
Malam setelah pulang dari mall ....
"Halo Put ...." Alcenna video call sama Putri. Video call perdananya.
"Ehh ehhh apa-apaan ini. Pesat sekali kemajuan." Raut mukanya terlihat sangat takjub dan senang. Tak ada rasa iri hati. Ciri sahabat sejati. Sudah lama dia menyuruh Alcenna memakai android, tapi Alcenna selalu bilang tidak ada uang, malas dan kadang belum ada manfaat alasannya.
"Iya dibelikan," kata Alcenna singkat, dan sudah pasti membuat penasaran Putri menggunung.
"Tunggu ... tunggu ... siapa yang membelikan?" Nah tepat dugaan Alcenna. Mereka seolah sudah saling tahu apa isi perut masing-masing.
"Nantilah aku cerita itu, aku ini mau minta pendapat kamu sebagai teman baikku Put." Mimik wajah Alcenna menjadi serius.
"Tentang apa? Nanti dulu, sebelum curhat, aku mau tanya, ke mana aja gak ada hubungi aku selama di Jakarta?"
"Nah, kamu kenapa tak nelfon duluan? Biasakan dirimu juga yang sering nelfon aku duluan Put," tanya Alcenna.
"Aku takut ganggu selama pelatihan, malam pun mau ganggu takutmu capek."
"Iya aku capek ... capek jalan sama ...." Alcenna iseng sengaja menggantung kalimatnya.
"Sama siapa?" Putri langsung mengejar jawaban.
"Sama mantan ... hahahaha ...." Alcenna tertawa lepas yang membuat Putri tambah gondok mendengarnya. Lalu Alcenna ceritakan kegiatan selama seminggu ini.
"Seriuslaaa??? Jadi seminggu ini kamu asyik sama dia saja?? Kelewatan kamu Cen, bisa bisanya kamu akur lagi. Kamu mau balik sama dia? Gak ingat kamu, perlakuan dia terakhir??"
Bertubi-tubi pertanyaan dan pernyataan diberikan Putri. Raut wajah Putri jangan ditanya lagi, sudah seperti monster mau menelan orang sekampung.
Alcenna menjadi bingung. "Mana yang mau aku jawab Put, satu-satu kalau bertanya." Terdengar nada protes Alcenna.
"Kamu mau balik sama dia?" Putri akhirnya memilih bertanya tentang ini.
"Ya nggak Put ... bodoh sekali aku jika mau menerima penerimaan dan penolakan ketiga kalinya. Aku ini cuma berdamai sama masa lalu. Supaya hati aku tidak dirundung dalam kebencian. Supaya aku bisa melihat masa depan, hahaha." Alcenna kembali tertawa setelah coba menjawab secara puitis.
"Baguslah, aku kira kamu masih pingsan!"
"Sudahlah tidak usah bahas soal dia. Aku ingin minta pendapat padamu soal Arzon." Kini Alcenna jarang memakai embel-embel abang kalau menyebut namanya. Hati memendam kesal dalam rindunya.
"Masalah apa?" Melihat wajah Alcenna yang serius Putri juga ikut serius.
"Mu tahu tidak Put ... sudah dua minggu kami perang dingin. Pasalnya terakhir aku kesal, soal membahas kapan dia mengurus surat cerainya."
Alcenna memang belum ada cerita, dua minggu ini mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Seminggu sebelum berangkat hanya berkomunikasi soal pekerjaan dan pelatihan saja, tak ada cerita lain.
"Jadi tak ada dia nelfon?" tanya Putri.
"Ada tadi sore, sebelum aku pergi membeli android ini, tapi belum sempat bicara panjang lebar, telfon sudah aku matikan. Keburu berbantah lagi. Capek aku Put, bosan. Aku kira dia setuju dengan kalimatku tempo hari, makanya tak ada kabar kemarin-kemarin." Alcenna begitu frustasi jika ingin diperturutkan perasaan hatinya.
__ADS_1
"Bukan karena mantan hadir??" Nada Putri terdengar seperti mencurigai sahabatnya.
