
Mama langsung menuju kearah Alcenna yang masih duduk di atas ranjangnya. Dia menyuruh Eddyson mengalah dulu. Eddyson beranjak dan digantikan mamanya. Eddyson menuju tempat papanya berdiri. Papa Hans dan Eddyson keluar dari kamar.
Mama memeluk Alcenna dan Alcenna tidak menolaknya. Begitu bijaksananya mama mertuanya. Tak ada pertanyaan pada menantunya selain memeluk dan membelai punggung menantunya.
Sampai Alcenna merasa lebih tenang dia melepaskan pelukan mamanya dan berkata, "Tadi Shinta kesini Ma, dia menuduh Alcenn telah selingkuh dari dulu dengan Mas. Alcenna tak ada ceritakan ke mas waktu dia nelfon tadi siang. Alcenn memang salah karena menutupinya dari mas. Maksud Alcenn agar tak diperpanjang. Mama tahukan bagaimana anak mama itu?" tanya Alcenna diakhir kalimatnya setelah dia menjelaskan sedikit apa yang telah terjadi.
"Iya mama tahu. Lalu kenapa Alcenn histeris begitu?" tanya mamanya lembut.
"Alcenn sakit hati dan kecewa dengannya Ma, mas membentak dan begitu marah. Sepanjang Alcenn mengenal dia, tak pernah begini. Bahkan waktu bekerja dengannya dulu tak pernah Ma. Hati ini sakit rasanya, karena mantannya dia membentak Alcenn," tuntas sudah semua di ceritakannya pada mama Ningrum.
Mama tidak mau berkomentar apapun, dia yakin apapun yang dikatakannya hanya akan menuai kesalahpahaman Alcenn. Mama Ningrum hanya berkata, "Nanti mama akan bahas sama dia, sekarang kamu belum mandikan sayang?"
"Belum Ma," jawab Alcenna.
"Mandi dulu, gak baik mandi mau magrib. Apalagi Alcenn lagi hamil," ucap mama Ningrum lembut.
"Iya Ma."
"Nanti susul mama didapur ya, biar mama buatkan kalian bertiga susu."
"Makasih Ma, Alcenn sayang mama... kalian juga sayang nenekkan sayang?" ucap Alcenna mengusap anak-anak dalam perutnya. Ucapan Alcenna membuat hati mama Ningrum sangat bahagia.
Mama keluar dan menemukan suaminya lagi diruang keluarga. "Mana Eddyson Mas?" nada bertanyanya memang lembut namun kekesalan tidak bisa ditutupinya. Papa Hans belum tahu apapun karena Eddyson langsung pergi dengan mobilnya setelah menelfon Robby.
"Keluar, gak tahu kemana," jawab papa Hans jujur. "Ada apa?" tanyanya lagi. Mama Ningrum langsung menceritakan apa yang dikatakan Alcenna.
"Dasar tidak tahu diri dia, berani sekali dia mau mengusik rumah tangga anakku!" desis papa Hans tersulut amarah. Ternyata banyak sifat papa Hans yang menurun ke anak bungsunya. Eddyson.
"Itu anak pakai pergi lagi. Aku menyuruh dia keluar kamar bukan keluar rumah Mas."
"Dia sama Robby, aku rasa mencari Shinta. Dia terlihat sangat menyesal tadi, rupanya karena membentak istrinya."
"Biar saja diurusnya Mas. Apalagi mau dia, aku tak ingin anak cucuku kenapa-kenapa. Aku sangat berharap cucuku lahir dan Eddyson kembali mendapatkan keturunan."
"Iya, kita berdoa dan berusaha saja. Selebihnya kita pasrahkan pada yang di Atas. Gak baikan Ning, kalau kita terlalu berharap?" suaminya mengingatkan mama Ningrum.
__ADS_1
"Iya Mas. Aku hanya terlalu senang. Aku lupa diri," ucap mama Ningrum tak malu mengakui kesalahannya.
"Ya gak apa, itu tugas mas sebagai suami mengingatkanmu. Kamu juga begitu jika mas ada salah ya?" ucap suami mama Ningrum lembut.
"Kita tunggu Alcenna keluar ya Mas."
Jika Alcenna sibuk dengan ritual mandinya. Eddyson sibuk dengan ritual perburuannya. Eddyson dan Robby menuju rumah Shinta.
TOK ... TOK ... TOK ....
Eddyson langsung turun tangan mengedor pintu rumah Shinta dengan kasar. Setelah beberapa kali mengulangi, pintu rumah dibuka. Seorang pria datang menyambut dan bertanya, "Anda mencari Shinta?" tanya pria yang sudah jadi suami Shinta dan dia masih sangat ingat wajah mantan suami istrinya.
"Bagus jika anda tahu, mana dia!" kata Eddyson dengan dingin. Robby hanya diam dan berdiri di samping Eddyson.
