Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
May Be Yes May Be No.


__ADS_3

"Masih lama?" tanya Eddyson pada Robby pastinya. Ternyata saat Eddyson menanyakan, mereka berdua sudah di lobi hotel.


"Ya sudah naik saja sini, ke kamar Alcen. Kita hibur dulu gadis gak cerdas ini," ucap Eddyson sengaja mengejek Alcenna. Alcenna membalas dengan menjulurkan lidahnya.


"Mau saya kasih vit C?" kata Eddyson.


"Vit Cium?"


"Kalau mesum saja, cepat antena bersinyal."


"Hahaha, iya juga ya Pak," tawa Alcenna.


"Kamu janji harus ketawa bahagia ya."


"Gak janji."


Ting nong ... ting nong ... tak lama bel berbunyi.


"Pasti Putri yang iseng tu Pak, biasa juga mengetuk pintu tu anak." Alcenna masih posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Bosnya yang membukakan pintu. Kapan lagi dia bisa menyuruh bosnya secara tidak langsung.


"Masuk sini," ajak Eddyson pada Robby.


"Masuk saja Mas," kata Alcenna karena terlihat rasa sungkan Robby. Mereka duduk di sofa sementara Eddyson dan Alcenna masih duduk di ranjang.


"Kamu makan dulu, minum obatmu." Titah Eddyson.


"Oke bos, tapi keluarkan aku dari selimut ini," kata Alcenna berani menggoda bosnya.


"Banyak pengawal berani kamu ya, tadi saja niat baik saya membuat kamu gemetar," kata Eddyson sambil menjitak pelan kepala Alcenna. Alcenna tersenyum jahil melihat pandangan tersiksa para jomblo. Dia keluar dari selimut dan turun menuju sofa.


"Geser Put," kata Alcenna mengganggu Putri.


"Apaan sih, duduk saja di lantai!" Alcenna hanya membalas dengan cemberut. Putri tersenyum senang, lalu beranjak ke kursi meja rias.


"Rob, nanti sms saja ya biar saya transfer."


"Oke Pak, saya bisa pamit sekarang Pak?" pamit Robby setelah hampir sejam juga di kamar para gadis itu. Tak lama Eddyson juga balik ke kamarnya.


"Ada masalah sama Arzon tadi?" tanya Putri setelah tinggal berdua.


"Biasalah Put."


"Apa kamu gak sama ayank beb saja, dia bisa membahagiakanmu."


"Tidak mau aku Put, bahagia di atas penderitaan orang lain. Ayah dan ibu juga tak setuju."


"Sama calonmu apa bedanya? Bukannya kamu juga menari di atas penderitaan wanita lain?"


"Beda kasus."


"Jadi kamu dendam?"


"Awalnya."


" Sekarang," tanya Putri.


"Aku tak tahu. Sepertinya aku cinta sih," ucap Alcenna ragu-ragu setuju.


"Jangan bilang benar dugaan bosmu, kamu cinta buta?"

__ADS_1


"Itu salahnya kalian berdua dalam menilai. Cinta buta itu justru kalau aku nerima bosku yang jelas-jelas aku tahu ada istrinya. Kalau aku turut kata hati sekarang, maulah aku sama bosku."


"Ahhh ngeles kamu," ucap Putri.


"Ahhh sudahlah, mari kita berlayar ke pulau kapuk, mana tahu aku dapat wangsit."


Alcenna baru mau memejamkan mata, Putri kembali bertanya, "Apa kamu ikut pindah kerja Cen di perusahaan baru bosmu?"


"May be yes may be no," jawab Alcenna dengan mata tetap terpejam.


"Hmmm ...."


"Kita tak tahu apa yang akan kita jalani ke depannya, kita juga tidak tahu jodoh kita siapa. Kita mungkin ingin memilih tetapi belum tentu itu juga pilihan Allah, Put. So ... mari kita berusaha dan berdoa, biar sisanya Allah yang tentukan."


***


Pagi hari, Alcenna masih malas-malasan di ranjang, sementara Putri sudah asyik chatting, entah sama siapa.


Alcenna mengangkat ponselnya yang bergetar. "Halo Pak."


"Bangun kamu, anak gadis bangun tinggi hari. Di patok ayam jodohmu ntar," ucap konyol Eddyson.


"Kan ada Bapak yang gantikan," jawab Alcenna cuek.


"Enak saja kamu, orang setingkat saya kamu jadikan cadangan," ucapnya kesal.


"Baru setingkat sudah sombong, orang sepuluh tingkat saja tak ada sok." Alcenna masih berdebat dengan bosnya. Putri menoleh dan hanya memanyunkan bibir.


"Makin hari makin berani?"


"Ampun deh Pak," ucap Alcenna mengalah.


"Ke mana Pak?"


"Ke Bekasi."


"Mau ... mau Pak."


"Cepat bersiap."


"Sip bos, kasih aku waktu lima belas menit bersiap."


"Kamu dah mandikan Put?"


"Sudah."


"Ganti baju cepat, kita diajak ke Bekasi." Alcenna langsung meninggalkan Putri dan mandi. Sesuai dengan ucapannya tadi, lima belas menit sudah siap.


"Tar Put aku kabari bos pose ke kamarnya."


"Bilang saja mau minta jatah," Ucap Putri dibalas Alcenna dengan menarik rambut Putri.


Tok ... tok ... tok ....


"Sudah siap kami Pak," ucap Alcenna setelah pintu kamar dibuka.


"Masuk, tolong kemas baju dan berkas saya ke dalam tas kerja."


