Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Senangnya.


__ADS_3

"Pak, Alcen ngin menikah ...."


"Lalu?"


"Tapi dia tak bisa mengurus surat cerainya, jadi bingung."


"Bukan tak bisa, bisa jadi tak mau atau memang belum bisa."


"Alcen harus bagaimana Pak. Alcen capek Bapak uber-uber, macam punya hutang." Alcenna mengalihkan topik dengan bercanda asal.


"Hahahaa ... kamu memang punya hutang pada saya dan kamu tahu Alcenna__"


"Tidak tahu!" jawab Alcenna cepat.


"Saya belum selesai bicara!" Terdengar suara gemas bosnya.


"Hahahaha, emosi jugakan." Tawa Alcenna berderai puas.


"Inilah yang membuat saya senang padamu, kamu selalu bisa memancing tawa pria kaku seperti saya."


"Alasan saja," bantah Alcenna.


"Saya serius. Kamu tahu apa hutangmu?"


"Hutang cinta?"


"Pintar kamu."


"Tapi Alcen tak pernah minta Bapak hutangi. Lagian orang mau curhat malah ke mana-mana ceritanya."


"Saran saya, pertama, kamu desak dia yang ke dua kamu tinggalkan dia." Simpel saja si bos memberi gadis itu saran.


"Apa tak ada saran lain Pak?"


"Ada tapi tak mungkin saya lakukan."


"Apa itu Pak?" Alcenna merasa sedikit lebih bersemangat mendapat jalan keluar.


"Saya bisa mengurus dan membuat surat itu keluar, tapi saya tidak mau uang saya dipakai untuk pria mel___"


"Mulai, lupa janjinya!"


"Hehee ... maaf, kebiasaan," katanya tanpa rasa bersalah.


"Ya sudahlah Pak, tambah suntuk membahas ini sama Bapak. Bapak kapan pulang?" Alcenna mendapatkan jalan buntu kembali. Dia semakin merasa jenuh.


"Kenapa kamu kangen saya? Baru juga tadi pagi saya pergi." Gurau bosnya.


"Percaya diri sekali anda Pak. Saya belum minta izin. Saya disuruh libur sama dokter tiga hari lagi. Boleh?"


"Ada surat sakitnya? Kalau ada ok, kalau tak ada, saya tak terima!"


Surat sakit itu tanpa dia tahu, bosnya yang meminta dokter memberikan. Dia tahu Alcenna lagi banyak pikiran. Dia ingin memberi cuti pada gadis itu tanpa gadis itu tahu.


"Isss apaaalahh ... ada kok Pak!"


"Hahahaha ... gadis kencur pemarah."


"Kamu sudah merasa sehat?"


"Sudah kalau menyusul Bapak ke Jakarta, kalau kerja belum lagi." Alcenna lagi kumat bosannya. Makanya dia bahagia ketika dokter memberikan surat sakit tanpa dia minta. Dia malas mau masuk kerja.


"Hahahaa ... dasar gadis licik, sudah pandai memanfaatkan kebaikan hati saya."


"Siapa suruh ngajarin."


"Mau ke Jakarta?"


"MAU, kalau Bapak serius?" katanya dengan semangat.


"Untuk kamu apa yang gak serius," ujar bosnya.


"Iyaa nih? Alcen ingin berkencan semalam dengan Bapak." Alcenna asal bicara saja. Namun terdengar bosnya tersedak.


"Kenapa Pak?"


"Gak ada."


"Lah tadi tersedak kok dibilang gak ada," Alcenna mencecar.


"Ribut saja kamu Alcenna. Kamu benar mau ke Jakarta?"


"Kalau di suruh dan mau nguras kantong Bapak lagi. Bukannya duit Bapak sudah banyak habis gara Alcen."


"Kamu serius Alcen?"


"Seriuslah, siapa juga gak mau diminta jalan-jalan. Apa lagi selagi masih muda selagi masih jomblo."

__ADS_1


"Jomblo dari mananya, pacar saja berserak." Sindir bosnya.


"Berserak yang mau jadi pacar ya Pak," ucapnya membela diri.


"Sudahlah gak menang saya lawan bibir tipismu yang cerewet. Jadi?"


"Tiket ... jemput ya di bandaraaa ... takut diculik orang," candanya.


"Menyesal orang culik gadis pemarah sepertimu. Iya besok saya jemput. Kalau gak asisten saya di sini yang jemput. Saya masih ada kerja sampai sore."


Alcen diam sejenak merenung pergi apa gak, tapi kapan lagi bisa main-main, kalau sudah punya suami mana boleh pergi tanpa izin. Pikirkan pelita hati. Namun jiwa mainnya lebih dominan.


