Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Memperjuangkan


__ADS_3

"Baik jika itu yang kau inginkan, aku akan kasih kau setengah milyar, namun kau harus tanda-tangani surat perjanjian bahwa kau tidak akan mengusik hidupku walau harta kau habis sekalipun!"


"Aku setuju. Aku juga capek hidup denganmu. Bagiku kau seperti patung es. Aku juga ingin bahagia," ucap Shinta.


"Baik, aku akan keluar malam ini hanya membawa pakaianku saja, setelah aku buat surat perjanjian dan kau tanda tangani, aku langsung memberi kau uang tunai."


"Segitu niatnya kau meninggalkan aku? Apa kau sudah menemukan perempuan lain?"


"Kau yang inginkan, aku masih bisa membatalkan perceraian ini. Sebelum aku melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Soal perempuan kau yang paling tahu!" Eddyson menyerahkan jawabannya ke Shinta.


"Aku menolak jika permintaanmu aku harus banyak di dalam rumah dan penurut," tentang Shinta.


"Jika begitu, berarti tidak ada urusan lagi di antara kita, aku akan mengontak kau secepatnya. Aku minta kau tidak mempersulit jalannya sidang. Serahkan surat nikah kita, biar aku yang urus."


Eddyson tidak banyak bicara dia pun meninggalkan kamar Shinta. Setelah Shinta memberikan surat nikah. Eddyson menuju kamarnya dan mengganti baju serta mengemasi pakaian-pakaiannya.


"Rob, tolong jemput saya malam ini juga di rumah. Dan carikan saya hotel dulu."


"Baik Pak."


Eddyson telah siap berkemas, dia menggeret kopornya yang tidak terlalu besar. Dia baru saja sadar jika pakaian yang dia pakai selama ini tidak begitu banyak. Miris.


Robby telah datang, dia mengangkat kopor bosnya. Dia melajukan mobilnya ke hotel yang sudah pesan. Robby hanya diam tidak berani bicara apapun, walau wajah bosnya tidak sedang marah. Hanya seraut wajah datar yang biasa sehari-hari.


Robby dengan tenang menyetir. Matanya fokus memandang jalanan yang lumayan masih padat ditengah malam yang mulai semakin kelam.


Eddyson duduk di samping Robby. Dia butuh teman bicara. Eddyson tidak duduk di bangku belakang seperti saat jam Kerja. Dia menarik napas seakan melepas beban yang tertinggal di dadanya. Sejenak dia memandang lampu-lampu kota yang menyala. Lalu pandangannya beralih ke Robby.


"Rob, saya percaya padamu. Tolong urus semua berkas perceraian saya. Carilah pengacara yang handal."

__ADS_1


"Baik Pak." Robby sebenarnya begitu terkejut. Rumah tangga bosnya tidak pernah terdengar bermasalah justru adem ayem.


Eddyson seolah paham dengan reaksi Robby. Dia berkata, "Saya memutuskan berpisah bukan karena Alcenna. Saya tidak mau kamu salah paham dan menjadi tidak suka dengan Alcenna."


"Tidak Pak." Jelas dia berbohong. Walau Robby tidak menyalahkan Alcenna.


"Semua murni karena kesepakatan saya dan istri. Rumah tangga saya intinya hanya harmonis di luar. Berbelas tahun saya tidak pernah dianggap suami seutuhnya. Dulu saya mengalah akan cinta saya pada Alcenna. Karena hanya ingin mempertahankan rumah tangga yang harusnya tidak saya pertahankan. Saya hanya mengajak Alcenna jadi istri kedua. Ternyata pada akhirnya kami sama tersakiti. Tapi sakit yang saya rasa dua kali lipat kini, melihat Alcenna jauh menderita. Aku bersyukur takdir mempertemukan kembali," dia mencurahkan isi hati yang tertutup rapat.


Robby paham dengan apa yang dirasa oleh bosnya. Dia sangat tahu bagaimana dulu dan sekarang bosnya mencintai gadis malang itu. Robby berkata, "Maaf jika saya ikut campur Pak, apa yang akan Bapak lakukan selanjutnya," ucap Robby hati-hati.


"Saya akan memperjuangkan Alcenna nanti pada saat yang tepat Rob. Saya yakin dia bisa menjadi istri yang baik bagi saya."


"Maksudnya nanti Pak?"


"Kamu juga tahu bagaiman keadaan mental Alcenna sekarang Rob, walau terlihat baik-baik kita tidak tahu apa isi hatinya. Saya sangat yakin, Alcenna juga tidak bisa dimasuki hatinya. Jika saya paksa akan membuat saya kehilangan dia. Ketika dia fokus mengobati hatinya aku akan fokus menjadi obatnya saja."


