Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Tetap Menjadi Gadis Timur


__ADS_3

Alcenna kembali ke ruang tamu, "Dek kamu sudah makan?" tanya Alcenna pada Sammy. Alcenna hampir jarang tidak memasak.


"Sudah Kak. Mas aku tinggal sebentar ya, ada yang mau aku telfon," ucap Sammy. Entah itu alasan atau memang Sammy mulai ada wanitanya.


"Nelfon siapa kamu Dek," kata Alcenna ingin tahu.


"Calon adik ipar kakak," katanya tertawa jahil.Sammy bergerak ke kamarnya.


"Mas tidur di mana," tanya Alcenn serius.


"Di kamarmu boleh?" katanya menggoda Alcenna.


"Boleh ...." ucap Alcenna masih serius. Eddyson malah terlihat bingung. Apa gadisnya masih waras semudah itu ngasih izin.


"Serius boleh?"


"Serius, kalau mas tega membiarkan aku tidur di ruang tamu ini," ucap Alcenna tertawa penuh kepuasan mengerjai Eddyson.


Eddyson gemas, bisa-bisanya dia menganggap serius ucapan Alcenna. "Pergi tidur sana, atau mas benaran khilaf ni ke kamarmu," ucap Eddyson.


Alcenna tergelak, dia berdiri hendak menuju kamarnya, namun tangannya ditarik oleh Eddyson. Alcenna menoleh, "Apa Mas?" Eddyson menunjuk pipinya, minta ciuman selamat malam gaya barat.


Alcenna tetap menjadi gadis timur, "Ini mau?" katanya sambil memberi kepalan tinjunya.


Eddyson tertawa, "Sudah tidur sana. Mas di tawari tidur di kamar Sammy tadi. Eddyson melepaskan pegangan tangannya dari tangan Alcenna. Alcenna melangkah ke kamarnya. Eddyson pun menyusul Sammy.


Di kamar ....


Sammy terlihat bersandar ke kepala ranjangnya. Sammy menoleh ketika melihat pintu kamarnya terbuka.


"Ada apa Sam? Kusut wajahmu mas perhatikan."


"Gak ada Mas," elak Sammy.


"Ya sudah kalau tidak ingin cerita, tapi kalau apa-apa mas siap bantu kamu. Kamu jangan sungkan. Ok!"


"Oke Mas, makasih." Sammy hendak bangkit dan berdiri dari ranjangnya.


"Bisa mas bicara soal kakakmu?" tahan Edysson. Sammy kembali duduk.


"Bisa Mas, ada apa?"


Eddyson menceritakan perkataan Alcenna di apartemen tadi, dan menutupi keadaan Alcenna.


"Kamu benar tidak tahu masalah yang terjadi dalam rumah tangga kakakmu dulu?" Eddyson ingin mencari tahu lewat Sammy.

__ADS_1


"Mereka memang sering ribut Mas, tapi sejak aku pindah ke kalimantan. Aku tidak tahu menahu Mas." Sammy memang berkata jujur. Alcenna tak pernah cerita apapun lagi sejak Sammy pindah.


"Ya sudahlah, Mas bisa pakai jasa pengacara saja."


"Kalau kakak inginkan surat cerai itu, aku serahkan pada Mas. Hanya satu pintaku, jika nanti Mas hidup dengan dia jangan sakiti hatinya lagi dengan masa lalu Mas!" ujar Sammy penuh tekanan.


"Maksudmu masa lalu?" Eddyson kurang paham menangkap ke mana pembicaraan Sammy.


"Mas juga pria beristri-beranak. Mas mungkin tidak menyakitkan hatinya, tapi siapa yang tahu dengan mereka. Aku takut kak Alcenn tidak kuat dan benaran bisa gila. Dia memang tipe ceria Mas. Namun aku tahu pasti dia tipe yang suka memendam demi keluarganya tidak susah dan tidak tahu betapa buruk pasangannya." Sammy berkata panjang lebar. Intonasinya penuh tekanan.


Eddyson tidak tersinggung dengan intonasi Sammy. Dia cukup mengerti bagaimana hubungannya persaudaraan mereka. Mereka adik-beradik yang penuh pengertian. Eddyson sudah paham dari dulu.


"Kamu tenang saja soal itu. Mungkin ini takdir dari cinta Mas pada dia. Mas berharap bisa bersama kakakmu menjalani hari-hari sampai akhir hayat kami. Mas sudah tidak bersama istri mas lagi dan anak mas juga sudah duluan meningglkan kami," ucap Eddyson bergetar mengingat anaknya.


"Maksudnya apa Mas?" kata Sammy. Eddyson menceritakan ringkas kejadian anaknya meninggal dan perceraian yang sedang diurus.


"Maafkan aku Mas, ternyata hidup Mas dan kakak sama sulitnya. Aku bukan bahagia di atas derita hati Mas. Aku lega dengan semua ini Mas. Aku semakin mendukung hubungan dan cinta Mas pada kakak." Sammy merasa hatinya terharu. Setidaknya kakaknya tidak mengulang kesalahan yang sama.


"Makasih ya Sam. Mas akan memperjuangkan kakakmu sekarang. Mas tidak akan menyerah lagi. Semoga Allah juga meridhoi kami sampai kejenjang pernikahan."


"Aamiin, semoga begitu Mas. Mas tapi pahamkan, kak Alcenn itu bentuknya saja yang lembut. Namun sifatnya keras hati." Sammy tak berniat menutupi kekurangan kakaknya.


"Mas paham betul itu Sam. Jangan khawatir soal itu. Gak akan jadi pertikaian dalam rumah tangga kami nantinya."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Kalau begitu, Mas tidurlah lagi. Bukannya besok Mas kerja. Kalau aku, aku masuk shiff siang di toko." Sammy beranjak dari ranjangnya.