"Bapak serius ni?"


"Cek rekening kamu Alcenna tersayang. Susul saya ke sini besok pagi, berangkat pagi saja. Nanti saya suruh orang jemput kamu."


Alcenna lalu mengambil androidnya dan membuka aplikasi mobile, ternyata saldonya sudah bertambah tiga juta di sana.


Alcenna senyum-senyum senang. "Iya Pak, sudah masuk."


"Ok, istirahatlah biar besok segar, obatnya jangan lupa dibawa. Saya tutup telfonnya."


"Iya."


Alcenna senangnya minta ampun. "Maafkan aku ayah-ibu. Aku ingin bersenang-senang sebelum melepaskan masa lajang. Karena begitu akad nikah aku tidak bisa sesuka aku lagi."


***


Alcenna pergi ke kamar Azarine dan memanggil Sammy juga.


"Ngapa Kak?" kata Sammy.


"Dek ... kalau gak ada halangan tiga bulanan lagi kakak mau nikah sama abang, jadi boleh ya kakak jalan-jalan sesuka hati kakak dulu? Besok kalau sudah nikahkan harus nurut suami," ucap Alcenna cari alasan.


"Mau ke mana kakak?" kata Azarine.


"Kakak mau main ke Jakarta lagi."


"Emang Kakak sudah sehat?"


"Hmmm kalau pergi jalan sehat saja kakak."


"Sama siapa Kakak pergi? Jangan bilang sama bos Kakak tu," ucap Azarine lagi.


Alcenna nyengir manis saja, "Bolehkan?"


"Tenang Dek. Kamu tahu kakak, kalau mau macam-macam, bisa sama Ardhan bisa sama bang Arzon."


"Iya tahu," Mereka kompakan menjawab.


"Jadi boleh?" Uniknya Alcenna masih meminta izin adiknya.


"Gak bilang ibu?" tanya Azarine.


"Bingung," jawabnya.


"Bilang sajalah gak, pada gak berkah. Ayah percaya Kakak bisa jaga diri," saran Azarine lagi.


"Iya Kak. Ayah pasti izin tu. Cuma bilang sajalah sama kawan, sama kak Putri misalnya. Tapi ya jangan neko-neko."


"Gaaaaakkkk Dek ...." Mereka tertawa barengan.


"Uang makan Kak?" ucap Sammy. Dasar tukang makan yang diingatnya uang belanja yang tinggal saja.


"Aman, kakak bagi kalian lima ratus ribu tetapi bagi dua. Cukup?"


"Serius Kak?" Sudah macam paduan suara mereka. Mereka senang bukan main. Berbagi kebahagiaan bersama adiknya paling Alcenna suka.


"Seriuslah."


"Asyiik, bisa beli yang kami mau ini," kata Sammy.


"Terserahlah, pokok ada untuk makan kalian selama kakak pergi."


"Bang Arzon, gak Kak kasih tahu lagi?" lagi-lagi Azarine yang cerewet.


"Gak perlu Dek. Biar dingin kepalanya dulu. Asyik mau marah saja dia. Besok kalau dia datang atau telfon bilang saja, emang kakak gak bilang bang? bilang saja gitu."


"Ok Kak."


Kekuatan duit ternyata memang dahsyat, duit mampu membuat semua orang bungkam termasuk adik Alcenna sendiri. Iblis di hatinya juga ikut tertawa.


"Besok Sammy antar kakak ke bandara ya, sekalian kita tarik uang di Atm."


"Oke Kak."


"Kakak balik ke kamar dulu ya. Kakak mau nelfon kak Putri lah." Tanpa menunggu adiknya menjawab dia pergi ke kamar.

__ADS_1


***


Alcenna menghubungi Putri melalui video call. "Apaaa Putri Tidur ...." ucap Putri.


"Dari tadi di telfon tak angkat. Kamu ikut ke Jakarta?" tawar Alcenna.


"Kapan?"


"Besok pagilah," ucap Alcenna.


"Ngapain?" tanya Putri heran.


"Mainlah."


"Sama siapa?" cerewetnya.


"Sama ayank bebeb," kata Alcenna.


"Sama bosmu maksudnya?"


Alcenna balas dengan anggukan dan tertawa senang.


"Gilaaa lo yaa, mulai gak lurus jalan lo nampaknya sejak jadi simpanan bos-bos." Alcenna tidak marah. Dia tahu Putri bercanda mengejeknya.


"Gigimu simpanan. Kapan mau senang lagi, besok sudah nikah mana tau aku gak boleh pergi-pergi," bela diri Alcenna.


"Alaaa nikah lama masih pun."