"Ya bukan Put ... pertemuan ini juga tak sengaja. Tak ada hubungan sedikitpun."
"Ohh baguslah. Kalau mau kembali lagi, pikir panjang dulu." Pesan Putri dengan nada tajam.
"Iya, tahu. Aku belum cerita, kalau ternyata bos aku mengungkapkan rasa sebelum aku berangkat ke sini. Bahkan dia yang transfer dan suruh beli android. Ya sudah ditransfernya juga, tanpa aku sempat menolak. Jadi aku belikan saja android ini." Sudah pasti Alcenna melihat raut muka ketidakpercayaan dari Putri.
"Serius lo?"
"Serius, lagian sepertinya asyik juga begini hehehe ...." Alcenna cengengesan tanpa dosa dan salah.
"Makanya dari dulu aku bilang, kamu sih ketinggalan zaman." Dia memasang wajah sebalnya.
"Makanya, kalau kamu bilang karena mantan ... ya gak banget Put. Ada yang lebih oke dari mantan dan ada Arzon yang tak kalah tampan. Tapi aku serius Put, aku capek rasa digantung melulu. Masih terus janji saja."
"Nanti ... nanti ... bahas Arzon itu, aku ingin tanya tentang bos itu. Apa ceritanya sampai mengungkapkan rasa padamu." Putri meng-cut cerita Arzon. Dia lebih tertarik cerita si bos. Jangankan Alcenna, Putri juga bosan mendengar cerita Arzon.
Alcenna menceritakan semua dan Putri malahan berkata. "So Sweet."
"So sweet apaan Put, yang naksir laki orang semua. Macam perempuan tidak benar pula rasanya. Huaaaaah," Alcenna berteriak seperti orang menangis.
"Ya kamu kan gak mau sama bosmu." Putri memberi pembelaannya.
"Iya, tapi ada pepatah mengatakan 'cinta tumbuh seiring waktu' ... ini yang aku takutkan. Kalau iya sempat aku jatuh cinta sama bosku, wah ... aku akan salah besar. Aku tahu dia siapa dari awal. Kalau sama Arzon ... kamu tahulah gimana ceritanya. Walau iya aku tidak memungkiri sepenuhnya aku tetap ada salah, tapi aku sudah minta maaf. Dia masing-masing yang minta keadaannya ini."
"Itulah Put, pusing aku sebenarnya ... tetapi terserahlah lagi sampai di mananya. Bagiku ... jelas aku tak macam-macam. Bosku saja jadi royal sama aku. Aku berniat nanti akan menyicil uang yang dia kirim."
"Enak donk, manfaatkan saja," kata Putri.
"Enak dalam pikiran, dalam perasaan tak enak. Tidak baik manfaatin kebaikan orang. Coba nanti kalau kita dimanfaatkan, sakit tidak? Pastinya aku tidak ada ngelunjak. Ini saja dia yang transfer langsung tanpa aku tahu awalnya. Dah masuk saja ke rekening aku."
"Nah itu yang aku suka menjadikanmu sahabat is the best aku. Hatimu itu secantik wajahmu, sayangnya nasibmu saja yang masih tak cantik. Hahaha." Dia benar-benar tertawa dengan puas. Seperti tak ada kasihan pada sahabatnya.
"Ssstttt ... tak baik menyalahkan nasib. Nasib masih bisa diubah. Selagi kita berusaha dan berdoa, andai tidak juga ya sudah takdirku berarti, seorang gadis dapat laki duda, empat anak lagi hahahaha." Alcenna ikut tertawa, namun siapa yang tahu dalam hatinya
"Emang kamu mau mundur dari Arzon?"
"Terkadang ada kalanya iya."
"Tetapi kamu kembali bersama?"
"Gitu deh. Awalnya aku begitu mendendam ingin merebutnya, setelah aku dipermalukan, tapi setelah apa yang aku lalui sekarang ... tidak lagi. Aku rasa ... aku mencintainya kembali.