"Isss dah macam asisten pribadi saja pun Alcen," Alcenna bersungut dengar nada perintah Eddyson.

__ADS_1


"Kamu ini makin hari membantah saja bisanya. Cepatlah sayang, tolongin saya," ucapnya kemudian.


"Begitukan enak, ok deh," kata Alcenna melipat dua helai baju yang berserak di atas ranjang dan berkas-berkas.


Alcenna mendengar ponsel bosnya bergetar, dia bergerak mengambil ponselnya di atas meja dan menjawab panggilan yang kemudian Alcenna tahu dari istri bosnya.


"Halo, sore nanti kalau gak ada halangan mas berangkat. Mas mau ke Bekasi dulu temui relasi," ucapnya sambil tetap memandang Alcenna.


....


"Iya aman, nanti mas belikan pesanan kamu dan anakmu. Itu sajakah?"


....


"Oke mas tutup telfonnya."


Setelah Alcenna pastikan sambungan terputus baru dia berani nyeletuk, "Oke Mas."


"Hahaha ... kamu mau ikutan manggil saya mas? Asal kamu tahu saya gak keberatan loh," ucapnya entah serius entah niatnya mengerjai Alcenna. Alcenna sudah tak bisa menebaknya. Ada rasa aneh di dadanya saat mendengar percakapan intern bosnya, tetapi dia tidak tahu pasti itu apa.


"Saya yang keberatan manggil 'mas' sama anda Bos."


"Kamu cemburu Alcenna sayang?"


"Bapak bilang Alcen tak tahu diri harus cemburu sama istri sah Bapak!" ucapan Alcenna jadi sedikit tajam.


Jika ucapan Alcenna yang tajam, maka Alcenna mendapat tatapan tajam. Lalu Eddyson berkata, "Kamu kenapa?"


Alcenna tak tahu harus jawab apa. Dia merasa tidak enak hati sendiri, entah itu rasa bersalah atau benar dia cemburu seperti yang ditanyakan Eddyson. Hanya hatinya yang tahu pasti. Alcenna hanya memandang bosnya dengan tatapan canggung setelah ditanya 'kenapa'.


"Sudah beres Pak, aku kembali ke kamar dulu," ucapnya datar sambil memutar badan menuju pintu. Alcenna menyesal, kenapa tidak mengabari lewat ponsel saja tadinya.


Namun baru hendak memutar kenop pintu, badan kokoh Eddyson sudah mengurungnya. Eddyson menahan pintu yang hendak Alcenna buka. Lalu terdengar nada yang begitu merasa bersalah pada Alcenna. "Maaf, saya tidak berniat menyakiti hatimu dan membuat kamu cemburu," bisiknya di belakang badan langsing Alcenna.


"Saya tidak cemburu Pak, dan Bapak tak perlu minta maaf," ucap Alcenna dengan suara pelan. Alcenna rasa dia memang bukan sedang dalam mode cemburu.


"Lalu kenapa sikapmu sebentar tadi jadi aneh bagi saya?"


"Saya hanya merasa bersalah, karena begitu egois dan tamak ingin tetap memiliki kasih sayang dan perhatian Bapak. Saya jadi seperti wanita tidak bermoral pergi menikmati apa yang bukan hak saya," Alcenna berkata terus terang dengan suara bergetar. Tiba-tiba hatinya sedih harus berada di posisi ini. Pelupuk matanya terasa panas. Alcenna sekuat diri menahan.


Eddyson merengkuh ke dalam pelukannya. Alcenna tidak ingin menolak walau sebagian hatinya terasa ingin memberontak.


"Saya tidak ingin lagi mendengar kalimat seperti tadi. Saya mencintai kamu bukanlah termasuk kesalahan, namun kesalahan saya berbohong kepada orang yang mungkin mencintai saya. Jadi tak usah merasa bersalah."


Seolah tidak puas karena Alcenna hanya membalas dengan anggukan, dia membalikan tubuh Alcenna dan menghadap kepadanya. Dengan memegang kedua bahu Alcenna dan mencondongkan sedikit badannya ke arah wajah Alcenna, Eddyson memandang dengan tajam. Lalu berkata, "Kamu pahamkan Alcenna? Tidak ada rasa bersalah, karena ini perasaan sepihak saya ke kamu."


"Benarkah hanya perasaan sepihak," batin Alcenna mulai ragu.


"Satu lagi yang harus kamu tahu Alcenna, kata sayang yang sering saya ucapkan saat memanggil kamu tidak pernah saya ucapkan pada istri saya sepanjang pernikahan saya dengannya, tapi saya tak ingin kamu bertanya 'kenapa'."


"Jadi kamu tidak usah banyak pikir yang aneh-aneh. Saya hanya minta kamu bahagia ada atau tak adanya saya di sisimu," Eddyson menambahkan lagi melihat Alcenna tetap diam. Sikap diam Alcenna membuat Eddyson menjadi berhasrat. Alcenna terlihat seperti gadis patuh. Satu sisi hati Eddyson menyukai sifat ini.


"Sekarang cepat balik ke kamarmu dan kita bersiap pergi, atau kita berakhir tidak keluar dari kamar ini karena bibirmu yang terkatup rapat dan diam membisu sudah membuat pikiran saya ingin mengurungmu di dalam kamar ini," ucapnya memperingatkan.


Alcenna mendorong pelan dan cepat berlalu dari sana sebelum setan di hati mereka berpesta pora atas kesalahan yang lebih dalam.


**//**


Ini masih babak masa muda bahagia bahagianya , sebentar lagi masa penuh derita 😂😂

__ADS_1


Dan babak ini juga dilarang naik darah ...


__ADS_2