Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Janda Muda Nan Cantik


__ADS_3

"Masuk Mas, Kak Robby," sambut Alcenna senang.


"Putri Mana Cenn?" tanya Robby.


"Masih di jalan Kak. Tadi katanya, Mas sama Kakak yang pulang duluan."


"Iya Kakak ada kerja keluar tadi," elak Robby.


"Mas, minum apa ini? Kopi atau teh?"


"Teh saja, Mas tidak begitu suka kopi lagi. Hidup Mwas sepahit kopi."


"Makanya kasih gula, ini minum kopi tanpa gula. Tentulah pahit," Alcenna tertawa. Eddyson sangat senang melihat Alcenna mulai banyak tertawa seperti gadis saat jadi karyawannya dulu.


"Kakak buat apa?"


"Teh saja."


Mereka duduk di ruang tamu. Alcenna baru siap menghidang teh. Putri datang dengan membawa bingkisan.


"Ni say," katanya pada Alcenna.


"Brownis?" kata Alcenna. Matanya bersinar kegirangan. Eddyson takjub. Hanya karena sekotak brownis sudah bisa membuat Alcenna senang.


"Yups," ucap Putri menghempaskan duduk di samping Robby.


"Kamu mau aku buati minum Put?"


"Aku maunya Jus," ucap Putri.


"Ngapa gak beli buahnya tadi. Jelas aku hampir gak ada beli buah," gerutu Alcenna.


"Kamu ingin mas ajak jalan keluar?" tanya Eddyson.


"Pingin sih, tapi sekarang belum waktunyakan? Nanti Alcenn yang disalahkan," tolak Alcenn pelan.


"Kamu jenuh di rumah saja?"


"Tidak juga."


"Pakai juga," sindir Eddyson.


"Tak ada yang pada pakai mandi sore?" Alcenna mengalihkan pembicaraan.


"Gimana mau mandi, kakak langsung disuruh putar arah ke rumahmu."


"Aku gak mandi juga wangikan," jawab Putri.


"Mas apa alasannya?"


"Mas gak punya baju ganti," jawab Eddyson.


"Alasan saja, tu bajunya yang semalam sudah Alcenn cucikan. Juga sudah Alcenn gosok. Tinggal bayar upah capeknya," ucap Alcenna bercanda meminta bayaran.


"Benaran kamu cucikan sayang?"


"Iya, mandilah. Biar segar. Wajah Mas kusutnya ngalahi benang kusut."


"Tuhh Pak, dengarkan kata istri, pulang kerja mandi," ucap Putri berani. Jika di luar kantor mana ada bandrol mulutnya kini.


Alcenna memerah, itu tak luput dari pandangan Eddyson. Dia juga jadi semangat mengerjai Alcenna. Dia berdiri dipihak Putri.


"Iya sayang? Kamu sukanya suami pulang kerja tu langsung mandi?" ucapnya sambil memeluk bahu Alcenna. Alcenna merasa bulu romanya berdiri. Alcenna merasa tersengat aliran listrik. Saat lengan kokoh Eddyson memeluk bahunya. Eddyson lagi-lagi tersenyum.


"Iya, mandi sana Mas." Niat hati Alcenna biar Eddyson hilang sejenak dari pandangannya.


"Siap mandi mau ngapa kita?" tanya Eddyson membuat pikiran yang di ruangan tak ada berkutub positif lagi.


Eddyson terus tertawa. Dia melihat pikiran kotor muncul di permukaan wajah Alcenna dan anak buahnya. "Otak kalian itu mesum saja semua."


"Bapak sih yang mancing," ujar Putri. Putri memang lebih berani dari pada Robby. Robby tetap bersikap lebih tenang. Faktor usia bisa jadi penyebabnya.

__ADS_1


"Saya tanya, siap mandi mau ke mana kita," ujar Eddyson mengganti kata 'ngapa kita' menjadi 'ke mana kita'.


"Perasaan tadi tak itu yakan Put?"


"Hmm, iya bukan itulah."


