Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Aku Mandul


__ADS_3

"Ada apa sayang? Apa Alcenn tak ingin seorang anak diantara kita? Jika iya mas tidak ada masalah."


"Ingin," jawab Alcenn yakin.


"Lalu? Apa ada masalah?"


"Mmm ...."


"Bisa tidak jawabannya jangan gitu, mas jadi salah fokus jadinya," ucap Eddyson sambil terkekeh. Dia selalu bisa mencairkan ketegangan hati Alcenna.


"Ihhhh, Mas saja yang tak sehat tu akalnya," Alcenna malah melemparkan kesalahan pada Eddyson.


"Memang akal mas gak sehat akhir-akhir ini, ditambah mas sudah diterima di hatimu," ucapnya tak ada niat menggombal didalamnya.


"Kan ngaku juga jadinya."


"Iya mas selalu ngaku sama kamu, kamu saja yang jarang ngaku sama mas," nadanya tak pernah mendesak Alcenna.


"Mas mau Alcenn, ngaku apa?"


"Soal anak tadi sayang, ada apa?"


"Alcenn mungkin mandul Mas, Alcenn takut berharap dan takut mengecewakan Mas nanti. Mas pikir lagi saja, jika mau anak. Mungkin Alcenna bukan orang yang tepat untuk Mas," Alcenna berusaha untuk tegar mengakui kekurangannya. Itu jauh lebih baik dari pada nanti kecewa yang diterimanya.


"Apa dulu Alceena sudah ada cek?"


"Mmm...." Seolah memang cara baru yang lebih simpel bagi Alceena untuk menjawab.


"Kan masih juga gitu jawabnya," Eddyson tak bisa menahan senyumnya.


"Ihhh biar sajalah gitu jawabnya, Mas tu yang berisik saja," ucap Alcenna gondok.


"Lalu kalau sudah cek up, apa kata dokter? Iya gak bisa punya anak?" Eddyson lebih senang menggunakan kata gak bisa punya anak dari pada kata mandul.


"Gak ada dokter bilang, katanya cuma ada sedikit penyumbatan. Harus dilaparaskopi. Namun Mas kan tahu. Alcenna takut kalau sudah disayat-sayat gitu. Memang gak sanggup."


"Ohhh gitu."


"Alcenn juga sudah sempat cek-up ke Malaka juga mas."


"Ohh ya?"


"Iya."


"Apa kata dokter sana?"


"Katanya tuba falopi Alcenn sudah rusak kiri dan kanan. Jadi kalau mau hamil normal sudah tidak bisa."


"Jadi ada solusi?"


"Ada, bayi tabung."


"Gak dicoba?" tanya Eddyson.


"Biayanya mahal Mas, hampir 100 juta. Mending duitnya kalau ada buat jalan-jalan," cengir Alcenn.


"Jalaaan saja isi kepalanya. Besok mas bawa kamu jalan. Mau ke mana kamu."


"Asyik, janji tu ya," paksa Alcenn.

__ADS_1


"Iya mas janji."


"Kalau gitu kita coba saja bayi tabung," usul Eddyson.


"Masalahnya lagi Mas, selain dulu tak punya biaya sebanyak itu. Ada tindakan operasi juga. Nah itu lagi yang jadi masalah sekarang walau Mas punya duit untuk program itu."


Eddyson tak ingin mendesak sekarang. Jikapun Alcenn takut dan tak bersedia, dia tak akan memaksakan. Dia akan serahkan semuanya ke Yang Kuasa.


"Ohhh, tapi kenapa harus operasi? Bukannya program bayi tabung hanya pengambilan sel telur istri dan sel ****** suami, pembuahan dan pemindahan embrio ke dalam rahim istri?" ucap Eddyson yang wawasan luas.


"Iya Mas, tapi karena tuba falopiku sudah rusak dan mengandung banyak air, ditakutkan akan melimpah sewaktu-waktu ke rahim dan merusak janin. Makanya dokter sarani setelah pengambilan sel telur, dilakukan operasi dulu sebelum pemindahan ke dalam rahim. Sampai sekarang bayangi operasi tu saja takutnya masih setengah mati."


"Ohhh, gini kan enak. Mas jadi gak penasaran. Cukup mas penasaran bertahun lalu gak mendapatkan hatimu," kata Eddyson kocak.


"Serius tuh dulu cinta?"


"Gak Cenn, mas main-main saja cinta sama kamu. Sakingnya main-main pas kamu tolak mas patah hati. Kamu sendiri makhluk Tuhan yang buat mas sakit hati dan patah hati," kicauannya mengalahkan kicauan burung di pagi hari yang sering Alcenna dengar.


"Serius Mas patah hati? Kapan?"


"Waktu mas ungkapi terakhir kali."


"Jadi itu alasan Mas gak ada tanya kabar Alcenn?" Tak ada lagi nada sedih. Alcenna hanya ingin tahu saja.


"Separuhnya iya, separuhnya lagi tidak."


"Apa yang separuhnya lagi, boleh tahu?" tanya Alcenn penasaran.


"Mas sibuk merintis perusahaan dan masalah dalam rumah tangga yang sudah mas ceritakan kemaren."


"Mmm ...."


"Ini emang mancing mas salah jalan nampaknya," ucap Eddyson mendekatkan mukanya ke Alcenna.


"Jadi sudah tidak ada masalah ya diantara kita untuk menikah nanti?"


"Mas itu," ucap Alcenna.


