
Sore ini Alcenna baru sampai di rumahnya. Dia baru siap mandi dan berganti pakaian rumah. Terdengar pintu di ketuk. Alcenna membukanya. Alcenna sangat tidak percaya jika yang sedang berdiri di depan pintunya adalah orang yang bertahun lalu ada untuknya.
"Kaget saya tahu keberadaanmu?" Eddyson sengaja bernada sinis.
"Tidak, apa yang tidak bisa buat Bapak? Tapi kenapa baru sekarang!" Desis Alcenna dingin dan tajam. Eddyson terdiam. Sebilah belati tajam serasa ditusukkan ke dada Eddyson. Perasaannya membuncah jadi satu di hatinya.
Perkataan tajam Alcenna memang menusuk jantungnya. Seolah mengatakan kenapa baru sekarang mau tahu setelah dia hancur. Eddyson hanya bisa berkata, "Maaf."
"Tak ada yang perlu dimaafkan."
"Boleh saya masuk?" kata mantan bosnya tidak menggubris sikap Alcenna. Sejak dia memutuskan nekat bertemu. Eddyson sudah bersiap dengan sikap terburuk Alcenna.
Alcenna bergeser memberikan ruang. Mengizinkan mantan bosnya masuk. Mereka duduk hanya di lantai yang di alas karpet tipis. Sekali lagi Eddyson merasa miris melihat hidup kesayangan hatinya.
"Apa tujuan Bapak kemari? Tak perlu saya cerita, pasti Bapak sudah tahu pasti apa yang terjadi!" Tak ada keramahan seperti dulu dari Alcenna.
"Saya sudah tahu."
"Tak perlu sok baik!" desis Alcenna kejam.
"Saya tidak mau kamu terpuruk seperti ini," suara Eddyson terdengar lembut dan mengalah.
"Saya menolak! Saya tidak sudi berhubungan dengan suami orang lagi!" Desis Alcenna lebih tajam.
Eddyson bersabar. Dia tahu pasti Alcenna menekan semua emosinya. Dia mengikuti ke mana arah pikiran dan pembicaraan Alcenna.
"Saya tidak berlaku sebagai suami orang, saya kini hanya menganggap kamu adik mungil saya. Tak lebih!" tegas Eddyson mencoba menembus pandangan Alcenna.
"Saya juga menolak itu!" sinis Alcenna.
"Alceena, kamu jangan keras hati seperti ini. Tidak perlu menghancurkan diri jika kamu masih bisa bangkit." Eddyson masih berkata dengan lembut. Dia sengaja tidak mengungkit apapun soal masa lalu. Dia hanya fokus untuk Alcenna bangkit dan keluar dari tembok tinggi dingin yang dibangunnya.
Alcenna terdiam sejenak, namun hati kecilnya masih susah untuk di ajak kompromi. Masih terngiang kata mati di telinganya, masuk ke pikirannya dan menetap di sudut hatinya. Apa bisa dia bangkit jika suaminya saja menyuruhnya mati. Alcenna bergulat dengan emosinya. Itu tak luput dari perhatian Eddyson.
Alcenna kembali menekan perasaannya dan memaksa masuk kembali ke tembok yang dia bangun. Rautnya kembali dingin. Eddyson kembali melihat dengan jelas.
Eddyson pria yang berpengalaman terhadap reaksi relasinya. Selain itu Alcenna orang yang spesial di hatinya. Melihat emosi dan reaksi Alcenna yang bertukar-tukar cukup jelas baginya untuk mengambil langkah. Alcenna harus dikerasi dan dipaksa untuk keluar dari tembok dingin itu.
"Kamu pindah ke Jakarta! Selain dekat dengan adikmu saya lebih gampang untuk memaksa kamu di sana!!" Eddyson mulai memancing emosi Alcenna dengan sikap arogannya yang pasti tidak disuka Alcenna dalam kondisi ini.
Alcenna terpancing amarahnya dengan sikap mantan bosnya. Namun itu jauh lebih baik dari pada Alcenna seperti patung es. Itu juga tujuan awal Eddyson. "Apa hak Bapak atas diri saya!" Alcenna membuat batas dengan ber-saya ke badannya.
