Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Poligami


__ADS_3

Alcenna sudah siap untuk melakukan tindakan medis ESWL. Ayah dan ibunya serta bos Alcenna, pun berkumpul bahkan Putri teman baiknya datang.


"Macam pesakitan tingkat tinggi saja, pada berkumpul," kata Alcenna meringis kecil.


"Ihhh kamu ni kebiasaan ya, sudah diperhatikan malah berisik," Putri menyela dengan sewot.


"Habis, aku berpikir setelah nyeri tidak begitu kurasa karena bantuan obat-obatan penghilang nyeri, aku merasa macam pesakitan yang akan meregang nyawa melihat orang berkumpul ramai-ramai."


"Jangan sembarangan ngomong." Eddyson berkata dengan nada tak senang.


"Maaf," kata Alcenna pelan.


Bukan Alcenna mau menyepelekan sakitnya. Namun jika memandang ke bawah, banyak yang menderita sakit lebih berat darinya dan mereka tabah dan menjalani semua ketentuan ini dengan ikhlas. Alcenna tidak merasa penyakitnya berat.


Satu sisi dia bersyukur ternyata dikelilingi orang yang sangat mencintainya apa adanya. Alcenna juga tak menyalahkan jika Arzon orang yang paling dia harapkan justru tidak ada. Dia berusaha untuk mengerti posisi Arzon yang karyawan biasa.


Kini Alcenna sudah berada dalam ruang tindakan. Alcenna diminta oleh dokter untuk berbaring saja dengan nyaman. Bantal empuk sudah diletakan di sekitar perut dan bagian belakang panggung sebelah kiri. Sesuai dengan posisi tubuhnya yang disesuaikan dengan jangkauan alat ESWL agar gelombang kejut bisa ditargetkan disekitar ginjalnya.


Alcenna sudah diberi anestesi lokal, dokter mulai menggunakan sinar rontgen untuk menentukan lokasi batu ginjal secara tepat. Lalu dokter urologi mulai memberikan gelombang kejut untuk memecahkan batu ginjal hingga menjadi serpihan-serpihan kecil hingga bisa keluar melalui urine. Proses ini Alcenna lalui sekitar 60 menit.


Alcenna lalu diantar balik ke ruang inap. Perawat meminta mereka menunggu 1 sampai 2 jam untuk menghilangkan efek bius dan sebenarnya sebagian pasien sudah boleh pulang dan dilanjutkan dengan rawat jalan.


Namun tentu saja berbeda dengan Alcenna. Alcenna tidak diperbolehkan pulang sampai besok. Dokter memberi saran untuk tetap di sini agar lebih mudah memantau kondisi pasien pasca ESWL. Alcenna sangat tahu dalang dibalik tidak bisa pulangnya hari ini. Siapa lagi kalau bukan bosnya yang posesif. Setidaknya itu gelar yang tepat untuk saat ini.


Saat ini Alcenna masih dalam efek bius. Semua pada makan kecuali bosnya. Dia beralasan gantian pada ibu untuk makan. sementara Putri pulang duluan setelah pamit pada Alcenna.


"Pasti kerjaan Bapak hingga saya tak boleh pulang hari ini?" Alcenna langsung melontarkan tuduhan pada bosnya. Karena yang dia dengar dari perawat, 1-2 jam setelah beristirahat biasanya pasien boleh pulang.


"Sudah biasa kebaikanku jadi prasangka burukmu," katanya dengan lucu. Dia selalu terlihat menggemaskan sejak Alcenna di rumah sakit ini.


"Ngaku saja." Alcenna masih ngotot.


"Iya ... ngaku ...." Dia mulai mengejek dengan gayanya.

__ADS_1


"Tapi terima kasih Pak," kata Alcenna dengan senyum manis. Dia tidak bisa marah setelah penjelasan malam tadi. Alcenna mencoba memahami maksud baiknya. Jadi tak ada guna munafik menolak kebaikan hatinya dan cinta kasihnya.


"Gitu donk, senang hati saya melihat senyum manis yang kamu berikan."


"Pak ... apa orang kantor tidak curiga melihat Bapak tak ada di kantor beberapa hari ini. Pasalnya sudah hampir tiga hari di rumah sakit.


"Itu makanya kamu lambat untuk sembuh, semua mau kamu pikirkan. Kamu tu tahu apa tentang saya Alcenna ... kamu tenang sajalah saya jaga juga nama kamu di depan orang kantor dan istri saya. Tidak mungkin saya mau melibatkan kamu karena perasaan saya yang sepihak." Dia sengaja menekankan kata sepihak pada Alcenna.


