
Jika Eddyson sibuk dengan urusannya di Bekasi, kedua gadis tersebut memang menikmati hidup tanpa beban. Mereka sekedar cuci mata, tidak sibuk shoping seperti sebagian wanita di usia mereka. Mereka berdua menolak ketika ditawarkan. Mereka merasa tidak membutuhkan membeli sesuatu.
"Cen, lihat, sebentar lagi akan dibuka mall baru di sini."
"Iya, besok aku melamar kerja di sini, sambil melamar bujangan sini." Jawaban Alcenna menuai pandangan aneh Robby yang diminta menemani kedua gadis itu untuk melihat kota Bekasi.
"Aku rasa takdir kau memang tidak sama bujangan," sambung Putri lagi.
"Ihhhh, apaan sih!" Alcenna menarik rambut Putri yang duduk di sebelah Robby.
"Sakit," keluh Putri.
"Rasain situ!" Robby hanya bisa mengeluh di dalam hati. Apa yang dilihat bosnya dari gadis muda yang tidak ada feminimnya.
Urusan selesai, siang hari mereka balik ke Jakarta dan langsung di antar Robby ke bandara. Kini mereka bertiga telah mendarat di kota tempat mereka mencari hidup.
Arzon masih mendiami Alcenna. Namun dia tak terlalu bersedih hati, menanti tiga bulan ke depan sambil menguatkan hati.
Hari-hari Alcenna sibuk dengan bekerja dan bermain bersama Putri. Bosnya tidak terlalu ada buat Alcenna. Eddyson sibuk mempersiapkan perusahaan baru dan kepindahan pada akhir bulan. Alcenna tidak terlalu ambil pusing. Kata gadis itu pada sahabatnya, hidup itu singkat, mana yang bisa buat bahagia jalani, yang sedih tinggali. Sekarang gadis itu memang bisa berprinsip seperti itu, siapa sangka suatu hari nanti tidak lagi.
Hingga tak terasa dua minggu kemudian, Arzon menelepon dan mengajak bertemu di jam makan siang. Selama kepulangan Alcenna dari Jakarta tak sekalipun arzon ada kabar. Alcenna juga tahan hati untuk tidak menghubungi. Bukan karena tahan gengsi namun supaya Arzon bisa jernih dalam mengambil keputusannya.
"Hallo Cenn ...."
"Hallo."
"Maafkan abang Cenn, sudah egois denganmu selama ini."
"Ya Bang, gak apa. Aku mungkin juga kurang pengertian dan asyik dengan duniaku pula."
"Kamu lagi dimana?"
"Di toko jalan Teuku Umar, Bang."
"Abang tunggu nanti siang di rumah makan biasa ya, kita makan siang sama-sama ."
"Iya Bang, ok."
***
"Hai Bang, gak ngajak ributkan? Alcenna penat harus berantem terus sama Abang," ucapnya ketika duduk manis di sebuah rumah makan.
"Gaklah, tapi abang boleh tanya satu hal? Janji Alcenn gak marah, abang hanya ingin tahu perasaan Alcenn," ucapnya kembali lembut yang membuat hati Alcenna juga melunak.
"Soal apa Bang? Soal bos Alcenn?"
__ADS_1
"Iya, abang ingin tahu sebenarnya perasaan Alcenn gimana sama dia?"
"Jujur ya Bang, Alcenn cinta sama Abang. Sama bos Alcenn gak tahu perasaan gimana, yang Alcenn tahu hanya senang dan bahagia saja karena diperhatikannya. Apalagi kadang kala Abang tidak ada untuk Alcenn. Dia selalu ada Bang, siapa yang gak luluh diperhatikannya Bang, ketika jiwa Alcenn kadang hilang arah." Lugas dan jujur perkataannya.
"Jadi itu saja?"
"Itu saja yang Alcenn rasa Bang. Waktu ke Jakarta, Alcenna hanya ingin melupakan sejenak gelisah hati ini. Makanya Alcenn bawa Putri. Alcenn tidak ada macam-macam Bang."
Iya, Abang minta maaf cemburu buta."
"Iya wajar Bang, Alcenn paham dan gak bela diri deh, hanya saja Alcenn sakit hati saja sejak Abang pakai kata kau. Jadi gimana Bang? Apakah Abang akan memutuskan Alcenn?"
"Hmmm .... " Dia hanya mendehem kecil. Arzon melihat sikap Alcenna mengatakan 'memutuskan' tanpa ada beban. Arzon tak bisa mengerti jalan pikiran gadis itu.
Sebelum salah paham tambah besar, Alcenna menjelaskan, "Asal Abang tahu sebelum memutuskan, Alcenn minta cepat kita menikah karena benar ingin menghindari bos Alcenn, kekanakan emang. Namun tak tahu lagi bagaimana cara menolaknya Bang. Dia selalu ada dan selalu perhatian, itu membuat Alcenn kadang merasa bersalah padanya. Alcenn tetap tak bisa membalas perasaannya, namun hati ini kadang lemah, apalagi ketika kita ada masalah."
"Abang paham, usia kamu mungkin masih labil. Abang yang kurang mau mengerti kamu. Sejak kita sering kelahi Abang berpikir di mana salahnya sehingga kamu sedikit jadi bertemperamen jelek."
