
Sudah lebih dua bulan sejak Alcenna mengenal Melfa. Diapun telah beberapa kali main ke sana dan pastinya bersama Arzon.
Hubungan mereka berjalan dengan baik. Tak ada perkelahian ataupun percekcokan seperti kebanyakan pasangan. Entah itu karena Arzon banyak mengalah atau memang Alcenna tak banyak menuntut, sehingga tidak ada yang harus membuat mereka ribut.
Alcenna tak pernah membahas lagi perihal curiga-mencurigai, sampai dia mendengar saat membeli detergen di warung depan rumahnya. "Cen sini deh ...." Abang warung yang baik padanya memanggil dan mengajak agak ke dalam warungnya.
"Ada apa Bang?" tanya Alcenna sedikit mengernyitkan dahi.
"Tadi ada wanita ke sini menanyakan apa kenal dirimu, tapi abang jawab kurang tahu yang mana."
"Wanita?" kata Alcenna semakin heran.
"Iya, Abang tanya sama dia ada apa? Lalu dia bilang kamu jalan sama suaminya."
Alcenna merasa sebuah bom meledak di telinganya. "Masa sih Bang?" tanyanya dengan hati tak menentu. Mumpung warung sepi dia memastikan.
"Iyaaa," jawab abang warung tersebut pasti.
"Aku juga bingung Bang. Abang lihat, dia yang sering main ke rumahkan? Aku tak pernah memang ke rumahnya Bang." Alcenna cerita dengan ringkas soal kenal keluarganya dan tak ada yang mengatakan jika Arzon memang telah menikah.
Alcenna memang sempat bertanya suatu hari kepada Melfa. Tetapi Melfa mengatakan dengan pasti, jika abangnya belum menikah. Bahkan berkata pada Alcenna jangan mudah percaya kata orang.
"Iya, makanya gak abang kasih tahu rumahmu, padahal di depan mata abang," jawabnya terkekeh ringan.
"Sama siapa dia Bang?" tanya Alcenna kembali.
"Sama anak perempuan sekitar umur 3 tahunan."
"Biarlah Bang, nanti aku cari info lagi, makasih ya Bang." Alcenna membayar barang belanjaan dan menuju ke rumah. Dia letakkan belanjaan di dapur. Lalu ke kamar.
Dia berpikir keras mengingat alamat di KTP yang ditunjukan kepadanya dulu. Dia bertekad akan mencarinya dengan lebih teliti. Dulu awal- awal dia tunjukan Alcenna sudah pernah mencari dan nihil. Pencarian pada waktu itu nihil. Alcenna berniat akan mencari lagi sore besok sepulang kerja.
***
Sore hari setelah pulang dan menyegarkan diri, Alcenna mengeluarkan sepeda motornya. Dia telusuri jalan yang tertera di alamat KTP yang berhasil dia ingat. Setelah bertanya sana-sini Alcenna sampai pada alamat yang dituju. Walau nomor rumah tidak sama seperti yang tertera.
"Assalamu'alaikum ...." Alcenna mengucapkan salam di depan pintu kayu rumah seseorang.
"Wa'alaikumussalam ...." Seorang wanita membukakan pintu untuknya. Terlihat seorang ibu muda yang hanya mengenakan daster rumahan. Wajahnya cantik, tubuhnya lebih mungil dari Alcenna.
__ADS_1
"Cari siapa?" Tak ada keramahan pada wajahnya. Alcenna masih dibiarkan berdiri di depan pintu rumahnya.
"Maaf benar ini rumah Arzon?" tanyanya penuh ingin tahu.
Dia menatap gadis itu sejenak dan akhirnya mempersilakan masuk. Alcenna mengikuti melangkah masuk dan duduk setelah dipersilahkan. Matanya terbentur sebuah pigura pernikahan di dinding rumahnya. Foto laki-laki itu terlihat sangat muda tapi gadis itu tahu pasti siapa laki-laki tersebut.
"Jadi benar dia sudah menikah ya Kak?" Alcenna langsung saja tanpa basa-basi bertanya padanya. Bahkan belum memperkenalkan dirinya.
"Dia bilang belum ya?" tanya wanita itu tidak sejutek awal Alcenna datang.
"Iya begitulah," jawab Alcenna apa adanya.
Tak ada yang harus diragukan lagi semua sudah jelas di depan mata. Seorang wanita dengan 4 orang anak yang seperti ditelantarkan, tak bisa Alcenna memastikan. Hanya sepintas yang terlihat seperti itu.
Itu bukan urusannya, urusannya adalah kini meminta maaf langsung pada istri pria tersebut, walau dia tidak tahu apa-apa pada awalnya.
"Aku minta maaf Kak ... sungguh aku tidak tahu. Ketika aku mencurigainya, aku tak mendapat bukti apa pun. Bahkan aku dikenalkan dengan Melfa dan Wita ___"
Belum sempat Alcenna melanjutkan, perkataannya telah dipotong. "Jadi kamu sudah kenal sama adik-adiknya?" tanya wanita itu dengan nada tak menyangka, jika suami dan keluarganya telah berbohong terlalu jauh.
"Sudah."
"Aku tak ingin membahas mereka Kak, cukup itu menjadi urusan Kakak dengan dia dan keluarganya. Aku cuma mau minta maaf, tanpa aku tahu aku sudah jalan sama suami Kakak ... maafin aku Kak," kata Alcenna dengan sungguh-sungguh. Walau bukan kesalahan dia sepenuhnya, gadis itu berbesar hati meminta maaf.
