
Hari ini mereka terbang ke kota P. Kota yang hampir setahun Alcenna tinggalkan. Kota penuh kenangan, mulai bahagia sampai derai air mata. Kini Alcenna semakin kuat dan akan tegar. Dia bertekad meraih bahagianya.
"Alcenna, sudah siap benarankan? Kakak was-was," ucap Robby saat kami tiba di bandara kota P.
"Insya Allah Kak, siap."
Mereka telah sepakat bertemu di sebuah hotel di kota P. Robby dan pengacara sudah mengatur pertemuan Alcenna. Robby memang membawa pengacara. Dia orang yang berjaket hitam di bilang Sammy. Dia juga pengacara Eddyson.
Di hotel SB ....
Alcenna memang terlihat sedikit gelisah. Namun Putri dan Robby berhasil membuat dia lebih tenang. Eddyson juga baru siap vc untuk menguatkan dan mengatakan jangan lupa kembali padanya.
Bahkan Eddyson dengan mimik muka yang lucu akan merasa hancur jika Alcenna memilih tak kembali padanya. Alcenna tidak tahu betapa takut Eddyson jika Alcenna luluh oleh Arzon. Dulu Eddyson pernah kalah oleh Arzon. Tidak menutup kemungkinan itu terjadi lagi.
"Kak, jam berapa janjinya?" Alcenna di kamar Robby.
"Sebentar lagi. Jika nanti dia minta bicara berdua denganmu, kita terpaksa bicara di lobi hotel. Kakak tidak berani ambil resiko," ucap Robby.
"Iya Kak, Alcenna juga takut."
Kini mereka berempat telah di kamar Robby dan sang pengacara. Tak lama pengacara di telfon oleh Arzon. Mengatakan sudah di lobi SB. Pengacara meminta dia naik kekamar 301. Putri pun kembali ke kamar, agar tidak terlalu ramai.
Alcenna menarik napas. Dadanya terasa sesak, tapi dia mengingat Eddyson dan harapannya. Dia juga ingin pulang kepelukan Eddyson yang hangat dan menenangkannya. Alcenna berhasil melewati ketegangannya.
Tok ... tok ... tok ....
Pengacara membukakan pintu kamar. Alcenn duduk di sofa single. Pengacara duduk di pinggir ranjang begitu juga Robby. Satu kursi yang kosong hanya kursi meja rias. Arzon di persilahkan duduk oleh pengacara yang telah dikenal Arzon.
Alcenna awalnya hanya menundukkan kepala, tangannya memegang pinggiran kiri-kanan sofa. Dia merasa begitu canggung. Pengacara mengenalkan Robby. Tanpa menyebut identitas apapun. Lama Arzon memandang Robby.
"Apa tidak bisa kami berbicara berdua?" tanya Arzon pada sang pengacara.
"Maaf di sini bu Alcenna sebagai klien saya Pak, saya tidak bisa meninggalkan anda berdua."
Arzon hanya mengembuskan nafas. Alcenn memberanikan diri memandang orang yang pernah dicintainya untuk mengarungi bahtera cinta. Walau akhirnya karam di tengah berlayar. Mata mereka saling menatap, Alcenn menyadari tak ada lagi getar kerinduannya. Dia malah semakin yakin cintanya kini hanya buat Eddyson. Alcenna menjadi semakin tenang.
__ADS_1
"Apa kabar Cenn?" kata Arzon dengan bergetar.
"Alhamdulillah aku baik bang," jawab Alcenn tanpa bertanya kembali. Alcenn tak ingin berbasa-basi buat sesuatu yang bagi dia sudah basi.
"Abang minta maaf."
"Aku sudah maafi Abang sejak sebulan ini."
"Abang menyesal, abang mengaku salah."
"Penyesalan itu selalu datang terakhir Bang, dan itu tidak ada gunanya!" tekan Alcenn.
"Apa kita tidak bisa kembali merajut benang yang sudah kusut Cenn?"
"Maaf Bang, kalau itu sudah tak bisa."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah banyak melewati kesulitan setelah kejadian terakhir di kampung."
"Stop Bang, aku ke sini bukan untuk disalahkan atas apa yang tidak aku lakukan. Aku hanya ingin minta Abang tidak mempersulit aku."
"Tak ada niat abang seperti itu, abang hanya ingin kembali bersamamu."
"Ke mana Abang 9 bulan lebih? Apa pernah bertanya pada ibu di mana aku?"
"Itu karena abang masih sangat kesal karena kamu membuat abang malu," ucapnya masih menyalahkan Alcenn.
Alcenna mengepalkan tangannya dengan kuat, sehingga urat-urat punggung tangannya tergambar jelas dibuku tangannya. Ingin rasanya dia meninju muka Arzon.
"Cukup! Sifat inilah yang aku tidak suka dari kau! Kau hanya tahu salah aku tanpa mau mengakui salah kau!" Alcenna jadi naik darah sendiri. Robby justru lebih bersyukur Alcenna bersikap ini. Sejauh ini Robby dan pengacara hanya jadi pengamat.
"Kau yang egois Cenn, abang sengaja mempersulit sidang karena ingin bertemu denganmu dan berbaik denganmu. Tapi sifatmu yang kasar ini tidak pernah berubah."
