
Jalanan yang mulai sepi tak membutuhkan waktu lama bagi Robby dan dokter. Robby yang duluan datang, Eddyson membukakan pintu. Alcenna sudah siuman ketika tubuhnya di baluri minyak kayu putih untuk menghangatkan tubuhnya. Eddyson menemaninya. Sampai Robby datang. Eddyson meninggalkan Alcenna sebentar untuk membukakan pintu.
"Tunggukan dokter sebentar ya Rob, saya nemani dia dulu," ucap Eddyson. Robby mengangguk.
Dokter datang bersama Robby dan masuk memeriksa kondisi Alcenna. Dokter merasakan suhu tubuh Aocenna yang sedikit tinggi. Alcenna demam. Dokter memberikan obat penurun demam dan multivitamin. Obat yang disuntikkan langsung ketubuhnya mulai bereaksi dan membuat dia mengantuk. Alcenna mulai tidur dengan tenang.
Eddyson menyusul Robby ke ruang keluarga. Robby yang mengantarkan dokter sambil beranda depan.
"Ada apa Pak?" tanya Robby memberanikan diri melihat wajah kacau bosnya.
"Dilema saya Rob?"
"Soal Alcenna dan perusahaan ya Pak? tebak Robby.
"Iya," jawab Eddyson.
"Alcenna tidak bisa menerima jika kemungkinan besar kita akan pailit Pak, karena kasus ini?"
"Bukan itu Rob, Alcenna belum tahu. Aku takut dia merasa bersalah jika tahu. Perasaan dia kamukan tahu. Dia agak sensitif. Aku takut dia merasa karena kehadiran dia pula saya begini." Eddyson menceritakan semua kata Alcenna sebelum pingsan.
Robby juga terlihat menghela napas. Dia sama dilemanya dengan bosnya setelah tahu penyebab pingsan Akcenna. Mereka hanya saling memejamkan mata bersandar pada sofa.
Eddyson menemukan jalan buntu. Baginya tak ada pilihan lain selain menelfon mamanya. Dia tahu jam segini mamanya telah bangun dan shalat tahajud. Eddyson tak bisa menunggu pagi untuk bercerita. Baginya pagi harus sudah ada jalan keluar.
Jam 02.30 dini hari. Robby juga belum bisa tidur kembali setelah terkejut mendapat telfon dari bosnya tadi.
"Ada apa?" tanya mamanya panik. Anaknya belum pernah mengontak dia jam segini.
"Mama sudah siap shalat?"
"Baru siap. Ada apa?"
"Maaf aku mengganggu Mama tapi aku bingung Ma," ucap Eddyson pelan.
"Ngomong saja gak ada kata mengganggu!" tekan mamanya.
"Papa juga dekat mamakan, spekerkan ya Ma ponselnya."
"Sudah."
"Pa, Ma usaha aku goyang dua bulan ini. Kami salah berinvestasi...." lalu Eddyson menceritakan semuanya.
"Jadi Alcenna bagaimana?"
"Sekarang tidur. Badannya jadi demam karena terlalu lama dibawah guyuran air."
__ADS_1
"Sekarang kamu tidur, besok pagi kamu dan Robby berangkat saja dulu kelantor. Papa akan ikut kekantormu. Mama akan nemani Alcenna. Mama akan kesana sebelum kamu berangkat kerja."
"Okelah Ma kalau begitu."
Eddyson menyuruh Robby tidur dikamar tamu. Eddyson kembali kekamarnya. Dia meraba kening Alcenna. Badannya masih sedikit panas. Eddyson hanya mengecup dahi istrinya sekilas. Dia takut membangunkan istrinya.
Eddyson tidur, papa dan mamanya berbincang.
"Luar biasa putri kita Mas," ucap mama Ningrum memuji Alcenna. Itu membuat papa Hans heran. Kemana maksud pembicaraan istrinya.
"Kenapa?" tanyanya singkat.
"Mas tahu, aku sering mampir ke rumahnya."
"Iya, kamu kan cerita."
"Dia tak pernah mengeluh Mas. Sikapnya ceria saja. Siapa sangka dia terpukul dan salah duga.Tak pernah dia memburukan suaminya. Aku pikir hatinya baik-baik saja." Mama Ningrum terlihat merasa bersalah tak paham keceriaan yang ditampilkan putrinya, menantu manjanya.
"Besok kamu hibur, mas bantu Eddyson dikantor."
"Ok Mas."
"Kamu harus jujur. Dia mungkin lebih suka hal pahit di katakan pada manisnya saja. Apalagi dia tak bisakan mentolerir kebohongan.Tegaskan satu hal, apapun yang terjadi bukan karena hadirnya dirinya. Kita tetap menyayangi dia."
*****
Pagi mama sudah sampai dirumah Eddyson. Alcenna masih berbaring. Eddyson duduk di sisi pembaringan istrinya. Mama duduk di kursi rias Alcenna.
