
"Lepaskan ... aku bisa sendiri!" ucap wanita yang tak lain bersama Ardhan tadi.
"Masuk," teriak Ardhan penuh amarah kepada wanitanya.
Sang wanita tidak banyak membantah. Di dalam mobil amarah Ardhan berlanjut, "Kenapa kau tidak tahu diri hmmm, kau cukup tahu siapa wanita tadikan?" ucap Ardhan masih menahan amarah.
Wanita yang tadinya berlagak mengacuhkan Ardhan, sungguh terkejut saat Ardhan dengan tiba-tiba mencengkram dagunya dan menarik paksa melihat ke arah Ardhan, "Jawab aku, kau tahu siapa wanita tadi?" ucap Ardhan semakin marah, nada bicaranya semakin dingin.
"Iya tahu ...." ucap lemah wanita yang bernama Lili.
"Apa hak kau ikut campur dengan urusanku! Terlebih soal wanita tadi!" Ardhan masih dengan mata yang nyalang dan dingin mencengkram dagu Lili.
"Aku cemburu," jawab Lili singkat.
"Hahhahahaha ...." tawa menggelegar Ardhan penuh ejekan terdengar memenuhi mobilnya. Dia melepaskan cengkramannya, "Kau tidak punya hak mencemburui Alcenna," katanya sinis.
"Apa kelebihannya?" cecar Lili ingin tahu pasti.
"Kelebihannya? Kau mau tahu? Kau tidak ada apa-apanya dibanding dia," nada Ardhan semakin merendahkan Lili.
"Kau menghinaku? Aku istrimu. Kau yang merenggut kehormatanku!"
"Itu perbedaan terbesar kau dengan dia. Bertahun aku dengannya, kau tahu apa yang aku dapat, jangankan mendapat kehormatannya, mendapat ciumannya saja aku tak pernah. Hanya memegang tangan dan bahunya yang kubisa. Tidak seperti kau, merayu aku di kala aku lagi merindui dirinya, kau tak lebih dari wanita menyedihkan! Kau katakan aku yang merenggut, padahal kau yang mengumpan dirimu sendiri!" maki Ardhan seolah tidak puas.
"Kalau aku menyedihkan, kenapa kau menikahiku!" katanya dengan sisa keberanian.
"Kau pura-pura tidak tahu atau pura-pura lupa ingatan! Ayah kau datang padaku, mengancam akan menuntutku masuk penjara. Aku tidak sudi berada dalam kamar dingin hanya karena aku menjamah anaknya yang tak lebih dari ular!"
"Kau__"
"Aku terpaksa memutuskan Alcenna pada malam itu dan menemui kau karena kau mengutitku. Sementara ayah kau terus mengancamku. Sekali lagi nasib aku sial, karena dia harus melihat aku bersamamu, padahal malamnya aku memutuskannya. Aku paham betapa sakit hatinya menyangka aku memutuskan dia karena cinta pada kau!"
"Lalu Kenapa tidak kau mati-matian mendapatkan dia?"
"Itu karena Alcenn sudah menolakku, tak ada guna aku menghindari kau, hanya buang energi. Kau sama ayahmu sama tidak tahu malunya. Kalian akan terus merongrongku!"
"Apa aku dan keluargaku begitu hina dimatamu?"
"Aku tahu pasti sifat kau dan keluarga kau. Aku juga tahu sifat Alcenna jika tersakiti. Aku sudah tidak punya harapan di malam kedua aku datang, padahal niat aku memutuskannya mencari cara untuk lepas dari ancaman ayahmu, baru aku melamarnya seperti yang dia inginkan. Tapi kau lagi-lagi mengacau pada hari itu." Tak ada lagi nada dingin yang ada nada putus asa.
