
Pagi hari ....
Ketika sinar matahari mulai menerobos masuk ke dalam rumah. Alcenna sedang termangu di depan jendela dapurnya. Dia melihat seekor burung sedang bertengger pada sebuah ranting pohon dan berkicau indah. Seakan memberikan semangat pada diri Alcenna.
"Hallo Cenn, lagi ngapa kamu?" sapa Eddyson yang menelfon Alcenn memutus objek fokusnya.
"Lagi nunggu dicarikan kerja sama mantan bos," sindir Alceena.
"Kamu segitu ingin kerja?" tanya lembut Eddyson.
"Iya Mas, apa yang harus aku lakukan. Jam segini saja kerja rumah sudah beres," adunya pada Eddyson.
"Apa kamu tak ingin mas kasih uang saja terus pergi bermain dengan Putri?" tanya Eddyson tulus sambil menyelami hati Alcenna kembali.
"Aku memang masih suka bermain Mas, apalagi dulu aku lama terkurung dalam rumah," ada sedikit terselip nada sedih diucapannya.
"Eheem ...." Eddyson mendehem menetralkan hatinya.
Alcenna kembali bicara, "Tetapi aku ingin punya penghasilan sendiri, seperti dulu lagi. Aku takut ketika nanti aku butuh, Mas lagi tak peka tapi pekak," sindir Alcenna.
"Hahahaha ... kamu ini lagi serius sempatnya menyindir mas."
"Kapan Mas mau carikan?"
"Oke, kamu buat lamaran ya. Nanti mas suruh Robby carikan."
"Gitu donk," ucap Alcenna senang.
"Ohh ya Cenn, mas untuk dua bulanan ini mungkin sangat sibuk dan ada urusan. Mas tidak bisa sering jumpai kamu bahkan mungkin tidak bisa sama sekali. Mas hanya bisa telfon saja. Robby yang akan sering jumpai kamu ya."
"Ohhh gitu, iya deh, tak apa Mas, makasi."
"Kamu jangan sedih-sedih ya, doai urusan mas cepat selesai dan perusahaan mas semakin maju," ucap Eddyson kembali.
"Iya Mas, Alcenna akan kuat. Alcenna juga doai perusahaan Mas maju biar bisa kasih cicilan lunak buat modal Alcenna buka usaha hheheehe," tawa kecil Alcenna hadir.
"Kamu mau buka usaha apa? Ok, dua bulan ke depan ya. Dua bulan ini mas banyak ngeluarkan dana tak terduga."
"Serius Mas? Bayarnya kalau usaha sudah stabil ya Mas?"
"Serius. Nantilah pikir bayarnya. Pikir mau buka usaha apa."
"Ok, ok Mas."
"Kalau gitu kamu gak usah cari kerja saja, pikir dan rancang menjelang Mas carikan modalnya."
__ADS_1
"Tapi___"
"Kenapa harus bosan, nikmati saja dua bulan ini sambil main sambil survei lokasi misalnya, atau survei yang sesuai apa mau Alcenn rintis," Eddyson memotong ucapan gadisnya.
"Iya juga ya Mas. Kerja itu mana ada yang tak capek, tapi kalau kerja sama orang capeknya ganda, capek ditekan lagi," ucap Alcenna lupa jika dia dulu bekerja dengan Eddyson.
"Eheeemmm ... jadi itu yang kamu rasakan dulu hmm sama Mas?"
"Hahahaaa ... oh iya lupa kalau Mas bosnya dulu," jawab Alcenna jujur.
"Awas kamu ya, mas gak lupa satu kalimat ini. Besok saat sudah jumpa mas akan buat perhitungan sama kamu," Eddyson pura-pura kesal. Alcenna hanya tertawa.
"Jadi besok ada apa-apa telfon Robby ya, jika mas ada waktu luang mas yang akan telfon kamu. Ok?"
"Ok Mas."
"Ya sudah, mas kerja dulu ya. Ingat jangan sedih-sedih. Calon owner tidak boleh melow!"
"Ok Bos!"
Alcenna tersenyum. "Terima kasih ya Allah atas nikmat yang Kau berikan. Semoga aku bisa bangkit dari semua ini," ucap Alcenna.
"Hallo Kak Robby," sapa Alcenna melalui ponsel. Dia langsung menelfon Robby.
"Ya ada apa Cenn?"
"Gak juga, ada apa?" ucap Robby. Robby langsung mendapatkan kode untuk mengatakan tidak. Padahal sore hari dia akan pergi sama bosnya untuk melihat rumah yang Robby telah dapat info. Ya Robby memang di ruangan bosnya.
"Kak, tadi mas nelfon. Aku minta carikan kerja. Katanya mas nanti kakak yang carikan. Mas juga ada janjikan mau kasih modal nanti kalau urusannya sudah selesai. Aku ingin berbincang-bincang sama Kakak. Usaha apa yang bagus untuk aku jalani Kak. Selain itu aku juga stres Kak. Aku gak tahu mau ngapain di rumah ini."