"Soal anak, mas tidak ada jadi persoalan. Allah yang atur, kita doa saja dan berusaha sering olahraga pagi, siang dan malam," ucapnya tanpa ragu. Membuat Alcenna jengah sendiri membayangkannya.


"Kenapa merah mukanya sayang? Menghayal ya?" goda Eddyson lagi. Tak puas-puas dia menggoda gadisnya


"Iyaa!! Puas Mas!" tandas Alcenna. Eddyson tergelak lepas.


"Capek mas tertawa terus sayang, kita makan siang di luar yuk. Sekali-sekali tanpa orang dua tuh, senyum Eddyson.


"Benar ndak apa Mas?" perasaan Alcenna kurang enak.


"Sudah aman, lagian biar sajalah. Capek mas mikiri perasaan orang saja. Kita juga pada dasarnya sudah saling bebas tiada ikatan juga. Iyakan?"


"Iya kalau Mas yang katakan, pasti Mas yang tanggung. Alcenna serahkan Mas saja," dia mengedipkan matanya.


"Gak hilang licik gadismu ya," ucapnya Eddyson sambil membelai rambut Alcenna.


"Alcenn, ganti baju ya?"


"Oke, mas boleh ikut?"


"Boleh, dalam hayalan mas saja!" Alcenna menuju kamarnya.

__ADS_1


Eddyson mengambil ponsel genggamnya. Dia menelfon Robby. "Bagaimana Rob? Aman?"


"Aman Pak, kantor aman. Di bui pun aman."


"Apa ceritanya yang di bui Rob?"


"Dia bersedia lepas dengan syarat yang Bapak ajukan."


"Berapa lama kamu kasih waktu Rob?"


"Saya kasih seminggu dengan dijaga bodyguard yang kita bayar tanpa boleh keluar rumah Pak, sampai dia selesai mengemas barangnya dan meninggalkan Jakarta."


"Ternyata kamu lebih kejam dari saya Rob," ujar Eddyson berdecak kagum dengan pemikiran Robby.


"Dari pada saya yang Bapak kejami, biarlah saya yang kejami dia!"


"Dah pandai kamu sekarang nyindir seperti Alcenna ya!"


"Ehem ...." Robby hanya berdehem.


"Shinta apa katanya Rob?"


"Ibu Shinta diam saja Pak, sepertinya biasa saja. Hanya nemankan ibunya saja. Saya malah sempat mendengar dia mengomel pada ibunya."


"Apa katanya Rob?"


"Kamu gak bisa ngomong ke mantan suamimu itu?"


"Bu Shinta hanya menjawab, "Aku sudah peringatkan dia, Mami juga salah, gak bisa ngatur suami Mami! Suami arogant gitu kenapa juga harus dipertahankan!"


"Dia bilang begitu Rob?"


"Iya Pak."


"Baguslah, setidaknya dia tidak menjadi sandungan dalam hubungan saya dengan Alcenna."


"Maksudnya Pak?"


"Berarti dia paham siapa saya, dan dia tidak menyesali keputusannya melepaskan diri dari saya. Jadi dia tidak akan mengganggu Alcenna."


"Ohhh...."


"Ayok Mas, Alcenn sudah siap," ucap Alcenna tanpa tahu Eddyson sedang melakukan panggilan telfon. Begitu tahu dia diam. Dari seberang Robby mendengar suara Alcenna dan jadi tahu apa yang bosnya pesankan ke Adam, soalan urusan pribadi.


"Kamu dengar Rob, gadisku sudah memanggil, kami ingin makan siang tanpa gangguan kalian berdua," kata Eddyson dengan kejam. Eddyson memutuskan sambungan telfon sepihak.


"Sudah sama saja kelakuan mereka bertiga, tidak bisa menunggu orang menjawab dulu," rutuk Robby di seberang sana.


Alcenna menggunakan rok maxi berwarna maroon dipadu dengan atasan sweatshirt cream polos, dia mengenakan jilbab yang sewarna dengan bajunya. Penampilannya jauh terlihat lebih feminim dan anggun. Eddyson tak bisa melepaskan pandangan matanya. Gadis yang dulu terlihat tomboy kini sangat feminim.


"Cantik sekali kamu sayang, mas bisa bangga kalau bisa membawa kamu ke acara-acara perusahaan." Alcenna hanya tersenyum.


Eddyson mengajak Alcenna makan di sebuah restaurants, Eddyson sengaja memilih di ruangan vip. Entah dunia yang memang sempit atau penduduknya yang begitu banyak. Saat Eddyson masuk, dia melihat Shinta duduk manis dengan seorang pria.


Mereka duduk berdampingan. Siapapun yang melihat gestur tubuh mereka, tidak bisa di tampik jika mereka ada hubungan lebih.


Bohong jika dikatakan Eddyson dan Shinta tidak terkejut. Alcenna juga terkejut. Walau hanya beberapa kali dia berjumpa dengan Shinta waktu masih jadi anak buah Eddyson, Alcenna masih mengingat Shinta.


Terlihat mereka saling menetralkan diri. Termasuk Alcenna. Alcenna tidak berpikir negatif pada perasaan terkejut Eddyson.

__ADS_1


Eddyson yang masih marah mengingat ayah Shinta, hanya diam. Tanpa merasa terganggu dan bersalah dia menggapai bahu gadisnya dan membawa duduk disalah satu bangku restaurants. Alcenna yang merasa kikuk diperlakukan seperti itu. Dia merasa tak enak hati didepan mantan istri Eddyson yang belum sepenuhnya jadi mantan.


**//**


__ADS_2