Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Tak Harus Memiliki.


__ADS_3

Bos Alcenna dengan betah duduk di kamar inap. Memandang Alcenna dalam diamnya. Begitu juga Alcenna hanya ikut diam.


Alcenna membuang pandangan keluar jendela. Sudah sehari semalam tak ada kabar dari Arzon. Kadang terbersit rasa heran di pikiran Alcenna, apa yang dilakukan prianya di luar kota sampai sering tak sempat memberikan kabar.


Biasanya Alcenna sedikit tidak senang jika dia tak ada kabar. Namun untuk kondisi saat ini mau tidak mau dia merasa sedikit lebih tenang, setidaknya masalah tidak semakin melebar.


Alcenna merasa jalan hidupnya berputar jauh. Dia yang dulunya tidak mengandalkan orang lain soal dana, mulai tidak bisa menolak pemberian dan perhatian bosnya. Alcenna yang begitu takut hutang budi, akhirnya akan tergadai juga di tangan bosnya, andai suatu saat berjalan tidak mulus.


Alcenna tak bisa menolak. Berulang kali dia menolak, namun bosnya selalu menang dengan kehendaknya. Alcenna secara tidak sadar menghembuskan napas dengan kasar dan melihat bosnya yang masih memandang dirinya.


"Tak usah banyak pikir, takkan saya tagih semua pemberian saya walau saya tak bisa menjadikan kamu istri kedua saya," katanya dengan lucu namun serius. Seakan dia mengerti apa yang gadis itu lamunkan.


"Apalah Bapak ni ...." Alcenna mengelak.


"Bukankah itu yang kamu pikirkan barusan dan membuat kamu membuang napas percuma."


"Bukan, Bapak sok tahu." Alcenna masih mengelak.


"Kamu itu gadis aneh."


"Aneh?" tanya Alcenna tak paham.


"Ya Aneh. Kebanyakan wanita jika sudah di manja begini. Pasti mulai ngelunjak minta ini itu. Ini kamu, pusing sendiri. Padahal saya tulus sama kamu."


"Tahu ahh Pak."


***


Jam 10.30 wib.


Dokter dan seorang perawat datang menghampiri mereka. Pria itu langsung berdiri di samping Alcenna.


"Bagaimana hasilnya Dok?" dia bertanya dengan cepat.


"Nona Alcenna positif batu ginjal Pak, dan batunya sudah lumayan besar, jadi terkadang batu ginjal bergerak dan menyumbat saluran kemih. Makanya terasa nyeri di pinggang dan bahkan saat berkemih." Dokter menjelaskan.


"Jadi solusinya? " Pria itu dengan arif langsung meminta jalannya penyembuhan. Alcenna tentu terharu melihat ketulusan hati bosnya tersebut dan kebaikan memikirkan kesehatannya.


"Paling baik dengan operasi Pak," kata dokter dengan tenang, tetapi tidak dengan pasiennya.


"Tidak ... saya tidak mau Dok! Saya tidak mau operasi Pak. Saya bisa mati duluan sebelum operasi dilakukan. Tidak .. saya menolak dan tidak mau Pak." Alcenna panik mendengar kata operasi dan berkeras menolak.


"Tenang Alcen ... tenang ...." kata bosnya berusaha menenangkan. Dia memegang bahu Alcenna dan meremas lembut.

__ADS_1


Namun tidak banyak memberi pengaruh pada Alcenna. Dia terus menolak. "Pokoknya tidak mau Pak! Biarlah saya tahan rasa sakit ini ketimbang harus operasi. Saya masih kuat. Saya menolak ...." Dia berulang kali terus menolak.


"Jalan lain Dok?" Terdengar bosnya bertanya kepada dokter yang hanya diam membisu membiarkan Alcenna yang mulai menangis panik.


"Bisa dengan Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy yaitu memanfaatkan gelombang suara untuk menciptakan getaran yang dapat menghancurkan batu ginjal menjadi potongan berukuran kecil sehingga bisa keluar melalui urine." Terdengar suara dokter yang membuat hati Alcenna menjadi sedikit tenang dan dia masih menundukkan kepala tanpa memandang dokter.


"Waktunya berapa lama Dok?" Suara pria kaku itu kembali terdengar bertanya.


"45 sampai 60 menit, meminimalkan rasa sakit bisa dengan bius ringan saja Pak." Dokter menjelaskan.


"Baiklah Dok, cara itu saja yang kita pakai." Jawaban bosnya membuat Alcenna semakin tenang.


"Baik Pak, kita persiapkan. Bapak bisa ke ruangan saya sebentar?" Dokter meminta pria itu untuk mengikutinya.


"Sebentar Dok."


"Saya tinggal sebentar ya, kita cari jalan yang terbaik. Jangan panik." Bos Alcenna mengusap lembut punggung gadis itu.


"Iya." Alcenna terlihat patuh.


Dokter dan bosnya berlalu dari ruangan tersebut.


***


Tak butuh waktu lama, terlihat pria itu telah kembali dari ruangan dokter dan memilih duduk di tepi ranjang Alcenna.


"Pak ...."


"Hmmm ...."