"Kau tahu, seminggu aku di Jakarta aku bertemu dengannya dan bersama mengganti hari-harinya yang hilang tanpa dia tau aku sudah menikahimu. Aku semakin sadar tak ada tempat bagiku. Namun aku berusaha, jawabannya hanya biasa saja. Aku hilang akal. Aku berharap dengan tidak mau tau lagi dengannya aku bisa fokus hidup bersamamu. Aku gagal, apalagi setelah melihatnya tadi, aku semakin gagal," katanya semakin putus asa.
"Jadi apa maumu sekarang," nada Lili juga terdengar putus asa, dia tahu tak akan pernah mendapatkan cinta dari Ardhan, suaminya. Dia memutuskan menyerah dengan pilihan dan keputusan Ardhan. Dia mencintai Ardhan sepihak dan dia sadar, cintanya hanya menyakiti Ardhan.
__ADS_1
"Kau yakin bisa menerima apa yang jadi pilihanku?" tanya Ardhan.
"Iya," jawab Lili seakan sudah bisa menebak.
"Tinggalkan aku, dan carilah lelaki yang bisa mencintaimu," ucap Ardhan tegas.
"Oke kalau itu pilihanmu, tolong antar aku ke hotel," kata Lili. Dia menyerah.
"Tunggu, kenapa kau langsung menyerah. Rencana licik apapun itu, jangan pernah kau menyentuh Alcenna. Dia tidak bersalah apapun. Jangan kau tambah derita hatinya." Ardhan setengah mengancam, setengah memohon.
"Apakah sebegitu buruknya aku di matamu. Sebesar itukah rasa benci kau padaku? Apa secinta itu kau pada dia?" tanya Lili.
"Kalau kau tanya benci, aku sangat membencimu, dan aku sangat mencintainya. Hanya saja, cintaku datangnya terlambat. Setelah dia menolakku habis-habisan, baru aku menyadari aku mencintai dirinya sepenuh jiwa raga. Sampai saat ini tiada sudut hatiku yang kosong. Semua berisi tentangnya, tiada yang bisa menggesernya," ucap Ardhan tanpa ada pertimbangan sedikitpun bagi perasaan Lili.
Ardhan mulai melajukan mobilnya, mengantarkan Lili ke kamar hotel. Dia tidak ingin berbaik sedikitpun untur mengantar Lili pulang ke orang tuanya. Tak ingin memberi celah sedikitpun. Ardhan diliputi amarah dengan sikap Lili tadi. Dia sangat malu pada Alcenna.
"Aku yang urus atau kau yang urus surat perceraian itu?" tanya Ardhan sebelum Lili turun.
"Biar aku saja, kau tanda tangani saja tanpa perlu datang. Supaya urusan cepat selesai. Tiga kali kau tanda tangan tanpa datang hakim akan menjatuhkan keputusan," ucap Lili dengan pedih hati yang disembunyikannya.
"Baguslah," kata Ardhan datar.
Ardhan fokus menyetir. Lili hanya diam menahan air matanya yang ingin memberontak keluar. Namun dia tahu hanya akan menambah hinaan dari suaminya yang sebentar lagi berubah menjadi mantan.
"Hallo Bob, tolong buatkan dan ajukan surat gugatan cerai untuk suamiku," kata Lili pada Bob yang seorang pengacara keluarganya.
"Apa?" tanya Bob tak percaya.
"Aku rasa kau cukup jelas mendengarnya. Aku ingin kau tidak berbicara apapun pada Papiku. Biar Papi jadi urusanku. Kau tolong ajukan saja, nanti aku tanda tangani." Terdengar nada Lili yang tidak bisa dibantah.
"Okelah."
Di dalam kamar hotel yang lain, Ardhan berbaring melepaskan lelah tubuhnya. Dia memang sengaja pindah kamar sejak memutuskan berpisah tanpa direncana pada awalnya. Ardhan memang sengaja meninjau lokasi ingin membuka cabang usahanya di kota ini. Lili yang mendesak ingin ikut diajaknya. Siapa sangka dia bertemu dengan Alcenna dan dalam keadaan menikah.