"Oke nanti kakak ke sana sama Putri juga."
"Aku ingin ngajak dia Kak, tapi aku takut dia lelah. Dari staminakan kalian berbeda Kak. Tapi kalau dia mau aku pasti sangat senang Kak."
"Ok, nanti kakak saja yang ngajak Putri."
"Kak boleh aku tanya satu hal? Jangan marah," ucap Alcenna. Bos dan Robby saling pandang. Robby memang diminta meloudspekerkan ketika Alcenna menghubungi.
"Tanyalah, kakak janji gak marah," kata Robby.
"Kak, jika aku selalu menghubungimu dan aku selalu pergi denganmu, memang tidak ada yang marah Kak?" terdengar Alcenna bertanya. Pikiran Robby dan bosnya bercabang. Ke mana maksud pembicaraan Alcenna.
"Kak, apa Kakak dengar pertanyaanku? Kenapa tidak jawab," desak Alcenna.
"Maksudnya apa ya Cenn?" Robby mending memastikan dulu ke mana arah Alcenna. Jika soal perasaan, Robby bisa mati di tangan bosnya.
__ADS_1
"Alcenn takut Kak, kejadian seperti bertahun lalu. Alcenn dengan egois menikmati perhatiannya, ternyata dia suami orang, walau iya Alcenn tak tahu pada awalnya."
"Sudahlah itu kan telah lewat. Fokus saja untuk masa depan Alcenn. Kita harus melanjutkan hidupkan?" ucap Robby sambil tak lepas memandang bosnya. Robby sedikit tidak nyaman takut bosnya kumat posesifnya.
"Iya Kak. Kadang Alcenn juga menyesal, soal mas Eddyson. Alcenna tidak berniat merampas perhatian dia dari anak-istrinya, tapi dulu Alcenna juga tidak tegas menolaknya tepatnya tidak bisa sih Kak. Kini Alcenna kembali merampasnya."
"Lalu apa hubungannya dengan kakak pertanyaan kamu tadi?"
"Alcenn bingung, juga tidak mau menyita waktu Kakak, andai ada yang harus Kakak dulukan. Dulukan saja. Jangan abaikan karena Alcenn Kak," ucap Alcenna lagi. Robby kebingungan menjawab soal bosnya. Dia mengulur waktu. Menulis dengan cepat jawaban apa yang harus dia kasih.
"Soal Kakak tak usah Alcenna takut, Kakak juga sendiri. Alcenna kan tahu Kakak tinggal di mess. Orang tua Kakak juga tidak di kota ini. Kakak kan jomblo akut katanya. Jadi gak usah ragu soal itu. Kakak justru senang ada adek yang bisa menyita waktu kakak," jawab Robby. Dia melihat apa jawaban yang ditulis bosnya.
"Ohhh gitu ya Kak, ringan pula rasa hati ini."
"Iya, soal mas Eddyson tak perlu juga Alcenna merasa bersalah. Dia kan menganggap Alcenn adek. Kakak juga dianggap adiknya. Kakak juga sudah banyak menerima bantuan darinya. Jadi jangan semua mau dipikir." Robby menambahkan 2 kalimat terakhir. Bosnya memang sudah banyak membantu keluarganya.
"Ohhh iyalah Kak. Jadi nanti Kakak sini ya. Kita sore coba rancang apa yang mau Alcenn kerjakan, tapi Alcenn lebih ingin jalan-jalan Kak, hahaha."
"Oke, kakak kerja dulu ya."
"Iya Kak."
Setelah itu Alcenn menelfon Sammy. "Dek, kapan kamu mau pindah sini? Kakak sunyi loh Dek."
"Iya Kak, awal bulan ya. Tanggung Kak. Lagian aku lagi sibuk event, Kak. Aku gak sempat berkemas."
"Ohhh oke Dek"
"Kakak lagi apa?"
"Tak ada, kerja rumah sudah beres. Tak tahu mau ngapain. Kak Robby nanti sore ke sini."
"Kalau gitu pada Kakak bosan, ke sini saja. Nanti minta jemput sama kak Robby di tokoku," tawar Sammy.
"Tak ganggu kerjamu Dek?"
"Gak, aku juga event kok di lantai dasar."
"Ohhh okelah."
"Kak Robby bilang sama mas aku ke toko Sammy. Dia ada event. Nanti tolong Kakak jemput aku di sana ya. Makasi kakakku sayang," Alcenna mengirim pesan.
Robby yang masih bersama bosnya menyampaikan pesan Alcenna. Robby tidak berani melihatkan ponselnya pada bosnya.
**//**
__ADS_1
Tahukan jawabannya kenapa heheheh 😁😁