Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Pengakuan Tak Terduga


__ADS_3

Alcenna merebahkan badan di atas ranjang. Masih terngiang di telinga ucapan bosnya, ketika mereka pulang ke kantor.


"Cen ... saya sudah lama kenal denganmu. Jujur saja, saya memang lebih suka denganmu di antara perempuan-perempuan di kantor."


"Lalu, maksud Bapak bagaimana?"


"Kamu masih sangat muda, tetapi kamu sangat kritis dalam berpikir dan kinerjamu sangat baik dalam bekerja. Kamu juga loyal dan tidak pernah mengeluh dalam menjalani perintah saya."


Alcenna hanya tetap diam dan mendengar beliau kembali berkata, "Kalau saya boleh berpesan dalam urusan percintaanmu, carilah lelaki yang mapan agar kelak kamu tidak susah dalam berumah tangga. Di dalam bahtera rumah tangga cinta memang perlu tapi uang akan lebih perlu. Ada uang ada cinta, ada cinta belum tentu ada uang Cen." Itu kata bos, merasuk di pikiran Alcenna.


Alcenna saat itu menanyakan, tumben beliau ikut campur urusan pribadi Alcenna. Selama ini walau bercanda atau sedang bekerja serius, tak pernah bos peduli dengan urusan pribadinya. Jawaban yang bosnya berikan sungguh membuat Alcenna terkejut.


"Bapak kok tumben ingin tahu banyak? Biasanya Bapak tak peduli denganku selain urusan kerja?" Tanya Alcenna sore itu.


"Siapa bilang saya tak peduli dengan masalah pribadimu."


"Ohh ya?" kata Alcenna seperti tak percaya. Seingat Alcenna


"Saya tahu, kamu sekarang sedang dalam hubungan serius dengan suami orang."


"Iya, cuma sayakan tidak tahu kemaren Pak, dan lagi dia sudah cerai secara agama kok." Alcenna menjelaskan sedikit sebelum bosnya salah paham. Alcenna hanya takut diberhentikan karena masalah pribadi mengganggu pekerjaannya.


"Saya sudah tahu, dia hanya karyawan biasa bukan orang yang banyak duit. Saya juga tahu kalian berdua saling berjuang supaya bisa bersama. Tapi apa tidak akan sia-sia cinta kalian itu. Saya seperti mencium hanya cinta buta dari pihakmu. Saya memang tak mau tahu, apa masalah dia dengan istrinya dan kenapa dia mau meninggalkan istrinya. Tapi soal dia ke kamu, saya tahu semuanya," ucapan bosnya menusuk di gendang telinga Alcenna dan ikut menusuk hatinya. Bosnya tidak tahu seminggu ini sudah tidak ada kontak dan bahkan telah selesai.


Alcenna seakan-akan penjahat di dalam hubungan ini. Dia dikatakan cinta buta oleh bosnya. Bukan bosnya, Putri juga pernah mengatakan. Alcenna ingat itu.


"Jadi bapak selama ini memata-matai hidupku?" Alcenna setengah berteriak tak percaya akan kelakuan bosnya. Atas tujuan apa dia melakukan itu.


"Jelas saya memata-matai dirimu?" Kalimat tegas dan jujur yang membuat indra pendengaran Alcenna semakin tak percaya.


"Buat apa tapi bapak lakukan itu semua! Bukannya hanya buang-buang waktu bapak saja! Di tengah kesibukan bapak yang begitu banyak." Nada Alcenna seakan tak percaya dengan semua ini.


"Asal kamu tahu ya Alcenna, saya sungguh terkesima pertama kamu melamar kerja ke kantor. Saya tidak bisa memungkiri, saya sangat menyukai penampilanmu!"

__ADS_1


"Apa saya tidak salah dengar Pak?" ujar Alcenna setengah mencemooh.


"Tidak! Seiring waktu saya semakin mengenal sifat dan tingkah lakumu. Saya semakin sangat menyukaimu bahkan kalau sekarang mau dikatakan cinta, saya cinta kepadamu. Tapi saya tidak cinta buta macam kamu dan pacarmu itu. Saya cukup mengagumimu dan mencintaimu dalam hati saya!"


