Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Masih Butuh Waktu


__ADS_3

Mall C ....


"Hai Sammy ...., sapa Alcenna di toko tempat Sammy kerja. Alcenna minta mampir sebentar ke toko tempat Sammy berkerja.


"Kakaaak," ucap Sammy terkejut, sambil tanpa malu memeluk Alcenna di depan karyawannya. Ada perasaan haru saat melihat kakaknya datang dengan wajah yang lebih berwarna, tidak pucat seperti mayat. Itulah penilaian Sammy melihat wajah kakaknya di Bekasi. Sammy selalu menyempatkan tidur di rumah kakaknya pas waktu off nya. Sammy langsung membawa Alcenna ke luar toko.


Di luar toko, "Kak Putri ... Kakak juga ikut."


"Iya Sam," jawab Putri singkat.


"Dek, kenalkan ini Kak Robby, Kak Robby ini Sammy, adek Alcenn. Mereka berjabat tangan.


"Kakak sudah makan? Atau kita makan dulu cari cafe di sekitar mall ini." Sammy menawarkan kakaknya.


"Dek, nanti saja. Kakak banyak ingin cerita sama kamu. Tapi di rumah saja. Kakak sudah pindah ke sini Dek. Jangan protes apapun dulu yaaa ... nanti pulang ke alamat ini ya Dek. Kita cerita di rumah. Kakak sama kak Putri dan Kak Robby mau cari kebutuhan bahan masak dulu. Pokok jangan risau keadaan kakak lagi. Sekarang kakak jauh lebih baik ada mereka semua. Ok Dek," Alcenna berucap tanpa memberikan Sammy kesempatan bicara.


"Ohh Ok Kak."


"Kami tinggal ya, kerjalah dulu. Nanti kalau tak mampir berarti kami langsung pulang ya. Makan malam bersama kita di rumah sama kakak-kakak berdua ini."


"Ok Kak."


Mereka pun menjauh dari toko Sammy. "Kak Robby, aku mau carikan Alcenna perlengkapan kosmetiknya biar dia tambah cantik. Kakak ikut juga?" tanya Putri.


"Kakak ikut, kakak tidak mau disalahkan sama mas diktator Alcenna, jika dia kenapa-kenapa."


"Ya sudah kalau gak merasa bosan," kata Putri kembali.


"Gak, ayoo," ajak Robby dengan semangat. Kini Robby justru semangat disuruh menjaga mereka berdua dari pada terkungkung didekat wajah datar bosnya. Andai Eddyson tahu isi hati Robby bisa kena SP dia.


"Kenapa harus pakai kosmetik sih Put," protes Alcenna.


"Sekarang harus! tak ada lagi wajah polos walau bukan harus menor!" tegas Putri.


"Iya Cenn, menurut kakak benar yang dikatakan Putri. Gak harus menor juga gak harus terlalu polos wajah cantikmu itu." Robby tak terbayang jika memuji Alcenna di depan bos posesifnya.


"Iya deh Kak."


"Ihhh apalah ni, sama kak Robby langsung nurut," Putri pura-pura kesal. Alcenna dan Robby tersenyum.


Mereka terus memutar mencarikan Alcenna baju baru. Robby meminta Alcenna langsung membeli tiga pasang. Alasan Robby biar semangat kalau pakai yang baru. Putri juga di tawarkan oleh Robby sesuai dengan pesan bos mereka. Namun Putri merasa tidak perlu. Dia cukup menemani Alcenna dan membantu Alcenna menata hari-harinya.


Mereka juga belanja bahan masak dan mengisi kulkas dengan berbagai frozen food. Beruntung rumah yang di kontrak walau tidak besar namun fasilitas terbilang cukup lengkap.


"Kakak antar ini semua ke Mobil ya, kalian pergi makan ke Cafe mana kalian ingin. Ribet kita bawa yang ginian," ucap Robby saat kasir supermarket mulai menginput belanja mereka.


"Emang Kakak bisa sendiri bawanya?" tanya Putri dengan nada mengolok bukan niat membantu.

__ADS_1


"Kakak minta tolong sama mas ini saja, bisa kan Mas?" tanya Robby pada salah satu pramuniaga supermarket.


"Bisa Pak."


***


Di kafe ....


"Cenn, Marya sudah ada kamu hubungi kalau kamu di sini sekarang," tanya Putri hati-hati.


"Belum Put," wajah Alcenna langsung terlihat mendung. Putri sebisa mungkin tidak menyinggung apapun soal masa lalu. Namun Marya juga risau akan hilangnya Alcenna. Putri tidak bisa mengabaikan itu. Hampir setiap hari dia bertanya ada kabar Alcenna apa tidak, dan itu hampir tujuh bulan lebih ini.


"Maaf bukan niat aku mengingatkan kotamu, tapi Marya juga selalu bertanya dan mencarimu, aku tak tega padanya," ucap Putri. Air mata Alcenna mengalir tiba-tiba.


"Jangan nangis, aku bisa di bunuh kak Robby jika dia sampai dan melihatmu menangis," ucap Putri panik dan jadi lucu di mata Alcenna. Alcenna tersenyum sambil masih mengalirkan air matanya.