"Mas berangkat ya sayang, nanti mama yang cerita, ada salah paham sedikit diantara kita. Mas harus kekantor dan papa sudah menunggu. Malam mas akan bahas juga sama kamu sambil meminta maaf sekali lagi padamu. Mas masih sangat mencintaimu hanya cara mas yang salah, oke sayang," ucap Eddyson dan mengecup bibir istrinya. Alcenna tak ada respon. Eddyson tahu istrinya masih kecewa.
"Dasar tak tahu malu, depan mama pamer kemesraan!" ucap mama pura-pura kesal.
"Aku kan dikamarku Ma. Kalau diluar depan orang banyak baru salah."
"Alasan, biasa juga gitu. Pergilah nanti terlambat. Alcenn biar mama yang urus."
"Emang Alcenn bunga Ma pakai diurus segala, " ucap Alcenna bercanda walau masih sedikit lemah.
"Iya, kamu ibarat bunga lili air kami sayang. Kamu memberi keseimbangan suhu dalam air dan memberi ikan-ikan tempat berteduh dan tinggal. Kamu indah bagi kami," Ucapan mama yang tulus membuat hatinya menghangat. Rasa kecewa atas sikap suaminya semalam jadi menguap.
"Sekarang, mama suapi bubur yang sudah mama bawa. Minum obat dan maukan dengarkan kata mama?"
"Mau Ma, namun boleh ya cerita dulu biar tenang dan semangat makannya."
"Ok." Mama Ningrum akhirnya cerita dengan hati -hati. Juga mengatakan dia baru tahu juga tadi malam setelah Eddyson minta pendapat mamanya. Mama juga sampaikan pesan papa Hans. Alcenna jelas terkejut, namun dia jadi paham. Dia tak lagi menyalahkan suaminya. Alcenna berdoa yang terbaik menurut Allah untuk jalan keluar bagi masalah suaminya.
__ADS_1
Kini dia merasa lebih tenang. Alcenna tak menolak suapan demi suapan buburnya. Namun baru beberapa suapan dia merasa tidak enak dan mual.
"Ma, Alcenna mau ke westafel kamar mandi. Alcenn mau muntah."
Mama mengantarkan. Badan Alcenn masih demam. Alcenna mengeluarkan semua isi bubur yang disuap mamanya. Mama tanpa rasa jijik memijit tengkuk Alcenn.
Setelah membersihkan mukanya, Alenna di bimbing kembali ketempat tidur. Dia menolak disuapi kembali. Alasannya mual.
Mama berpikir apa Alcenna mungkin hamil.
"Apa mungkin kamu hamil ya sayang?" tanya mama yang tepatnya bergumam untuk dirinya sendiri.
"Hamil Ma? karena demam kali ndak Ma?"
"Apa kita cek saja sayang? Lebih akurat ke dokter."
"Sekarang Ma?"
"Apa kamu kuat?"
"Kuat Ma." Alcenn pada dasarnya suka penasaran. Apalagi untuk hal sebesar ini. Hal yang sudah dinantinya lama.
Diam-diam mereka pergi ke dokter dengan ditemani pak Hasim, supir mama Ningrum.
Mereka tetap mengantri. Awalnya mama mau menggunakan kondisi Alcenn yang demam untuk lebih dulu. Namun Alcenna menolak. Dia bersikeras mau antri. Alasannya tidak baik memanfaatkan keadaan yang ada.
Namun keras hatinya berbuah kepanikan mama dan perawat dirumah sakit. Alcenna tiba-tiba merasa mual dan pusing yang bersamaan. Alcenna sekali lagi pingsan dalam pelukan mama Ningrum.
Mama Ningrum wanita mandiri, wanita yang telah banyak pengalaman hidup. Dia tahu anak suaminya lagi sibuk. Mama Ningrum mengurus semua keperluan administrasi dan rawat inap menantunya.
Kini setelah semua proses dilalui, Alcenna sudah kembali siuman dan terbaring sekali lagi dirumah sakit dengan selang infus yang menghiasi punggung tangannya.
"Bagaimana Ma? apa aku sudah diperiksa soal kehamilan itu?"
"Ya belumlah sayang, kami tunggu kamu sadar dulu. Nanti dokter kesini lagi. Namun dari darah kamu sudah diambil biar bisa tes kehamilan. Nanti kita juga USG," kata mama.
Alcenna tidak bertanya lebih lanjut. Jauh hari dia sudah memahami karena seringnya mencari artikel kehamilan. Tes darah bisa mendeteksi kehamilan, bahkan lebih awal sejak konsepsi. Jauh lebih akurat dari tes urine dipagi hari.
"Tunggu ya mama panggilkan dokter. Apa sudah keluar hasilnya dan kamu bisa lanjut USG." Mama lalu menekan sambungan paralel telfon rumah sakit dan bertanya pada perawat yang mengangkatnya. Perawat pun minta waktu dan akan mengabari secepatnya.
Jika mama Ningrum dan Alcenna berjuang untuk mengetahui kondisi Alcenna dan kabar baik yang akan di terima. Eddyson dan timnya berjuang mengurus masalah perusahaannya.
Walau hati Eddyson sedikit terbagi, dia tetap fokus mengurus masalah Perusahaannya.
**//**
__ADS_1