Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Kenapa Hatinya?


__ADS_3

"Halo sudah tidur??" Terdengar suara orang yang telah mengisi hati Alcenna selama lima tahun lebih.


"Rencana mau tidur," kata gadis itu datar ... emosi di hati Alcenna, bercampur aduk. Ada rasa marah, sedih dan penasaran yang dia pendam dalam diamnya.


"Lagi di mana?" lanjutnya kemudian.


"Sudah di Jakarta ...." jawab Ardhan sedikit berat.


"Ohhh ...." kata Alcenna seperti orang tak peduli.


"Marah ya?" Masih terdengar singkat-singkat obrolan sepasang kekasih tersebut.


"Menurutmu apa aku harus marah??" Tanpa dia sadari butir bening mengalir dari sudut matanya. Hatinya terasa tiba-tiba nyeri. Dia merasa ada sedikit perubahan dari nada bicara kekasihnya. Alcenna sadari tidak ada panggilan sayang dari awal pembicaraan, seperti dulu. Ada jarak yang seakan terbentang jauh, tak kasat mata.


"Maaf tak ada kabar selama lima bulan lebih ini". Akhirnya keluar kata maaf dari Ardhan yang ingin Alcenna dengar dari tadi.


Namun tiba-tiba ada air yang mulai menggenang di pelupuk mata Alcenna. Dia tak bisa menahan kesal bercampur dengan rindu. Hatinya terasa pedih ... dia terisak. Rindu yang sempat disangka hilang di hatinya, ternyata masih ada dan hadir bersama rasa kecewa terhadap Ardhan.


Alcenna tak ingin bertanya kenapa dia tidak menghubungi selama ini. Alcenna tak ingin memancing keributan setelah berbulan-bulan tak mendengar suaranya.


Hanya isak tangis yang terdengar di malam yang sepi, menumpahkan semua rasa dalam tangis. Ardhan pun diam tanpa memutus sambungan telepon, memberi waktu melepaskan kesal hati.


Ardhan menyadari sesuatu, dia sudah kelewatan pada kekasihnya. Ardhan tahu, Alcenna tak banyak menuntut selama ini. Dia bisa melihat jelas dia telah menyakiti hati Alcenna, namun dia hanya bisa diam membisu.


Itulah sosok Ardhan Barra, tak pernah bisa membujuk dengan kata-kata. Hanya diam yang bisa dilakukannya. Setelah merasa Alcenna lebih tenang, dia berkata, "Besok sore aku terbang ke kotamu, kita bahas yang aku janjikan sebelum berangkat ke Jepang."


"Iya ...." Satu kata itu yang bisa Alcenna ucapkan diantara beribu kata yang ingin dia lontarkan.


"Sekarang tidurlah lagi, sudah terlalu larut. Jika tak keberatan, aku putus sambungan telepon ya?"


"Iya," jawab Alcenna, lagi-lagi masih sangat singkat.


Padahal jauh di lubuk hatinya, ia ingin mengatakan tidak, akan tetapi dalam pikiran gadis itu, tak ada juga yang bisa dibahas lebih lanjut.


Tiba-tiba rindunya membuncah, meluruhkan kembali titik kristal-kristal bening. Dia kembali menangis. Hatinya terasa sesak, tak bisa melukiskan apa yang dirasakan. Rindu ... sedih ... atau kecewa, dia tak tahu. Tangisan membuat gadis yang biasa ceria itu jatuh dalam lelap.


***


Di rumah, ketika hari menunjukan pukul 09.00 WIB.

__ADS_1


Semua penghuni di rumah pastinya telah pergi ke sekolah masing-masing.


"Selamat pagi Alcen," sapa sebuah suara setelah dia mengangkat handphone yang bergetar. Siapa lagi kalau bukan suara Arzon.


"Pagi Bang," katanya sambil me- loudspeaker ponselnya, karena dia sambil merias wajah dengan make-up sederhana. Menggunakan foundations natural dan bedak padat di tambah lipstik berwarna merah muda ke bibirnya. Sehingga bibir yang tipis lebih terlihat seksi. Itu pemikiran dia sendiri, dan senyum hadir di sana.


Alcenna sengaja tidak menggunakan pensil alis. Banyak temannya mengatakan, dia tidak perlu menggunakan pensil alis, karena alis mata Alcenna sudah cantik seperti semut beriring.


"Apa kegiatan nanti sore? Bisa ketemuan? Ada yang mau abang bahas sama Alcen," tanyanya.


"Duh bagaimana baiknya ya. Apakah aku bilang yang sebenarnya ke bang Arzon," batinnya bergulat sejenak. "Tetapi lebih baik aku jujur saja," batinnya lagi memutuskan.


Dilema yang sesaat menciptakan keheningan di antara mereka, sehingga suara Arzon memecahkan kebisuan sesaat, "Hello Alcenna ... ada acara nanti sore??" tanyanya lagi, tanpa ada terselip nada ketidaksabaran.


"Maaf Bang, tak bisa sore ini, nanti kekasih Alcenna datang dari Jakarta," katanya penuh rasa bersalah. Walau dia tidak merasa ada hubungan lebih.


"Ohhh," terdengar suaranya yang tak enak hati. Harusnya Alcenna yang tak enak hati.


"Ya deh kalau begitu, lain waktu saja," lanjut Arzon kemudian.


"Maaf ya Bang ...." Alcenna masih diliputi rasa bersalah.