"Saya memang tak punya hak lebih. Jika kamu menolak saya akan membunuh priamu itu!" ucap Eddyson terus memancing amarah Alcenna.
"Bunuhlah jika bisa. Aku bersyukur ada yang melenyapkannya!!" Alcenna kembali dingin. Reaksinya berubah dengan cepat. Menandakan gejala emosi yang tidak stabil, dan itu tidak baik. Eddyson tidak mau menyesal untuk kedua kalinya. Dia terus mencari cara.
"Kalau ancaman itu tidak berhasil, maka aku bisa membunuh ibumu!" ucapnya serius. Namun jauh di dalam hatinya dia berdoa cara ini bisa berhasil membawa Alcenna keluar dari Bekasi.
__ADS_1
"Bapak tidak mungkin melakukan itu!"
"Siapa kira? Saya akan melakukan apapun membawa kamu keluar dari sini!"
"Apa yang akan Bapak lakukan?"
Eddyson mengeluarkan ponselnya dan memutar video tentang dirinya. Alcenna terpana melihat ekspresi dirinya sendiri.
"Kamu lihat, aku akan membunuh ibumu secara perlahan dengan melihatkan videomu. Kini kamu hanya dua pilihan, ikuti saya atau ibumu akan memikirkan sikapmu sepanjang waktu. Jika pikiran seseorang terganggu itu akan lebih mudah membuatnya sakit. Saya rasa kamu tidak mau itu terjadi!"
Alcenna tidak perlu berpikir dua kali jika itu demi kesehatan dan kebahagiaan ibunya. Rasa marah dan tidak berdaya karena ditekan Eddyson membuat tembok yang dibangun runtuh seketika. Alcenna menangis untuk kedua kalinya setelah dengan Putri, dan mencair sedikit demi sedikit kebekuan hatinya. Kini patung es itu mulai mencair walau belum sepenuhnya. Mencair karena kemarahannya.
"Kalian semua memang egois! Kalian tidak bisa membiarkan aku hidup bahagia! kenapa kalian jahat padaku!" Alcenna merasa terpojok. Dia melampiaskan pada Eddyson. Eddyson hanya diam.
"Bapak benar, ternyata aku tidak bahagia bersamanya. Aku capek, bertahun batinku tersiksa. Aku tak punya tempat untuk bercerita. Aku ingin keluar dari masalah tapi semua terasa buntu. Tak ada tempat aku untuk berkeluh kesah," Alcenna menunduk dan masih berlinang air mata. Mengeluarkan semua racun di hatinya.
Eddyson tak tahan melihat Alcenna terus memukul dadanya saat melampiaskan emosinya, dia merengkuh Alcenna dalam pelukannya. Dia membiarkan kemejanya basah dengan air mata Alcenna. Lama Alcenna hanya menangis.
Lalu diantara isak tangisnya dia kembali berkata dengan terbata-bata, "Bukan aku yang datang pada Bapak, dan mengatakan aku tidak bahagia. Bapak tidak boleh memaksa aku jadi istri kedua!"
Ingin Eddyson tergelak ditengah rasa aedih dan bersalahnya, namun tidak dilakukannya. Dia tak pernah menyangka jika kata istri kedua begitu ditolak Alcenna. Eddyson bersyukur tembok itu telah runtuh. Dia tinggal memulihkan luka hati Alcenna hanya sebagai abang yang diinginkan Alcenna. Jika dulu dia tidak mau kini dia bisa melakukan dengan ikhlas.
"Panggil Mas kalau gitu, jangan Bapak lagi. Rasa pedofilia gila saya kalau kamu panggil Bapak," ucap Eddyson dengan lucu mengalihkan perasaan sedih Alcenna.
Senyum Alcenna terbit, walau hanya terlihat samar. "Nanti aku kursus kilat, Pak!"
Alcenna benar tersenyum dan itu membuat Eddyson mengucapkan syukur. Perhitungan nekatnya untuk bertemu, membuahkan hasil.
"Kemaskan baju kamu saja, saya sudah minta Robby carikan rumah yang tidak terlalu besar untuk kamu."
