
Lalu tanpa terasa hari kepindahan bos tampan Alcenna semakin dekat. Hingga pada suatu hari bosnya menghubungi dan mengajak berjumpa untuk terakhir kalinya.
"Di mana kamu Cenn?" ucap bosnya.
"Di lapangan Pak."
"Lapangan mana maksud kamu? Lapangan bola?" terdengar ucapannya yang bercanda.
"Hmmm ... ada apa Pak, bercanda saja."
"Mau ngajak kamu makan untuk terakhir kalinya."
"Haaa ... Bapak mau mati besok pagi?" Alcenna juga mencandainya.
"Jahat kamu Cenn. saya sudah lama mati Cenn, mati penasaran sama kamu," balasnya dengan menyindir.
"Makan di mana Pak?" Alcenna memilih tak membalas sindiran bosnya.
"Di mana kamu mau sajalah."
"Ok Pak," katanya hendak mengakhiri, setelah menentukan mau makan di mananya.
Namun terdengar dia berkata, "Ehhh perlu saya telfon kekasihmu?"
"Ahhh, tak perlulah Pak, belum jadi istrinya. Tak perlu lebay juga kali, pakai izin-izin segala!" Alcenna keki di sindir bosnya soal izin.
"Pemarah kamu. Ya sudah."
Saat di kafe, "Alcen ... saya besok sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi. Besok hari terakhir saya serah-terima jabatan dengan orang baru dan akan ada orang menjadi bos baru. Dia jauh tampan dari saya, jangan jatuh hati padanya," ucapnya sambil tertawa.
"Hahahaa ... emang Alcen orang yang mudah jatuh hati di mata Bapak? Dia juga tak akan mau sama gadis kucel seperti ini."
"Mudah jatuh hati tidak, namun mudah kasih harapan iya," jawabnya.
"Sembarang saja, mana ada gitu Pak."
"Iyaa, canda saja."
"Kamu baik-baik di sini ya," ucap Eddyson pelan.
"Oke Pak, semoga semakin sukses di sana ya Pak. Sekali lagi Alcenn ucapkan terima kasih banyak atas budi baik Bapak. Alcenn tak bisa balas dan Alcenn tak bisa menjanjikan nyicil semua yang sudah Bapak kasih, takut jadi hutang piutang. Cukuplah hutang cinta saja Alcenn Pak," ucap Alcenna sambil menyelipkan gurauan ringan di dalamnya.
"Pandai kamu berkata-kata Alcenna sayang." Alcenna cuma tersenyum menanggapinya.
"Jangan lupa bahagia, dan ada saya di belakangmu jika kamu terjatuh." Kelakarnya.
Alcenna hanya tersenyum. Dalam hati Alcenna sudah berniat akan menjauh selamanya dari hidup bosnya. Namun Alcenna tetap menjawab membesarkan hati bosnya, "Aku akan minta tolong sama Bapak kalau aku jatuh tenggelam."
"Kamu jadi menikah dengannya?"
"Insya Allah jadi Pak, dan terima kasih ya Pak."
"Untuk apa lagi?" tumben banyak terima kasih. Alcenna hanya memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Bang Arzon, dia sudah cerita semuanya. Semua berjalan jadi lebih baik karena Bapak."
"Bersyukurlah dia karena saya pindah dan kamu juga tidak mau diajak menikah. Kalau tidak, mana mau saya mengalah sama pria sepertinya. Saya melakukan tindakan kecil dari pada kamu menderita batin tanpanya, apalagi tanpa saya di sisimu." Eddyson sempat-sempatnya memuji dirinya sendiri.
"Dasar narsis," kata Alcenna.
"Jadi kapan?"
"Nanti dikabari."
"Tidak perlulah, bikin hati saya tambah sakit saja."
"Benar ni? Kalau iya, tak Alcenn bilang ke Bapak."
"Iya gak usah, lagian kamu juga nantinya pasti gak mau juga berkomunikasi sama saya lagi." Seakan dia bisa membaca pikiran Alcenna tadi.
"Bukan tidak mau Pak, tapi sekali-kali kalau mau tanya kabar ya gak apa. Mana tahu Alcenn rindu sama Bapak," Alcenna menggombal sedikit.
"Mana percaya saya."
"Ya bagusnya gak usahlah Pak. Kalau gadis ini masih ada yang Alcenn pikir kalau akan macam-macam. Nah kalau jadi istri, andai kita macam-macam siapa yang tahu," ucap Alcenna penuh arti. Dia yakin bosnya mengerti maksudnya.
"Ya saya paham, tidak salah saya jatuh cinta padamu. Kalau kebanyakan wanita lain, dia mungkin lebih memilih saya. Jadi ... kamu mau hadiah apa untuk pernikahanmu?"
"Sudah banyak yang Bapak beri untuk Alcenn. Alcenn tidak mau kado dari Bapak."
"Ya berbeda hal."
"Makin pintar kamu ngomong sekarang ya. Saya akan dengarkan omongan kamu, namun sebagian saja yang bisa saya lakukan. Karena cinta saya tetap buat kamu," ucapnya berkeras.
Alcenna bertanya karena penasaran, "Maaf Pak, untuk terakhir kita bertemu, bolehkah Alcenn bertanya soal Bapak dan ibu?"
"Soal apa?"
"Awal menikah, karena cinta Bapak bilang. Lalu, ibu di mata Bapak juga tak ada salah, namun Bapak berkeras cinta sama saya. Apa yang terjadi sebenarnya Pak?"
"Saya juga gak tahu," jawabnya.
Alcenna tahu ada yang disembunyikan, dia tak bisa memaksakan, mungkin itu rahasia rumah tangganya.
