
Setelah kehilangan ayahnya, Alcenna semakin terpuruk. Di tengah banyaknya masalah, dia merasa bersalah, merasa menjadi penyebab ayahnya meninggal. Padahal janji ayahnya memang hanya segitu pada sang pencipta, tetapi Alcenna dirundung rasa bersalah.
Tak ada yang bisa Alcenna katakan pada suaminya. Alcenna merasa dia tidak pernah peduli dengan kesedihan dirinya. Barulah dia sadari, ternyata rasa manis itu hanya racun dari setan saat pacaran. Dulu semua dipandang terasa indah namun sekarang penuh duri.
Ketika Alcenna sadari ucapan ayahnya yang tidak setuju anak-anaknya pacaran. Semua sudah terlambat. Alcenna kira merasa nyaman padanya. Namun semua hanya karena hawa nafsu sesaat.
Namun untuk berpisah tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Banyak hal yang harus di timbang. Salah satunya nama baik ibunya yang menjadi pertimbangan terbesar baginya. Alcenna malu harus menjadi janda di usia itu. Sebab itu dia tetap mengupayakan keutuhan rumah tangganya.
Apapun masalah yang terjadi, kini ia tak mengatakan pada ibunya. Alcenna iba hati pada ibunya, walau di mata anak-anaknya beliau tegar, namun Alcenna tahu pasti ibulah yang lebih rapuh di dalamnya. Air mata ibunya memang tak terlihat, Alcenna tahu air mata ibunya telah jatuh ke dalam.
***
Suatu pagi setelah dua bulan kepergian ayahnya ... Sammy datang pada kakaknya, "Kak, awal bulan aku di pindahkan ke Jakarta, bagaimana pendapat Kakak?"
"Kamu naik jabatan ya Dek?"
"Iya Kak, aku jadi kepala toko tapi harus pindah."
"Kuliah kamu tidak di teruskan tak sayang Dek? "
"Kakak juga tahu aku salah masuk jurusan, nilaiku tidak ada yang bagus, kakak lihatkan? hehehe. Aku ingin bekerja saja Kak, setidaknya aku bisa bantu Kakak walau sedikit," ucap Sammy yang membuat hati Alcenna terharu.
"Kalau itu keputusanmu Dek, Kakak tak ada masalah."
"Iya Kak, kuliah untuk menghasilkan uang juga pada akhirnya. Sekarang aku sudah ada penghasilan Kak, aku lebih ingin merintis karierku dari pada kuliah. Apalagi jurusan sekarang juga tidak aku kuasai."
***
Awal bulan ini Sammy berangkat ke Jakarta. Alcenna mengantar adik lelakinya tersebut ke bandara. "Hati-hati di sana ya Dek," ucap Alcenna menahan tangisnya. Dia merasa kehilangan dua lelaki yang sayang padanya. Ayah dan adiknya.
"Oke, Kakak jangan banyak menangis. Ada ibu yang harus Kakak jaga," pesannya.
__ADS_1
Baru kehilangan ayahnya kini secara tidak langsung, dia berjauhan dan merasa kehilangan adiknya. Namun itulah hidup yang harus dia lakonkan.
***
Hari terus berganti. Gadis itu bukannya tidak bersyukur, akan tetapi dia memang tak merasakan manisnya berumah tangga dan manisnya rasa jadi pengantin. Dia jalani semampu yang dia bisa.
Kini hari raya pertama dia bersama suaminya. Alcenna memutuskan untuk pulang ke kampung ibu mertuanya. Awalnya dia bingung bagaimana ibunya Tidak mungkin hanya bersama Azarine. Sammy tidak bisa pulang jika di hari-hari besar ataupun libur nasional.
"Ibu, sebentar lagi hari raya, abang ingin pulang raya bersama ibunya. Apakah Ibu bisa ikut?" tanya Alcenna.
"Iya Nak, ibu bisa ikut," ucap ibunya ringan. Alcenna bahagia, bisa berangkat tanpa beban hatinya karena tidak harus meninggalkan ibunya.
Dua hari mau raya, mereka berangkat ke kampung ibu mertuanya. Allya dan Rhania juga ikut.
Namun setibanya di kampung Alcenna justru mendapat kejutan. Mantan istri suaminya sudah berada di kampung suaminya. Dia dan Alif tidak ke rumah mertuanya. Namun di rumah adik ibu mertuanya.
Alcenna kembali terheran-heran melihat keluarga suaminya. Alcenna telah dapat kabar dan sudah tahu cerita tentang mantan istri suaminya. Dia sangat tidak disukai oleh keluarga suaminya. Namun kini Alcenna merasa aneh, kenapa justru setelah bercerai mereka malah menerimanya, dan sebaliknya tidak menerima dia. Hanya ibu mertuanya dan kakak suaminya yang baik pada Alcenna.
Alcenna tidak marah karena itu hak mereka untuk suka pada siapanya. Namun yang Alcenna sakit hatikan, dia dituntut untuk sayang dan menerima anak tirinya dengan tangan terbuka namun mereka tidak menerima Alcenna. Sekali lagi Alcenna hanya dianggap baby sitter.
Sore ini buka puasa hari terakhir. Mereka berbuka bersama di rumah adik ibu mertua Alcenna. "Sini duduk dekat ibu, jangan duduk di samping suamimu," bisik mertua Alcenna tanpa penjelasan lebih.