"Sebenarnya tidak sepihak Pak, Alcen bukan robot yang tidak punya perasaan ketika perhatian Bapak begitu besar. Pengorbanan Bapak sanggup membuat hati Alcen bercabang dua." Alcenna memutuskan jujur padanya. Setidaknya dia tak berlarut dalam penasaran karena tidak mendapatkan ungkapan balasan cinta dari Alcenna.


"Ohhh jadi ini pembicaraan sama Azarine tempo hari?"


"Iya."


"Saya senang, setidaknya ada rasa cinta sedikit darimu untuk saya."


"Iya, namun ingat ya Pak. Aku tetap akan menikah dengan bang Arzon. Bapak tahukan alasannya?" Alcenna tegaskan biar tak salah paham.


"Tahu ... biarlah semoga doa ibu jadi kenyataan.Tidak sekarang suatu hari nanti," Dia berusaha mencairkan suasana yang sedikit mulai terasa melow.


"Bapak dan Azarine ke mana Bu?" Tanya Eddyson yang mewakili pertanyaan yang ingin Alcenna ajukan juga.


"Bapak dan Azarine pulang istirahat melihat kondisi Alcenna lumayan sudah membaik," jawab ibu.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu. Saya mau ke kantor dan pulang dulu," pamitnya.


"Iya, hati-hati Nak dan terima kasih banyak Nak."


"Ibu jangan sungkan, saya melakukan semua demi Alcenna Bu. Nanti kalau ada apa-apa kabari saya Bu."


***


"Kenapa anak ibu bisa banyak memikat kumbang," gurau ibunya setelah Eddyson keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Tandanya Alcen penuh dengan madu manis Bu."


"Madu apa racun Kak," kata Sammy sambil nyengir.


"Berisik kamu Dek."


"Sudah Sammy, jangan ganggu kakakmu. Kakakmu belum pulih." Ibu membela putrinya.


"Jadi hatimu bagaimana Nak?" Kebiasaan ibu keluar, memulai interogasi pada putrinya.


"Kok hati sih Bu ... pinggang Alcen harusnya Ibu tanya." Alcenna mengusili ibunya.


"Pinggang sudah di obat sama dokter, hatimu yang ibu gak tahu."


"Alcen tetap memilih bang Arzon Bu, jika dia tetap serius. Alcen sedang meminta dia menyelesaikan urusannya. Jika tidak, ya Alcen juga mundur Bu."


"Tetap tidak memilih Eddyson?"


"Tidak akan Bu."


"Iya, ibu setuju. Walau awal keduanya juga pria beristri. Sedikit ada perbedaan, kamu sudah mengetahui dari awal siapa bosmu. Namun jika bisa, kamu carilah yang sendiri, tidak mudah untuk mengurus anak, apalagi yang bukan darah dagingmu. Ayahmu takut kamu tidak bisa ikhlas dalam menyayangi anak-anaknya."


"Alcen yakin bisa Bu. Jangan bahas penolakan lagi jika tentang bang Arzon." Alcenna bersikeras.


"Lalu kapan kamu akan menikah? Ibu takut perasaan bosmu tidak bisa ditahan. Kita tidak bisa tahu perasaan akan bagaimana, setidaknya dengan kamu cepat menikah, kamu tidak menghancurkan pernikahan lain."


"Itu juga yang Alcen pikirkan Bu. Alcen bingungnya bang Arzon belum juga mengurus surat cerainya. Ayah tak mau tanpa surat cerai, harus bagaimana Bu?"


"Ayahmu takut engkau akan tersia-siakan. Walau secara agama dia sudah sah namun secara hukum juga dibutuhkan. Nanti bagaimana kalian mengurus akte kelahiran anak tanpa surat nikah yang sah, itu yang ditakutkan ayahmu."


"Alcen paham Bu, Alcen juga berpikir begitu. Kenapa cinta ini jadi rumit ya Bu?" Alcenna mendesah penuh kegundahan.


"Itu pilihanmu Nak. Jika kamu bisa menolak, kamu berarti telah memilih jalan lain, namun kamukan nyatanya tidak bisa menolak. Sama seperti bosmu itu, ibu gak tahu apa yang menarik sama kamu sampai rela berkorban begitu banyak tanpa mengharapkan kamu cinta dan bisa hidup bersamanya." Ibu masih geleng- geleng tak percaya.

__ADS_1


"Alcen juga tak tahu Bu. Sekarang Alcen ingin cepat keluar dan ingin bang Arzon cepat pulang dari luar kota, ingin meminta kepastiannya. Kalau tidak juga Alcen kawin sama bos sajalah Bu, pusing. Toh bos janji dia tidak menceraikan istrinya dan akan adil. Poligami tak haram." Ibu hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan putrinya yang seperti orang mabuk.


**//**


__ADS_2