Ada apa?" Mama melihat raut muka Alcenna yang serius. Alcenna lalu cerita semuanya.
"Ohhh, kalau gitu maafi mama, mama gak tahu. Percayalah mama yakin bisa, andai tidakpun mama tidak akan membenci atau tidak sayang padamu. Anak hak Allah, hanya dia yang tahu kepada siapa dia mau memberikannya. Jadi jangan stres soal itu lagi ya. Manjai saja anak mama yang sudah gak sabar melihat hari berganti kelam," olok mama Ningrum. Hati Alcenna jauh jadi tenang.
"Makasih ya Ma, Mama baik sekali," ujar Alcenna tulus.
"Iya, sudah istirahatlah biar ada energi," goda mama. Blushhh pipi Alcenna menjadi panas.
"Tu mama saja dukung, ayolah istirahat," ucap Eddyson tersenyum. Papa Hans pun hanya bisa geleng kepala. Dia merasa anaknya yang sudah kepala 4 jadi seperti pria 20 tahunan.
Alceenna takut dibuat lebih malu lagi. Dia setuju ajakan Eddyson untuk balik ke kamar. "Alcenn permisi ya Pa, Ma," ucapnya masih dengan muka yang besemu merah. Mama Ningrum tertawa melihatnya.
**//**
Aku ucapi terima kasih buat saudara/saudariku yang telah memberikan suport, baik berupa like, komen atau pun hadiah dan vote 😍😍.
__ADS_1
Semoga kita sama murah reski ya 😇😇😇