Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Tangis Gadis Kesayangan


__ADS_3

Pagi ini di sebuah perusahaan consumer Goods, Seorang OB sedang mengantarkan minuman ke dalam ruangan dirut. "ini moca latte pesanan Bapak," ucap OB dengan hormat.


"Terima kasih," nada datar terdengar dari sang big bos walau tidak jutek.


Ketika OB sudah keluar, terlihat sang big bos memanggil seseorang, "Sudah di kantor kamu?"


"Sudah Pak."


"Kalau begitu kamu ke ruangan saya sebentar,"ucapnya masih dengan nada datar.


"Oke Pak."


Putri berjalan menuju kantor dirut, dia tak menyangka saat awal melamar ke perusahaan ini adalah perusahaan mantan bos Alcenna dulu.


Putri melamar sebagai staff pemasaran sesuai dengan jurusan kuliahnya. Siapa sangka dia bertemu bosnya ketika ada acara kantor.


Kehadiran Putri di perusahaannya membuat akses ke Alcenna seperti terbuka kembali. Dia kembali penasaran dengan gadis kesayangannya.


Bos memanggilnya dan menanyakan bagaimana kabar gadis kesayangannya. Putri yang awalnya seakan lupa pada Alcenna karena kesibukannya, mulai merangkap dari staff pemasaran menjadi staff percintaan masa lalu bosnya yang dulu adalah bosnya Alcenna.


Saat Putri menghubungi Alcenna untuk pertama kali setelah sekian lama lost contact, itulah tugas pertama dia sebagai staff percintaan bosnya yang tidak pernah kelar.


Putri diminta untuk mencari info bagaimana kehidupan Alcenna setelah sekian tahun menghilang. Bos Putri bukan melupakan cintanya. Namun kesibukan di awal dia merintis perusahaan dan ditambah jarak yang jauh. Membuat dia seakan mengabaikan perasaannya. Namun berbulan Putri tidak mendapatkan karena Alcenna selalu mengelak jika ditanya.


Di ruangan dirut ....


"Ke mana kalian semalam?" ujar mantan bos Alcenna yang kini jadi bosnya Putri itu dengan datar.


Putri memang langsung menginfokan Alcenna di Jakarta, begitu Alcenna memutuskan sambungan telfon. Bosnya hanya menguji kejujuran Putri kepadanya. Begitu Putri mengabari bahwa Alcenna di Jakarta dan Putri memberikan hotel gratis, Robby pun terpaksa lembur.


"Kami main ke discotik sebentar Pak, terus dia ngajak makan dan duduk manis di warung pinggir jalan.


"Apa ceritanya, sampai dia ke Jakarta dan main ke discotik?" tanya big bosnya. Putri diminta tidak menutupi apapun dari bosnya namun harus menutupi dari Alcenna.


"Dia pergi main saja Pak sama teman akrab semasa SMAnya, dia hanya ingin tahu ada apa dibalik dunia dia selama ini," ujar Putri jujur.


Putri juga tidak ingin Alcenna tahu dia menjadi staff percintaan bosnya. Dia meminta bosnya tidak melibatkan dia terlalu jauh. Putri tak ingin Alcenna merasa dikhianati.


"Hanya main? Kapan dia berubah, dari gadis muda sampai jadi wanita muda isi kepalanya hanya main saja," ucap bos Putri dengan tersenyum kecil. Senyum tulus yang sudah lama tidak Putri lihat. Terakhir waktu mereka ke Jakarta dulu. Selebihnya hanya senyum formalitas dengan relasi.


"Apa dia tidak cerita soal suaminya?"


"Seperti yang Bapak kira, rumah tangganya gak berjalan mulus. Hanya saja masih sedikit sekali yang bisa dikorek Pak, dia tertutup sekali sekarang. Saya tak mungkin menanyakan pada Marya Pak. Saya tak mau Alcenna curiga."

__ADS_1


"Ya biarlah dulu, yang penting dia baik-baik saja, " ucap bos Putri.


"Mereka besok pagi mau ke Bandung juga Pak, ada teman Marya di Jakarta ini. Hanya saja dia asli Bandung.


"Ohhh ...."


"Kalau tidak ada yang lain, saya permisi Pak," hormat Putri pada bosnya.


"Berapa hari infonya di sini?"


"Seminggu Pak, temannya cuti dan berlibur makanya mengajak Alcenna."


"Suami macam apa yang membiarkan istrinya berpergian sejauh ini dan selama itu," rutuknya, lebih untuk dirinya sendiri. Putri hanya diam.


"Ya kembalilah kerja dulu, terima kasih sudah jadi mata untuk gadis kesayangan saya. Saya percaya kepada kamu sebagaimana Alcenna percaya padamu. Kamu teman yang baik buat dia," puji bosnya masih tidak tahu malu kalau soal Alcenna. Dengan santai dia mengatakan gadis kesayangan di depan Putri yang kini notabene karyawannya.


"Makasih Pak, saya permisi." Putri pun berdiri dan melangkah ke pintu. Namun belum sempat dia melangkah, bosnya kembali memanggil, "Put, kembali ke sini."


Putri kembali dan hanya berdiri saja, sampai bosnya memgatakan, "Duduk dulu Put."


Putri duduk, tidak ada terbersit kesalnya. Dia ikhlas jika itu soal Alcenna. Apalagi dia tahu pria yang ada didepannya, tidak pernah membuat Alcenna bersedih.


"Put, kalau saya minta kamu ikut Alcenna ke Bandung, kamu keberatan gak?"


"Berarti kamu tidak keberatankan," nada datar bosnya kembali terdengar.


