
Setelah kejadian malam itu suaminya tidak pernah pulang telat. Itu bisa membuat Alcenna merasa senang. Apalagi Arzon bersedia mengganti nomor ponselnya.
Namun sepertinya ketenangan masih bukan milik wanita itu. Alcenna menerima karmanya juga bagaimanapun. Tiba-tiba dua bulan pernikahannya, suaminya menelepon, "Cenn, anak-anak sama abang, tadi mereka bertiga diantar ibunya dan ditinggal di depan kantor abang," ucap suami Alcenna.
Alcenna bisa apa kalau soal anak-anak, dia sudah berjanji pada dirinya akan menerima. Namun akar masalahnya dia belum percaya diri untuk membawa ke rumah. "Iya Bang, tapi Alcenn belum sanggup mendengar kritikan warga sini bahwa Alcenn seorang ibu tiri."
"Jadi bagaimana bagusnya?"
"Kalau Abang antar tempat Melfa dulu gimana? menjelang Alcenn siap. Kasih belanja ke Melfa untuk biaya anak-anak." Alcenna meminta hati-hati agar suaminya tidak tersinggung. Alcenna juga baru menyadari, ternyata tidak mudah menerima menyandang gelar ibu tiri.
"Gimana kalau kita antar sama-sama, Alcenn tunggu saja di depan jalan mau ke rumah kita." Arzon berusaha untuk mengerti dan berbesar hati.
Alcenna cepat bersiap dan pergi ke depan jalan tak jauh dari rumah. Sampai di sana suaminya belum sampai. Alcenna menunggu di samping bengkel sepeda motor.
Suaminya menyuruh anak-anaknya salaman, "Salaman sama bunda dulu."
"Allya," kata anak lelaki itu. Anak yang nomor dua.
"Rhania," kata anaknya yang nomor tiga yang berusia 4 tahunan. Dan yang kecil seorang anak laki-laki berusia 2 tahun. Bernama Alif.
"Alcenna bertanya sama Rhania, "Berapa bawa bajunya Nak?"
"Duuaaa," kata Rhania sambil membuat huruf v dengan jari mungilnya. Hati Alcenna terhibur melihat gayanya yang lucu.
Alcenna bertanya karena hanya melihat mereka membawa satu tas kecil saja. Alcenna sedikit curiga kenapa jika memang di suruh tinggal sama papanya hanya membawa satu tas kecil. Apa sebenarnya yang di rencanakan mantan istri lelaki tersebut.
Sesampai di rumah Melfa, lelaki itu bercerita dan Melfa mengizinkan. Hanya saja dia minta tidak terlalu lama, karena katanya tak enak sama suaminya.
Mereka lalu pulang dan setelah memberi tahu pada Allya untuk sementara tinggal di rumah adik ayahnya yang dia panggil tante. Allya sudah cukup paham dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga orang tuanya, Allya saat ini sudah berusia 11 tahun. Dia sekarang harusnya duduk di kelas 5 SD. Sayangnya anak itu putus sekolah.
Allya saat itu hanya mengangguk saat mereka pamit. Alcenna sempat dilema melihat mimik sedih Allya, serasa dia tidak nyaman untuk di tinggal tempat tantenya. Alcenna sabarkan hati supaya bisa berpikir masak-masak dan tidak melakukan kesalahan lagi pada akhirnya.
Pagi harinya ketika suaminya sudah pergi kerja Alcenna menelpon ayahnya. "Assalamu'alaikum Ayah."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, apa kabar Nak."
"Ayah, Alcenn baik-baik saja. Alcenn ingin minta pendapat Ayah, apa Ayah tidak sedang sibuk?"
"Soal apa Nak, Ayah tidak sibuk."
"Ayah, anak-anak di antar ibunya, itupun hanya di depan kantor abang, dia sendiri tidak menemui dan berbicara pada Abang. Sekarang mereka di rumah adik abang," ceritanya pada ayahnya.
"Kenapa tidak ke rumah kalian Nak?"
"Itu dia yang mau Alcenn diskusikan sama Ayah, Alcenn tidak percaya diri menyandang gelar ibu tiri Yah, ternyata berat rasanya, bukan berat membayangkan mengurusnya, tapi melihat pandangan sekeliling Alcenn, Alcenn masih sangat muda tapi punya 3 anak," katanya.
"Loh kok 3 bukannya anak Arzon itu 4?" tanya ayahnya.
"Anak yang pertama sudah ikut ibu abang, Yah." Alcenna juga tidak tahu apa-apa pada awalnya. Karena sebelum menikah, dia tidak mau tahu urusan Arzon dengan anak dan mantannya. Namun sehari setelah ayahnya menikah lagi, Ayu merengek pada ibu Arzon untuk ikut.
"Alcenn mau dengar kata Ayah?" terdengar suara ayah lebih lanjut.