Baru sampai depan pintu kamarnya terdengar Eddyson kembali berkata," Kamu ada masalah kerja atau cewek Sam?" Eddyson kembali mendesak ingin tahu.


"Kerjaan Mas, besok kalau terbentur aku cari Mas. Aku akan susahi Mas juga. Tenang saja," jawab Sammy sambil menekan gagang pintu dan keluar.


Eddyson berbaring melepaskan lelahnya, sedikit demi sedikit beban hidupnya semakin berkurang. Jarak usia yang berbeda belasan tahun dengan Alcenna tidak menjadi penghalang untuk dia mencintai. Eddyson semakin yakin kini Alcenna membuka hati untuknya. Ditambah dengan perceraian yang sedang diurusnya bisa menambah nilai plus di mata Alcenna. Eddyson memejamkan mata.


***


Alcenna bangun shalat tahajud. Walau dia bangun tanpa mimpi buruk. Dia tak berniat jualan pagi ini. Dia merasa badannya sedikit lelah. Setelah Shalat tahajud, dia kembali tidur. Siap shalat subuh dia bangun dan bersiap buat sarapan.


Alcenna membuat sarapan nasi goreng dan telur mata sapi untuk porsi empat orang. Dia yakin kak Robbynya belum sarapan karena akan mengantarkan baju bosnya.


Jam enam lewat sedikit, sarapan dan minuman hangat telah terhidang di meja makan. Terdengar pintu diketuk, Alcenna membukanya. Dia sudah bisa menduga siapa yang datang.


"Masuk Kak, dan bangunkan bos genit Kakak itu. Lalu sarapan di sini. Aku sudah buati Kakak sarapan dan minuman hangat."


"Robby mana pakaian ganti saya," ucap Eddyson datar. Robby menyerahkan pada bosnya.

__ADS_1


"Makasi." Eddyson kembali menuju kamar. Eddyson sebenarnya sudah bangun dari subuh. Namun dia tak ingin mengganggu kosentrasi Alcenna. Dia sadar Alcenna belum nyaman jika dia berinteraksi terlalu jauh.


"Sini Mas, menyusul dengan kak Robby dan Sammy," sapa Alcenna ketika melihat Eddyson telah berganti baju dan aura bosnya memancar.


Eddyson duduk di samping Alcenna, "Makasih sayang," katanya tulus. Namun kata sayangnya membuat Alcenna merona, Sammy dan Robby hanya geleng kepala melihat kelakuan Eddyson.


Eddyson mulai menyuap sarapannya. Baru satu suap dia berucap, "Enak ya punya istri pintar masak dan baik hati. Besok kalau kita sudah menikah masakkan mas tiap hari ya sayang," ucapnya ringan yang membuat jantung Alcenna maraton di pagi hari, sedangkan para jomblo gigit lidah.


"Makan saja Mas, berbicara sepatah lagi, Alcenna ambil sarapannya. Sarapan di luar sana!" ancam Alcenn, dan itu ampuh. Robby dan Sammy kembali tersenyum. Robby sungguh puas hati. Biasanya bosnya yang suka mengancam Robby dan orang sekitarnya.


Seakan dia bisa membaca pikiran Robby, dia berucap, "senang hatimu ya Rob melihat saya tertindas!" ucap bosnya ketus. Dia melampiaskan ketidakberdayaannya diancam Alcenna pada Robby.


"Mas berangkat ya," ucapanya sambil menyodorkan punggung tangannya. Alcenna menyambutnya. Namun tangannya kembali gemetaran menyalim tangan Eddyson. Eddyson merasakannya. Dia hanya tersenyum senang.


"Kakak berangkat ya Cenn," pamit Robby juga.


Namun Eddyson langsung berkata, "tak usah pakai cium-cium tangan!"


Alcenna benaran sebal melihat tangannya dan Robby yang menggantung di udara. Alcenna langsung melepaskan kekesalannya dengan mencubit kuat pinggang Eddyson.


"Awww sakit Cenn," ringis Eddyson.


"Rasain!"


Robby hanya tersenyum.


***


Di taksi ....


"Kamu nanti lihat CCTV kantor saja ya Rob," ucap Eddyson soal pak tua itu.


"Iya Pak, itu rencana saya. Maaf ya Pak, saya ikutan panik ketika Putri panik. Saya hanya berpikir putar arah.


"Saya malah senang Rob, kamu mengambil keputusan itu. Ini ke depan, apapun itu dulukan Alcenna. Perusahaan kita sudah stabil, bagi saya urusan bisnis ada solusi lain jika tidak berjalan semestinya. Alcenna tidak."


Robby merasa sangat dihargai dan bahagia. Kata kita yang dipakai bosnya untuk perusahaan ini, membuat keringat dan tenaga yang dia berikan tidak sia-sia. Robby yang selalu disamping bosnya dari awal perusahaan ini hanya sekedar planning bosnya.


"Pak, jika memang terbukti dia di sana juga, apa Bapak tetap diam sampai selesai sidang?" tanya Robby tanpa ada niat ikut campur.


"Jika sampai kemaren saya ingin diam, tidak setelah melihat Alcenna semalam. Saya tidak bisa mengabaikannya lagi Rob. Sidang mungkin masih memakan waktu berbulan," ucap Eddyson serius.


"Apa rencana Bapak?"


"Saya akan memperingati Shinta untuk mengatasi ayahnya. Jika tidak, saya hanya bisa mengatasi dengan menghancurkan hidup ayahnya!" nada Eddyson terdengar begitu dingin.

__ADS_1


**//**


__ADS_2