Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Jangan Cerita Apapun


__ADS_3

"Alcenn, mas bilang buka matanya!" tegas Eddyson. Namun seakan tak mendengar Alcenn masih tetap dengan mata terpejam.


Eddyson mengangkat tubuh Alcenna. Niat hatinya ingin mendudukan Alcenn, dan menopangkan pada tubuhnya. Namun seakan tak bertenaga tubuh Alceena luruh dan lunglai dalam pelukan Eddyson. Putri shock melihat keadaan Alcenna.


"Put, cari sapu tangan atau handuk kecil di kamar Robby!" tegas Eddyson yang menyadarkan Putri akan keadaan Alcenna yang kuyub dengan keringat.


Putri sambil menuju ke kamar Robby menelfon, "Ada apa Put?"


"Kak ... pinjam handuk kecil atau handuk bersih Kakak? Ada?" tanya Putri panik.


"Untuk apa? Alcenna basah kuyup dengan keringat Kak, sementara matanya terpejam sambil keluar air mata, aku sudah di kamar Kakak, maaf. Di mananya handuk, Kakak letakan!"


"Ambil di lemari tengah paling atas," Robby yang belum jauh meminta supir taksi putar arah. Dia bisa melihat rekaman CCTV kantor besok untuk memastikan apa pria tua yang dikatakan bosnya masih memata-matai.


"Ini Pak." Putri memberi handuk besar pada bosnya.


"Ambil minum Put."


Eddyson mengelap keringat dan air mata Alcenna. Sambil menepuk lembut pipi Alcenna dia meminta Alcenna membuka mata. "Cenn, dengar mas, buka mata dulu. Jangan paksa apa yang tidak bisa Alcenn lakukan. Cepat sayang ... buka matanya dulu." Air mata Alcenna semakin deras keringat semakin banyak. Eddyson bisa merasakan baju Alcenn yang mulai lembab.


"Pak ada apa?" Robby kembali, dan Eddyson tidak peduli kenapa Robby kembali.


"Mungkin dia trauma Rob. Dia memaksa kuat namun hati kecilnya berontak," ucap Eddyson tenang.


Putri kembali dengan membawa segelas air Putih. Dia menyodorkan pada bosnya. Robby hanya diam terpaku. Sungguh dia tak menyangka begitu besar penderitaan batin Alcenna.


"Put coba kasih minum ke dia, saya tak bisa melepaskan dia, dia tidak bertenaga sedikit pun," perintah Eddyson dengan masih bersikap tenang. Alcenna masih berada dalam pelukannya.


Air minum tidak bisa lewat setetes pun. Walau Putri sudah memakaikan sendok meneteskannya. Seakan Alcenna pingsan dalam tidurnya. Eddyson tidak punya cara lain. Eddyson mencoba memeluk kuat Alcenna, Bangun sayang, buka matanya. Ada mas, ada Putri ada Robby di sini. Jangan takut.


"Coba biarkan Pak. Apa Alcenna sering seperti ini ya Pak?" tanya Putri.


"Maksudmu Put?" tanya Robby.


"Apa Alcenna sering begini jika jatuh tertidur? Seperti ada luka yang tak kasat mata Kak. Mungkinkah Alcenna sebenarnya trauma ya Kak?"


"Saya yakin iya. Bahkan mungkin malam-malam Alcenna sering begini," ucap Eddyson.


"Apa itu dia bangun buat kue di subuh buta ya Pak, karena dia tidak bisa tidur atau terbangun ditengah malam," Putri mereka-reka. Mereka hanya diam menunggu reaksi Alcenna selanjutnya. Terlihat Robby mengusap mukanya. Putri masih saja tegak didekat Eddyson yang sedang memeluk Alcenna.


Alcenna belum merespon sekelilingnya. Namun tak berselang lama, telah ada pergerakan dari tubuhnya. Alcenna mulai gelisah dan keringat masih terbit di pori-pori kulitnya. Eddyson membiarkan Alcenna bergerak gelisah. Dia tidak lagi memanggil. Dia yakin sebentar lagi Alcenna akan sampai pada titik traumanya. Jika memang dia memang ada trauma.


"Memang brengsek suaminya! Ingin saya membuat perhitungan dengannya!" geram Eddyson. Dia yakin penyebabnya, pria yang pernah menjadi suami Alcenna.


"Rob, apa tanpa kita bertanya masalahnya, bisa menggugat pria tak bertanggung jawab itu!" tanya Eddyson masih dengan nada geram.


"Saya rasa kalau uang yang bicara tidak ada yang tidak bisa Pak," ucap Robby.

__ADS_1


"Kamu benar, pakai itu saja Rob. Dari pada dia terbeban seperti ini. Padahal mulutnya dengan ringan mengucapkan ingin mengurusnya."


"Iya Pak, dia terlihat gelisah ketika kita katakan dia harus cerita apa masalahnya, agar pengacara mudah mengurusnya. Itu artinya ada yang tidak ingin dia katakan dan dia pendam sendiri," ucap Putri.