Alcenna hanya bisa berkata, "Pak, Alcenn gak paksa jika Bapak tak mau cerita. Cuma dengarkan Alcenn sekali ini. Walau Alcenn jauh muda di bawah usia Bapak, mungkin pengalaman Alcenn bisa lebih tinggi." Alcenna serius namun dia sempatnya bergurau mengatakan pengalaman dia lebih tinggi.
"Iyalah jam terbang kamu tinggi."
"Mau dengar apa tidak Bapak?"
"Iya apa," katanya setengah penasaran setengah mencandai Alcenna.
"Coba bangun komunikasi lebih dekat lagi Pak. Ajak ibu melakukan kegiatan seperti waktu Bapak pacaran sama ibu. Mungkin Bapak bukan tak cinta lagi tapi hanya jenuh."
"Iya besoklah saya coba," katanya malas.
"Terserahlah, yang penting Alcen sudah coba berbuat baik untuk Bapak. Karena hanya itu yang bisa Alcen beri pada Bapak."
__ADS_1
"Iya sayang, saya terima." Dia mengacak rambut Alcenna. "Saya pasti merindukanmu."
"Alcenna tidak akan merindukan Bapak."
"Kamu memang selalu kejam pada saya Cenn. Sudah ayo makan."
***
Tak terasa sudah dua bulan setelah kepindahan bosnya. Alcenna sedikit merasa kehilangan pada awalnya.
Sebulan sebelum mengundurkan diri, Alcenna sudah mengajukan surat permohonan berhenti. Kini dia sedang mengurus kelengkapan surat untuk menikah. Mereka tidak berniat mengadakan resepsi pernikahan. Cukup acara doa kecil-kecilan saja.
Alcenna memutuskan meniadakan resepsi karena iba melihat orang tuanya yang tidak mempunyai dana lebih. Sementara Arzon juga tidak memiliki dana lebih.
Dia bertukar pendapat kepada ayahnya dua minggu sebelum akan menikah. "Ayah, kami ingin menikah dalam waktu dekat ini. Namun kami tidak mempunyai dana lebih untuk resepsi Ayah, kami hanya punya untuk mendoa saja. Apa ayah setuju?"
"Ayah setuju."
"Namun Yah, Alcen berkemungkinan akan digosipkan hamil di luar nikah karena hanya mendoa, apa Ayah benar tidak apa-apa?" ucap Alcenna kala itu.
Di kampung Alcenna resepsi pernikahan itu seperti keharusan. Jika ada yang tidak resepsi terkesan karena kasus hamil di luar nikah. Walau ada juga yang berani naik pelaminan meski perutnya sudah mulai tampak membesar.
"Kita tidak bisa menahan mulut orang Nak, bagi Ayah cukup Allah yang tahu bahwa kamu tidak seperti yang mereka ceritakan. Ijab dan kabul yang terpenting. Untuk apa kita mengadakan walimah besar-besaran, jika kita memaksakan sesuatu yang kita tidak mampu. Walimah itu sebenarnya berfungsi untuk memberi tahu kepada sebagian orang agar orang tahu dan tidak menimbulkan gunjingan bukan berpesta pora," kata ayahnya saat itu.
***
Berbekal restu ayah, mereka mempersiapkan pernikahan, dan hari ini adalah hari bahagia dalam hidup gadis itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alcenna binti Moswen dengan seperangkat alat shalat dan sebentuk cincin mas dibayar tunai," terdengar suara Arzon menjawab lalu terdengar yang hadir menjawab sah secara beramai.
"Alhamdulillah," jawab Alcenna pelan.
Alcenna di tuntun keluar kamar setelah sah jadi suami-istri, lalu di dudukan di samping Arzon yang sekarang menyandang gelar "suami". Jari tangannya di pasangkan sebentuk cincin. Lalu Arzon mulai membaca sighat taklik.
Setelah itu mereka memberikan tanda bakti dan hormat kepada kedua orang tuanya. Dalam arti kata lain mereka sungkem kepada kedua orang tua mereka.
Acara dilanjutkan dengan doa dan makan- makan. Lalu foto-foto bersama keluarga. Tak ada kemewahan namun Alcenna merasa bahagia.
Mereka lalu kembali dan menempati rumah yang biasa Alcenna tempati bersama adik-adiknya. Tak banyak perubahan, satu-satunya yang berubah di rumah itu bertambah satu mahkluk tampan yang bergelar 'suami'.
***
Alcenna mulai menjalani sebagaimana seorang istri. Di mulai dari bangun pagi menyiapkan sarapannya sampai malam melayani suaminya hingga tertidur.
Hidupnya serasa berputar 180 derajat. Dia yang biasa banyak bermain dan melakukan sesuka hati, mulai harus tahu batasan-batasan sebagai istri. Arzon tak banyak aturan dan larangan. Apalagi Alcenna menepati janji di rumah dan tidak bekerja di luar lagi.
Dia juga tak pernah pergi keluar selain dengan suami atau dengan Azarine. Bahkan sejak menikah Putri pun seakan sadar, sahabatnya menjadi orang rumahan. Tak ada kata bermain-main atau kelayapan lagi dalam kamus hidupnya. Palingan mereka saling telepon atau video call- an, sekadar bertukar kabar.
Hari demi hari dijalani tanpa rasa bosan di dalam rumah oleh Alcenna. Mereka bahkan tidak pergi berbulan madu. Namun dia tak pernah menyesali jika Arzon tak mampu mengajak berbulan madu. Bisa menjadi istri yang menenangkan hatinya saja sudah bersyukur. Hidup akan dia baktikan hanya untuk suaminya. Itulah keinginan terbesar Alcenna.
**//**
__ADS_1