Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Pilih Dia atau Aku?


__ADS_3

Satu masalah telah clear bagi gadis itu. Namun dia tidak tahu akan banyak masalah kelak dalam hidupnya. Dia pulang dengan mengantongi izin calon mertuanya.


Tak ingin membuang waktu, mereka berangkat siang dari kampung ibunya dan sampai malam harinya. Setelah sampai ke kota tempat mereka mengadu nasib, sebelum kembali ke rumah, gadis itu sekali lagi menegaskan meminta lelaki itu memilih. "Aku minta Abang memilih aku atau dia langsung di depan dia. Aku tak mau Abang bohongi untuk ke sekian kalinya!!"


"Baik ... malam besok kita ke rumah." Tak ada bantahan keluar dari mulutnya.


Padahal jika lelaki itu mundur, gadis itu juga sudah tak berniat banyak untuk meneruskan. Tak ada yang dia dapat selain rasa hampa. Makanya, jika pria itu yang menolaknya, dia tak ingin berjuang lagi mencapai tujuan tak masuk akal. Sayangnya lelaki itu tidak ingin mundur.


***


Malam harinya, Alcenna menjemput Arzon di rumah adiknya, lalu pergi ke rumah istrinya. Alcenna semakin terlihat tidak normal, dia sengaja menyuruh Arzon membawa satu orang keluarganya untuk ikut.


Ternyata yang diajak Arzon adalah adik sepupu laki-lakinya. Jadi dengan begitu ada dua orang saksi, Alcenna dan adik sepupunya. Begitu niatnya gadis muda itu menjadi setan karena pikiran yang tak jernih.


Jahat ... ya kata itu memang tepat sekarang untuk gadis itu. Dia begitu menjadi jahat dengan semua kejadian ini. Dia ingin lelaki itu menjatuhkan talak malam ini juga. Biarlah secara hukum menyusul nanti.


Sesampai di rumah istri lelaki itu, Alcenna bisa melihat keterkejutan di wajahnya melihat kedatangan mereka.


"Harusnya kamu menyelesaikan masalah ini dengan suami pembohongmu itu ... bukan menyeret aku yang tidak tahu dan sudah minta maaf!"Hati Alcenna diselimuti dendam.


"Aku mau bicara!" Arzon masuk setelah dia membukakan pintu. Sikapnya kembali terlihat manis seperti saat Alcenna datang sendiri.


Alcenna memilih duduk didekat Arzon. Anaknya yang nomor tiga, berusia 3 tahunan duduk dipangkuan Arzon. Dia belum paham apa yang terjadi, sementara dua anaknya yang besar-besar duduk didekat ibunya dan Alcenna melihat si bungsu yang masih bayi entah usia berapa, tertidur pulas di ranjang tanpa terganggu dengan kehadiran mereka.


"Ada apa kalian ramai-ramai kemari?" Terdengar akhirnya nada kebencian darinya. Tapi hati gadis itu lebih benci dari nada wanita tersebut.


Alcenna yang lebih dulu bersuara. "Aku sudah minta maafkan, padahal aku tidak tahu apa-apa, tapi kenapa balasannya dengan mempermalukan aku di dekat orang sekelilingku! " Tak ada embel-embel kakak lagi dari mulut Alcenna.

__ADS_1


Kata-kata dan sikap Alcenna menyulut emosi wanita tersebut. "Jadi sekarang apa mau kau? Siapa yang kau pilih! Dia atau aku!" kata istrinya yang ditujukan malah ke Arzon. Hati iblis Alcenna jelas tertawa mendengarnya, karena pertanyaan itu adalah akan menjadi kesalahan terbesar yang dia lontarkan dalam hidupnya dan untuk keutuhan rumah tangganya.


"Aku memilih dia," kata Arzon memegang pundak Alcenna.


Entah dia merasakan sama seperti gadis itu, sudah muak dengan rumah tangganya atau cintanya yang mulai terkikis karena kelakuan suaminya, tak ada air mata dilihat Alcenna.Hanya ada sorot amarah dari matanya.


"Ceraikan aku!" Dia menantang suaminya.


"Baik, Lahir anak kau, jatuh talak satu." Arzon menyahuti dengan tenang. Ya istrinya memang lagi hamil 5 bulan. Terakhir Alcenna tahu itu bukan anaknya Arzon. Itu pengakuan Arzon padanya. Akan tetapi Alcenna tidak memperdulikan mau itu anak siapa. Jikapun bukan, itu juga bukan kesalahan dia seutuhnya sebagai wanita. Lelakinya yang tidak pandai menjaga wanitanya. Itulah pikiran gadis tersebut.