"Aku menangis merasa bersalah pada Marya, bukan mengingat kota itu dan kenangannya, bagiku kota itu sudah mati beserta kenangannya," desis Alcenna tiba-tiba dingin.


"Ufffh ... ternyata emosinya belum stabil. Benar kata bos dan kak Robby tadi pagi. Masih butuh waktu dan usaha keras untuk mengembalikannya," Putri berkata dalam hati teringat perkataan dia, Robby dan bosnya tadi pagi.


Putri terselamatkan dengan datangnya pramusaji kafe. Mereka memesan dan sekalian pesanan Robby.


Putri melihat wajah Alcenna sudah seperti biasa. Biarlah untuk saat ini dia tidak mengungkit soal Marya. Nanti dia saja yang akan cerita pada Marya. Meminta pengertian Marya tidak menyinggung apapun soal masa lalu Alcenna.


Robby akhirnya sampai dan memilih duduk di samping Alcenna. "Sudah pesan?" tanyanya menatap lurus Putri.


Ponsel Robby bergetar, dia mengangkat, "Hallo Pak... iya sudah Pak... lagi di cafe... siap ini saya akan antar mereka pulang Pak, dan saya langsung ke kantor... " itulah penggalan jawaban dari Robby. Robby memberikan ponselnya pada Alcenna. Alcenna paham.


"Hallo Pak ... iya mas kaku hehee ... aman, bahagia kok asal bisa jadi mas yang baik ... iya Alcenn tunggu di rumah, kita reunian hehehe." Alcenna mengembalikan ponsel Robby.


"Nih Kak, makasi."


"Apa kata masmu?" kata Putri kepo.


"Kepohhh," ucap Alcenn sambil memajukan bibirnya membentuk corongan.


Putri tertawa dan Robby hanya tersenyum. "Ini rasa punya adik perempuan ya?" ucap Robby.


"Kakak gak punya saudara perempuan juga?" tanya Putri.


"Adik kakak bilang, bukan saudara. Kakak punya mbak tapi yang ada dulu dia yang selalu jagai kakak. Tidak seperti kalian, walau ribet ternyata dunia jadi ramai. Lagian mbak kakak, tidak seperti kalian dia tenang kalian urakan!"


"Biariiinlah ... bodoh amat ...." Putri kembali menjawab Robby.


"Makanlah, siap itu kakak antar kalian pulang. Kamu Put, bantu Putri masak ya. Malam kami ke rumah, kita reuni kata Alcenn tadi," perintah Robby ketika pesanan sudah datang.


***

__ADS_1


"Masak kita lagi Put?" tanya Alcenn ketika mereka telah beristirahat sejam lebih.


"Ayuuk," jawab Putri dengan semangat. Namun baru bangkit dari ranjang Alcenna, ponsel Putri berdering. Terlihat Marya memanggil. Putri melihatkan ke Alcenna.


"Angkat saja, bantu aku. Kamu saja yang cerita ya, dan jangan kasih nomor aku untuk sementara. Suruh dia berhubungan denganmu saja. Biar aku angsur masak."


"Oke," jawab Putri.


Alcenna langsung ke dapur. Alcenna malas mau cerita. Sedikit tidak akan membuka lukanya. Dia menyerahkan urusan itu ke Putri.


Tok ... tok ... tok ....


Alcenna kembali ke depan. Dia yakin itu Sammy yang datang. Dia membukakan pintu. "Masuk Dek, kita ke dapur. Kakak mau masak." Mereka dua beradik pergi kembali ke dapur.


"Payah tidak cari alamatnya tadi?"


"Gak Kak."


"Kamu pasti penasarankan?" tanya Alcenna. Sammy mengangguk.


"Ambillah minum sendiri ya Dek, kalau lapar kakak belum masak. Kue ada di meja makan."


Sammy membuka kulkas dan mengambil satu kaleng minuman yang belum terlalu dingin. Alcenna baru memasukkan sejam lalu.


Alceena cerita semua dari awal. Alcenna takut Sammy mengecamnya karena dengan suami orang juga lagi berhubungan. Namun Alcenna sudah membatasi dan katakan dia tidak bisa mengorbankan perasaan ibu mereka. Lagian dia cuma sekarang dianggap adik dan tidak lebih.


"Aku gak ada nyalahi Kakak, sudah jalannya kali kak. Sekian tahun Kakak putuskan kontak, dia juga yang nolong Kakak. Jalani sajalah Kak. Biarlah yang menjadi urusannya dia yang ngurus." Ucapan Sammy yang bijak mampu menenangkan hati Alcenna.


"Makasi Dek, tapi kamulah yang cerita sama ibu ya kakak sudah disini. Kamu tinggal sama Kakak lagi ya. Kakak sepi Dek."


"Pastiii dong, aku tinggal sama Kakak aku yang cantik ini," katanya mencubit lembut pipiku. Kebiasaan Sammy kalau lagi gemas sama Kakaknya.


"Hai Kak Put," sapa Sammy melihat Putri datang


"Hai Sam."


"Aku istirahatlah dulu ya Kak, kan ada kak Putri yang temankan."


"Pergilah," kata Alcenna.


"Aman Put?"


"Aman."


"Makasi ya. Ayo kita masak."


**//**

__ADS_1


__ADS_2