Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Semakin Dekat


__ADS_3

"Halo Bang ...."


"Jam segini baru bangun tidur Dek?" ujarnya dengan nada heran. Alcenna hanya tertawa mendengar dia heran.


"Iya ... ini pun kalau gak ditelepon masih jam tidur jelang jam 9," katanya dengan nada sedikit malas. Padahal di hati semangat empat lima.


"Hmmm ... tak kerja hari ini?"


"Kerja ... kalau tak kerja mau makan apa nanti kami ...." kata Alcenna masih dengan nada malas.


"Ya makan nasi ...."


"Iyalah makan nasi ... tapi nasinya dibeli pakai uang ...." Nada Alcenna santai saja.


"Nanti uangnya abang yang kasih ...." ucapnya dan Alcenna membawa tertawa kecil saja. Dia menganggap angin lalu.


Alcenna gadis yang gengsian, lima tahun bersama Ardhan saja tak pernah mau menerima pemberian Ardhan. Apalagi ini baru dikenalnya.


Sejak Ardhan mulai bekerja dia selalu menawarkan akan mentransfer sejumlah uang kepada Alcenna, tetapi tak pernah dia mau menerima uang dari Ardhan. Saat kekasihnya bertanya masih ada uang atau tidak, dia selalu menjawab ada, walau kadang ada kalanya dia meminjam sama teman. Alcenna takut berhutang budi.


"Bangunlah lagi, mandi ... dan siang nanti kita makan siang sama-sama, nanti abang telepon lagi jam-jam istirahat kantor." Arzon mengalihkan pembicaraan ketika tidak mendapat respon apapun dari Alcenna.


"Ya deh," katanya singkat, dan memutuskan sambungan telepon.


Dengan semangat dia bangkit dan pergi mandi. Hilang sudah rasa mengantuk dan malas bangunnya. Hatinya sangat senang, sungguh dia senang.


Setelah Alcenna berpakaian dengan rapi dan menyemprotkan sedikit splash cologne berbau blossom. Hanya cologne bukan Parfum dan bukan bermerk yang sampai beratus ribu. Tidak menguras kantong tapi tetap bisa membuat gadis ceria itu segar dan lebih percaya diri.


Alcenna melanjutkan tugas yang diminta pak bos kemaren, yaitu persiapan untuk expo.Tanpa terasa hari telah siang dan alarm kampung tengahnya mulai berbunyi.


Dia melihat ponselnya, tapi panggilan masuk tak kunjung tiba. Ingin menelepon gengsi. Dia menunggu janji saja.


Tak lama pucuk dicinta ulam tiba. Apa yang dia tunggu akhirnya berbunyi. Ponselnya berdering. Alcenna menekan icon hijau di ponselnya. "Halo."

__ADS_1


"Di mana Dek?" tanya Arzon.


"Di mall xx Bang."


"Oke, tunggu di sana. Abang langsung ke sana."


"Ok deh. Liat aja di depan toko Amerry ya Bang."


"Ok."


Tak sampai 15 menitan menunggu, Arzon menemui di tempat yang dijanjikan.


"Lama nunggu?"


"Tak juga" katanya santai sambil merapikan rambut dan menuju tempat makan. Mereka memilih kursi dan memilih duduk berhadapan.


"Adek mau makan apa?" katanya menyodorkan tabel menu.


"Terserah sajalah Bang, ikut abang saja," Alcenna tak terlalu memikirkan apa yang akan dimakan. Satu yang paling kini dia Inginkan, berjumpa dengan pria tampan ini yang tak jelas apa statusnya di hati gadis itu.


Walau di hatinya ada perasaan aneh yang tidak bisa dia jabarkan. Beberapa detik dia memilih diam sambil ikut memandang bola mata pria di depannya. Tapi Alcenna tak mau terlalu larut dengan suasana yang tak jelas ini. Baru juga kenal kemaren.


Alcenna akhirnya menjawab dengan guyonan saja, "KUAh gulai ikan?"


Dia tertawa, tawa yang renyah ... tawa yang membuat hati Alcen semakin senang didekatnya.


Alcenna pun menulis pesanan seporsi capcay dan ayam mentega serta semangkuk kecil nasi putih, ditambah dengan es lemon tea. Dan yang ada dia mengikuti menu pesanan si gadis. Akh dunia rasa milik berdua. Itu yang dirasa pasangan itu.


Seiring waktu semua berjalan begitu saja. Siang jam istirahat, jika sama-sama lagi tidak banyak kegiatan tentang kerjaan, mereka sering ketemuan sekedar makan siang.