"Anak itu titipan Allah Nak, bukan harus anak yang Alcenn lahirkan saja. Dengan Alcenn menikah sama ayahnya berarti secara agama kedudukan Alcenn sama dengan ibu kandungnya, andai kelak dia melawan samamu Nak, sama seperti melawannya mereka ke ibu kandungnya dan anak laki-lakinya sudah menjadi mahram mu Nak, tidak batal wudhu dengannya ketika dia baligh kelak."
Alcenna dengarkan perkataan ayahnya baik-baik,sampai ayah melanjutkan ucapannya, "Jadi Nak, tidak ada alasan malu. Yang malu itu jika kamu menelantarkan anak-anakmu dan berlaku jahat pada anak-anakmu. Berapa kali ayah katakan, orang hanya bisa komentar pada hidup kita Nak, jadi abaikan saja. Selagi jalanmu yang tidak salah. Jika itu yang jadi alasanmu tidak bisa membawa anak-anakmu, kamu bisa pindah dari sana."
"Tapi sama saja Yah, usia gini kok anak sudah besar, nikah usia berapa tu? Akan seperti itu juga pertanyaan orang," sanggahnya.
"Nah makanya, lebih baik di sana saja. Sebagian orang sudah tahu jalan ceritamu, jadi tidak terlalu sulit berbaur. Percayalah pada ayah, kamu tidak harus malu. Malah harusnya bangga donk anak ayah punya hati yang lembut bisa menerima 'paket komplit '," ucap ayah Alcenna dengan tanda kutip mengisengi anaknya.
"Ayaaaahhh ... Ayah nyindir Alcenn ya," kata Alcenna setengah merajuk.
"Hahahaha ... biar pemarah hatinya tidak penyampai. Kalau tidak, antar sini saja anak-anak kalian, biar ayah ada teman. Ayah sepi sejak kalian pada pergi," terdengar nada ayah yang merasa kesepian.
"Ayah tidak malu?"
"Kenapa harus malu, yang malu itu kalau kamu bawa anak hasil dari aib. Itupun ayah bukan malu karena anaknya namun malu karena perangai kamu. Kalau anak tiri itu sudah lumrah Nak, ayah saja punya ibu tiri. Ibu kamu juga."
__ADS_1
Alcenna jadi ingat nenek, mamak dari ayahnya. Dulu, saat dia kecil-kecil Alcenna tidak tahu kalau itu hanya nenek tiri, mereka sangat sayang padanya dan adik-adiknya.
"Benarkan yang ayah katakan?" terdengar kata ayahnya karena Alcenna terdiam beberapa saat mengingat kakek dan nenek.
"Iya Ayah, Alcenn akan bahas nanti sama abang."
"Ya sudah kalau gitu, ada yang mau katakan lagi sayang?" ucap ayahnya lembut.
"Ayah kapan ke sini? Alcenna rinduuu ...."
"Minggu depan ayah ke sana, ayah bicarakan dulu dengan ibu."
"Baik Ayah, sudah dulu ya Yah. Assalamu'alaikum."
"Ayah ... begitu beruntungnya aku memilikimu. Engkau tidak pernah menyalahkan keputusanku, bahkan selalu ada untuk masalah yang aku buat sendiri," batin Alcenna.
***
Setelah membahas sama ayahnya, tak lantas Alcenna langsung ambil tindakan. Sudah dua minggu anak-anak tinggal tempat tantenya. namun tetap datang tiap sore setelah papanya pulang kerja untuk melihat mereka. Selama dua minggu itu juga adik Arzon bertanya kapan mau di bawa pulang anak-anak dari rumahnya.
Miris, Alcenna ingin tertawa juga menangis menerima keadaan ini. Tantenya saja tidak bisa menerima lama, ibunya saja bahkan meninggalkan anaknya tanpa bicara pada ayah anak-anaknya. Memang Alcenna yang harus mengambil semua tanggung jawab ini. Kembali kata-kata ayahnya terngiang, anak suamimu berarti anakmu.
"Gini sajalah Bang, kita bawa pulang saja sekarang," putus Alcenna langsung tanpa kompromi lagi.
"Alcenn yakin?" ucapnya seakan tak percaya dengan kata istrinya.
"Yakin," kata istrinya mantap.
Merekapun malam itu berunding, mengambil baju-baju mereka di rumah mamanya setelah membawa Alif ke berobat.
"Tapi kita bawa dulu si Alif berobat, nanti kalau dibiarkan telinganya makin parah. Lalu kita bawa Allya ke rumah mamanya, jemput pakaian. Mana sanggup kita mau beli-beli baju sekarang juga," ucap Alcenna. Rhania tertidur siap magrib jadi mereka tinggalkan dulu sambil bawa Alif berobat.
**//**
__ADS_1