"Tak apa-apa. Jadi sudah berapa lama kenal sama pria tak bertanggung jawab itu?" Dia memaki suaminya.
"Sudah setahun lebih jugalah Kak. Kakak tenang saja nanti setelah pulang dari sini saya akan memutuskan hubungan dengannya. Saya masih gadis, saya juga tidak bisa menikah dengan pria beranak apalagi masih mempunyai istri."
Alcenna sudah tak berniat meneruskan hubungan ini ketika melihat foto pernikahannya. Cukup itu bukti yang tidak bisa dia pungkiri.
Dia diam saja, di mata Alcenna saat ini, dia wanita yang tidak banyak bicara dan cukup tenang untuk ukuran suaminya selingkuh. Jika Alcenna sendiri yang di posisinya mungkin sudah mencak-mencak dan menyuruh suaminya pulang. Namun wanita itu, dia tidak begitu. Walau pada akhirnya Alcenna ternyata salah menduga sifat wanita di depannya.
"Cuma satu mintaku Kak, tolong dia suruh kembalikan uang yang dia pinjam padaku yang katanya untuk modal usaha sampingannya diluar jam kerja. Tak banyak sih Kak, namun cukup berharga untuk ukuran karyawan biasa seperti aku. Aku tak minta sekaligus, mencicilnya juga boleh dan supaya Kakak tidak banyak berpikir dan salah paham nantinya, Kakak ikut saja saat dia menyerahkannya."
Alcenna memang meminjamkan uang tabungannya, untuk modal usaha yang dikatakannya dia capek jika nanti harus bekerja terus sebagai anak buah. Demi masa depan bersama, tentu Alcenna setuju-setuju saja. Siapa sangka ternyata demi masa depan wanita lain yang tak bukan tak lain adalah istrinya sendiri. Nasib baik ternyata belum berpihak pada gadis itu.
Merasa tak ada yang perlu dibahas Alcenna pamit pulang. Harusnya dia akan sedih dan menangis darah sudah ditipu mentah-mentah. Tapi hati Alcenna seperti biasa saja.
Dia mulai berpikir kembali, apa benar dia mencintai Arzon atau hanya merasa nyaman bersama pria itu. Jika dia mencintai Arzon, harusnya dia merasa sakit seperti yang dia rasa saat berakhir bersama Ardhan.
__ADS_1
Sampai di sebuah warung pangsit. Dia menelpon Arzon. Alcenna sengaja tidak pulang, dan menyelesaikan masalahnya di luar.
"Halo Bang ... aku sudah tahu semuanya. Aku sudah berjumpa dengan anak istrimu bahkan aku sudah melihat pigura foto pengantin. Aku minta mulai sekarang jangan hubungi aku! Kita selesai sampai di sini. Soal uang yang kamu pakai tolong cicil dan ajak istrimu saat menyerahkan atau lebih baik, kamu transfer ke rekening aku!"
Alcenna langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mendengar sepatah kata pun dari Arzon. Baginya tak ada yang perlu didengar lagi. Tak ada alasan apapun yang ingin dia dengar dari mulut manis lelaki lembut dan tampan itu.
Alcenna makan dengan tenang sambil sekali lagi memikirkan kenapa hatinya tidak merasa kecewa sedikit pun. Tidak seperti Ardhan yang membuat dia patah hati dan sempat dirundung sedih.
Dia pulang setelah membayar makanan dan tak lupa membungkus dua untuk adik-adiknya.
"Deek ... kakak bawa bakso sama mie ayam kesukaan kalian." Si Azarine suka mie ayam sementara Sammy lebih suka bakso.
Mereka sudah pasti menyambutnya dengan suka cita. Kata mereka sekali-kali gak makan nasi katering sungguh nikmat. Itulah hidup yang harus disyukuri ketika banyak orang yang kelaparan mereka masih makan tiga kali sehari, bahkan masih bisa jajan.
Malam besoknya, Alcenna memanggil adik-adiknya dan menceritakan apa yang dia tahu, tapi dia melarang adiknya untuk memberi tahu ayah dan ibu.
"Jadi biarlah kakak cari waktu yang tepat cerita ke ayah-ibu ya." Adik-adiknya mengangguk dan kami membahas soal yang lain.
***
"Ceeennn ...." Terdengar Putri berteriak nyaring saat Alcenna mengangkat telepon di pagi hari.
"Apaa ...." Alcenna mengerang malas karena masih ingin bobok cantik menjelang jam 09.00. Susah ternyata menghilangkan kebiasaan jeleknya yang satu ini.
"Dasar Putri Tiduuurmu ... bangunlah ... mandi cepat ... aku jemput ya kita kerja bareng saja hari ini," ajaknya. Padahal sering dia ngajak kerja bareng hampir tiap hari malah.
"Pakai mobil yaaa ... aku ingin adem-ademan dikit." Biasanya dia lebih sering dijemput pakai motor.
"Dasaar pemeras ...."
"Iyaakan ... kalau iya aku bangun."
"Yaaa cepaaat." Dia sengaja berteriak memekakkan telinga Alcenna.
Itulah enak berteman dengan Putri. Dia tahu tentang sikap dan sifat Alcenna. Pasti sedikit tidak mood kalau sudah meminta pergi memakai mobil dan akan curhat.
**//**
Sahabat begini ada di luar novel tetapi tidak dengan mobilnya 😅
__ADS_1