"Jadi di mana salahnya Bang?" tanya Alcenna memang tidak mengerti di mana salahnya.
"Salahnya ... Abang tak mau tahu dengan apa yang kamu pikirkan. Apa yang sedang kamu alami, secara tak sadar, Abang malah mendorong kamu semakin lelah dan menjadi panik. Makanya kelakuanmu terasa menjadi- jadi di mata Abang dan pikiran Abang tak jernih, ditambah masalah Abang yang tak selesai," terangnya.
"Ohhh," hanya itu jawaban Alcenna. Alcenna juga tidak paham yang dia rasakan. Dia hanya merasa tak berdaya dengan semua yang terjadi.
"Jadi Abang bukan mau mutuskan ceritanya ngajak jumpa ni?" Alcenna menagih jawaban.
"Ohhh."
"Tapi Alcenn yakin besok betah di rumah setelah menikah? Abang tak suka Alcenn banyak main seperti sekarang, boleh pergi keluar tapi sama abang. Abang tak terlalu suka Alcenn pergi bersama teman."
"Bisa Bang, Alcenn yakin kok."
"Baguslah kalau begitu."
"Boleh ya Alcenn berhenti bekerja setelah menikah, Alcenn ingin jadi istri dan ibu yang baik saja di rumah."
"Itu lebih baik dan abang lebih suka." Lalu Arzon tersenyum lembut. Senyum yang hilang beberapa bulan terakhir ini, karena hari-hari mereka lebih sering di warnai dengan percekcokan.
"Abang sudah mulai menyelesaikan secara hukum, Alcen sabar ya."
"Iya deh Bang, lagian Abang tenang saja. Akhir bulan ini bos Alcenn pindah kok."
"Ohh ya? Ke mana si arogant pindah?"
Alcenna tersenyum, mereka saling memberi gelar. "Jakarta Bang."
__ADS_1
"Alcenn gak ikut?"
"Kenapa harus ikut? Apa abang ingin Alcenn ikut dia?" Alcenna membalikkan pertanyaan Arzon.
"Syukurlah kalau Alceen tidak ikut dan tidak punya perasaan lebih."
"Alcenn hanya simpati saja Bang, tapi kalau lama-lama bisa jadi juga Bang. Bukannya cinta tumbuh seiring waktu karena saling berdekatan. Makanya Alcenn batas itu dengan kita menikah atau Alcenn berhenti. Jika masih sering bertemu susah menolak kebaikannya."
"Iya maaf, dia sebenarnya menelfon Abang."
"Apaaa ... untuk apa Bang?" Alcenna setengah berteriak.
"Dia bilang kalau Abang benar mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu, abang disuruh menurunkan ego Abang. Dia juga mengakui terus terang dia mencintaimu namun itu hanya perasaan sepihaknya. Dia juga mengancam abang, akan benar merebut kamu jika abang hanya membuat kamu menangis."
"Oooow ... jadi Abang benar sayang sama aku ni?" Alcenna kembali ber 'aku' ke badannya. Kecanggungan dia hilang dan dia memasang raut wajah lucu.
"Sayanglah."
"Jadi Abang tak marah waktu dia nelfon mengatakan terang-terangan cinta sama aku?"
"Abang hanya panas awalnya, namun seperti katamu itukan perasaan dia padamu. Bosmu arogan, abang takutnya dia benar mewujudkan kata-kata gilanya itu." Alcenna tertawa mendengarnya.
"Kamu tahu gak, abang besok harinya langsung dipanggil orang kantor abang loh siap mengancam bosmu waktu di rumah sakit."
"Masa sih Bang, apa kata orang kantor?" Alcenna terkejut mendengarnya. Dia tidak mengetahui hal ini.
"Bos abang bilang, "Apapun masalah kamu sama pak Eddyson, lebih baik hindari saja! Dia memang terkenal baik namun sikapnya yang kaku tidak main-main kalau dia merasa terdesak!"
"Terus?" cecar Alcenna semakin penasaran.
"Abang juga baik di mata bos. Dia tidak menanyakan cuma mengingatkan abang jangan cari masalah saja sama bos aroganmu."
"Maaf ya Bang, karena aku."
"Gaklah sayang, itu karena abang juga yang merasa paling benar. Abang bersyukur dia yang mencintai kamu dengan tulus, kalau tidak pasti jalannya sudah salah si arogan itu."
"Aku bersyukur dia mengembalikan Abang seperti dulu, Abang yang selalu ada dan memberi rasa nyaman."
"Kita tunggu semua selesai ya, setelah itu mari kita menikah." Akhirnya ajakan menikah Arzon datang juga. Bahagia rasa hati Alcenna tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata.
"Oke Bang," jawabannya singkat yang membuat Arzon mengajukan pertanyaan padanya.
"Alcenn gak senang?"
"Tidak Bang ...." terlihat perubahan diwajahnya. Lalu Alcenna sambung, "Tak senang Bang, tapi lebih dari senang. Aku bahagiaaa sekali," tutur Alcenna dengan senyum menawan yang dia punya.
__ADS_1
"Makasih sayang."
**//**