Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Luka Hati


__ADS_3

Malam Hari Raya di kampung ibu mertua Alcenna ....


Suara takbir berkumandang di malam hari raya ini. Alcenna selalu berlinang air mata di saat takbir berkumandang sejak ayahnya telah tiada. Dia sebenarnya masih selalu merindukan ayahnya diam-diam. Namun puncak kerinduannya saat malam hari raya. Alcenna sangat merindukan ayahnya. Alcenna sedih teringat ayahnya.


"Ayah ... apa kabar ayah di sana, Alcenn rindu dengan ayah. Sangat rindu ayah. Alcenn rindu pelukan ayah, rindu senyum ayah ... rinduuuu."


Setelah hatinya sedikit ringan Alcenn baru bergabung dengan mereka. Di ruang tamu ada ibu Alcenna, ibu dan ayah mertuanya, Anak-anak serta adiknya Azarine.


Sammy yang tak pernah lagi bisa berkumpul, apalagi sekarang malah semakin jauh, dia dipindahkan ke Kalimantan. Bagi perusahaan bergerak di bidang garment, hari libur nasional dan hari raya justru pelanggan tambah ramai dan omset semakin besar. Sebab itu Sammy tidak pernah mendapat cuti hari raya. Namun Sammy tetap pulang setahun sekali.


***


Pagi hari setelah pulang dari shalat id, mereka berkumpul. Ibu mertuanya memang sangat sayang dengan cucu pertamanya, Ayu.


"Jadi Ayu kenapa tidak diajak?" tanya ibu mertua Alcenn.


"Tidak mau dia Bu," ucap suami Alcenna.


"Jadi dia tinggal di mana? Kenapa dia tidak tinggal di rumah kalian?"


"Dia tidak mau Bu, dia mau tinggal di rumah saudara mamanya," Alcenna yang menjawab.


"Ya mana mau dia, kan sudah tak boleh sama kamu menginjakkan kaki di rumahmu, "Tiba-tiba ibu mertua menyalahkan Alcenna.


Alcenna yang sudah banyak mengalah masalah anak, tidak bisa menerimanya begitu saja. Baru saja dia merasa damai, kini hatinya kembali dibakar.


"Ibukan cukup tahu alasannya waktu itu kenapa aku usir dia dari rumah dan aku larang injak kakinya di rumah, tapi apa nyatanya. Waktu ngantar Alif dia mijak rumahku jugakan Bu, dan tanya sama Allya dan Alif sendiri, apa ada aku usir dia. Aku malah mengajak dia. Dia yang tidak mau karena mau bebas," ucap Alcenna pelan. Ingin dia melawan. Karena dia selalu saja salah di mata keluarga suaminya.


Alcenna tak ingin membuat ibunya sedih jika dia ribut. Dia menyesali kenapa ibunya juga tidak ada harganya di mata mereka. Ibu yang telah bersusah payah menjaga dan mendidik cucu mereka.


Hati yang terlanjur sakit, malamnya Alcenna katakan kepada suaminya. "Aku ingin pulang besok pagi, Bang!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena aku selalu kecewa diperlakukan keluaragamu setiap pulang kampung. Jika tidak memikirkan kebahagiaan ibumu yang senang melihat Abang bisa berlebaran di kampung, sudah tak sanggup hati aku. Baru saja hatiku merasa senang, kita tidak ribut-ribut. Nyatanya hati aku kembali terluka!"


"Emang apa masalah Ayu tuh dulu, kenapa Alcenn gak ada cerita?" tanya suaminya.


"Abang mau tahu?" Dan suaminya mengangguk.


"Waktu dia mau kita ambilkan paket, sudah Alcenn urus syarat-syaratnya. Bahkan sudah Alcenn bayar full, lalu gak tahu apa pasalnya dia membatalkan ikut paket B-nya. Dia mau minta pulang lagi pada mamanya. Jadi waktu itu Alcenn suruh mamanya datang jemput. Bahkan Alcenn yang jemput mamanya dari terminal ke rumah. Mamanya tanya pada Alcenn saat sudah di rumah. "Kenapa Ayu tidak jadi mau ujian paket itu?"


"Aku gak tahu kak, coba saja tanya sama Ayu nya," kataku saat itu Bang, yang Ayu sendiri ada duduk diantara kami.


"Lalu mamanya tanya, "Kenapa Yu, kamu gak jadi ikut ujian dan malah mau pulang?"


Saat itu Ayu memukul lantai sambil berucap, "Ya, aku gak pernah dihargai di rumah ini!"


"Aku emang terpancing amarah karena cara dia yang memukul lantai, seolah menderita dia di atas rumahku, jadi aku katakan, "Apa yang tidak aku hargai ha! coba kau bilang. Apa yang aku lakukan sama kau, bahkan dirumah ini saja tak ada kerja kau satupun selain makan, minum dan tidur. Tak pernah aku suruh kau sekalipun kan?"


"Saat itu dia hanya diam tak ada bantahan lagi. Karena emang itu apa adanya. Aku yang masih sakit hati ingat cara dia menggebrak lantai, aku katakan sama mamanya, "Bawa anak kakak pergi dan jangan pernah injak kakinya di rumahku lagi, aku tak sudi menerima anak yang tak pernah menganggapku!"


"Mamanya diam saja. Tapi tahulah mantan istri abang tu. Di depankan manis, belakang baru berani berkoar," ucap Alcenn sinis.