Malam hari tak pernah keluar berdua, Azarine selalu dibawa. Kakaknya tak ingin Azarine memberontak karena memberi contoh yang salah. Azarine dilarang keluar malam dengan temannya, masa si kakak memberi contoh keluar malam walau statusnya bukan lagi pelajar.


Dari kecil, sang ayah secara tidak langsung mendidik anak sulungnya untuk mengayomi adik-adik. Alcenna masih ingat, dulu jika adiknya yang melakukan kesalahan, dia akan menerima sangsi dari ayah. Kakinya bahkan pernah dipukul pakai tali pinggang oleh ayah. Walau tidak menimbulkan bekas.

__ADS_1


Tak pernah sekalipun Alcenna marah pada beliau, karena ayah langsung memberi penjelasan kepada anaknya. "Alcen tahu kenapa ayah hukum ketika adik-adik Alcen main di tengah hari?"


Gadis kecil itu hanya menggeleng tidak tahu.


"Itu karena Alcen kakaknya, sebagai kakak yang tua, Alcen harus bisa melarang adik-adik, bahwa ayah sangat tidak suka di tengah hari dan magrib anak-anak ayah bermain di luar rumah," kata beliau dengan nada yang lembut.


"Alcenna yang harus mengatur adik kalau ayah dan ibu tidak ada, Alcenna paham?" lanjut ayahnya kemudian yang dibalas dengan anggukan kecil.


***


Semakin hari Alcenna dan Arzon merasa semakin dekat. Entah karena sering bertemu dengan Arzon, rasanya beban di hati merindukan Ardhan berkurang. Hari-hari terasa menyenangkan. Ada tempat berbagi cerita. Itulah pemikiran gadis muda tersebut.


Setiap hari Arzon selalu mengisi harinya, dia tak pernah absen menelepon Alcenna, walau hanya sebentar sekedar menanyakan Alcenna lagi di mana ... atau sudah makan.... Perhatian itu pastinya bisa membuat gadis seusianya luluh. Apalagi jiwa Alcenna ada polos-polosnya.


Tak terasa waktu sudah berjalan 5 bulan. Selama itu pula Alcenna telah dekat dengan Arzon. Jika Arzon tidak sedang keluar kota, dia menyempatkan diri bertemu walau sebentar atau kadang malam mengajak Alcenna dan Azarine keluar. Hanya terkadang saat di luar kota dia agak jarang menghubungi. Alcenna tak begitu tahu bagaimana kesibukannya di luar kota.


Beda dengan Sammy, dia tak pernah ikut dengan mereka, jurusnya kalau kakak dan adiknya keluar makan malam bersama Arzon, "Bungkus yaa ... jangan lupa bungkuuus," katanya dengan suara cempreng yang dibuat-buat.


Kekasih Alcenna tak ada kabar berita. Pernah sekali dua Alcenna coba menghubungi nomor handphonenya, tapi selalu di luar jangkauan.


Dulunya juga selalu di luar jangkauan jika dia yang mengontak duluan, tapi dalam 3 bulan kepergian ada memberi kabar jika kapal sedang berlabuh di dermaga.


Nah ini, sudah hampir lima bulan tak ada kabar. Kalau ditanya kata hatinya yang terdalam, penasaran rasanya. "Ke mana dia ... di mana dia....."


Alcenna tak ingin berpikiran negatif, misalnya seperti, apakah dia sudah tak sayang? Apakah kapalnya terbalik? Ataukah dia ada yang lain? Dia tak mau mesugesti itu lalu tak ingin alam menjawab pikirannya.


Ngomong-ngomong ada yang lain, justru Alcenna kini sebenarnya ada yang lain. "Tak ada komitmen apa-apa, jadi dia bukan kekasihku donk," bela batinnya.


Sedikit demi sedikit tanpa dia sadari, Ardhan mulai tergeser dari hatinya. Malam-malam biasanya dia memanggil nama Ardhan dalam rindu, kini diisi oleh suara Arzon.


Rasa sedih itu mulai tak dirasa sejak dua bulan terakhir ini. Hingga di suatu malam ketika waktu menunjukan jam 22.30 WIB, matanya sudah mulai ingin terpejam ... ponselnya bergetar ....


"Halo ... sudah tidur?" Terdengar suara orang yang telah mengisi hatinya lima tahun lebih.

__ADS_1


**//**


Hallooo ... aku ngobrol dulu ya dengan si pelaut, besok hari diceritakan pada readers tersayang . 😊😘😘


__ADS_2