"Enak saja Abang. Sampai besok ya Bang. Alcen mau berangkat kerja juga."


"Ok." Lalu terdengar sambungan telepon telah diputus. Dia memang telah siap merias wajah dan bersiap-siap berangkat kerja.


***


Pukul 17.00 WIB.


"Sudah sampai bandara sini?" kata Alcenna to the point ketika Ardhan mengangkat ponsel.


"Iya, mau jemput ke sini atau aku naik taksi saja ke sana? Aku masih nungguin koper dari bagasi." Terdengar suara berat kekasihnya.


"Ke sana mana maksudnya?" tanya Alcenna kemudian.


Alcenna sempat bingung ke mana yang di maksud Ardhan, dia tak pernah tahu rumah Alcenna. Beberapa kali dia menjumpai Alcenna di kota ini, hampir Alcenna yang menemuinya. Entah itu di rumah kakak sepupunya atau di rumah tantenya. Bahkan lebih seringnya mereka mengukur jalan dan duduk berjam-jam di kafe atau mall-mall jika mereka janjian untuk bertemu.


"Ke rumah dirimu sajalah. Aku lagi malas rasanya mau ke rumah tante atau kakak," katanya.

__ADS_1


"Nah itu, aku rasanya juga malas sayang kalau di rumah." Alcenna mencoba memancing sebutan sayang. "Apa aku jemput saja terus kita cari kafe yang lebih santai untuk mengobrol," kata Alcenna kemudian.


"Boleh juga atau kita ke hotel tempatku menginap saja. kebetulan aku menginap di hotel saja karena ada urusan lain sedikit," katanya dengan nada yang serius. Serius dalam pendengaran Alcenna. Padahal niat Ardhan hanya bercanda. Namun sikap serius Ardhan menular pada pikiran Alcenna yang kurang sinkron.


"Ke hotel?? Kenapa harus ke hotel, walau lebih enak suasana untuk mengobrol di sana, tapi bisa-bisa yang enak-enak terjadi juga di sana. Banyak yang bilang kalau berdua-dua setan yang ke tiga," ucap Alcenna protes panjang pendek.


"Iya, kalau mau," kata Ardhan kemudian dengan nada acuh. "Lebih baik langsung ke sini dulu, dari pada menghabisi waktu buat ngobrol di telepon, nanti juga bisa ngobrol dan lebih dari ngobrol pun bisa," ucapannya makin ngelantur didengar Alcenna. Jauh di seberang telepon, Ardhan tersenyum kecil.


Malas meladeni, Alcenna menjawab, "Iya langsung ke sana, karena kebetulan posisi aku tidak jauh dari bandara. Lebih kurang sepuluh menitan bisa sampai kalau tak macet, begitu setidaknya perkiraanku," ucap Alcenna. Dia langsung menekan icon merah di ponselnya.


Kini Alcenna telah di parkiran bandara ....


"Aku sudah di parkiran sepeda motor," katanya memberi kabar.


"Oke aku ke sana." Suara beratnya membuat Alcenna sedikit tertegun.


Tiba-tiba jantungnya berdebar tak enak. Ada rasa aneh hadir di relung hati gadis itu. Bukan rasa rindu seperti semalam, akan tetapi rasa tak nyaman. Dia merasa seperti ada yang akan terjadi. Dia tepis rasa itu sambil memandang orang lalu lalang di hadapannya.


"Ufhh kenapa lagi hatiku." Alcenna menepuk- tepuk dada dengan pelan dan tanpa sadar bersuara pelan mengucapkan kalimat itu.


"Kenapa hatinya? Masih sakit?" Suara yang dia tunggu terdengar dari balik punggungnya. Alcenna sengaja membelakangi airport.


Alcenna membalikan badan, dan melihat sosok yang entah masih dirindukan sepenuh hati atau tidak lagi. Gadis itu sendiri sulit melukiskan perasaan. Hal kuat yang dirasakan adalah penasaran. Apakah yang mau dibahasnya. Alhasil dia hanya memandang pria kaku itu dan lupa menjawab pertanyaannya.


Alcenna tak kunjung membuka suara, Ardhan akhirnya menyentuh lembut pipi gadis itu. "Kenapa dengan hatinya?" ulangnya kemudian dan mengulurkan tangan.


Alcenna mengambil uluran tangan dan mencium punggung tangan sekilas sambil menjawab, "Tidak kenapa-kenapa."


Alcenna memberikan kunci motor dan memberikan helm cadangan yang memang dibawa untuk berjaga-jaga andai kekasihnya memang datang dan minta jemput.


"Kita ke mana? Jadi ke hotel?" katanya terdengar nada gurauan bukan lagi terdengar serius seperti di handphone tadi. Padahal dari awal nada itu tetap bergurau. Alcenna yang salah mempersepsikan.


"Hmmm kalau mau cari hotel dulu ayo, tapi ngomongnya cari tempat nongkrong cantik saja, kafe atau mall gitu ...." kata alcenna memberikan alternatif dengan cepat.


Ardhan tersenyum. Di dalam hati dia sangat gemas melihat sikap Alcenna yang seriusan. Jika dia berniat jahat pada gadis satu ini, banyak cara yang bisa dia lakukan.


"Ayo kita cari hotel ...." kata Ardhan dan menstarter motor." Mereka mulai meninggalkan parkiran bandara.


**//**

__ADS_1


__ADS_2