"Kamu rasa saja?"
"Iya, lalu seperti selesai dua minggu ini, nyatanya tidak. Berputar di situ saja Put. Sakit kepala memikirkannya."
__ADS_1
"Cinta buta?"
"Ndeh Put, sama pula sama seperti kata bosku. Dia ngatai aku cinta buta saja pada Arzon. Bosku juga berkata, kalau dia mau cinta buta sama aku, dipaksanya aku menikah dengan dia."
"Aku rasa bosmu benar!"
"Tak tahulah aku Put."
"Begini sajalah Cen, jalani dulu. Gak usah desak dia lagi. Kalau dia benar ingin membangun rumah tangga denganmu, dia akan bisa menyelesaikan masalahnya dan penuhi syarat yang ayahmu kasih." Putri serius memberikan saran pada Alcenna.
"Iya Put. Hanya saja rasanya akan sia-sia saja waktu yang dilalui."
"Tak ada yang sia-sia Alcenna sayang. Setidaknya sering di sakiti, kamu jadi lebih kokoh seperti batu cadas."
"Bisa jadi Put. Makanya sejak terakhir kami ribut itu, aku emang tak ada hubungi dia. Maksud hatiku biar dia memutuskan mana yang terbaik. Aku sudah ikhlas. Lagian kalimat terakhirku, juga memutuskan selesai ... Hehehe." Alcenna tertawa dipaksakan.
"Jadi Cen, jika iya kalian jadi menikah, anak-anaknya sudah kamu pikirkan?"
"Sudah. Bagiku anak tak salah apapun, jadi jika dia sama ibunya, aku akan tetap mengizinkan dia membiayai anaknya, bahkan kalau dia MAMPU menjelang jandanya menikah lagi, aku rela dia ngasih biaya hidup. Namun kalau ikut aku ya lebih baik juga," kata Alcenna mantap.
"Membiayai? Yakin?? Sekarang saja kamu bilang istri anaknya macam telantar!" Putri seperti tidak yakin.
"Nah itu dia, aku tidak paham urusan intern mereka. Ada apa sebenarnya kok bisa suaminya gak pulang-pulang, dia juga tidak mencari." Alcenna menyampaikan rasa heran.
"Siapa bilang?" tanya Putri menyelidik.
"Adek Arzon yang cerita, ibunya juga. Dia sempat tidak pulang setahun ke rumah istrinya. Tak pahamlah aku rumah tangga mereka macam begitu. Tak tahu juga kita apa penderitaan istrinya." Alcenna membela juga secara tak langsung.
"Jadi apa yang kamu cinta sama dia? Kamu macam tak pikir panjanglah Cen, banyak lagi yang lain yang perjaka di luar sana. Apa gak ribet nanti, kamu gadis sudah sibuk ngurus anak."
"Tak tahu juga ... sifat dewasanya kali ... rasa nyaman yang dulu dia berikan bisa jadi... atau ... auh ahhh Put." Tak ada alasan pasti yang bisa Alcenna beri.
"Dewasa katamu, banyak juga perjaka yang dewasa! Lagian, dulukaaan ... rasa nyaman yang dia kasih? Sekarang?" kata Putri bertanya seperti membawa belati yang menusuk jantung Alcenna.
"Sekarang masih ... susahlah aku ungkap dengan kata-kata. Hanya hatiku yang bisa merasakan dan menjelaskannya." Alcenna berkilah. Ada sisi hatinya membenarkan semua ucapan Putri.
"Bucin!!!"
"Biariiiin, bisa buat hidupku berwarna. Padamu ...."
"Aku kenapa ha?" Dia memasang raut tak suka karena dia yakin, Alcenna akan membalasnya.
"Kamu ya kamu, sahabat sejatiku." Alcenna sukses membuat dia naik darah. Putri mengira Alcenna akan mengatai yang jelek, nyatanya tidak.
"Dasaaar ... cepat pulang. Aku rindu."
"Ya, sudah ya."
__ADS_1
**//**