
Mama Ningrum telah mengabari Robby jika Alcenna dirawat inap di rumah sakit CMK. "Nanti setelah siap urusan baru katakan pada ayah dan suaminya jika dia rawat inap," tulis pesan mama Ningrum.
Jam sembilan malam urusan kantor baru selesai. Robby, Eddyson dan papa Hans masih diruangan Eddyson.
"Jadi Son, papa rasa gitu saja dulu caranya. Ini keatas kamu kompromi sama papa, biar papa bantu urus. Kamu jangan sampai mengabaikan istrimu. Mamamu ikut sedih. Gadis itu begitu memikat mamamu," gurau papa mengurangi ketegangan syaraf Eddyson.
"Makasih Pa, aku bukan tak hargai Papa. Aku hanya tak ingin menyusahkan Papa. Aku ingin Papa bahagia dimasa tua Papa."
"Papa bahagia jika melihat kalian semua bahagia. Tak ada lagi yang ingin Papa capai selain melihat anak-anak Papa bahagia. Termasuk kamu kini Rob, kapan kamu mau memberikan papa menantu?" tanya papa Hans serius.
"Nantilah Pa."
Robby sangat senang, sejak pulang dari seoul honeymoon papa Hans merubah panggilan dirinya ke Robby. Robby merasa punya ayah jauh di rantau orang. Walau dengan Eddyson dia tetap memanggil bapak. Sangat susah baginya mengikuti panggilan Alcenna pada Eddyson.
"Pa, Pak tadi mama Ningrum pesan. Jika selesai kita diminta ke rumah sakit CMK." Perkataan Robby menuai rasa terkejut pada mereka berdua. Terutama Eddyson.
"Kenapa baru bilang Rob?"
"Mama pesan tak ada yang mengkhawatirkan. Mama masih bisa handle."
"Ayo, jangan buang waktu," ajak papa Hans.
*****
Kamar rumah sakit ....
Eddyson menyalami mamanya dan langsung memeluk Alcenna.
"Mas, busuk belum mandikan?" nada manja istrinya terdengar tanda kekecewaannya telah hilang.
"Tak sempat sayang, begitu Robby ngasih tahu kami langsung kesini," ucap Eddyson melonggarkan pelukannya. Dia masih ingin memeluk istrinya. Dia masih merasa bersalah pada istrinya.
"Maafi mas ya, padahal mas ingin kamu bahagia malah memberi derita."
"Iya, makanya sepahit apapun jujur saja Mas, itu jauh lebih baik."
"Iya Mas janji."
"Pa, kak Robby makasih ya. Maaf nyusahi Papa dan Kakak," kini giliran Alcenna meminta maaf pada mereka berdua yang duduk di sofa bed,tadi Alcenna juga telah meminta maaf pada mamanya.
"Tak ada yang merasa disusahi Nak," kata papa Hans dengan lembut. Robby membenarkan dengan memberi anggukan.
"Ya sudah sebagai hadiahnya, Alcenna akan memberikan kita cucu Mas," kata mama dengan suka cita.
Eddyson langsung menatap mata Alcenna. "Benar sayang?"
"Iya mas, sudah empat minggu," ucap Alcenna senang.
"Lihatlah Mas, anakmu selalu kejam padaku. Dia tidak percaya pada ucapanku," gurau mama Ningrum pura-pura kesal. Papa hanya tersenyum melihat istrinya.
"Selamat ya Cenn, kakak akan punya keponakan muka datar plus manja. Robby membayangkan perpaduan sifat Eddyson dan Alcenna yang kental melekat.
"Makasi Kak, tolong kakak yang kasih tahu ya sama Putri. Aku lagi malas pegang ponsel." Eddyson sudah sangat paham dengan sifat istrinya jika lagi sakit.
__ADS_1
"Ok, kalau gitu aku pamit ya Pa, Ma."
"Ok, hati-hati. terima kasih ya," mama yang menyahuti.
"Kami pulang dulu la ya, papamu pasti lelah," kata mama.
"Iya Ma," ucap Eddyson masih memeluk Alcenna.
"Kamu mandi dulu, jangan menulari virus sama anak dan calon cucu mama," Sengit mama.
"Bentar lagi Ma, masih suprise dan kangen," ucap Eddyson membela dirinya.
"Mama mau peluk juga loh," ucap mamanya lucu.
"Tadikan mama lama dekat Alcenna, masa gak peluk-peluk," protes Eddyson. Papa stres melihat anak-istrinya berkelakuan macam anak-anak. Akcenna merasa sangat senang.
"Belum puas mama meluknya," goda mamanya.
" Udah sayang, kita pulang. Asyik ganggu mereka saja kamu," bela papa Hans.
"Mandilah kamu, itu baju kamu sudah diantar pak Hasim."
"Iya mandilah Mas."
"Mama pulang sayang, nanti biar mama yang telfon ibumu ya," Alcenna mengangguk.
*****
"Belum sayang," kata Eddyson serius.
"Kok bisa? Memang rapatnya gak pakai istirahat makan dan shalat?"
"Mas belum makan yang lain sayang," ucap Eddyson menggoda Alcenna.
"Ihhh apalah ni."