"Tapi saya kerja Pak, saya tidak punya alasan izin dengan staff personalia," ucap Putri mengingatkan bosnya.


"Perusahaan ini punya saya, saya yang akan atur, saya akan tugaskan kamu memantau dan mensurvei langsung ke lapangan, distributor kita yang sekitar Bandung," ucap bosnya.


Putri jelas kegirangan dalam hati dan itu terbaca di mukanya. "Kamu jangan senang dulu, kerja kamu lebih berat dari kerja di perusahaan ini!" tekan bosnya.


"Iya Pak, pasti Bapak menyuruh saya mengupas tuntas bagaimana rumah tangga Alcenna, dan apa dia bahagia?" ucap Putri lugas dan tetap penuh hormat.


"Pintar kamu, saya mau bagaimanapun caranya cari tahu. Saya akan biayai perjalanan kalian, dan bilang itu darimu. Selama ini kamu juga suka loyalkan pada Alcenna."


Jika sudah menyangkut Alcenna bosnya suka bicara panjang lebar. Biasa cuma, oke, hmmm, pergilah dan banyak ucapan yang hanya satu kata didengar orang kantor. Tak ada orang kantor yang tahu bosnya bisa bicara banyak selain Robby dan Putri.


"Oke Pak, di ruangan saya, saya akan menelfonnya dan mengabari Alcenna untuk ikut," Putri sangat bersemangat.


"Kamu keberatan kalau saya minta di sini, saya ingin mendengar suaranya." Jika tidak mengenal kelakuan bosnya soal Alcenna, mau rasanya Putri tersedak salivanya saat ini juga. Sudah tua masih saja macam ABG bucin kalau soal Alcenna.


"Baik Pak," ucapnya. Putri menekan no Alcenna dan meloudspekerkan.

__ADS_1


Tak lama," Hallooooo Putriiii ...." teriakannya membuat bos Putri geleng-geleng. Dia tak menyangka Alcenna masih saja urakan seperti gadis dulu.


"Bisa tidak jangan teriak-teriak, aku di kantor ini,"


"Upsss sorry, ada apa Put?"


"Boleh aku ikut ke Bandung? Aku ingin bermain bersamamu seperti dulu," Putri melancarkan jurusnya.


"Bentar ... boleh Mar?... boleh kata Marya. Malah asyik jadi ramai,"


"Oke, tunggu aku malam di hotel ya, aku akan pulang minta izin sama papiku dulu," ucap Putri sambil melirik bosnya, meminta kode sudah apa belum, bosnya paham dan mengangguk. Putri langsung mematikan telfonnya.


"Nanti saya suruh personalia buat surat tugasmu, kamu sempatkan saja sebentar meninjau ke distributor ya."


"Ya Pak. Kalau begitu saya permisi." Putri melangkah dengan hati yang gembira. Sungguh dia merasa memiliki teman seperti Alcenna sebagai sebuah berkah tersendiri dalam hidupnya.


Jika Putri tersenyum bahagia begitu juga dengan seorang bos besar seperti Eddyson. Suara Alcenna yang masih terngiang, mengisi gendang telinganya dan menyerap ke sudut hatinya yang sudah lama kosong.


"Kamu tidak berubah sayang, suaramu bisa mengisi kekosongan hatiku."


***


Malam hari di kamar hotel....


Putri dan Marya terkejut ketika mendengar Alcenna terisak di atas ranjang hotel.


"Ada apa??" ucap Marya dan Putri hampir berbarengan.


"Tak ada, aku hanya bersedih dan bergembira di waktu bersamaan," ucap Alcenna masih dengan air mata berlinang.


Mereka berdua mendekati Akcenna, "Kenapa bisa begitu?" Putri yang bertanya. Marya sedikit banyak tahu ke mana ucapan Alcenna.


"Aku bersyukur pada Tuhan, di tengah beban hatiku yang berat, aku memiliki kalian berdua. Kalian tidak sedikitpun berhitung padaku. Kalian mau masih berteman dengan aku yang hanya pengangguran dan tidak punya uang."


"Aku gak paham, apa ada yang kau tutupi dari aku Cenn?" tanya Putri dengan lembut.


"Apa? Tolong jangan tutupi apapun dariku. Aku merasa seperti tidak dianggap," ucap Putri lagi.


"Aku sedih di tengah kalian yang selalu mengerti dan membahagiakan hatiku, suami yang aku cintai selalu menoreh luka di hatiku Put ... bohong jika aku tak bersedih dibiarkannya seperti ini, tanpa ditanya sedikitpun, sudah sampai atau belum atau lagi apa. Tapi aku lebih sedih jika aku di sana. Di dekat kalian hidupku merasa ada artinya." Alcenna meluahkan sekali lagi beban hatinya pada Putri. Alcenna menceritakan semuanya pada Putri dengan berlinang air mata.


Putri pun berurai air mata mendengar kisah cinta Alcenna. Putri tak bisa bayangkan apa perasaan bosnya jika melihat tangis gadis kesayangan, gadis kesayangannya kini berlinang air mata mengisahkan cintanya.


Hati kecilnya sangat marah pada suami Alcenna. Jika tidak ingat perjanjian dengan bosnya ingin rasanya Putri mengatakan semuanya. Di saat suaminya menjadi pilihannya, justru membuat luka yang dalam pada hati Alcenna. Sementara di kota besar ini ada segudang kebahagiaan bagi Alcenna yang ditolak karena memandang moral, etika, hati dan perasaan seseorang yang tak ingin disakiti Alcenna.

__ADS_1


**//**


__ADS_2