"Ada apa?" tanyanya yang membuat dahi Eddyson sedikit mengerenyit. Eddyson menangkap nada cemburu pada suami Shinta.
"Tak perlu anda cemburu, aku kesini mau buat perhitungan dengannya, tapi apakah begini etika mu menyambut tamu!" tekan Eddyson dengan kesal yang tidak ditutupi.
"Maaf, silahkan masuk," ucapnya mempersilakan dua tamunya masuk.
"Saya tak ingin berbasa-basi, dimana istri anda! "
"Ada apa?"
"Istri anda sudah menganggu istriku. Dia berani memgancam istriku!" ucapan Eddyson langsung.
Suami Shinta terkejut. Dia jadi paham kenapa Shinta tidak ada dirumah. Sampai saat ini. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Sejenak suaminya merasa sakit hati karena Shinta ternyata belum melupakan masa lalunya.
"Saya baru tahu. Saya akan cari dia sampai dapat. Ini rupanya alasan dia tak dirumah dan belum kembali. Bahkan ponselnya non aktif," ucap Suami Shinta tanpa ada kebohongan dimatanya.
"Baik, saya katakan pada anda. Saya tidak memperpanjang menimbang istri saya yang tidak ingin saya menyulitkannya. Juga kini saya menimbang anda yang tidak tahu dan sangat peduli padanya. Tolong urus dia untuk saya, jika saya yang mengurusnya hanya dua pilihan. Masuk penjara atau keluar dari kota ini seperti ayahnya! saya permisi!" ucap Eddyson tanpa basa-basi.
Eddyson dan Robby melangkah keluar dan suami Shinta mengikuti. Dia masih bisa mendengar perintah Eddyson pada temannya. Setidaknya itulah yang dipikirkan suami Shinta tentang Robby.
"Cari dia Rob, aku tak ingin istriku kenapa-kenapa!" ucap Eddyson sebelum berlalu dari rumah tersebut.
__ADS_1
*****
Alcenna telah tersenyum dan merasa lebih tenang ditemani mama mertuanya. Dia sudah menghabiskan segelas besar susu hangatnya. Mama dan papanya mencoba bicara sebelum Eddyson tiba. Alcenna seakan tak peduli kemana suaminya. Tak ada tanda batang hidungnya ada dirumah ini.
"Cen ...." sapa papa Hans lembut.
"Iya Pa." Alcenn menoleh pada papanya.
"Papa bukan ingin ikut campur Nak, tapi papa tak ingin kamu menderita lagi karena salah paham. Kamu mau dengar kata papa?" papa Hans sangat hati-hati memilih dan melontarkan kata-katanya.
"Mau Pa," jawab Alcenna yang hatinya telah merasa tenang. Dia juga merasa beban didadanya hilang sejak dia cerita ke mamanya.
"Papa tahu Eddyson salah Nak dengan kasar padamu. Papa bukannya berniat membela. Mungkin dia panik karena kamu mau menutupi darinya. Kamu tidak tahu Shinta seperti apa Nak. Keinginan dia harus dapat walau harus mengorbankan siapa saja. Itu mungkin yang membuat suamimu khilaf Nak," ucap papa Hans.
"Jadi Papa ingin Alcenn memaafkannya?"
"Eheem," papa mertuanya hanya mendehem kecil.
"Kenapa Papa tak jawab?" tanya Alcenna.
"Kalau kamu tidak keberatan. Papa gak ingin memaksakan hatimu."
"Oke kalau itu permintaanmu Pa, Alcenna akan maafi suami tersayang Alcenna itu," katanya dengan tawa renyah. Papa dan mamanya hanya saling pandang.
"Kenapa saling lihat-lihatan gitu?" tanya Alcenna lucu.
"Kamu serius mau maafi atau hanya menuruti keingianan papamu Nak," tanya mama Ningrum.
"Dua-duanya Ma. Alcenn tahu Mas bukan berniat begitu. Tadi Alcenn hanya shock saja liat dia yang gak pernah marah. Namun adanya Mama tadi dan Alcenna sudah ceritakan semua sama Mama, tak ada lagi beban hati ini," ucapnya sambil menempelkan telapak tangan didadanya. Mama dan papa tersenyum lega. Nilai plus Alcenna bertambah lagi dimatanya.
"Ohhh syukurlah Nak, papa gak ingin diusia kami yang sudah terbilang senja ini melihat anak-menantu dan cucu berkelahi dan tidak berbaik," ucap papa Hans terharu.
"Iya Pa, tapi nanti biarkan Alcenn kasih mas tu pelajaran sedikit ya. Hitung-hitung hukumannya karena berani keras didepan anak-anak dan berani bentak mama anaknya," kata Alcenna usil. Papa dan mama mertuanya mengangguk setuju. Mereka juga semangat mau melihat bagaimana reaksi muka anaknya.
**//**
__ADS_1