Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Punya Anak Bayi


__ADS_3

"Ke mana kamu Cenn?" gumam Ardhan sambil memandang langit kamarnya. Ardhan tidak berhasil. Dia menemukan jalan buntu. Dia tidak ada yang tahu dengan teman Alcenna. Dia juga tidak tahu pasti di mana rumah Alcenna. Dia hanya tahu nama Alcenna, Azarine dan Sammy. Hanya bermodalkan nama itu dia menelusuri asal kampung Alcenna.


Namun dia tidak menemukan. Bagaimana Ardhan bisa menemukan jika mereka tidak terlalu di kenal di kampung. Namun jika Ardhan menyebutkan nama ibu Azarine, Ardhan akan menemukan rumah Alcenna. Ardhan mencari Alcenna di kampung sebelah yang nama mereka hampir tidak dikenal.


Namun Ardhan belum menyerah. Dia tetap akan mencari Alcenna. Jika dulu Alcenna yang terkenang masa lalu bersama Ardhan saat putih abu-abu, saat Alcenna sedang tomboi-tomboinya. Kini Ardhan yang mengenang masa lalu bersama Alcenna.


Baru dia sadari betapa banyak dia tidak perduli pada perasaan Alcenna, pada kegiatan Alcenna, pada sekeliling Alcenna. Tidak ada yang dia pahami dari Alcenna. Bukan karena Alcenna yang sulit untuk dipahami. Namun Ardhan yang tidak pernah mau tahu.


Benar kata Tiara, Ardhan yang salah dalam hal ini. Alcenna gadis yang baik. Dia sanggup melukakan hati Alcenna. Ardhan merasa hatinya seperti diremas dan sakit ketika mengingat, betapa dia sering mengabaikan Alcenna. Hatinya akan lebih diremas jika dia tahu Alcenna sempat menderita di tangan suaminya. Sayang Ardhan tidak mengetahui pasti apa yang terjadi dengan Alcenna.


"Maafkan aku Cenn, ternyata aku tidak bisa di katakan yang terbaik bagimu. Aku tak tahu apa-apa tentangmu. Aku mengatakan aku cinta kepadamu, cinta apa yang aku beri jika hanya di mulut saja. Bukti perbuatanku tak ada, Arrrggghhh," gumam Ardhan frustasi di akhir kalimatnya.


Dia menyugar kasar rambutnya dan meremas dengan kuat. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Ardhan memejamkan matanya meredam sesak yang datang di dadanya.


Ketika dia sibuk dengan bayangan masa lalunya dan menahan sakit kepalanya, Tiba-tiba Tiara mengetuk pintu kamarnya. "Masuk saja Dek."


"Ada apa?"


"Kak, sudah dapat kabar tentang kak Lili?"


"Ada apa?"


"Aku dapat kabar kak Lili punya anak bayi, baru usia berapa bulanan gitu ...."


"Trus apa hubungannya?" tanya Ardhan.


"Ihhh lemot kalilah Kakak ni, apa itu bukan anak Kakak? Soalnya suaminya gak ada."


"Kamu yakin? Kamu dapat kabar dari mana?"


"Gak yakin sih Kak, tapi yakin juga sih ...." ucap Tiara plin-plan.


"Mana yang benar, plin-plan!" kritik Ardhan.


"Yakin sih, soalnya kak Lili kan cinta mati sama Kakak, mana ada dia pria lain selama sama Kakak," bela Tiara.


"Itukan yang katamu, yang kata dia mana kita tahu," ucap Ardhan yang tidak percaya pada Lili.


"Di mata Kakak kan mana pernah benar kak Lili."

__ADS_1


"Ahhh sudahlah Dek, tambah pusing kakak, terserah dia saja."


"Ya gak bisa gitulah Kak, kalau dia anak Kakak, Kakak harus tanggung jawablah bukan pada kak Lili maksud Ara, tapi pada anak."


"Kalau dia merasa itu anak kakak, harusnya dari awal dia tahu, dia kasih kabar ke kita. Ini gak kan? Dia kira mau jadi artis sinetron yang diam-diam membesarkan anak sendiri. Bullshit itu Dek, terserah dia saja." Ardhan juga tetap pada pendiriannya


"Terserah Kakak saja, aku cuma ngasih tahu. Jangan besok nyesal."


Tiara hendak keluar tapi Ardhan memanggilnya dan mengatakan, "Penyesalan terbesar kakak, kakak kehilangan Alcenna!"


"Terserah Kakak!"


***


Tiara kembali ke dapur, ibunya sedang memasak. Ibunya memang tak ingin terlalu ikut campur. Sejak anaknya menikah dengan Lili. Ardhan sedikit lebih banyak diam. Hanya Tiara yang selalu bisa masuk dan menyampaikan pendapatnya.


"Apa katanya Nak?"


"Kakak bilang biarkan saja, toh itu keinginan dia. Kakak bahkan bilang dia bukan artis sinetron yang sok kuat mau besarkan anak tanpa ayahnya. Jika memang anaknya kenapa dia tutupi. Intinya kakak memang tak pernah mengganggap kak Lili, Bu."