"Tapi saya masih kerja Pak ___"
"Serahkan sama saya dan Robby. Nanti saya carikan yang sesuai dengan basic kuliahmu." Nadanya kembali tidak bisa di bantah. Alcenna lupa masuk kembali ke tembok dinginnya atau sekedar memasang kembali topengnya. Alcenna sibuk dengan kesal hatinya karena kembali dipaksa-paksa.
"Bapak sama seperti Putri, tukang paksa."
"Untuk gadis keras kepala sepertimu memang butuh orang pemaksa."
"Saya bukan gadis lagi Pak!"
"Bagi saya kamu tetap gadis kecil saya, gadis kesayangan saya, gadis saya yang keras kepala keras hati! dan biasakan panggil mas. Saya tidak mau orang memandang kamu aneh karena manggil bapak tapi terlihat manja," ucap Eddyson.
"Ganti baju, kita pulang ke Jakarta!" titahnya lagi.
"Hmmm ...." Alcenna beranjak menuju kamarnya. Berkemas. Senyum Eddyson mengembang.
"Robby, kemari. Sudah aman dan Alhamdulillah lancar. Terima kasih." Robby yang penasaran sudah mendengar semuanya.
__ADS_1
Selesai memasukan pakaiannya ke kopor dan surat penting seperti awal dia masuk, kini begitu juga dia keluar.
"Mas Robby," sapa Alcenna sedikit lebih ramah.
"Apa kabar Mas?"
"Baik."
"Tunggu ada yang salah nampaknya di sini sama kalian berdua!" ucap Eddyson dengan serius.
"Apa Pak?" tanya Alcenna bingung. Robby hanya berkerut kening tak mengerti.
"Kamu, ya kamu tepatnya yang salah Cenn!"
"Salah apa?"
"Panggilan kamu itu terhadap Robby, mulai sekarang panggil dia kakak atau abang, saya mas kamu. Panggilan 'mas' hanya untuk saya! Kalau kalian menolak Robby saya pecat!! Saya serius!" Posesifnya ternyata tidak hilang.
Robby tersenyum sementara Alcenna cemberut. Dia selalu kalah kalau sudah di paksa dengan ancaman orang terdekat.
"Iya sudah, aku manggilmu kakak saja. Aku tak punya kakak di atas dunia ini. Aku cuma punya MAS GILA!" ucapnya. Robby tergelak dan gantian Eddyson yang merengut.
"Angkat Robb, panas di sini. Lebih panas lihat gadis satu ini!" Eddyson sengaja terus memainkan emosi Alcenna.
"Aku bantu Kak," ucapnya.
"Tak usah, biar Kakak saja."
Eddyson masih cemberut. Mereka berdua bisa dengan cepat menukar panggilan. Sementara Alcenna masih memanggil 'bapak' padanya. Diapun protes.
"Cepat juga ya bisa merubah panggilan?"
Alcenna dan Robby bertukar pandang. Robby mengalah, dia mengambil kopor Alcenna dan membawa serta memasukkan ke bagasi belakang.
Alcenna duduk di samping Eddyson. Robby mulai melajukan mobilnya. Alcenna tertidur di tengah perjalanan. Eddyson menariknya dan memeluk Alcenna yang terlelap. Dia mengecup pucuk kepala gadis kesayangannya.
"Rumahnya sudah diuruskan?"
"Sudah Pak, sudah saya transferkan untuk dilakukan pembayaran kontrak rumah malam ini juga."
"Syukurlah kita bergerak cepat Rob."
"Maksud Bapak?" Robby berpura tidak tahu apapun.
"Dia baru saja membangun dinding-dinding pembatas untuk menyembunyikan luka hatinya. Selain itu aku memiliki ibunya untuk mengancam dia keluar."
Robby tak ingin bertanya terlalu jauh jika bosnya tidak melanjutkan ceritanya. Robby fokus menyetir. Dari kaca spion tak henti bosnya mengawasi Alcenna. Entah apa yang di pikirkan bosnya. Robby tak menyangka waktu bertahun bisa memisahkan dan menyatukan kembali. Walau kini entah apa arti hubungan mereka berdua.
__ADS_1
**//**