"Hmmm ... kamu benar Put. Apa perlu kita bawa dia konseling ke Psikolog Rob?"


"Saya kurang paham soal itu Pak," ucap Robby lemah.


"Rob, bagaimana. Baju Alcenna basah. Dia bisa masuk angin."


"Coba aku telfon Sammy dulu, dia bisa tidak mengantar baju Alcenn," ucap Putri.


"Jangan Put, Sammy mungkin juga tidak tahu keadaan kakaknya, kita saja yang atasi. Kamu sudah telfon telat pulang?" Eddyson mengingatkan Putri.


"Sudah capek Papi soal jam pulang saya Pak, tapi saya sudah selalu ingatkan Papi untuk percaya, kalau putrinya ini bisa dipercaya."


"Ohh."


"Apa saya mintakan antar baju saja satu set pada butik langganan saya Pak?" solusi Putri.


"Ya Put, itu saja," ucap Eddyson masih tetap mengawasi Alcenna.


Alcenna akhirnya tersentak seperti malam-malam yang dia lalui 8 bulan lalu. Sudah hampir tiga minggu ini dia tak bermimpi buruk.


Alceena membuka mata dan mengusap keringatnya. Dia belum sepenuhnya sadar. Dia menutup matanya kembali dan menangis Menuangkan emosinya yang terpendam.Dia akan merasa lebih tenang dan lega. Namun pelukan yang hangat walau bajunya terasa lembab membuat dia merasa lebih tenang. Dia sadar jika dia ternyata dalam pelukan Eddyson. Hanya satu kata yang diucapkannya, "Mas".


"Put, bawa Alcenna ke kamar Robby dulu, buka bajunya, sampai baju gantinya tiba."


***


"Makan dulu, nanti biar mas antar kamu. Putri biar Robby yang antar," titah Eddyson.


"Saya bisa sendiri Pak," bantah Putri.


"Sudah jam 10 malam, jangan banyak bantahan!" ucapnya tegas. Putri hanya merengut.


Robby menyenggol pelan bahu Putri dan memberikan kode jangan sampai membantah lagi. Semua demi keselamatan.


Eddyson nekat sampai di mananya. Dia tak mungkin membiarkan Alcenna tidur di apartemen tanpa ada Putri.


Robby memesan dua taksi, Alcenna sudah lebih segar. Mereka sudah di taksi masing-masing. Taksi pun berbelok kearah yang berbeda. Rumah Putri dan Alcenna memang berbeda arah.


"Mas ... jangan cerita apapun pada Sammy."


"Mas tahu," ucap Eddyson meremas lembut tangan Alcenna seakan memberikan kekuatan.


"Kamu sering begini?" tanya Eddyson pelan.

__ADS_1


"Dulu Mas, sudah tiga minggu ini tidak ada sebenarnya."


"Kamu mau Mas bawa ke Psikolog?"


"Tak perlu Mas, walau aku bukan Psikolog. Aku tahu sedikit banyak masalah yang aku hadapi Mas. Aku hanya butuh waktu dan dukungan saja."


"Mas akan bantu. Kamu harus percaya sama mas. Apalagi kamu sudah tahu semua cerita tentang mas. Tak ada lagi yang harus jadi beban di hatimu. Tuangkan semua ke mas, kamu paham?"


"Iya, aku paham."


"Mas gak akan tanya, tapi kamu yakin bisa mengatasi tanpa bantuan psikolog?" Alcenna mengangguk dengan pasti.


"Mulai malam ini tidak perlu mikir soal sidangmu. Robby akan urus tanpa melibatkanmu."


"Memang bisa Mas?"


"Apa yang gak bisa, masmu ini banyak duit," ucap Eddyson dengan mengesek jempol dan telunjuknya.


"Kumat sombongnya," ucap Alcenna tak begitu bersemangat.


"Bukan sombong, sok dikit," Eddyson sengaja mengajak Alcenna bergurau.


"Suka hati Mas sajalah."


"Mas tidur rumah kamu saja ya, Sammy ada di rumah."


"Iya, boleh. Pada mutar balik ke kontrakan Mas. Baju Mas mana untuk besok?"


"Besok mas akan susahi Robby lagi," kekehnya. Alcenna ikut tersenyum.


Di rumah Alcenna ....


"Sam, mas tidur di sini ya malam ini. Tadi kami dari apartemen Robby sama Putri."


"Iya Mas, Mas tidur kamarku saja. Aku bisa tidur di sofa."


"Ok, thanks ya."


"Aku ganti baju dulu Mas." Alcenna langsung menuju kamarnya.


"Mas tidurlah ke kamar. Aku besok off, mau nonton dulu." Sammy mempersilakan Eddyson istirahat duluan.


Eddyson melihat Putri sudah hilang dari ruang tamu. Eddyson berbisik, "Nanti ada yang mau mas omongi sedikit sama kamu."


"Soal apa Mas."


"Tunggu kakakmu tidak keluar kamar lagi."

__ADS_1


**//**


__ADS_2