"Bapak benar. Walau tertawa tapi tawanya tidak seperti saat saya Bapak suruh mengawasinya bertahun lalu," jawab Robby.


"Baik Pak,"


"Satu lagi Robb, saya meminta tolong padamu. Carikan saya rumah yang lebih besar dari sekarang ya Robb, dan buat atas nama Alcenna. Saya berharap rumah itu bisa kami tunggui pada akhirnya," ucap Eddyson penuh harapan.


Mobil telah sampai di hotel yang Robby pesan. Robby mengantar ke kamar. Eddyson menahan Robby, "Apa kamu keberatan sebentar lagi pulang Rob?"


"Tidak sama sekali Pak," ucap Robby dan memilih duduk di sofa. Bosnya mengikuti.


"Untuk sementara Jangan ada yang tahu ya Rob juga termasuk Putri. Aku tak ingin Alcenna tahu. Aku juga untuk sementara tidak bisa terlalu sering ketemu. Aku tak ingin dia terlibat konflik rumah tanggaku. Dia sudah cukup susah dengan konflik rumah tangganya."


"Baik Pak, itu memang jauh lebih baik buat Alcenna," ucap Robby penuh perhatian.

__ADS_1


"Boleh saya bertanya sesuatu?"


"Silahkan Pak?"


"Apa kamu tidak akan menjadi saingan saya dalam merebut hati Alcenna?" kata Eddyson penuh curiga.


Robby benar tak bisa menahan tawa, "Maaf Pak, selain saya masih sayang nyawa saya, saya hanya sayang pada Alcenna sebagai adik perempuan. Jangankan Alcenna Pak, sama Putri juga. Kehadiran mereka yang awalnya saya anggap menyebalkan jadi hiburan dalam hari-hari saya. Saya hanya punya kakak perempuan Pak. Mbak saya jauh beda dengan mereka," ucap Robby menjelaskan panjang lebar.


"Kamu jaga ucapanmu ya Rob. Kini saya tidak akan menyerahkan Alcenna pada siapapun!" nada Eddyson masih terdengar mengancam. Robby kembali tertawa kecil.


"Hari sudah malam, bagaimana kalau bapak istirahat dulu. Besok kita ada meeting Pak," saran Robby. Hari memang sudah beranjak hampir jam 2 malam.


"Bagaimana kalau kamu tidur di hotel sini saja, kamu selalu membawa lebih pakaian ganti Rob?"


"Boleh juga Pak, jadi saya bisa menghemat waktu," kata Robby tanpa basa-basi.


"Ya sudah pesan saja kamar," ucap Eddyson mulai membuka kemejanya dan mengganti dengan baju tidurnya.


Robby pun keluar dan menuju reseptionis. Dia hanya memesan kamar standar untuknya. Ketika mereka mulai berlayar di pulau kapuk, Alcenna tidur dalam gelisah. Butiran peluh hadir membasahi dahinya. Tiba-tiba dia tersentak dan terduduk di ranjangnya. Dia mengusap titik peluh didahinya. Dia menutup wajahnya. Alcenna menangis sendiri di tengah malam yang sunyi.


Setelah puas dalam tangisnya dia berbisik pada dirinya sendiri, "Tidak boleh berlarut Alcenna. Kau yang tahu tak ada yang lebih ampuh mengobati luka hatimu selain dirimu sendiri! Walau orang yang pernah kau cinta menyuruhmu mati, masih banyak yang menginginkan kau hidup! Hilangkan kata-katanya dari pikiranmu!"


Walau hampir setiap malam Alcenna menguatkan dirinya namun setiap malam juga dia selalu tidur dalam gelisah dan tersentak bangun lalu menangis.


Siapa yang sangka ternyata kata-kata mati yang dilontarkan suaminya membekas di hatinya dan membuat tidur malamnya selalu dihantui mimpi buruk. Alcenna selalu melihat wajah dingin suaminya sambil menunjuk dirinya untuk mati.


Setelah puas dalam tangisnya Alcenna bangkit dari tempat tidurnya. Hari sudah menunjukkan 02.30 dini hari. Alcenna mandi, dia lalu berwudhu dan Alcenna memanjatkan doa dalam tangisnya pada Tuhan nya. Dia tidur sebentar dan bangun saat azan subuh. Alcenna dulu sudah tidak sama. Kini di rajin tahajud dan tidak tidur lagi di pagi hari. Setelah shalat subuh dia mengaji sebentar, lalu dia lanjutkan dengan kegiatan apa saja. Entah itu sekedar memasak atau membereskan rumah.


Alcenna terbiasa melakukan itu sejak dia menginjakkan kaki di Bekasi dan bekerja di pabrik.

__ADS_1


**//**


__ADS_2