"Tak bisa pulang saja, coba terapi air putih saja dan obat herbal lain." Alcenna mencoba bernegosiasi. Dia memang takut berurusan di rumah sakit, apalagi jika sudah mendengar memakai tindakan alat medis.


Bosnya memegang bahu kiri Alcenna. Dengan tegas dia berkata, "Dengarkan saya sekali ini ... batu ginjalnya sudah lumayan besar tidak bisa dengan obat-obatan lagi, harus ada cara medis yang ditempuh. Jika tidak dipecahkan, kamu akan sering merasa sakit dan bisa pingsan sewaktu-waktu karena menahan rasa sakit yang kuat. Paham."


"Tapi Pak ...." terlihat Alcenna masih ingin membantah, tetapi dia ragu.


"Coba lihat saya, jujurlah ... sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Biaya?" Tebak pria itu.


"Kalau operasi saya memang tidak mau Pak, kecuali pingsan dan langsung dilakukan operasi. Mungkin lain soal Pak. Tetapi kalau sadar begini, tidak sanggup Pak, bayangi saja tak sanggup, apalagi menjalani."


"Yakin karena itu saja?" selidik pria itu menatap bola mata Alcenna dengan lekat. Alcenna juga menatap pria itu, lalu menunduk. Pria itu semakin yakin dengan tebakannya.


"Biaya yang kamu jadikan alasan. Saya benar?"

__ADS_1


Alcenna berkata, "Kalau biaya, saya memang tidak ingin memakai uang siapapun termasuk uang Bapak. Saya juga tidak bisa meminta ke ibu, tidak sanggup menyusahkan ibu, Pak. Saya yakin masih sanggup menahan rasa sakit ini." Suara Alcenna terdengar semakin pelan.


"Dua hal itu sajakah yang mengganggu pikiranmu?" Desak bosnya sambil meminta Alcenna menatapnya. Memandang semakin dalam pada Alcenna, meminta kejujuran pikiran gadis itu.


"Iya Pak." Alcenna menjawab dan kembali menunduk.


"Berarti tidak ada masalah kalau begitu.Pertama kamu tidak harus operasi, dan masalah kedua, soal biaya, dengar saya baik-baik." Alcenna kembali menengadahkan kepalanya melihat bosnya.


"Apa Pak?"


"Saya akan benar marah sama kamu, jika kamu terus mempermasalahkannya. Saya melakukan sama kamu tulus karena saya benar mencintai kamu tanpa imbalan apapun. Saya tak ingin melihat kamu kesusahan. Percayalah, saya tak akan pernah memaksakan harus bisa memiliki kamu. Melihat kamu bisa tersenyum ceria saja setiap jumpa saya dan hanya membayangkan kamu ceria saja, saya sudah sangat bahagia. Saya tak bisa melihat kamu dalam kesakitan. Jadi paham?"


"Saya paham Pak, terima kasih kalau begitu. Namun saya tetap tidak bisa terima apalagi dengan alasan Bapak. Tolong mengerti Pak. Cukup sekali saya berurusan dengan suami orang." Alcenna tertekan. Alcenna menangis.


Hatinya terharu melihat betapa besar cinta pria itu. Andai Alcenna bisa memilihnya dia akan lebih memilihnya. Apa kurangnya dia di mata Alcenna, tak ada. Namun Alcenna tidak bisa memilihnya.


"Maafkan saya, Pak. Bukan tak bisa membalas perasaan Bapak. Bapak tak ada kurangnya di mata saya, setidaknya untuk sekarang. Namun jangan sakiti istri Bapak. Kami sama-sama perempuan."


"Saya paham, tetapi kamu tidak paham apapun tentang saya."


"Iya, mungkin Bapak benar."


"Kamu memilih menolak bantuan saya?"


"Iya Pak." Alcenna menangis. Alcenna harus apa dan mau menyalahkan siapa dengan semua ini.


"Jika saya menawarkan pinjaman dari kantor bagaimana?" Solusi lain diberikan.


"Gaji saya tidak cukup untuk mencicil Pak. Mau berapa lama akan lunas."


"Baik saya akan menaikkan gaji kamu. Apa cara ini kamu juga menolak?"


"Kalau begitu saya bisa terima Pak, terima kasih atas bantuannya."


"Cepat sehat kesayanganku." Alcenna mendengar suaranya serak seperti menahan kesedihan. Entah apa yang dia rasakan.


"Jangan menangis Pak, saya akan merasa bersalah pada Bapak."


"Kamu lucu ... melarang saya menangis sementara kamu sendiri dari tadi menangis. Kamu bilang saya gak merasa bersalah?"


"Makanlah Bapak dulu, tapi saya Bapak suruh tidur." Alcenna mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya saya makan dulu, nanti kalau Sammy sudah sampai kabari, biar saya ke kantor sebentar." Dia bangkit dari ranjang dan melangkah ke luar.

__ADS_1


Alcenna kembali berbaring dan menghapus sisa air matanya. Dibalik merasa begitu beruntung memiliki orang yang peduli dengannya, Alcenna juga merasa bersedih tidak bisa membalas perasaan bosnya. Alcenna memejamkan mata, memikirkan akan bagaimana jalan cerita hidupnya.


**//**


__ADS_2