"Terus kenapa sekarang Bapak ungkap?"


"Karena saya melihat hidup kamu semakin kacau, putus dari pacar kamu yang bujangan malah jatuh cinta dengan pria banyak anak!"


Saat itu, Alcenna hanya terdiam mencerna semua yang bosnya katakan. Bosnya tahu semuanya. Alcenna benar tak habis pikir, sejak kapan dia mulai diperhatikan. Sampai terdengar lagi bosnya berkata yang sangat menyesakkan dada Alcenna.


"Saya jika tak menimbang istri tidak ada kesalahan, akan memilih menceraikan dia dan menikahimu. Saking saya jatuh cinta kepadamu. Tapi kembali lagi, saya tidak cinta buta saja. Saya dikasih akal pikiran dalam mengekspresikan rasa cinta. Saya paham kalau kamu bersikap demikian mungkin karena jiwa mudamu. Tapi pasanganmu itu tidak muda lagi, tapi kenapa jalan pikirannya saya tidak paham. Sekarang dia menggantung perasaan kamukan?" Kata-kata bos Alcenna tepat menohok ke hulu hati. Alcenna hanya kembali diam, tak ada bantahan. Berarti kemungkinan besar bosnya juga tahu dia sedang tak ada komunikasi.


"Dari pada kamu nantinya hanya akan banyak masalah dan menderita menjalani hidupmu, lebih baik kamu menjadi istri kedua saya saja. Setidaknya saya bisa menjamin kebahagiaanmu dari segi materi."


Alcenna memandang kosong bosnya. Semua yang bosnya ucapkan, seakan berdentum silih berganti di pikiran. Tak sempat dia sikapi dan pikirkan semua ini.


"Saya terus terang tidak bisa menceraikan istri saya, tetapi untuk punya istri dua saya masih bisa menjanjikannya." Ucapan bosnya semakin terdengar tak masuk akal di telinga gadis itu.


"Tapi saya tidak MAU!" Alcenna bersikeras menjawab juga akhirnya.


"Jadi maksud Bapak cinta tidak perlu dalam berumah tangga?" Alcenna bertanya seperti kehilangan arah. Kebingungan melanda hatinya antara tak percaya dengan pengakuan tak terduga dari bosnya, ditambah pemikiran soal cinta dalam hidup berumah tangga. Selama ini tidak ada yang berbicara begini pada Alcenna.


Semua hanya mengatakan cinta yang paling perlu dalam rumah tangga. Jika cinta, apapun bisa dilalui. Tetapi pemikiran lelaki mapan yang tak lain bosnya sendiri jauh berkebalikan. Membuat Alcenna harus meresapi dalam.


Selama ini dia berpikir cukup cinta dalam membina rumah tangga dan rezeki sudah ada yang mengatur, asal mau berusaha dan berdoa. Itu prinsip gadis desa itu selama ini.


Tapi semua buyar ketika kembali bosnya berkata. "Siapa bilang cinta tidak perlu, ya perlulah. Mana mungkin kita bisa hidup dengan seseorang tanpa cinta di hati. Hanya cinta saja takkan cukup, kita perlu materi untuk hidup ke depannya. Kamu masih muda dan belum menjalaninya. Banyak masalah rumah tangga muncul, penyebab utama pasangan bercerai karena tidak sanggup dalam ekonomi. Saya yakin itu juga jadi penyebab dalam rumah tangga calon pasanganmu yang egois itu?" Tak sungkan bosnya mengatai pacar Alcenna.


"Mengapa bisa Bapak mengatai dia egois?"


"Apa tidak egois namanya, satu istri saja tidak terurus lalu mau menikah begitu saja karena ingin lari dari masalahnya!" Alcenna menangkap samar nada amarah yang dipendam.


Alcenna akhirnya menangis di depan bos yang baru mengakui perasaannya. Dada Alcenna terasa penuh dengan rasa nyeri. Sekuat-kuatnya dia di luar, namun rapuh di dalam hati. Dia mau menyesali apa saat ini. Menyesali dendam yang tak berkesudahan, atau menyesali cinta yang datang belakangan. Alcenna semakin hilang arah akan melakukan apa tentang hati.