"Hebat kau sekarang ya! Sudah bisa berkau- kau dengan aku!" Bukannya menjawab, malah mengalihkan pembicaraan. Membuat Alcenna memutar bola matanya dengan malas.


"Tak usah membahas yang tidak penting, kita tunggu anak kau lahir, baru kita cerai." Arzon kembali berkata dengan tenang. Sikap yang dulu Alcenna sukai. Namun tidak saat ini dan entah suatu hari nanti. Alcenna juga sudah terlanjur kecewa dengan kebohongannya.


Alcenna dan adik sepupu lelaki itu diam dan hanya memperhatikan interaksi mereka. Alcenna tahu hatinya begitu jahat, tiada rasa kasihan sedikit pun, memutuskan suatu ikatan suci. Ibarat iblis yang selalu menginginkan pasangan berpisah, ya itulah dia sekarang.


Setelah mendengar dia memutuskan ikatan perkawinan, rasa puas yang harusnya Alcenna dapat justru malah tidak dia temui. Tak ada rasa senang di hatinya. Kembali gadis itu hanya merasa kehampaan. Akan tetapi dia tetap berniat menjalani sampai akhir. Dia akan tetap menikah setelah anak tersebut lahir dan urusan secara hukum selesai.


Adik sepupu Arzon sudah kembali. Alcenna diajak Arzon mampir makan di sebuah warung pinggir jalan hanya untuk minum kopi dan berbicara lebih lanjut.


"Sudah puaskan Alcen?" Nadanya terdengar lembut dan bukan niatnya memojokkan gadis itu. Tetapi karena hati yang lagi kacau, si gadis salah menanggapi dan menyulut amarah di hatinya.


"Maksud Abang apa?? Dirimu merasa menyesal memilih aku??" Alcenna menekan nada supaya tidak meninggi di keramaian ini dan berkamu-kamu kalau lagi marah padanya.


Dia menggelengkan kepalanya dan memegang tangan gadis itu yang tertumpu di atas meja.


__ADS_1


"Bukan begitu maksud Abang." Dia tetap melunakkan nadanya. "Alcen selalu melampiaskan amarah sama abang, sejak dia mempermalukan Alcen." Alcenna diam saja mendengar apa yang mau diucapkannya.


Melihat Alcenna diam, dia melanjutkan perkataannya. "Abang tahu abang salah besar kepada Alcen, abang sudah berbohong. Abang tidak mencari pembenaran atas kesalahan abang. Sejak jumpa pertama, abang memang sudah menyukaimu."


"Lalu kenapa berbohong sekian lama kepadaku, kenapa buat aku seperti orang bodoh mencari bukti ke sana ke mari, apa ini yang namanya cinta?" Alcenna tiba-tiba ingin menangis. Kesal yang ada seperti gunung api aktif yang ingin memuntahkan lahar panas di dalamnya.


"Abang mau tanya jika dari awal abang jujur ke Alcen, bahwa abang memang sudah menikah, apa Alcen masih mau dekat abang?"


"Tentu saja tidak!"


"Itu dia yang abang takutkan, cewek baik-baik mana yang mau merusak rumah tangga orang lain, walau sebenarnya rumah tangga abang sudah rusak bertahun lalu. Bukan karena ada Alcen atau tidaknya. Jika dari awal abang cerita pasti Alcen akan mundur dan abang tak mau itu terjadi."


"Egois!"


"Itu abang akui." Dia tak membela dirinya.


"Jadi apa benar suatu saat Abang tidak akan menyesal dengan keputusan hari ini?" Alcenna mencoba membimbangkan dan mencari kemantapan hatinya. Jika dia sendiri yang memilih mundur, Alcenna akan terima.


"Tidak, asal Alcen tahu, tidak jadi menikah dengan Alcen, abang akan menceraikannya. Abang tidak mau punya istri yang selingkuh.


"Tapi Abang juga selingkuh? Jangan mau menang sendiri!"


"Itu egois abang. Walau abang selingkuh tapi abang tidak mau punya istri yang selingkuh apalagi sudah hamil dari laki-laki lain."


"Tapi aku tidak menyalahkan dia atas perselingkuhan yang dilakukannya. Bisa jadi itu kesalahan abang awalnya. Kesalahan dia padaku hanya karena mempermalukan aku dan telah meremehkan permintaan maaf yang seharusnya tak perlu aku lakukan!"


"Iya abang tahu." Dia pasrah tak ingin Alcenna mendebatnya.

__ADS_1


Jika Alcenna di posisi dia mungkin melakukan yang sama. Walau ayahnya pernah berpesan." Jika suatu hari kamu punya suami dan suamimu selingkuh jangan pernah membalasnya. Cukup dia yang berbuat dosa." Itu kata ayahnya dan Alcenna tidak bisa menerima.


**//**


__ADS_2