"Jadi ibu di mana waktu tu, bukankah ibu pas ada di rumah kita? Waktu Alcenn bilang dia gak mau lanjut paketnya dan dijemput mamanya," tanya suami Alcenna heran.


"Ada di kamar kita, bahkan setelahku antar ke bus kota, ibu memgatakan, "Biar saja dia pulang sama mamanya, kalau tidak mau dibentuk. Besok-besok ke depannya, jangan jemput-jemput lagi mamanya. Jantungan ibu tadi, risau, rasa-rasa kamu akan ditikamnya dari belakang," gitu kata ibu saat itu, kok sekarang malah nyalahkan aku. Di depan ibu dan adikku lagi. Macam tak ada harga keluarga aku," ucap Alcenna emosi.


"Iya Abang minta maaf," kata suaminya.


"Aku tak perlu kata maaf Abang, aku mau besok pulang kalau perlu malam ini. Hatiku sakit kali rasanya."


"Ya sudah besok pagi abang bilang ibu, kita pulang, ok?"


"Janji ya?"


"Ya, Sekarang tidurlah."

__ADS_1


***


"Bu kami pulang siang ini ke kota," ucap suami Alcenna.


"Kenapa cepat, biasanya bukan sampai seminggu di sini?"


"Ada perlu Bu," elak suami Alcenna halus.


Namun ibu mertua Alcenna feeling sepertinya dan berkata, "Apa Alcenn tersinggung dengan ibu?" Alcenna tak menjawab, dia serahkan pada suaminya apa yang mau dikatakannya.


"Iya, Ibupun kelewatan. Ibu tahu cucu kesayangan Ibu itu yang kurang tahu diri, kurang apa lagi ibu tirinya. Kata ibu sedikit biaya ambil paket tu, lumayan banyak Bu. Kalau selesai tak masalah, buang duit ni yang gak tahan. Macam orang kaya banyak duit saja," kata suami Alcenna jujur dengan nada lembut.


"Iya Ibu salah, maafi ibu ya," kata ibu mengarah kepada Alcenna. Ibu suaminya termasuk sosok yang lembut.


"Iya Bu, tak usah minta maaf, memang nasib aku ni yang kurang beruntung tak punya anak jadi pengikat dengan keluarga ini," kata Alcenna tenang namun tajam menghujam ulu hati ibu mertuanya bahkan ibu kandung Alcenna sendiri.


Ibunya terlihat tertegun. Sifat ibu Alcenna tidak sama seperti Alcenna. Ibunya lebih banyak mengalah. Namun Alcenna juga rasanya sudah banyak mengalah sepanjang usia pernikahannya.


"Bukannya gitu___" Ibu mertua Alcenna hendak membantah. Alcenna langsung menyalip pembicaraan.


"Apanya yang bukan begitu Bu, selama ini pernah tidak ibu sekali saja bertanya kabarku? Pernah tidak bertanya apa aku sudah hamil atau belum? Pernah? Tidakkan? Di mulut Ibu dan keluarga hanya cucu-cucu Ibu dari mantan istri anak Ibu. kalau ada yang merasa tak dihargai tak dianggap, aku orangnya Bu, bukan cucu kesayangan Ibu." Acenna mengeluarkan sakit hatinya dan uneg-unegnya bertahun ini.


"Asal Ibu tahu, aku selalu menderita setiap pulang ke sini. Coba Ibu lihat ada tidak, keluarga suamiku yang menganggap aku. Dulu kalian benci sama dia waktu masih jadi istrinya, sudah jadi mantan malah kalian puja-puja, berbaik semua keluarga Ibu. Tanpa mempedulikan perasaanku. Pernah tidak Ibu bahas yang begini pada mereka, anak-cucu Ibu, Ibu titip padaku. Tapi kalian perlakuan aku seperti boneka tak bernyawa. Jika kalian suka kalian mainkan, jika tidak kalian buang aku," ucap Alcenna pelan namun menahan amarah. Dadanya terasa sakit, nafasnya terasa sesak.


Semua hanya diam menunduk termasuk ibu Alcenna. Ibu Alcenna terlihat meneteskan air mata, ibu jadi mengetahui perasaan yang Alcenna simpan bertahun. Selama ini ibu hanya tahu Alcenna bahagia, Alcenna dan Azarine menutupi percekcokan yang ada. Azarine pun soal yang barusan kakaknya katakan, tidak tahu. Kakaknya menutupi luka hatinya selama ini. Kini luka hatinya terbuka lebar. Alcenna tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah ibu tahu. Dia pasrah.


Ayah mertua Alcenna yang hanya diam saja akhirnya bicara, "Jika Alcenn tidak ingin mendengar permintaan ibu, apakah Alcenn mau mendengar permintaan papa? Papa minta maaf selama ini keluarga papa tidak mengerti perasaan Alcenn. Papa berharap Alcenn tidak pulang karena sakit hati begini. Apa Alcenn mau?" ucap ayah mertuanya dengan lembut.Alcenna tak bisa menolak permintaan ayah mertuanya.


Ayah mertua Alcenna tak pernah sekalipun menyakiti hati menantunya. Semua yang terjadi tidak ada yang diketahui oleh beliau. Beliau juga tidak pernah banyak bicara.


"Baiklah Pa," kata Alcenna mengalah.


**//**

__ADS_1


__ADS_2