"Sapa bilang, tiga bulan lagi aku mau nikah saja. Sekarang kamu mau ikut orang gila ini, apa tidak?"


"Mauuu ...." Ternyata sama gilanya pun sama Alcenna.


"Kerjaan kamu?"


"Lupa ya kalau kita bisa nyicil kerja ginian dan lagi bapak aku direkturnya. Hahaah... sekali- kali aku manfaatin jabatan father ku."


"Oke serius ya, kita berangkat pagi. Kita cari tiket di bandara saja, tar kalau duluan aku yang beli, kalau kamu yang duluan kamu yang beli ya." Seenaknya Alcenna mengatur.


"Aku serius saja, suntuk juga aku kuliah-kerja melulu. Papaku pasti izinin apalagi sama kamu perginya, takut aku bosmu tu gak izin. Mana tau dia mau berduaan saja samamu."


"Tenang, boleh sama dia. Gak percaya aku telfon, dengar ya ...."


Alcenna sambung telfonnya dengan ponsel biasa saja. Tak lama, "Apalagi sayang?" alcenna melihat Putri membekap mulutnya, menahan tawa. Alcenna sengaja meloudspekerkan.


"Alcen mau mainnya bawa Putri, boleh? Ingin berbagi kesenangan sama sobat semata wayang Pak," ucap Alcenna sambil tetap tersambung vc sama Putri.


Bawa saja, lebih bagus dari pada saya khilaf tiduri kamu," katanya ikutan pandai asal.


"Benar boleh ya Pak?"


"Benar, bawa saja, mana yang buat kamu senang saja Alcenna sayang. Duitnya cukupkan buat beli tiket dua?" ucap bosnya dengan ringan.


"Cukup, tapi biar dia beli sendiri. Alcen menawari mengajak saja Pak, bukan traktir dia." Alcenna melirik Putri mendelik kesal dengar ucapannya.


"Hahahaah ... dasar gadis kencur, sudah pemarah, licik pula." Bosnya tertawa yang sukses buat mata Putri membola. Bos Alcenna jauh beda jika di depan Putri atau kawan kantornya.


"Bapak ngapa bilang licik?" Alcenna tak terima.


"Liciklah, kamu bawa Putri untuk bodyguard kamu supaya gak saya makan. Tapi kamu suruh Putri bayar sendiri." Benar juga omongan bosnya


"Tapikan bapaknya direktur Pak, duitnya pasti banyak. Harusnya dia yang bayari tiket aku, jadi duit yang Bapak kasih bisa utuh dalam tabunganku," ucap Alcenna tanpa berdosa yang dihadiahkan bogem sama Putri. Alcenna hanya meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Hahahaa ... gak ngaku lagi kamu gadis licik, kamu minta saya tambah ngirimkan?"


"Ahhh suuzon, Bapak kira aku mau tergadai sama Bapak. Sudah ya Pak, besok kami ke sana, kita pergi jalan-jalan ya Pak." Alcenna memutuskan berhenti telepon karena melihat reaksi Putri yang gak sabaran.


Ketika sambungan telfon sudah putus dan menyisakan Alcenna dan Putri dari via WhatsApp. "Gila juga pesonamu Cenn, bos angkuh seperti dia bisa tertawa-tawa lepas sama gadis bau kencur." Putri gantian mengejek sahabatnya.


"Pesona gadis desa gitu loh. Sudah jangan balas aku. Benar aku bilangkan, kamu minta papamu pasti kasih dana lebih samamu." Alcenna gigih dengan pendapatnya.


"Benar kata bosmu, walau bau kencur kamu tu gadis licik."


"Jadi nyesal ni kawan sama aku?" Alcenna pasang wajah sedih.


"Gaklah gadis kencur, aku suka baumu yang wangi gak munafik, hahahaha." Putri terpingkal-pingkal.


"Jadi ni kamu belikan tiket pergi aku, pulang bos aku yang bayar," ucap Alcenna tetap tanpa perasaan.


"Dasar pemerasan."


"Hahahaa ...." Alcenna tertawa karena dia tahu Putri yang akan belikan.


"Bersyukur aku walau punya kawan sebiji namun menghasilkan." Alcenna tetap tertawa. Tanpa dia sadari, Putri sangat senang melihat tawa bahagia Alcenna.


"Banyak ceritamu, ya sudah besok ketemu di bandara, aku bilang papa dulu. Tiket tunggu aku saja ya," katanya langsung mematikan teleponnya. Itu sudah kebiasaannya.


"Yes, aku tak perlu berbohong pada ibu, aku memang pergi sama Putri." Batin Alcenna senang bukan main. Lalu menelepon ibunya.

__ADS_1


**//**


__ADS_2