
"Assalamu'alaikum Bu ...." ucap gadis itu ketika sampai.
"Assalamu'alaikum Bu ...." Arzon ikut memberikan salam pada ibu yang menyambut kedatangan mereka.
"Wa'alaikumussalam ... masuklah Nak." Ibu berucap untuk mereka berdua.
Mereka mengikuti ibu dan Alcenna tak melihat ayahnya. Walau ibunya tetap seperti tak ada kejadian dan tetap lembut kepada mereka berdua, hati Alcenna sedikit was-was dengan ayahnya.
Ayah Alcenna memang lembut dan hampir tak pernah marah kepada anak-anaknya. Bukan itu yang dia takuti, bukan kemarahan ayah yang dia takuti tapi kekecewaan beliau yang membuat Alcenna dilema.
Di satu sisi Alcenna tak ingin membuat ayahnya kecewa dan di sisi lain dia juga tak ingin melepaskan apa yang telah dia perjuangkan sejauh ini.
Ibunya tetap seperti biasa, menyuruh mereka istirahat dan mengajak makan malam. Alcenna yakin setelah makan malam, dia akan disidang oleh ayah dan ibunya.
"Arzon ... ibu ingin bicara denganmu empat mata."
"Baik Bu."
Benarkan, akhirnya seperti terdakwa Arzon dipanggil duluan oleh ibu Alcenna, sementara ayahnya tidak kelihatan batang hidungnya dari mereka datang. Kata ibunya, ayahnya lagi istirahat di kamar dan tak mau diganggu.
Alcenna yakin ayahnya menyimpan kecewa, kalau beliau marah ayah sudah menemui dan mendamprat mereka berdua setidaknya pada Arzon.
Setelah Arzon dipanggil, dia pergi mengikuti ibu ke ruang tamu. Alcenna yang penasaran mengikuti sampai ke ruang keluarga. Dari ruang keluarga masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Ibu ada mendapat kabar dari seseorang dan ibu ingin memastikan langsung denganmu Nak." Terdengar ibunya dengan lembut bertanya pada Arzon.
"Perihal saya sudah menikah Bu?" Arzon tak memungkiri apa yang akan ditanya oleh orang tua gadis itu. Alcenna sudah membahas di jalan, bahwa pasti karena sudah mendengar masalah status Arzon.
"Jadi benar berita yang kami dengar Nak?"
"Benar Bu. Saya minta maaf Bu karena telah berbohong."
"Ibu sudah memaafkan kamu Nak, saat ibu mendengar kabar tersebut. Hanya ibu meminta padamu, jangan lanjutkan hubungan kalian. Ibu tidak ingin Alcen dituduh perusak rumah tangga orang. Ibu dan ayah menentang hubungan kalian."
__ADS_1
"Alcen tidak akan dianggap seperti itu Bu, jauh sebelum saya mengenal dia, hubungan saya sudah tidak harmonis lagi Bu, bahkan sudah berkali-kali diambang kehancuran."
"Tapi orang tidak tahu itu, orang tahunya rumah tanggamu hancur karena orang ketiga dan orang ketiga itu adalah anak ibu." Ibu berkeras menentang hubungan mereka.
Arzon hanya tertunduk dan diam. Dia tidak mau berdebat dengan ibu. Bukan sifat dia yang suka berdebat. Jangankan sama ibu yang notabenenya calon mertua yang akan sama nanti kedudukan seperti ibunya. Dengan Alcenna saja hampir tak pernah dia mendebat. Berkebalikan dengan sifat gadis itu, jika tidak setuju dia suka berdebat.
Ibu Alcenna juga diam untuk beberapa saat sampai Alcenna mendengar Arzon berbicara. "Baiklah Bu, jika itu keputusan Ibu, saya akan menjauh dari Alcen. Maafkan saya yang selama ini sudah membuat Ibu susah."
Degg ... dada Alcenna serasa dipukul dengan sebuah palu. Gadis itu kecewa kenapa Arzon mengalah, tapi ia tak menyalahkannya. Dia juga diposisi yang sulit jika dia menentang ibu Alcenna. Justru mungkin Alcenna akan lebih kecewa. Berarti dia tak menghargai perasaan ibu Alcenna.
"Ibu berterima kasih atas pengertiannya Nak. Walau kalian tidak bersama dalam ikatan pernikahan, kalian masih bisa berhubungan seperti kakak-adik saja, sehingga ikatan silahturahmi kita tidak terputus."
Alcenna yang mendengar antara ingin tertawa juga ingin menangis dalam waktu yang bersamaan. Masa ibunya menginginkan hubungan dia dan Arzon sebagai kakak-adik. Dia tak mau, yang dia inginkan adalah hidup bersama dengan Arzon.