Robby hanya tersenyum, dia juga dengar dan ingat bukan itu yang dibilang bosnya.


"Siap makan kita mau ke mana?"


"Tak tahu."


Eddyson menarik pelan Alcenn, dan berbisik, "Kalau sudah menikah, mas mau mengajak kamu ke kamar saja sayang," ucapnya dengan sensual. Bulu kuduk Alcenna meremang.


"Mandilah lagi kalau iya, siap itu makan. Ayuk keluar, tapi Kak Robby capek tak nyetir?"


"Ayolah, sudah lama gak jalan berempat. Biar aku bantu kak Robby nyetir ya. Aku gak ada capek. Pulangnya baru Kak Robby yang nyetir."


"Kamu benaran gak apa Put, pulang malam terus? Apa gak stres orang tuamu?" tanya Robby.


"Gak apa Kak, perlu aku vc di depan semuanya," tantang Putri.


"Jangan sekarang Put, tunggu sidang saya selesai. Siap itu baru saya kenalkan gadis menyebalkan ini pada dunia. Saya gak mau bapakmu banyak tanya pada saya."


"Ya, jalan kita Cenn?" tanya Putri.


"Mau kalian berdua itu!" ucap Robby.


"Ya sudah, saya numpang mandilah dulu. Biar segar," putus Eddyson.


"Mas, mau Alcenn masakan air panas?" Alcenna merasa Eddyson lelah pikiran dan lelah fisiknya.


"Ehemmm ...." dehem Putri.


"Kamu masaki air untuk kakakmu itu, saya perhatikan bagus juga kamu sama Robby. Jadi gak ada orang lain diantara kita," ucap Eddyson asal.


"Mana mau saya Pak, cukup Alcenn saja mau sama pria berumur," sindir Putri. Robby hanya tersenyum. Alcenna sudah ke dapur memanaskan air untuk mandi.


"Ihhh Bapak kok jadi mak comblangi saya sama Kak Robby."


"Biar enak kita-kita saja kalau ngumpul. Kamu juga sudah gak muda-muda kali Put, sudah pantas menikah," cecar Eddyson.


"Enak di Bapak gak enak di aku Pak," protes Putri.


"Emang Kak Robby apa kurangnya Put? perhatian, mapan, ganteng juga." Alcenna yang sudah kembali dari dapur ikut comblangi Putri. Robby hanya diam dengan santai.


"Ehemmm ...." Sibos kumat posenya.


"Kok sepasang suami-istri jadi semangat jodohkan orang? Kak bantu ngapa?" Putri akhirnya cari pembelaan.


"Biarkan saja mereka. Tapi kamu bilang mereka pasangan bucin," ucap Robby menenangkan Putri.


"Saya mau bawa Alcenna dan Robby berlibur, kamu gak ikut Put?" pancing Eddyson.


"Tega Bapak kalau gak ajak saya!"


Eddyson kini bisa tertawa lepas, melihat Putri bersungut-sungut. Benar kata Robby, didekat mereka hidup terasa lebih lengkap. Hidup mereka berdua jadi tidak monoton.


"Mas sudah jangan ganggui Putri, kasihan dia. Ayo mandi sana. Airnya pasti sudah panas tu." ucap Alcenn. Dia mau mengangkat periuk air tersebut.


"Tunggu sini saja, biar mas saja yang angkat."


"Ok."


"Kak mau libur ke mana Mas rencananya?"


"Gak tahu Kakak, katanya terserah Alcenn."


"Ke mana bagus Put?"


"Paris yok!"

__ADS_1


"Gila kamu Put, apa gak nguras kantong mas tu?"


"Tu Kak lihat, pelitnya timbul."


"Ihhh bukan aku pelit, kasihan, dia payah-payah cari duit. Kita habis-habiskan. Ohh ya, Papi kamukan kaya juga, kamu bisa minta separoh sama Papikan?"