"Apa karena gadis yang bernama Alcenna itu?"ucap ibunya terdengar sedikit sinis.


"Ibu tidak bisa menyalahkan gadis itu," ucap Tiara lebih bijak.


"Ibu tak bisa menuruti kata hati ibu, Ara paham perasaan ibu. Jangan sampai kakak mendengar ibu menyalahkan gadis itu. Ibu akan disalahkan kakak juga pada akhirnya dan bisa bertengkar."


"Eheeemm ..., sudah puas? kata Ardhan datar.


"Kak___" kata-kata Ara terpotong melihat kakaknya mengibaskan tangan dan meletakkan jari telunjuknya tegak lurus di depan bibirnya.


"Ibu mau tahu apa kelebihannya? Banyak. Ibu jangan lupa apa yang telah di lakukan Lili dan keluarganya. Tidak hanya padaku tapi juga pada Ibu. Ini yang pertama dan terakhir Ibu menyalahkan Alcenna. Jika aku jauh hari mengenalkan pada Ibu, Ibu akan tahu gadis seperti apa dia. Aku hanya minta jangan hujat Alcenna, jika Ibu tidak tahu apapun tentang dia. Cukup Ibu tahu bagaimana buruknya keluarga Lili dan dia sendiri mempermainkan dan mengatur hidupku dulu. Jika terdengar, maaf aku akan meninggalkan kalian berdua di rumah ini." Ardhan tanpa mau dibantah meninggalkan Ara dan ibunya.


Ardhan mengeluarkan mobilnya, dia melajukan mobilnya menembus kota. Ardhan berhenti di sebuah kafe. Dia ingin melepaskan jenuhnya setelah semua yang dia dengar, baik itu dari Ara ataupun dari ibunya.


***


Jakarta.


"Gimana Rob, sudah selesai semuanya?"

__ADS_1


"Kalau surat perjanjian masalah dana setengah milyar itu sudah Pak."


"Sudah diterakan, jika dia dan keluarganya mengganggu aku bisa menuntut dia atas ketidaknyamanan dan melanggar perjanjian?"


"Aman Pak, sudah."


"Bagus Rob. Terima kasih banyak ya. Kamu selalu bisa saya andalkan. Setelah semua lebih tenang kamu bisa cuti beberapa hari dan tetap saya keluarkan bonus cutimu."


"Terima kasih Pak, Bapak sudah banyak bantu saya sama keluarga. Saya tidak cuti juga tidak masalah. Ibu dan mbak saya bisa ke sini jika saya rindu. Tak ada hambatan untuk itu."


"Ohhh gitu, kamu gak bosan kerja terus? Apa ibu kamu tidak meminta kamu menikah?"


"Bosan itu pasti ada Pak, lumrah itu. Saya lebih bosan jika di rumah saja. Soal ibu, beliau tidak pernah sekalipun bertanya kapan saya menikah. Beliau yakin Pak jodoh itu sudah di atur oleh Tuhan."


"Tapi kita kan harus berusaha juga."


"Saya kan tidak diam di rumah saja Pak, saya juga kesana-kemari banyak berinteraksi dengan orang. Hati saya belum juga ada jumpa yang di hati Pak. Berarti saya sudah usaha hanya belum dapat."


"Kurang doa kali!"


"Hehehe mungkin juga kalau soal itu Pak," cengir Robby.


"Kamu bilang bosan itu lumrah, apa sekarang kamu juga masih ada merasa bosan?" tanya bosnya, entah dengan maksud apa.


"Sejak ada makhluk berdua itu Pak hampir gak sih, mereka selalu bawel dan membuat hidup saya gak sepi."


"Kamu gak bergetar lihat Alcenna?" tanya bosnya tak tahu malu


"Hahahah soal itu Bapak jangan khawatir, saya tidak ada perasaan apapun selain sayang pada adik."


"Kan hanya adik angkat, Alcenna cantik, baik dan manja juga sama kamu. Apa kamu jamin suatu saat tidak menyukainya lebih?" desak Eddyson.


"Bapak tak usah ragu, jika saya mau Putri juga cantik sama menyenangkan dengan Alcenna tapi saya sudah anggap adik Pak."


"Saya tetap akan membunuh kamu jika mengambil Alcenna dari saya!" tekan Eddyson yang hanya dibawa senyum oleh Robby.


"Jadi Pak, saya juga sudah ajukan surat gugatan cerai Bapak. Pengacara yang urus semuanya. Nanti jika ada yang perlu Bapak tanda tangani, saya akan kabari."


"Oke Rob, sementara semua kelar kamu saja yang berurusan apapun yang dibutuhkan Alcenna. Nanti sudah siap, saya akan mengajak kalian liburan ke mana Alcenna mau." Robby tersenyum simpul.

__ADS_1


"Ok Pak, ide bagus."


**//**


__ADS_2