Ardhan memang sudah berusaha melupakan Alcenna. Selalu ada saja pertemuan tak terduganya. Ardhan juga tahu, waktu jumpa di Jakarta dengan Alcenna, Lili juga memata-matainya. Maka Ardhan mengambil dua kesempatan sekaligus. Dia bisa menikmati waktunya yang banyak hilang bersama Alcenna dan berharap Lili sakit hati dan menggugatnya.
Justru yang tidak ada dalam rencananya. Bisa melepaskannya dari belenggu siksa selama ini. Ardhan menimbang-nimbang ingin menelfon Alcenna. Namun dia membatalkan. Dia tidak yakin Alcenna akan menerima kehadirannya. Terbukti setelah pulang dari Jakarta, sikap Alcenna hanya say hello setiap kali disapa. Apalagi dia sudah menikah kesempatan dia semakin tipis.
***
"Kak .... Kakak benar gak terpengaruh dengan perjumpaan tadi?" ungkit Azarine setiba di rumah.
"Tidak Dek, memangnya kenapa?" tanya Alcenna.
__ADS_1
"Bukankah Kakak dulu sangat mencintai dia?"
"Kenapa harus dulu Dek?" ujar Alcenna ambigu.
"Maksud Kakak?"
"Ya, sampai sekarang pun asal kamu tahu kakak mungkin masih mencintai dia. Asal kamu tahu lagi Dek, setiap kakak kelahi sama bang Arzon, kakak menyesal tidak mau mendengar penjelasannya malam itu. Kini wanita itu hadir lagi. Kakak yakin sudah jadi istrinya. Hanya saja kakak ingin tahu apa penjelasan yang ingin di katakan malam itu." Alcena ceritakan rahasia yang dia pendam selama ini.
"Waktu di Jakarta Kakak ketemu, bahkan Kakak cerita banyak menghabiskan waktu bersama. Kenapa tidak Kakak tanyakan. Dari pada penasaran. Apalagi Kakak belum menikah saat itu."
"Kakak terlalu takut untuk kecewa lagi. Lebih baik kakak hindari sebisa mungkin. Rasanya sakit dibohongi suami. lwebih jauh sakit dua malam sebelum putus itu," aku Alcenna pada Azarine.
"Lalu bagaimana dengan Bang Arzon, apa kakak benar cinta pada dia atau hanya pelarian?"
"Dibilang pelarian rasanya tidak juga, dibilang cinta rasanya cinta, tapi entahlah Dek. Cuma kalau dibilang tak cinta, ngapa kakak bertahan sejauh ini?"
"Kakak tu gak jelas!" sungut Azarine.
"Iya mungkin, tapi kalau lagi damai gini, sangat nyaman bersama bang Arzon," jawab Alcenna.
"Nah kalau sama bos kakak gimana?"
"Ihhh apalah ni, semua ditanya." Gantian Alcenna yang sewot.
"Jawab saja dulu Kak."
"Biasa saja, cuma senang saja. Ada yang perhatian, sayang banget lagi."
"Lalu Kakak apa gak pernah merindukan bos Kakak?"
"Gak, ingat dia ada sih sekal-kali, tapi mau nelfon tanya kabarnya, malas. Dia pun sejauh ini tak ada kabar, sudah sibuk dan lupa kali."
"Kan, beda tanggapan Kakak terhadap mereka bertiga. Kakak sepertinya cinta benaran sama Popeye si pelaut itu."
"Helee, sok tau kamu Dek. Kamu saja sejauh ini tak pernah pacaran."
"Auhh ahhh Kak, tapi aku yakin Kakak cinta sama Popeye."
"Ya terus mau apa, kakak istri orang, dia pun mungkin suami orang. Asyik sama suami orang terus Dek, lama-lama gila juga kakak jadinya."
"Mana tahu sudah jadi duda gara-gara tadi," ucap Azarine ngawur. Azarine terkikik geli. Tanpa mereka tahu benar apa yang dikatakan Azarine ....
**//**
__ADS_1