__ADS_1


Apalagi ketika Alcenna sudah memperjuangkan semaksimal mungkin tapi kini telah selesai dengan satu kalimatnya kemarin. Dia bukan tak ingin menyapa duluan ataupun meminta kejelasan, tetapi cukup sudah membuang-buang waktu percuma.


Bosnya hanya diam dan terus menyetir ke arah kantor. Dia membiarkan Alcenna menangis. Alcenna menyadari diri Arzon memang egois, tetapi Alcenna merasa mencintainya kini.


"Tetapi aku mencintainya Pak?" Di tengah dia menangis, Alcenna sempat-sempatnya,menyampaikan isi hatinya.


Alcenna mendengar bosnya mendengus dengan kasar. Mungkin dia kesal dengan gadis itu, atau dengan pacar gadis itu. "


Cinta buta!" Sekali lagi dia hanya mengatakan 'cinta buta' kepada Alcenna, tapi kali ini dengan mencemooh gadis itu. Alcenna hanya diam saja tak menggubris olokan bosnya.


Dia juga sudah merasa jauh lebih baik ketika mendapatkan cemoohan bosnya barusan. Dia sudah menyeka air matanya. Walau reaksi wajahnya tak ada manis-manisnya.


Apalagi saat kembali terdengar nada bosnya yang menurutnya mengesalkan, "Hapus air matamu ... kita mau sampai kantor. Saya tidak ingin orang kantor salah paham pada kita, dan mengatai kalau saya melakukan pelecehan seksual padamu nan cantik tetapi tidak cerdas dalam mengelola emosional!"


Suaranya yang memberi perintah tapi tak lupa mencemooh Alcenna. Membuat mode sedih pada wajah Alcenna berganti mode rasa kesal. Tanpa Alcenna sadari, bosnya sengaja membuat kesal. Dia tak suka Alcenna bersedih.


Lain lagi dipikiran Alcenna, "Barusan di hatiku, mengganggap dia ibarat malaikat penolong dalam hatiku yang sedang tersesat. Sebentar sudah jadi bos yang ngbossy lagi." Tak urung Alcenna juga menghapus air mata yang tersisa.


Alcenna mengambil kotak bedak yang dibawa dalam tas kerjanya. Dia memoles sedikit ke pipinya yang terdapat bekas air mata, merusak bedak yang tidak mahal.


Masih dia ingat nadanya yang memuji, namun penuh kejutekan. "Tidak usah pakai bedak,sudah cantik dan mulus itu wajah. Pikiranmu itu yang perlu dipoles, biar jadi lebih mulus jalannya." Jelas Alcenna hadiahkan delikan mata yang tajam pada bosnya.


Seakan tak puas dia membuat Alcenna untuk marah. Dia berujar lagi saat itu. "Ingat!!! Saat pelatihan pikiran itu jangan kemana-mana, simak materi baik-baik, biar cerdas dan pulang bawa ilmu! Asal jangan bawa suami orang. Kalaukan suami orang mending sama saya."


Ufhh benar-benar membuat naik darah cara bos Alcenna mengobati pikiran gadis yang naif.


Masih berbaring dan seolah pandangannya hendak menembus plafon kamar, karena Alcenna masih terus memandang ke atas. Kepala yang diganjal dengan satu tangan, kaki ditekuk.


"Ya Tuhan, apa harus suami orang terus yang menyukai aku. Sungguh aku tak percaya dengan semua yang aku dengar. Jika bukan telinga ini sendiri yang mendengar." Alcenna bergumam dengan suara pelan.


Tapi hatinya tetap pada Arzon. "Ahhhh apakah aku memang cinta buta seperti yang dibilang si bos, atau aku sedang memetik buah perbuatan akibat keras kepalaku?"


Apapun itu Alcenna berjanji akan berusaha tersenyum melewati hari-harinya, walau mungkin tanpa Arzon di sisinya. "Senyum Alcen ... dunia tak lantas berakhir hanya dengan patah hati! Alcenna menyemangati dirinya sendiri sebelum berlayar ke pulai impiannya.

__ADS_1


**//**


__ADS_2