"Itu karena aku muak disalahkan terus, kau jangan lupa hari terakhir menyuruh aku mati, karena lebih membela keluarga kau. Saat itu asal kau tahu hatiku sakit sekali. Aku ingin melampiaskan pada dunia aku menyesal bertemu dengan kau. Aku juga menyesal memilih hidup dengan kau. Aku memutuskan membunuh hatiku agar tidak terasa sakit!" Alcenna setengah berteriak melepaskan sakit hatinya karena kembali disalahkan.
__ADS_1
Dia terus bicara tanpa memberikan Arzon kesempatan bicara, "Asal kau tahu, 8 bulan aku mimpi buruk, kau selalu datang menghantuiku dengan wajah dingin dan kejam. Kau menunjuk mukaku menyuruh aku mati. Setiap aku bermimpi itu, aku selalu berteriak harus bangun, namun aku gagal sampai kau sendiri yang pergi dari hadapanku. Asal kau tahu juga, aku selalu menangis walau dalam mimpiku, kau telah berbalik badan dan pergi." Arzon hanya terdiam.
"Aku ingin mengejarmu, menggapaimu dalam mimpiku, namun seakan tubuhku tak bertulang dan aku merasa tak bertenaga. Aku menangis memanggilmu di dalam kamar gelap! tapi kau tidak pernah kembali. Aku terus menangis! Lalu aku terbangun dengan tubuhku yang basah dan dengan derai air mata. Aku menuntaskan sebak dadaku dengan menangis di subuh buta. Apa kau tahu luka apa yang telah kau torehkan di hatiku! tahu kau! apa kau tahu itu!!!
Alcenna benar meraung, tangisan pilunya kembali terdengar. Robby jadi paham apa yang dirasakan Alcenna waktu di apartemennya. Robby sempat shock dengan cerita Alcenna. Namun dia sadar Alcenna sedang butuh sandaran. Robby mengejar Alcenna ke sofa. Dia menarik Alcenna ke tepi ranjang. Pengacaranya beranjak ke sofa. Dia mengerti apa masalah kliennya.
Dengan bukti rekaman kamera tersembunyi yang telah dia pasang secara diam-diam cukup sebagai bukti untuk pengadilan. Jika yang digugat tidak ada niat baik.
Arzon masih terdiam. Dia juga manusia yang punya hati. Punya mata yang bisa melihat. Dia tidak buta, melihat semua yang dirasakan Alcenna.
Alcenna masih menangis di pinggir ranjang, matanya tertutup. Alcenna hanya menunduk. Derai air matanya jatuh menetes membasahi Rok biru muda jeans panjangnya. Robby memeluk bahunya. Memberikan kekuatan. Alcenna menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Robby.
Di tengah isak tangisnya, semua yang di kamar masih bisa mendengar dia bicara, "Tolong aku suamiku, tolong lepaskan aku! Aku sudah tidak sanggup hidup denganmu. Jangan biarkan aku larut dalam dosa-dosaku. Biarkan aku bahagia dengan orang yang bisa mencintaiku tanpa pamrih. Tolong aku ... tolonglah aku ... aku sudah tidak kuat hidup bersamamu. Jangan menyiksa hatiku lagi, jika ada sedikit cintamu untukku ...." Alcenna pun rebah dari bahu Robby. Robby cepat menyambut Alcenna yang hendak tersungkur. Robby mengangkat Alcenna dan membaringkan di ranjang. Robby juga menahan Arzon untuk tidak menyentuhnya.
"Tolong Al, panggilkan temannya," ucap Robby pada sang pengacara. Tak lama Putri datang dan shock melihat Alcenna pingsan.
"Ada bawa minyak angin Put?" tanya Robby. Putri menggeleng.
"Coba kamu tunggu dia, Kakak carikan minyak angin di toko bawah," perintah Robby. Robby tidak peduli pada Arzon. Cukup pengacara yang mengurusnya. Putri di perintahkan untuk menjaga Alcenna.
Pengacara telah membawa Arzon keluar dari kamar. Arzon tidak ada pilihan lain. Dia tahu Alcenna sudah menolak dia dengan memohon-mohon. Arzon tidak tega. Bagaimanapun dia pernah bahkan mungkin masih mencintai Alcenna.
Namun jodoh mereka hanya sampai di sini. Arzon sudah memutuskan melepaskan Alcenna. Mengingat kata kata terakhir Alcenna yang memohon-mohon. Mungkin bukan dia orang yang tepat yang bisa mengerti Alcenna. Dia dan Alcenna mungkin sama egois.
Di lobi ....
"Mana Pak berkas yang harus saya tanda-tangani. Saya kuasakan semuanya ke Bapak."
"Terima kasih banyak Pak, atas pengertiannya dan kerja samanya," ucap sang pengacara.
"Tidak usah berterima kasih Pak, Bapak sudah lihat betapa dia tersiksa. Aku sadar aku bukan orang yang tepat untuknya. Tolong katakan padanya, aku memang masih mencintainya. Namun aku bukan orang yang tepat. Minta dia bahagia setelah ini Pak," ucap Arzon dengan tulus.
"Baik pasti saya sampaikan Pak."
**//**
__ADS_1