"Malam ini tak bisa tidur peluk kamu, ranjangnya sempit. Besok semoga udah bisa pulang ya aayang."
"Mas, maafi Alcenn salah sangka," ucap Alcenna pelan.
"Mas yang minta maaf, mas tak ingin nyakiti kamu namun justru tanpa sadar mas malah melakukannya." Eddyson terlihat begitu menyesal.
"Alcenn kira Mas tak sayang lagi. Kirai Mas menyesal___" Eddyson meletakan telunjuknya dibibir Alcenna.
"Jangan punya pikiran begitu lagi. Mas karena mikiri perusahaan tanpa mau kamu susah niatnya. Kamu kenapa hanya diam? tak pernah protes dan tak pernah membantah mas?"
"Karena Mas tak pernah kasar pada Alcenna. Hanya Alcenn merasa Mas dingin dan sedikit acuh," jawab Alcenna.
"Kalau Mas kasar?" pancing Eddyson ingin tahu.
"Aku pasti melawan dan malah lepas kontrol karena emosi," ucap Alcenna sambil nyengir malu sendiri buka rahasia.
"Ohhh jadi besok Mas kasar saja ya biar kamu tidak mendam hasrat," ucap Eddyson sengaja mengalihkan.
__ADS_1
"Kok hasrat?"
"Hasrat melawan Mas," ucap Eddyson nyeleneh.
Alcenna tertawa. Wajahnya kembali riang. Dia kembali mendapatkan semangat apalagi kini calon buah hatinya telah hadir dalam rahimnya.
"Kamu tidak ada ngidam apa-apa sayang?" tanya Eddyson lagi. Seakan ingin dia menebus salahnya pada istri manjanya.
"Tidak," jawab Alcenna pasti.
"Belum mungkin sayang, semoga tak aneh-aneh macam kamu anak kita," kekeh Eddyson.
"Enak saja Mas bilang aneh."
"Kamu emang aneh dari dulu dimata Mas sayang, tapi itu uniknya kamu," Eddyson menunduk dan mencium sekilas bibir istrinya. Dia hanya ingin memanjakan istrinya yang sempat terabaikan.
"Mas tidur lagi yok," ajak Alcenna. Matanya mulai mengantuk.
"Tidurlah dulu, mas tunggui. Nanti mas tidur di sofa." Eddyson membelai lembut wajah dan rambut istrinya. Tak lama Alcenna benar berlayar seorang diri. Eddyson memegang lembut perut istrinya. Eddyson bergumam,"Semoga kamu dan mamamu baik-baik ya Nak. Papa menyanyangi kalian berdua sama seperti menyayangi abangmu yang telah pergi kepangkuan Nya."
Tiba-tiba Eddyson begitu merindukan anaknya. Dia yang terluka karena ketidakpatuhan mama anaknya dulu dan bersedih kehilangan anaknya membunuh rasa itu dengan kerja dan kerja. Hingga Alcenna muncul. Dia berharap bisa hidup dan mempunyai anak lagi. Kini ketika semuanya terwujud malah perusahaan yang terancam bangkrut bahkan Alcenna pun hampir menyerah padanya.
Dia mencium pelipis istrinya. menyelimuti istrinya. Eddyson bergerak perlahan dan membaringkan badannya yang penat di sofa. Mamanya telah menyediakan bantal dan selimut. Eddyson pun menyusul Alcenna berlayar mengejar Alcenna yang telah jauh berlayar.
Pagi hari....
"Rob, aman kalau saya tidak kekantor?" Eddyson menelfon Robby.
"Aman Pak, ada Pak Hans, direksi dan direktur nanti yang urus."
"Ok saya fokus sama Alcenna dulu ya Rob, saya ingin menebus malam-malam dia menangis tanpa saya tahu," ucap Eddyson.
"Iya Pak." Telfonpun ditutup Eddyson.
Eddyson juga sudah bilang sama mamanya dia yang akan jaga Alcenna hari ini. Walau mamanya sempat protes. Namun setelah dia katakan dia ingin menebus waktu yang hilang dan tangis dalam diam Alcenna, mamanya paham.
Alcenna terbangun jam 8 pagi setelah shalat subuh dia kembali tidur. Badannya terasa lebih tak bertenaga.
"Mas tak kerja?"
"Hari ini mas sama kamu saja sayang, papa, Robby dan direksi serta direktur yang urus. Mas disuruh papa jaga anak cucunya."
"Ohhh," Alcenna merasa senang. Dia begitu merindui perhatian Eddyson.
"Sarapan ya? mas suapi." Alcenna mengaangguk.
Baru berapa suap Alcenna mulai merasa mual seperti saat mama menyuap bubur kemarin pagi. Alcenna menahan tangan Eddyson yang memegang sendok berisi bubur dari rumah sakit.
"Kenapa? mual?" tanya Eddyson. Mama sudah mengatakan kalau mungkin Alcenna mulai merasakan morning sickness. Ternyata benar.
"Iya Mas," Alcenna membuangkan kewadah yang diberikan Eddyson. Eddyson akan berniat konsultasi melihat keadaan pagi ini. Eddyson berharap Alcenna bisa pulang. Dia merasa kasihan melihat Alcenna susah beraktifitas karena infusnya.
**//**
__ADS_1