Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Hati Yang Berdesir.


__ADS_3

Malam hari ....


Pukul tujuh lewat sedikit, bos Alcenna sudah sampai di rumah sakit. Pemandangan yang tidak bisa dipercaya oleh Alcenna. Dia benar datang.


"Sudah pada makan?" kontan adik Alcenna menggeleng." Mereka telah diminta oleh Alcenna untuk pergi makan dari tadi, namun mereka beralasan belum lapar.


Dia mengeluarkan dompetnya dan menarik dua lembar uang seratusan. "Pergilah makan. Kita gantian menjaga gadis keras hati ini."


Adik Alcenna jelas menjadi sumringah melihat uang merah tersebut. "Hmmm dasar si adek, tak tahu dia, kakaknya tergadai nanti sama si bos."


"Tadikan sudah kakak kasih uangnya, kenapa diambil juga uang bos kakak, ba__" Alcenna tak menyelesaikan ucapannya. Si bos sudah berdehem penuh peringatan.


"Ehem! Sudah ambil saja Rin, jangan dengar."


Sebelum mereka kompak keluar, "Bapak mau nitip sesuatu?" kata adik Azarine dengan sopan.


"Em, tolong belikan saya secangkir kopi hitam dan sepotong roti saja?" Dia menjawab dengan ramah tidak sedatar tadi siang.


"Baik Pak ... maaf, titip kakak sebentar ya Pak."


"Selamanya juga saya mau," katanya sambil memandang lucu pada Alcenna.


"Mulai ...."


"Apa yang sakit?"


"Hatiku Pak."


"Karena si melarat tu gak boleh ke sini?" katanya dengan bercanda. Alcenna cemberut.


"Cen ...." Bosnya memanggil pelan.


"Masih sakit?" Dia memandang dengan khawatir.


"Apa segitu parah sakit ini Pak?" Alcenna dulu tak merasa sesakit ini.


"Belum tahu, besok kita cek."


Keheningan membentang di antara mereka. Bosnya masih memandang Alcenna. Alcenna pun hanya diam. Terkadang Alcenna memandang langit-langit kamar, terkadang kembali menoleh pada bosnya yang masih memilih diam. Apa yang ada dalam pikiran bosnya , tak bisa Alcenna ketahui. Sampai dia terdengar menghela napas.


"Kenapa Pak?" Alcenna akhirnya buka suara.


"Gak apa-apa." Jelas pria itu mengelak.


"Tu kenapa Bapak banyak diam, biasa mulutnya jahat." Alcenna memutuskan mencairkan suasana.


"Kamu lagi sakit, kasihan saya jahati kamu." Dia membalas gurauan gadis itu.


"Saya masih terbayang wajah kamu yang kesakitan tadi siang. Selama ini saya hanya melihat keceriaan kamu."


"Malu jadinya sama Bapak."


"Karena terlihat jelek?"


"Iya."

__ADS_1


"Di mata saya kamu tetap cantik."


Alcenna memukul tangannya yang ditopangkan di sisi tempat tidur. "Dah tua, tak tahu malu merayu anak gadis orang."


Belum sempat dia menjawab Sammy datang mengantarkan pesanan. "Pak ini kopi sama rotinya."


"Loh kalian sudah siap makan?" Dia melirik jam tangannya dan terheran melihat Sammy cepat kembali.


"Belum Pak. Azarine lagi menunggu pesanan kami. Saya antar untuk Bapak dulu," kata Sammy memandang penuh arti.


"Makasih ... pergilah makan." Bos Alcenna terlihat senang.


"Busuk gayamu dek, sengaja kamukan." Alcenna memaki dalam hati dan seolah mengerti, Sammy tersenyum jahil.


Kelakuan dua beradik ini tak lepas dari perhatian bosnya Alcenna. "Adikmu pengertian ya?" katanya setelah Sammy kembali keluar.


"Auhhh ahh Pak." kata Alcenna malas-malasan.


Dia menyeruput kopinya. "Kamu mau roti?" Alcenna menggeleng.


"Apalah maunya kamu ini."


"Mau pulang, tersiksa aku pakai infus Pak."


"Sabarlah sedikit, besok kalau sudah dapat hasilnya kita pulang. Kamu nikmati sajalah. Kalau kamu gak sakit mana mungkin saya bisa jumpa kamu malam-malam begini."


"Jadi Bapak ambil keuntungan ini dalam penderitaanku?"


"Sedikit ...." Tanpa wajah bersalah dia menjawab.


Dia mulai bertanya seluk beluk keluarga Alcenna. Kehidupan orang tua Alcenna. Alcenna menjawab apa adanya saja, tak ada yang dia tutup-tutupi.


"Tumben tak cari tahu?" Alcenna sempat menyindirnya sebelum menjawab jujur.


"Buang biaya, mending saya tanya langsung orangnya. Kalau tanya soal percintaanmu, kamu bisa saja mungkir jadi saya harus cari tahu sendiri."


"Kalau tak terbaring begini , ingin aku mencakar mulut bapak tu! Nyakitin hati saja!" Alcenna kesal mendengarnya.