"Lihat Kak, dulu gitu juga. Sudah diajaknya ke Jakarta ini, tiket dia pun aku disuruh bayar," ucap Putri pura-pura kesal.


"Hahaha bukannya gitu, aku soalnya mau bawa Azarine dan ibu. Kasihan mereka gak pernah jalan-jalan. Dulunya duit ibu habis karena aku," nada Alcenn terdengar sedih.


"Jangan sedih Cenn, kita bawa Azarine dan ibu nanti," ucap Putri. Ke mana Alcenn saja. Kita pergi ramai-ramai.


"Jadi mau usaha apa Alcenn rencana, kalau dikasih masmu modal?" tanya Robby mengalihkan cerita.


"Aku mau buat usaha cucian mobil saja Kak?"


"Kamu gak salah? Tapi rencana kafe atau butik?" tanya Putri.


"Enak jual jasa saja lagi Kak, aku yakin di situ saja."


"Terserah Alcenn sajalah. Kalau yakin jalani."


***


Mereka akhirnya jalan-jalan setelah selesai makan. Putri yang menyetir. Putri menyetir dengan pelan-pelan. Mereka tidak berniat ke Mall hanya mutar-mutar Jakarta, cari tempat sekedar minum jus.


"Cenn, mas boleh minta nomor ponsel ibu?" Eddyson bisa saja meminta pada Sammy. Namun Eddyson tidak ingin berahasia apapun lagi pada Alcenna.


"Untuk apa Mas?"


"Untuk nelfon ibulah," ucap Eddyson ringan.


"Mas mau apa nelfon ibu?"


"Mas mau melamar kamu, setelah selesai sidang kita berdua," ucap Eddyson serius.


"Mas serius?"


"Mas serius, tuh biar Putri dan Robby jadi saksi kalau mas gak main-main sama kamu."


Alcenna hanya diam. "Jangan tolak mas lagi donk sayang, mas benaran bisa cepat mati kalau kamu tolak terus."


Walau ucapannya dengan nada yang lucu. Sifat pemaksanya gak hilang. Putri dan Robby tersenyum. Mereka gak menyangkanya, bos dengan wajah datar dan dingin jika di kantor bisa segitu kacau di depan janda muda nan cantik ini.


"Iya, Alcenna gak ada nolak. Alcenna hanya bertanya, Mas serius? Kan itu saja tanya Alcenn."


"Mas sudah jawab, kamu lama kali jawabnya, "


"Ya nanti sajalah kita bahas Mas. Selesaikan sidang Alcenna dulu. Alcenn ini yang bingung mau gimana ngurusnya.


Eddyson sepakat dengan Alcenna. Dia tidak mendesak. Setidaknya dia sudah mengasih gambaran tentang hatinya. Jadi Alcenna tidak berpikir untuk menerima pria lain.


"Nanti pas pulang, kasih langsung surat nikahnya sama Robby ya. Biar diuruskannya lagi. Mas minta nomor ibu saja. Biar mas bayang-bayangi ibu, jika dia akan punya menantu yang baik budi," ucapnya tanpa ada niat mau berbangga diri.


"Iya deh," jawab singkat Alcenna. Dia meminum jusnya.


"Mas ingin kita membangun rumah tangga dan masa depan kita sayang, lupakan masa lalu kita. Hidup harus terus berjalan. Iya kan?"


"Iya. Tapi Mas gak bisa apa, bahasnya gak depan kak Robby dan Putri?"


"Mas sengaja, biar mereka mikir juga untuk bangun masa depan mereka masing-masing. Walau mas lebih berharap mereka bisa bersama!"


"Putri dan Robby sama-sama terbatuk.


"Tuh kan, sudah nampak sedikit-sedikit tandanya," ucap Eddyson asal.


"Ya sudah pulang kita, biar mas bahas berdua sama kamu di rumah," senyum menggoda Eddyson terbit di wajah tampannya.


"Banyak cerita Mas. Yuk Pulang!"


Putri memberikan kunci mobil ke Robby.

__ADS_1


**//**


__ADS_2