Hari menunjukan pukul 9 malam. Alcenna berpikir jika Arzon sudah gagal untuk meyakinkan ibu dan ayahnya, maka Alcenna dan Arzon akan menjalankan rencana b, yaitu akan lari ditengah malam buta. Pikiran gadis muda itu semakin gila terdengar.
Alcenna sempat membayangkan ibunya akan sedih jika itu terjadi, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin berhenti sampai di sini. Ia sudah bertekad mendapatkan apa yang dia tujukan.
Diam-diam Alcenna pergi ke kamar dan mengambil handphone . Alcenna tidak perlu berganti baju karena sejak tadi ia tidak mengenakan pakaian rumah. Gadis keras kepala itu sudah bersiap dengan kemungkinan yang akan terjadi, dan sudah nekad melarikan diri.
Sesampai di belakang, Alcenna menemui pintu terkunci dan kuncinya tidak tergantung di sana. "Hmmm ... pasti ibuku sudah menebak aku akan melakukan ini. Sehingga beliau menyembunyikan kunci pintu belakang," batin Alcenna.
Dari pada dia kasak kusuk mencari kunci dan membuat orang tuanya curiga, Alcenna memilih balik ke kamar. Dia kirimi Arzon pesan. "Bang ... pintu belakang di kunci ibu. Malam ini kita ikuti saja kata ibu. Besok kita berangkat ke kota dan baru menentukan ke mana kita akan pergi."
Lama Alcenna menunggu balasannya. Alcenna tahu dia masih di ruang tamu bersama ibu. Entah apa lagi yang dibahas. Alcenna hanya memikirkan ke mana besok sesampai di kota akan pergi. Kerjaan gimana dan adik-adiknya bagaimana. "Ahhh ribet," batin Alcenna. Ini baru terasa berat bagi gadis itu.
Alcenna iseng-iseng mengirim pesan kepada Putri. "Dah tidur Put?"
"Belum ... lagi ngapa mu?"
"Aku lagi berencana kawin lari, bantu akuuu!" Alcenna yakin sebentar lagi dia akan mengatai Alcenna gila.
Drrrttt ... drrrrtttt ... ponsel Alcenna bergetar siapa lagi kalau bukan si Putri. "Lo makin lama makin gilaaa yaaa ...." Nah benarkan dugaan Alcenna.
__ADS_1
"Iya ... makanya bantu aku biar sehat." Alcenna meluruskan saja tuduhan Putri.
"Dasar cinta buta, maka gak normal tu jalan pikir lo!" Dia masih setia mengata-ngatai Alcenna.
"Buta dari mananya?? Kalau aku buta gak mungkin aku tahu dia pria tampan dan pengertian. Pria yang cuma satu-satunya aku inginkan. Kamu tu yang buta makanya masih single!" Alcenna tak mau kalah mengatainya.
"Iya tampan tapi sudah punya ekor!" Putri jadi sengit sendiri. "Lagian menjelang dapat saja itu, besok lo paling nangis darah. Pikirlah lagi. Aku gak setuju!"
"Mau apa gak tolongi aku." Alcenna membalikan percakapan ke awal.
"Gak mau aku ... aku gak mau di cari-cari adikmu, menanyakan kakak gilanya ke mana!" Alcenna tahu Putri takkan tega jika Alcenna mendesaknya terus.
"Jadi kamu lebih mau kalau yang mencari-cari aku adalah dirimu??" Alcenna memberi dia pilihan.
"Maksud lo?"
"Kamu pasti tahu dong maksudku apa?"
"Maksud lo, lo pergi tanpa memberi tahu aku juga?" Dia memastikan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya apa.
"Nah tu pintar!!" kata Alcenna.
"Pintar aku sejak berkawan dengan bugi!"
"Bugi? Lepat maksudmu? Tanya Alcenna.
"Tuuu isi kepalanya makanan saja, itu lepat bugis bukan bugi."
"Tuuuh apa hubungannya! " Alcenna benaran sewot dibuat si Putri.
"Bugi ... budak gilaaa." Terdengar tawa Putri yang terpingkal-pingkal, memasang gelar baru ke Alcenna selain putri tidur.
"Dasaaaar ... awasmu yaaa besok kalau ketemu. Ya sudahlah aku mau tidur." Alcenna langsung putuskan sambungan telfon. Alcenna sangat yakin Putri akan bersungut-sungut diseberang sana. "Rasai." Batin Alcenna puas.
__ADS_1
**//**