Dia mendekatkan wajahnya ke Alcenna. "Ini cakarlah ...." Dia tersenyum menggoda Alcenna.


"Ihhh kalau tak pikir panjang, mau juga aku cium bibirnya, biar dia membeku." Pikir Alcenna iseng.


"Pasti kamu mau menjahili saya?"


"Rencana ... tapi enak di Bapak."


Seakan mengerti atau memang dia tahu ke mana arah pembicaraan gadis itu. "Sama enaklah, kita coba di sini," katanya memancing Alcenna.


Dia semakin mendekatkan wajahnya. "Coba kalau berani!" Raut wajah Alcenna, sudah hampir memerah karena frustasi. Dia tak bisa bangkit, juga tak bisa mau mendorongnya.


Tangan Alcenna yang tidak diinfus, ditahannya di tepi ranjang rumah sakit. Tidak mungkin Alcenna bisa mendorong dengan tangan yang berselang infus.


"Lucu juga kamu kalau sakit. Galaknya tetap gak hilang." Masih dengan wajahnya yang hampir tak berjarak.


"Jauhkan wajah Bapak!" kata Alcenna pelan, namun penuh tekanan.

__ADS_1


"Kalau saya gak mau? Kamu bisa apa?" Dia semakin menahan tangan Alcenna ketika merasakan perlawanan Alcenna hendak melepaskan dari genggaman tangannya.


"Lepaskan tangan saya Pak, saya ingin minum." Alcenna mencari alasan dan kebetulan merasa bibirnya kering.


Dia memperhatikan wajah Alcenna sejenak. Dilihatnya bibir yang sedikit kering. Dia melepaskan tangannya dan bergerak menggambil air putih.


Dia membantu Alcenna untuk bangkit dengan memangku kepala Alcenna, dan mendekatkan gelas minum ke bibir pucat gadis itu dengan tangan yang satunya. Alcenna meneguk habis minuman di gelas.


Dia meletakkan kembali kepala Alcenna ke bantal dengan hati-hati. Masih dengan memegang gelas di tangannya, dia melihat dengan aneh. Entah itu karena Alcenna yang memasang ekspresi aneh.


Dia meletakan gelas yang kosong ke nakas, kembali duduk di samping ranjang. Dia masih diam memandang tanpa ada niat menjahili.


Alcenna yang tak paham dengan apa yang bosnya rasa dan yang ia rasakan sendiri, hanya memilih diam membuang pandangannya keluar jendela rumah sakit. Walau hanya tirai yang bisa dia pandangi.


Lama mereka berdiam diri sampai pintu diketuk. Seorang pramusaji rumah sakit datang mengantarkan makanan. Alcenna melihat sepiring nasi lembek dan sayur wortel bening dicampur kentang dan sepotong ayam semur.


"Permisi ya Pak," kata ibu pramusaji undur diri setelah meletakan nasi di meja. Bosnya hanya mengangguk kecil.


Tanpa banyak kata, dia mengambil nasi dan mulai menyuapi. Alcenna makan tanpa protes walau sebenarnya tak menyukai nasi yang hampir seperti bubur.


"Habiskan, biar ada energi," katanya mengultimatum ketika melihat Alcenna mulai malas menelan makanannya.


"Sudah Pak, saya mual." Terlihat wajah memelas Alcenna. Dia sungguh mual memaksa menghabiskan makanan rumah sakit ini.


Dia tidak memaksa Alcenna dan meletakan sisa makanan kembali kemeja. Lalu mengambil obat dan kembali memangku kepala Alcenna saat memberikan minum.


Gadis belia mana yang tidak tersentuh hatinya diperhatikan oleh pria dewasa yang mengaku sangat mencintai dirinya. Dia salah satu gadis itu. Dua kali hatinya berdesir malam ini. Alcenna tidak paham apa arti desiran itu.


"Bapak tak pulang?" Nadanya terdengar aneh di telinganya sendiri.


"Iya sebentar lagi. Adikmu belum kembali." Sudah hampir sejam lebih adik-adiknya belum juga kembali.


"Tak apa Pak, tar saya telfon saja," katanya tak enak hati.


"Ngusir kamu?"


"Tidak kok Pak."


Dia pasti heran melihat Alcenna yang lebih tenang dan lembut. Alcenna masih menelaah arti desiran yang hadir tadi. "Apa aku sebegitu mudah luluh dengan perhatian lawan jenis?" Batinnya nelangsa.


"Kenapa?" Suara bosnya mengusik lamunannya.


"Telfonkan tolong adik-adik Pak, nanti Bapak kemalaman pulang dicari anak istri." Alcenna mengalihkan perhatian.


"Kamu tahu apa tentang saya Alcenna sayang ...." katanya sambil mencubit gemas hidung mancung Alcenna.


"Jangan pakai sayang-sayang."


"Terserah saya, mulut-mulut saya."


"Terserah Bapak, capek saya berdebat dengan Bapak."


"Makanya, jangan berdebat, berdebar saja kalau bisa."


"Uhhh ...."

__ADS_1


**//**


__ADS_2