Deggghh ... hati Alcenna jadi tidak enak. "Ada apa ini? Apa mereka lebih memikirkan perasaan mantan istri suamiku dari pada aku, atau adat di sini?" batin hati Alcenna mereka-reka.
Alcenna mendengarkan kata ibu mertuanya. Tidak ada cemburu di hatinya sedikitpun pada mantan istri suaminya. Apa yang mau dia cemburui, bukannya dia mau menyombongkan diri. Dia cantik dan juga masih sangat muda. Hanya cara keluarga ini yang tidak dia sukai. Kenapa setelah mereka bercerai keluarga ini baru menerimanya.
Alcenna tak ambil pusing, lalu hari raya pun datang. Masalah dan masalah kembali menghiasi lebarannya. Terdengar suara abang ibu mertuanya berkata, "Arzon, mantan istrimu meminta tolong pada kami untuk berbicara padamu."
"Soal apa Mak," tanya suaminya.
"Perkara Rhania ... dia ingin membawa Rhania dan sekolah bersamanya."
__ADS_1
Ketika Alcenna mendengar persetujuan suaminya, tanpa perduli etika, Alcenna keluar menghampiri para mamak. Tanpa tandeng aling-aling, Alcenna berkata, "Kalian pikir aku ini siapa? Patung? Boneka? Batu? Ketika anak diantar sama aku, aku harus menerimanya, menjaganya dan ketika ibu kandungnya meminta anaknya, kalian ambil tanpa berunding padaku!!"
Mereka semua terdiam. Alcenna berpikir tak perlu lagi etika untuk orang yang tak ada menghargai perasaannya sedikitpun. Niat dia juga pulang ke kampung ibu mertuanya karena ingin membahagiakan mereka. Ibu mertuanya mengatakan selama anaknya menikah dulu, hampir tidak pernah pulang ke kampung dan bahkan empat tahun pernah tidak pulang- pulang.
Alcenna meneruskan karena melihat mereka terdiam, "Oke kalau itu maunya, namun asal Mamak-Mamak tahu, ayahnya tidak sedang bekerja dan boleh di katakan keluargaku yang membiayai kebutuhan kami bahkan untuk pulang kampung ini ibuku yang menanggungnya. Jadi jangan berharap aku mengirim biaya sepeserpun! Katakan pada mamanya, jika dia bawa anaknya, tanggung jawabkan sendiri!"
"Ya tidak bisa begitu, anak adalah tanggung jawab ayahnya!" kata Abang mertua Alcenna yang tertua dengan emosi. Mungkin emosi melihat Alcenna yang kurang ajarnya.
"Tuan, anda tahu tidak, tanggung jawab seseorang lelaki itu pertama pada dirinya sendiri, lalu pada ibunya, lalu istrinya baru pada anaknya. Bagaimana dia mau bertanggung jawab pada anaknya jika 3 point yang pertama saja dia tidak bisa?" Nada Alcenna berubah jadi sinis dan cemooh. Senyum cemoohnya jelas sekali.
Alcenna harga diri suaminya, baginya cukup dia menjaga harga diri suaminya di depan keluarga Alcenna dan tetangga-tetangga. Alcenna tidak peduli pada wajah suaminya yang telah berubah merah padam. Wajah tampannya sudah seperti kepiting rebus namun dia tidak mau tahu.
"Jangan nanti dikira aku tak mau mengirimkan. Padahal apa yang mau aku kirim, tidak mungkinkan aku mau kirim dengan harta ibuku yang sekarang sudah janda?" nada cemooh semakin kental Alcenna ucapkan. Alcenna jijik dan muak dengan semua tingkah laku mereka.
Alcenna menambahkan, "Tetapi aku pikir lagi ini tanggung jawab kalian, Arzon anak kemenakan kalian, Rhania cucu kalian, kenapa harus keluargaku yang bertanggung jawab?" Alcenna tertawa dingin.
Dengan muka merah padam, entah menahan malu atau marah, seseorang dari mereka berkata, "Arzon kami pulang, terserah padamu, keputusan di tanganmu!"
Mereka berdiri dan tak pamit pada ibu mertua Alcenna, karena ibu mertuanya sedang bersama ibunya dan Azarine dibelakang.
Suaminya menatap dengan tajam. Dia tidak takut, "Apa, kamu mau marah? Marah saja! Aku sudah muak melihat kau keluarga kau!"
"Mau apa kamu!" katanya dengan suara yang lumayan keras, melihat Alcenna ke kamar.
"Aku mau pulang!" ucap Alcenna tak kalah keras.
Alcenna menyusul ibunya ke belakang, "Ibu mari kita pulang!" ucapan Alcenna, membuat mereka bertiga terkejut.
"Ada apa Nak?" Ibu mertuanya bertanya dengan lembut. Ibu mertuanya memang tidak pernah berkata kasar dan keras.
"Aku ingin pulang Bu, untuk apa aku di sini jika aku tidak dihargai, sedikit pun aku tidak dianggap."
__ADS_1
"Ada apa?" tanya ibu yang Alcenna mengira bertanya padanya. Namun mata ibu melihat ke belakang ternyata suami Alcenna sudah berdiri di belakangnya.
**//**